Arasya | Sinar Yang Pernah Hilang

Arasya | Sinar Yang Pernah Hilang
One night with you


__ADS_3

Bughh..


Sebuah gumpalan kertas mendarat tepat di kepala Bu Tari yang sedang menulis di papan membuat seluruh siswa tertawa melihat si pelaku melakukannya dengan tepat.


"Siapa yang melempari saya!" Kata Bu Tari tersulut emosi ketika mendapati kertas yang habis mengenai kepalanya tergeletak didekatnya.


"Arasya bu" Ucap Bara cengengesan, dia sangat sengaja mengerjai Arasya padahal dia sendiri yang melakukannya.


"Arasya kamu yaa, kurang ajar sama.."


"Maaf bu tapi tadi bukan Arasya tapi Bara, jadi kalau ibu mau marah, marah aja ke Bara" Serobot Zhefanya tak membiarkan bu Tari memarahi orang yang salah.


Seluruh isi kelas menatap Zhefanya dengan tatapan aneh, begitu juga dengan Nirina.


"Sialan si anak baru, cantik doang ga bisa diajak kompromi" Gumam Bara yang hanya bisa didengarnya sendiri, karena rencananya mengerjai Arasya gagal.


Arasya tersenyum melihat Zhefanya, dia merasa bersyukur sekaligus terheran dengan gadis cantik itu, dia sangat sulit ditebak.


"Kamu ikut saya, kalian lanjutin nyatatnya" Bu Tari mengajak Bara keluar.


... ***...


Bel sekolah sudah bunyi semua anak-anak seperti kesurupan ingin segera pulang.


Zhefanya teringat dengan surat yang dibacanya tadi, dia langsung pergi ke gudang belakang sekolah.


Suasana sangat sepi membuat Zhefanya ketakutan sendiri, dia celingak-celinguk mencari orang yang mengajaknya bertemu tetapi tidak ada, dia langsung masuk kedalam gudang yang sudah tua.


"Arasya lo ngapain disini?!" Zhefanya terkejut melihat Arasya didalam sana, Arasya terlihat melihat-lihat di dalam gudang. Dia juga terlihat terkejut melihat kedatangan Zhefanya.


"Jangan-jangan lo yang ngasih surat ini" Interogasi Zhefanya merasa tak suka "Ga lucu!" Zhefanya melempar kertas itu ke Arasya.


"Aku juga gak tau" Arasya tak kalah bingung, pasalnya dia juga punya surat itu, dia menunjukkan surat itu, surat yang sama seperti Zhefanya hanya saja pesannya berbeda.


"Kalo lo ga dateng, cewek yang sama lo kemaren bakal celaka!!!" Zhefanya menutup mulutnya ketika melihat isi surat pesan itu.


"Maksudnya dia datang kesini buat menyelamatkan gue gitu? kemaren aja gue yang nyelametin dia" Zhefanya terhanyut dalam lamunannya.


Brugghh...ceklek...


Dengan reflek Zhefanya memeluk lengan Arasya karena kaget pintu tiba-tiba tertutup dan dikunci dari luar.


Arasya memandangi gadis yang memeluknya, sudah lama dia tidak merasakan pelukan, namun pikirannya tersadar ketika gadis itu melepaskan pelukan dan mencoba membuka pintu.


"Gue peringatin sama kalian, jangan pernah main-main sama gue, Gara-gara kalian gue jadi putus sama pacar gue Anj**gg!!!" Suara penuh kepuasan datang dari Brahmana yang berhasil mengunci Arasya dan Zhefanya, ya dia orang memukuli Arasya waktu itu.


Terlihat sepele memang jika hanya karena Brahmana putus dengan pacarnya dan malah menyalahkan mereka berdua, tempramen laki-laki itu memang bukan candaan.


Brahmana mengurung mereka karena Arasya yang menolak mencuri hp teman pacarnya, di sana ada banyak bukti jika Brahmana selingkuh dengan cewek lain, dan Brahmana melibatkan Zhefanya karena Zhe mencampuri urusan mereka.


"Bukain pintunya!!!" Teriak Zhefanya dari dalam.


"Jangan harap!" Brahmana meninggalkan gudang itu.

__ADS_1


Zhefanya menggebrak-gebrak pintu gudang.


"Lo kenapa diem si!" Zhefanya sedikit berteriak pada Arasya yang terlihat santai sekali.


"Ayo cepetan, coba lo dobrak!" Zhefanya mulai ketakutan ketika menyadari pintunya terkunci dari luar.


"Aku ga bisa, pintunya kuat gak bisa di dobrak " jelas Arasya membuat Zhefanya mengembuskan nafas kasar ke udara.


"Maksud lo!?" Dahi Zhefanya berkerut, sulit mengerti maksud Arasya, dan laki-laki itu hanya diam menatap Zhefanya tanpa ekspresi.


"Ya!" Zhefanya mengintimidasi "Lo aja gak usaha, mana bisa lo bilang gak bisa di dobrak, bilang aja lo-nya yang gak bisa!" Zhefanya berbicara sangat ketus, dia bermaksud menyindir Arasya.


BRUK!


BRUK....


Zhefanya mencoba mendobrak pintu tapi hasilnya nihil, kini dia benar-benar marah, laki-laki itu sama sekali tidak bergerak membantunya.


"Lo gak ada niatan bantu gue!" Nafas Zhefanya memburu "Gue gak perduli lo gimana, tapi gue harus pulang sekarang, nyokap gue pasti nyariin, Aarrghh" Zhefanya mengacak rambutnya melampiaskan kekesalannya.


"Telpon!" Arasya bersuara.


"Ah iya" Zhefanya dengan cepat mengambil ponsel di tasnya.


