
Setelah lama berkutat dengan pikirannya sepanjang perjalanan, Zhefanya akhirnya bertemu dengan kedua tersangka. Damar dan Riri.
Saat pintu telah terbuka, nampak wajah Zhefanya yang begitu terkejut dengan apa yang dilihatnya. Bahkan Arasya pun sama.
"Kalian...?" Spontan Zhefanya, mempertanyakan kebersamaan mereka yang bergandengan tangan.
Senang bertemu dengan saudara dan senang melihat keterkejutannya membuat Riri girang sekali. Dia mengangkat tinggi-tinggi penyatuan dua tangan itu. Dia berniat menunjukkan bagaimana kedekatan mereka.
"Sumpah ya Ri, lo gak bilang apa pun ke gue" Ucap Zhefanya masih dengan keterpakuannya.
"Hehe, lo sendiri kan juga sibuk pacaran. Mana bisa gue ganggu" Ucap Riri membuat Riri dengan pacarnya itu tertawa bersamaan.
Ya, tangan laki-laki yang digandeng Riri itu tangan Damar. Laki-laki yang baru beberapa minggu menjadi kekasihnya.
Mendengar penuturan Riri membuat wajah Zhefanya merah, dia terlalu malu mendengarnya. Lain halnya dengan Arasya. Lelaki itu malah tersenyum simpul.
"Eh, e-enggak ya Ri" Ucap Zhefanya tergagap. Sesekali dia melirik Arasya, dia ingin tahu bagaimana reaksinya.
"Gak usah sampai gagap gitu dong ngomongnya" Goda Riri kepada Zhefanya.
"Enggak!" Elaknya dengan menggeleng kuat.
"Sayang, kamu ngapain sih. Kasihan tahu, sampai merah gitu wajahnya" Tidak tahu niatnya ingin menggoda juga tau membelanya. Tapi Damar terlihat berusaha menyembunyikan tawanya.
"Udah deh bang. Kasihan Zhefanya kalian goda terus" Bela Arasya.
"Ya ampun sayang. Lupa ada pawangnya" Ceplos Damar mendapat respon pukulan kecil di perutnya.
"Dari tadi sayang-sayang mulu perasaan, mau pamer apa?" Gerutu Zhefanya sembari berjalan menuju tempat tidur Arasya. Dia membantu Arasya membaringkan tubuhnya.
Damar merasa senang sekaligus bersyukur ketika melihat bagaimana telatennya Zhefanya mengurus Arasya yang sedang sakit seperti ini. Dia berharap mereka benar-benar menjalin hubungan. Zhefanya yang terbaik untuk Arasya.
"Ya kita mah bisa, emangnya lo bisa?" Ucap Riri.
"Bisa!" Sahut Zhefanya dengan percaya diri.
"Coba bilang"
"Sayang" Zhefanya berucap polos. Riri tertawa setelahnya.
"Coba pas bilang sayang sambil lihat ke kanan" Ucap Damar dengan senyum devil-nya.
"Say..." Zhefanya berucap sambil menengokkan kepalanya ke kanan, "..Yang" Sekejap ucapannya memelan, sangat pelan hingga terdengar lirih di telinga. Riri dan Damar menahan tawanya agar tidak keluar. Mudah sekali membodohi Zhefanya.
Zhefanya terpaku pada seseorang yang tengah di tatapnya. Jantungnya berdegup kencang. Sedetik kemudian dia tersadar, dia berusaha mati-matian menyembunyikan salah tingkahnya.
"K-kalian ke sini mau jenguk Arasya apa mau goda gue sih!? Kalau mau goda gue mending pulang aja deh" Ucap Zhefanya langsung mengubah topik pembicaraan.
"Kita diusir nih sama orang yang mau berdua-duaan" Ucap Riri sambil menunjuk dirinya juga Damar bergantian.
"Dasar!" Ucap Zhefanya melampiaskan perasaannya lalu pergi dari sana. Wajahnya terasa panas sekali.
__ADS_1
"Yah ngambek. Dia gini juga gak Sya kalau lagi ngambek sama lo" Ucap Riri disambut tawa kecil dari Arasya. Si Irit Bicara.
"Gue susul Zhefanya dulu" Lanjut Riri ijin, lalu pergi menghampiri Zhefanya.
Kini di ruangan itu hanya terdapat Damar dan juga Arasya. Yang tadinya suasana ramai karena dua perempuan itu. Sekarang terasa sunyi.
Damar menatap Arasya dalam. Arasya yang mengerti tatapan Damar langsung memalingkan pandangannya agar tidak bertemu dengan netra Damar.
"Ulah dia lagi?" Ucap Damar begitu serius. Ruangan itu langsung terasa horor.
Tak mendapat jawaban membuat Damar menghembuskan nafasnya dalam-dalam. Berarti benar yang dia pikirkan.
"Gue udah bilang ke lo. Tinggalin rumah itu. Lo masih punya Bunda lo, lo juga punya gue. Ngapain lo pertahankan keluarga yang gak pernah nganggap lo sama sekali" Ucap Damar dengan emosinya.
Arasya terdiam. Rasanya sakit saat mendengar perkataan Damar. Tapi yang dia bilang memang benar adanya.
"Mau sampai kapan lo kayak gini?" Ucap Damar lagi, terdengar mengintimidasi. "Sampai lo mati gara-gara dia!?"
"Bang" Ucap Arasya lirih.
"Kenapa? Ada yang salah sama omongan gue?"
