
"I'm your teacher right now" Ucapnya sembari memandang lekat Zhefanya. (Aku gurumu sekarang)
Zhefanya mendelik mendengarnya. Apa yang barusan dia dengar? Apa tidak salah?! Hey dia tidak menyukai gagasan ini!
Berbeda dengan Zhefanya, Anak-anak yang lain malah tersenyum kegirangan, bagaimana tidak jika cowok populer itu akan mengajari mereka. Liat saja pasti ada anak caper yang suka modus menggodanya.
"Maksud lo?" Ucap Zhefanya tak terima.
Samuel tersenyum licik "C'mon. Gue tau lo ngerti apa yang barusan gue katakan" Dia berbisik di telinga Zhefanya yang membuat gadis di sana iri. Bukannya senang mendapat bisikan dari cowok populer, dia malah merinding ngeri.
Zhefanya sangat tau dan mengerti, hanya saja sulit untuk diterimanya. Beberapa kejadian terkahir membuatnya benar-benar benci dengan Samuel.
"Gue gak perlu persetujuan dari lo kan?" Ucapnya dengan smirk kemenangan. Dia tidak perlu mendapat izin dari Zhefanya karena ini menjadi tanggung jawabnya. Mau tidak mau Zhefanya diam dan tidak boleh memberi argumen penolakan.
Zhefanya tertawa remeh "Mending sekarang lo balik ke kelas, terus belajar"
"Bisa, tapi lo harus ngomong ke guru lo" Samuel tertawa di akhir kalimatnya.
Mendengar jawaban songong membuat telinga Zhefanya panas, dia menggertak dalam diamnya.
Arah pandang Samuel beralih "Guys, gue hari ini yang bakal ngajarin kalian basket" Seru Samuel sembari melirik sekejap Zhefanya yang jengah.
"Tiap hari juga gak apa-apa" Ceplos salah satu gadis.
"Iya tau, bosen juga sama bapak-bapak" Sambung gadi di sebelahnya, lalu tertawa bersamaan.
Para laki-laki di kelas itu hanya bisa menghela nafasnya pasrah, mereka sudah jengah, jika sudah tentang Samuel pasti alaynya kumat.
"Sebelumnya kita pemanasan dulu" Instruksi Samuel. Semua murid berbaris dengan rapi.
Samuel memperagakan gerakan demi gerakan pemanasan "Zhefanya tolong yang benar"!
Perintah Samuel membuat Zhefanya memutar bola matanya, seakan mencari kesempatan untuk mengganggunya.
Setelah selesai, Samuel beralih mengambil bola tepat di bawah ring "Pertama, yang kita bahas adalah teknik melempar bola, gue bakal ngajarin kalian Chest pass" Ucapnya membuat semua mata memandang ke arahnya.
"Mungkin ada yang tau apa itu Chest pass?" Tanyanya.
Tidak ada sautan, mungkin mereka tidak tahu atau hanya sekedar malas untuk membalasnya.
"Mungkin Zhefanya tau?" Senggol Samuel membuat Zhefanya gelagapan. Gadis itu tidak mengerti, apapun tentang basket dia sama sekali tidak paham.
Gadis terdekat Samuel menatapnya tidak suka "Ih dari tadi yang di senggol Zhefanya terus!" Gerutunya kesal sembari menghentakkan kakinya ke tanah.
"Iya maaf-maaf" Samuel tertawa kikuk.
"Oke jadi Chest pass itu mengoper bola dengan kedua tangan di depan dada" Samuel menerangkan dengan bahasanya sendiri.
"Seperti ini" Samuel mencontohkan dengan teliti agar semuanya melihat, dia melempar kepada gadis didekatnya tadi.
Gadis itu tersenyum kegirangan. "Melting gue Sam"
"Kalian bisa praktekkan satu persatu"
Mereka menurut, toh Samuel guru mereka sekarang, walaupun dadakan dan sementara.
__ADS_1
Mereka mempraktikkan bergantian hingga giliran Zhefanya, Samuel menatap lekat tanpa mengalihkan perhatiannya.
"Stop!"
Apa lagi?. Kira-kira seperti itulah gambaran dari wajah Zhefanya.
"Zhe lo yang bener dong pegangnya, tangan lo salah tuh"
"Lo cari kesalahan gue mulu deh!"
"Biar gue bisa ngajarin lo gimana yang bener"
"Modus lo ya!" Sentaknya, untung saja dia paling akhir jadi tidak ada siswa yang menunggu gilirannya.
"Gak ada modus-modus, gue dalam mode guru" Samuel berucap sombong.
"Ouh" Jawabnya tak acuh.
"Tangannya jangan dirapetin"
"Yaa" Jawabnya malas.
