
Mereka terlelap dari tidurnya hingga tanpa sadar ruangan telah menjadi terang menunjukkan waktu pagi telah tiba.
Arasya terbangun dan masih merasakan tubuh Zhefanya yang tidak juga melepaskan pelukan ditangannya dan malah menjadikan pundaknya sebagai sandaran, semalaman ia diposisi itu membuat Arasya merasakan pegal di bagian leher dan tangannya. Ingin sekali dia menggerakkan tubuhnya tetapi saat melihat Zhefanya tertidur lelap membuat Arasya mengurungkan niatnya.
"Kamu manis kalau lagi tidur Zhe" Tanpa sadar Arasya tersenyum manis.
Arasya mengintip jam ditangan Zhefanya waktu menunjukkan pukul delapan pagi, tapi penjaga sekolah masih belum juga datang.
"Zhe bangun zhe udah siang" Arasya menepuk pelan pipi Zhefanya walaupun sedikit tidak tega untuk membangunnya.
Zhefanya membuka matanya perlahan dan tersadar dia masih memeluk Arasya, dengan cepat dia memundurkan tubuhnya.
"Eh maaf Sya semalem gue takut banget" Dengan gugup Zhefanya menjelaskan agar tidak terjadi salah paham lalu merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Iya, aku seneng bisa ngerasain pelukan lagi" Arasya tersenyum melihat dua mata legam Zhefanya.
Dan lagi-lagi Zhefanya terdiam oleh pernyataan Arasya, sangat tak terduga anak ini.
Klak..klak...klakk ..
Arasya dan Zhefanya memandang pintu ketika mendengar suara sepatu melangkah mendekat.
"Sya ada orang!" Zhefanya berteriak gembira dan berdiri mendekati pintu yang diikuti arasya dibelakang.
Mereka berdua menggedor pintu. "Pak tolongin kami, kami terkunci didalam" Teriak Arasya dari dalam.
"Pak tolongin kita" Tambah Zhefanya.
"Siapa di dalam?" Tanya seseorang diluar pintu.
"Saya, Arasya pak" Jawab Arasya pada penjaga sekolah, dia Pak joko.
"Sebentar saya bukain" Pak Joko mencari kunci di kotak yang dibawanya, lalu cepat-cepat membukakan pintu.
Pintu akhirnya terbuka menampakkan Arasya dan Zhefanya didalamnya membuat Pak Joko sedikit terkejut.
"Heh Arasya ini siapa, kok kamu bawa anak gadis" Pak Joko mengomeli Arasya.
"Saya dikunci lagi pak, dia juga korbannya?" Jelas Arasya membuat pak Joko ber-oh kecil.
"Tapi gak macem-macem kan?" Tanya Pak Joko mengintimidasi.
"Enggak kok pak" Arasya tersenyum pada pak Joko.
Zhefanya yang melihatnya keduanya merasakan kedekatan di antara mereka.
"Bagus kalo gitu, bapak harus keliling lagi, kalian langsung pulang kalian pasti dicariin" Ucap Pak Joko diangguki Arasya.
Kenapa pak Joko tidak melapor bahwasanya dia pernah beberapa kali menolong Arasya yang terkunci di gudang, Sebenarnya sudah melaporkan tapi malah dia hampir kehilangan pekerjaannya,jadi dia tidak berani lapor kepada sekolah.
Zhefanya tersadar dia belum mengabari mamanya langsung berlari menuju gerbang. Arasya dan Pak joko melempar pandang ketika Zhefanya tiba-tiba pergi.
"Terima kasih pak, saya permisi" Arasya langsung berlari mendekati Zhefanya dan menghentikan langkahnya.
"Zhe aku anterin kamu pulang ya?" Tawar Arasya.
"Gak usah gue bisa pulang sendiri"
__ADS_1
"Zhe aku laki-laki, aku yang udah buat kamu telat, aku bakal jelasin ke mama kamu"
"Gak usah sya, gue ga mau mama salah paham sama lo, toh ini karena Bramana jadi lo gak perlu tanggung jawab"
"Seenggaknya aku anterin kamu sampai ke rumah"
Zhefanya berpikir kembali lalu mengangguk kemudian mereka berjalan menuju parkiran motor, hanya terdapat motor Arasya.
"Maaf motornya gak bagus" Ucap Arasya tiba-tiba merasa insecure, Zhefanya tidak menjawab pertanyaan aneh itu, dia pikir Zhefanya matre.
Arasya menghidupkan motornya lalu mengendarai menuju rumah Zhefanya.
"Belok kiri" Zhefanya mengarahkan Arasya hingga motor itu terparkir di depan Rumah yang megah.
"Makasih, lo pulang aja"
"Tapi Zhee..."
"Gue bilang pulang!" Bentak Zhefanya.
Arasya hanya bisa menurut, dia menghidupkan motonya lalu meninggalkan Rumah megah itu.
Zhefanya menghembuskan nafasnya dalam-dalam, menyiapkan diri untuk kena omelan mamanya.
Tok..tok...
"Mama Zhe pulang" Zhefanya memandangi pintu yang tak kunjung dibuka mamanya.
"Zhefanya kamu kemana aja sayang" Mamanya memeluk Zhefanya dan memastikan anaknya baik-baik saja.
"Zhe dari rumah temen ma" ucap Zhefanya berbohong.