"Bagaimanapun mereka itu keluarga gue bang" Ujar Arasya membela.
"Mereka udah jenguk lo?"
"Udah" Jawab Arasya cepat "Walaupun gak semua, tapi Papa udah jenguk gue"
Arasya memejamkan kedua matanya "Kenapa? Kaget gue bisa tahu?" Damar tertawa miris.
Jadi waktu Papa Arasya datang, Damar juga datang. Sayang sekali dia terlambat selangkah. Dia mendengar teriakan dari dalam, dia sangat tahu siapa orang itu. Karena malas bertemu dengannya dia memilih pergi. Setelahnya Zhefanya datang. Dia bersyukur untuk itu.
"Kayak gitu masih lo anggap keluarga? Gila lo Sya!" Amuk Damar merasa tidak terima.
Damar tidak akan mengatakan hal seperti itu jika Arasya di terima baik oleh keluarga kandungnya. Tapi ini tidak, dia seperti di sia-siakan.
Tanpa sadar air mata Arasya berlinang membasahi matanya "Iya" Jawabnya pelan berbarengan dengan luruh air matanya.
Arasya lalu tersenyum kecut "Gue gak apa-apa asal masih ada Bunda, Lo, sama..." Mengingat gadis yang datang di kehidupannya juga selalu ada untuknya, membuat senyum Arasya mengembang sempurna "Zhefanya"
Damar hanya bisa menghela nafasnya pasrah. Menghadapi keras kepala anak itu harus penuh kesabaran.
"Bang?"
"Hm?" Damar menatap Arasya yang tengah menghapus sisa-sisa air matanya.
"Boleh gak sih gue suka sama Zhefanya bang?" Tiba-tiba pertanyaan konyol itu keluar dari mulutnya.
Arasya ingin memiliki gadis itu, tapi dengan segala kekurangannya rasa-rasanya dia tidak mampu. Dia takut gadis itu tidak akan bahagia bersamanya, mengingat masa lalunya yang penuh dengan luka.
Damar terkikik geli mendengarnya "Beneran suka lo sama dia?" Ucap Damar seakan terkejut, padahal aslinya dia sudah tahu dari sorot mata Arasya ketika menatap Zhefanya.
__ADS_1
Arasya mengangguk "Gue suka lihat dia senyum. Rasanya sakit gue langsung hilang gitu aja. Sebegitu berartinya buat gue bang" Ucapnya sambil tertawa menutupi salah tingkahnya.
Damar langsung membulatkan mulutnya "Dimana hilangnya Arasya yang polos" Dia tampak terkejut mendengar perkataan Arasya yang seperti gombalan para buaya. Termasuk dirinya sendiri.
"Gue juga cowok bang"
Mereka akhirnya tertawa bersamaan sebelum kedua gadis mereka datang.
"Lagi bahas apaan!? Seru banget kayaknya" Seru Riri bersamaan dengan dia yang masuk ke dalam. Di susul Zhefanya di belakangnya membawa sekantong plastik penuh dengan camilan serta empat kaleng minuman.
"Sini sayang gabung" Damar menepuk bangku di sebelahnya.
Zhefanya be like 'Mulai lagi!'
"Nih" Zhefanya menyerahkan dua kaleng minuman kepada Riri. Lalu menyerahkan satu kaleng kepada Arasya. Dan satu dirinya.
Arasya memandangi ke empat kaleng minuman itu "Kok punya aku beda sendiri Zhe"
"Udah deh, nurut aja apa yang gue bilang!"
"Tapi kan kalau minuman yang kamu pegang itu boleh.." Arasya mencari alasan.
"Kata siapa?!" Zhefanya mengangkat dagunya.
"Kata dokter" Jawab Arasya asal.
"Kata siapa!?" Tanya Zhefanya dengan tegas.
"Kata aku" Ucapnya sangat pelan hingga terdengar samar.
"Udah diem! Lo itu dalam masa penyembuhan! Gak usah bawa-bawa dokter. Gak ada yang bilang gitu ke lo" Amuk Zhefanya sukses membuat Arasya bungkam.
"Seru juga lihat orang berantem" Ucap Riri yang tampak menikmati pertengkaran dua sejoli di depannya.
"Gue sumpahin mulut lo sariawan gede!" Sumpah serapah itu keluar dari mulut Zhefanya langsung dapat pelototan dari sang empu.
"Heh! Cewek gue lo doain apa!?" Sewot Damar.
"Bang!" Ucap Arasya tak terima Damar menggunakan nada tinggi. Walaupun tidak seserius itu.
"DIAM!" Serentak mereka bertiga kepada Arasya. Dia yang tidak tahu apa-apa hanya bisa menatap cengo mereka bertiga.
***
Tepat di balik pagar rumah seorang gadis, terlihat dirinya yang sedang tersenyum pahit bersama bunga yang berubah sayu melayu.
Tawa gadis itu riang, tak dipungkiri membuatnya bahagia. Tapi, rasa sakitnya juga tak kalah main-main. Rasanya seperti luka sayatan yang belum sepenuhnya sembuh, tapi sudah disayat kembali.
"Aku suka tawamu. Tapi aku benci ketika kamu menunjukkannya di hadapan orang lain" Dia tertawa miris.
"Akan ku rebut kamu kembali. Itu janjiku" Ucapnya memandangi kedua sejoli yang setia tertawa bersama-sama.
__ADS_1
Lalu dia pergi sembari melemparkan buket bunga di tangannya.