Samuel senyum kesenangan melihat reaksi Zhefanya yang menurutnya lucu.
Beberapa menit kemudian Samuel mengajar, tiba-tiba datang seorang tamu tak diundang.
"Lo ngapain tong" Ucap Al pada Samuel, ia menepuk keras bahu Samuel.
"Sakit bodoh" Samuel memberi tatapan tajam.
"Lo berdua gak usah ganggu gue. Gue lagi ngajar"
Al menyatukan kedua tangannya di depan "Aduh, sungkem dulu mas" Al menyenggol lengan Leo, menyuruhnya menirukan apa yang dia lakukan.
"Ck, gila lo dasar!" Leo berdecak.
"Eh..ehh.. bidadari dateng dari mana woy!" Ucapnya heboh melihat seorang gadis berlari menghampirinya.
"Stress!" Sinis Samuel meninggalkan mereka dan fokus mengajar lagi.
***
"Leo" Ucap Nirina menghampiri Leo, dia melihat sekilas Al.
Pupus sudah harapan Al, masa iya harus bersaing dengan teman sendiri? Dia langsung memasang tatapan tajam dan bertanya-tanya pada Leo.
"Nanti ke rumah gue dong" Ucapnya to the point.
Alis Leo terangkat sebelah "Ngapain?"
"Udah deh ke rumah aja, ntar gue kasih tau" Ucapnya cengengesan.
Sekarang Al sudah merasa panas, benar-benar panas. Dia tak sanggup lagi, tapi dia juga penasaran dengan apa yang mereka bicarakan. Apa-apaan mereka berdua kenapa mereka akrab sekali?
"Halah, pasti lo bakal nyuruh gue benerin kran lo yang bocor, gak gitu? pasti pintu lo rusakin lagi" Muak Leo dengan kelakuan Nirina yang agak bar-bar menurutnya.
__ADS_1
Nirina tertawa kencang "Tau aja lo"
Al kembali menatap mereka curiga "Kalian?"
"Apa lo? mau gue slebew!?" Gertak Leo yang sudah mengangkat tangannya.
"Lah kok ngamokk?"
Seakan tak memperdulikan perkataan Al, Leo lebih memilih meninggalkan mereka berdua.
"Mending nyuruh kang genteng tuh yang siap 24/7 buat lo" Al bingung siapa yang dimaksud dengan Tukang genteng itu. Matanya celingak-celinguk mencari siapa orang itu.
Al menunjuk dirinya saat melihat Nirina terus menatapnya. Al menuntut penjelasan "Gue?"
"Maybe" Nirina mengedikkan bahunya. (Mungkin)
Stelah itu Nirina kembali menghampiri teman sekelasnya yang kini tengah sibuk praktek.
***
"Na, lo mau ikut gue?" Ajak Zhefanya pada Nirina yang kini beriringan berjalan keluar sekolah.
"Kemana?"
"Gue mau jenguk Arasya"
"Hah?" Ucap Nirina tak percaya sekaligus bingung.
"Gak usah kaget kayak gitu lagi, kan gue udah bilang Arasya itu orang baik, gak usah berprasangka buruk, toh dia gak pernah bilang dia pelaku pembunuhan kan? Dan malah yang gue lihat, dia anaknya asik loh pinter juga" Jelas Zhefanya ingin membela, tanpa dia sadari dia mengucapkan kalimatnya dengan tersenyum.
"Tapi gue gak mau bahas kesana loh dan kenapa lo bilangnya sambil senyum-senyum?"
"Eh, siapa yang senyum-senyum" Zhefanya bergerak kikuk. Dia salah tingkah.
"Jangan-jangan lo suka ya sama dia?" Tuduhnya.
"Siapa juga yang suka" Elak Zhefanya menyembunyikan wajahnya yang terasa menghangat.
"Tuh kan"
"Eh apaan sih malah bahas ke situ" Zhefanya mencoba mengalihkan pembicaraan. "Mau gak?" Tawarnya lagi.
"Maybe, next time" Tolaknya secara halus, sebenarnya dia masih ada urusan dengan kran yang ada di rumahnya.
"Tapi... Arasya kenapa?" Nirina tersadar, satu kelas bahkan tidak ada yang tahu alasan Arsya tidak berangkat sekolah hari ini, tidak ada Izin apapun. Kenapa temannya yang satu ini ingin menjenguknya? Apakah dia tahu sesuatu?
"Dia sakit"
"Kok lo tau?" Ucap Nirina menuntut.
"Gue yang bawa dia ke rumah sakit"
"Hah? Ada urusan apa lo?"
"Gak ada"
__ADS_1
"Fiks, lo suka sama dia!"