"Maaf gak ngabarin ma, hp Zhe mati, mau hubungi mama tapi di sana susah sinyal, Maafin Zhe ya ma" Ucap Zhefanya membual, padahal dia bersama Arasya, berdosa sudah dia.
"Jangan diulangi lagi, kamu itu satu-satunya punya mama, kalo kamu kenapa-kenapa gimana"
"Iya ma, maafin zhe ya"
Mamanya hanya mengangguk dan memeluk Zhefanya lagi. "Mamah udah masak banyak buat kamu, kamu pasti lapar kan" Sedari tadi mamanya udah masak banyak sambil berpikir Zhefanya pasti pulang, kalau Zhefanya udah pulang biar bisa makan masakan mamanya.
Zhefanya mengangguk dan berjalan bersama namanya menuju ruang makan.
...***...
Suara berat motor sampai disebuah rumah kediamannya, ia memarkirkan motornya.
"Papa di rumah?" Arasya bingung kenapa papanya tidak bekerja hari ini, pasalnya ini baru hari sabtu dan menurut papanya my work is important jadi pedomannya.
"Dari mana aja kamu jam segini baru pulang!" Sentak papanya ketika Arasya baru masuk kedalam rumah, mereka diruang keluarga sekarang.
"Kemarin Aku kekun..."
"Alah alasan kamu, kamu pasti keluyuran gak jelas kan!? Emang anak gak berguna kamu, bisanya cuma bikin keributan, contoh adik kamu yang berprestasi, gak kayak kamu nyusahin aja!" Bentak Papanya kasar.
Hati Arasya hancur rasanya ketika mendengar hinaan dari papanya sendiri. Dia mungkin akan biasa saja jika yang berbicara orang lain, tapi itu papanya sendiri.
"Maaf pa, maaf udah hadir di dunia ini Arasya emang gak berguna" Arasya tersenyum pahit memandangi papanya.
__ADS_1
"Baru nyadar kalo kamu gak berguna!!"
Arasya tak mampu mendengarkannya lagi, dia pergi ke kamar meninggalkan papanya.
"Gak sopan kamu ya, orang tua lagi bicara malah pergi gitu aja!!" Ucap papanya naik pitam.
Arasya tidak bermaksud tidak sopan dengan papanya tapi dadanya sangat sesak mendengar perkataan itu.
"Pa Arasya kangen, Arasya kangen papa yang dulu" Dengan senyum diwajahnya dia mengingat kenangan kecilnya bersama papanya.
... ***...
Zhefanya selesai mandi dan mengeringkan rambut basahnya.
"Sebenernya siapa sih Arasya? Dia aneh"
Kriiiiing...
Ponsel Zhefanya berbunyi, dia melihat siapa yang menelponnya, di sana juga tertera 23 panggilan tak terjawab, yang artinya orang itu menelpon saat Zhefanya sedang mandi.
"Emang babi gak ada kerjaan banget deh" Zhefanya menatap ponselnya dengan malas.
"Halo Ri, ada apa?'' Ucap Zhefanya stelah menekan tombol hijau.
"Lo ya udah bikin orang khawatir aja, masih nanya ada apa ada apa'' Riri nyerocos kesal dengan saudaranya ini.
"Hehe sorry Ri, gue gak bermaksud kok'' Zhefanya malah cengengesan.
"Lo kemarin kemana aja hm? Sok sokan hilang gak jelas, nyokap lo tuh nyariin lo tau, Coba ceritain ke gue sekarang, kemana aja lo!!'' Zhefanya bingung dengan sikap Riri, mamanya saja tidak mengomelinya seperti ini.
"Gue cerita tapi jangan kasih tau nyokap gue ya'' peringat Zhefanya.
"Jadi kemarin tuh gue kekurung di gudang'' Bisik Zhefanya pada teleponnya, takut mamanya mendengar karena kamar dia dan mamanya dekat.
"APA LO GILA YA, ngapain lo gue tanya!?'' Teriak Riri yang membuat Zhefanya reflek menjauhkan ponsel dari telinganya. Biadab memang si babi.
"Gue juga gak tau Ri, gue disuruh aja ke gudang eh taunya malah dikunci''
"Seriusan lo, kurang kerjaan banget tuh orang, lo sendirian dong gak takut emangnya lo?'' Mode gibah sudah on.
"Gue..gue sama...'' Zhefanya ragu, takut Riri marah-marah.
"Jadi bukan lo doang, lo ama siape?'' Riri semakin jengkel sekaligus penasaran.
"Gue sama temen cowok gue Ri''
"GILA LO!'' Riri terkaget karena ucapan Zhefanya.
"Gue gak ngapa-ngapain kok Ri'' jelas Zhefanya tak mau Riri berpikir macam-macam.
"Kenapa gak lo laporin aja?''
"Udahlah Ri gak usah dibahas, gue juga gak kenapa-napa kan?'' Zhefanya tak ingin memperpanjang masalah, atau nantinya akan rumit.
"Ya udah gue tutup telponnya gue mau pergi''
"Ya udah'' mendengar persetujuan Zhefanya Riri langsung mematikan sambungannya.
__ADS_1
Zhefanya mengambil jaket yang sudah dia cuci, itu jaket yang diberikan Arasya. Zhefanya masih memakainya ketika Arasya mengantarkannya ke rumah tapi dia baru tersadar saat ingin masuk rumah, dia melepas jaketnya dan dimasukkan kedalam tas.
"Arasya"