"Ahss sial, hp gue mati"


"Hp lo mana!?" Zhefanya menuntut harapan terakhirnya untuk bisa keluar.


Zhefanya kembali menghembuskan nafasnya kasar "Kenapa lo gak cari cara buat keluar dari sini, kenapa lo diem aja! ck!"


"Gak ada jalan keluar, ventilasinya kecil, di sini gak ada jendela" Arasya menunjuk pada ventilasi yang berukuran mini "Kita hanya bisa keluar besok" Lanjut Arasya.


"Lo gila! semaleman kita tidur disini!?" Ucap Zhefanya menatap tajam Arasya, tapi setelah menyadari dirinya kesulitan membuka pintu itu, mungkin ucapan Arasya menjadi harapannya sekarang.


"Besok hari Sabtu, sekolah libur" Zhefanya memerosotkan tubuhnya kelantai, pupus sudah harapan itu, pikirnya.


"Besok akan ada penjaga sekolah yang datang, dia akan membukakan pintu untuk kita" Jelas Arasya mencoba menenangkan Zhefanya.


"Sok tau banget lo!" Sentak Zhefanya frustasi.


"Aku sudah pernah mengalami hal seperti ini"


Zhefanya tidak peduli sudah berapa kali Arasya pernah terkurung di gudang, dia tetap berusaha mencari jalan keluar hingga akhirnya menyerah dan terduduk di pintu membuat jarak antara keduanya.


Arasya yang melihat Zhefanya kebingungan merasa kasihan padanya, dia pasti syok karena tidak pernah mengalami hal seperti itu, Zhefanya berbeda dari Arasya.


Matahari mulai tenggelam, ruangan di gudang pun menggelap, hanya ada lampu remang-remang yang hampir mati.


"Zhe maafin aku ya, gara-gara aku kamu jadi kayak gini" Ucapan Arasya memecah keheningan di gudang itu.


"Gak usah minta maaf, ini bukan salah lo" jawab Zhefanya.


"Tapi tetep aja, aku yang bikin kamu disini" ucapan Arasya begitu tulus.

__ADS_1


"Gak usah dipikirin, ini udah terjadi" Mereka terdiam.


"Tapi inget jangan sampai lo macam-macam sama gue!" Perintah Zhefanya hanya di angguki Arasya.


Mereka kembali dalam keadaan hening, canggung sekali untuk mereka yang bukan siapa siapa tinggal didalam satu ruangan.


"Lo mau apa, gue bilang jangan deket-deket, jauhan gak!?" Zhefanya mencoba memundurkan tubuhnya ketika Arasya ingin memberikan jaketnya yang dia ambil dari tasnya.


"Jauhan gak, kalo nggak.." Zhefanya terdiam ketika jaket Arasya menempel pada tubuhnya.


"Maaf" Arasya tersenyum, senyum rasa bersalah karena membuat Zhefanya takut.


"Awas kalo sampai deket gue!" Zhefanya memperingatkan Arasya dan mencoba tidur, sepertinya dia susah tertidur jika suasana di gudang sangat mencekam.


Zhefanya melihat Arasya yang sudah tertidur dengan posisi bersandar pada tembok membuat dia semakin takut karena dia masih juga terjaga, dia melihat ke sekeliling terlihat benda-benda usang mengerikan.


Kreeek...Bukk...


Arasya terbangun ketika Zhefanya berlari memeluknya sari samping, Zhefanya begitu ketakutan mendengar suara itu.


Suara itu berasal dari sebuah foto karya seni yang jatuh, jika saja itu siang Zhefanya pasti tidak takut.


"Gue takut" Zhefanya menenggelamkan kepalanya dipundak Arasya.


"Gapapa Zhe jangan takut, itu cuma foto" Arasya menenangkan gadis yang berada di pelukannya.


"Jangan tinggalin gue sendiri gue takut" Mendengar perkataannya Arasya menepuk pelan punggung Zhefanya.


"Zhe kamu hangat, kamu baik, apa aku lancang kalo aku nyaman di pelukan mu" Arasya hanya ingin merasakan hangatnya pelukan yang bahkan belum pernah ia rasakan dari ibunya.


... ***...


"Zhefanya mama udah pulang" Dia yang menyadari anaknya tidak menjawabnya langsung pergi ke kamar Zhefanya.


Ceklek...


Mamanya terkejut ketika mendapati putrinya tidak ada di kamarnya merasa panik, saat ini pukul sebelas malam dan putrinya tidak ada, jika biasanya Putrinya akan mengabari jika ia pulang telat tapi kali ini dia tidak mengabari mamanya sama sekali.


''Halo, Ri Zhefanya lagi sama kamu gak?''


''Enggak tante, Riri tadi telpon Zhe tapi hpnya gak aktif'' Ucap Riri, tadi mamanya juga menelfon hp Zhefanya tapi tidak bisa jadi dia menelepon Riri.


''Zhe kemana ya Ri, jam segini kok dia belum pulang, telponnya juga gak aktif, tante jadi khawatir Zhefa kenapa-napa'' jelas mamanya merasa panik.


''Mungkin lagi nginep di rumah temennya tan, tante tenang dulu ya Riri yakin kok Zhe bisa jaga diri'' Riri meyakinkan Tantenya agar tenang, padahal dirinya juga merasa panik.


Mama Zhefanya menutup sambungan teleponnya berdoa agar anaknya baik baik saja.


Kenapa mamanya tidak menelfon temanya, hey Zhefanya anak baru disekolah jadi mamanya tidak tahu nomor temannya.Mamanya juga sibuk jadi mana sempat menanyakan teman-teman Zhefanya.


"Semoga kamu baik-baik saja"


 

__ADS_1


__ADS_2