Arasya | Sinar Yang Pernah Hilang

Arasya | Sinar Yang Pernah Hilang
Bekal makan siang


__ADS_3

"Loh Zhefanya kamu ngapain?"


Dahi Mama Zhefanya menyatu, ada apa dengan anaknya pagi ini, tumben-tumbenan dia berada di dapur, apalagi dengan bahan-bahan makanan di depannya.


"Lagi masak ma" Ucapnya disertai kekehan kecil, dia sebenarnya malu mengakui dirinya sedang memasak.


"Gak biasanya?" Mama Zhefanya berjalan menuju meja makan dan menuangkan segelas air putih untuk dirinya sendiri.


"Buat Arasya ma" Zhefanya mukai memasukkan semua bahan dan bumbu ke dalam masakannya, dia membuat nasi goreng, yang simpel karena dirinya tidak bisa memasak berbagai jenis masakan.


"Siapa Arasya?" Yang diingatannya hanya ada Samuel seorang.


"Itu loh ma yang aku ceritain yang ngebantuin aku belajar matematika" Mamanya mengangguk patuh sembari ber-oh kecil.


...***...


Di sekolah Bakti Jaya, para muridnya bergegas memasuki kelas mereka masing-masing, jam menunjukkan pukul 07.55


"Udah hampir jam tujuh kok Arasya gak datang-datang ya?" Sorot mata Zhefanya tertuju satu titik dimana Laki-laki yang dinantikannya akan hadir, dia pandangi pintu kelas itu, sesekali melirik tempat mejanya, tidak mungkin dia berangkat setelat ini.


"Hey!" Nirina menepuk kedua tangannya di depan wajah Zhefanya, muak sekali melihat gadis itu dengan lamunannya.


Zhefanya tersadar, ternyata Nirina memperhatikan dirinya sedari tadi "Apa?" Tanyanya sok polos.


"Apa-apa! Ngapain lo ngelamun kayak gitu, kesambet baru tahu rasa" Cerewet Nirina yang disambut kekehan kecil dari sang pelaku.


"Gue engga ngelamun naa"


"Terus apa?" Nirina memutar bola matanya malas.


"Yaa.." Gadi itu berfikir.


Kriiingg....


Suara deringan bel sekolah menghentikan percakapan mereka, Nirina kembali menghadap depan, sedangkan Zhefanya? Pandangan ke tempat yang sama dan tak teralihkan.


"Bener gak berangkat"


***


Singkatnya hari, mereka tengah berada di kantin sekolah, sangat ramai dipenuhi anak-anak SMA Bakti Jaya, menerobos beberapa kumpulan siswa dan mengantri mendapatkan makanan mereka.


"Zhe kok lo tumben bawa bekal?"


"Em..iya lagi pengen" Bohong sekali kamu Zhefanya, bekal itu untuk Arasya bahkan sedari pagi sudah menunggu kedatangan laki-laki itu.


"Ooh" Akhir pembicaraan mereka.


Setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan, segera mereka mencari tempat untuk duduk, dan ternyata...


Semua penuh.


"Yah Zheee" Ucap Nirina melemah, kekecewaan terukir jelas sekali.

__ADS_1


Mata Nirina mendelik, menyisir area kantin itu dengan matanya, tepat di salah satu meja mata itu terhenti, kosong, itulah yang dia lihat.


"Zhe itu" Semangat Nirina memberi tahu Zhefanya, mereka beranjak dari tempatnya dan menghampiri tempat yang dimaksud Nirina.


Belum sempat jauh mereka melangkah, langkahnya sudah terhenti, Samuel dan anak curutnya itu, mereka duduk di tempat yang Nirina maksud.


Zhefanya hanya pasrah, namun tidak dengan Nirina, dia menarik paksa tangan Zhefanya "Na ngapain?"


"Udah gabung aja" Ya memang tempat Samuel itu cukup untuk empat orang dan di sana hanya ada Samuel dan Al.


"Sam gue boleh gabung?" Tanyanya pada Samuel meminta Izin dan langsung di angguki apalagi kedatangannya bersama Zhefanya.


Mendengar suara yang tak asing di telinga Al, dia langsung mendongakkan kepala mengabaikan makanan di piringnya, gadis cantik.


Nirina bergegas duduk di sebelah Al agar Zhefanya bisa duduk di sebelah Samuel, bukan bermaksud untuk jadi mak comblang antara Zhefanya dan Samuel, hanya saja dirinya tidak mungkin duduk dengan laki-laki yang menatapnya tajam itu.


Nirina yang dulu bukanlah Nirina yang sekarang, dirinya sudah tidak perduli dengan lelaki manapun, sepertinya hatinya tertutup, sepertinya susah untuk membuka hati yang terluka.


Mau tidak mau Zhefanya hanya menurut.


"Kok bawa bekal?" Semua mata di meja itu tertuju pada Zhefanya.


"Emang kenapa?" Tanya Zhefanya malah nyolot


Samuel tersenyum, kali ini senyumnya sangat tulus, entah mengapa tapi itu yang di lihat Zhefanya.


"Kamu masak sendiri?"


"Hm"


Tanpa persetujuan dari Zhefanya laki-laki itu langsung memakannya dengan lahap, dan ketiganya menatap keheranan.


"Enak Zhe"


"Gue tahu"


***


Setelah dari kantin mereka kembali ke kelasnya masing-masing, tetapi dipertengahan jalan Al berpisah dengan Samuel, Al menuju kelas Nirina.


"Na" Panggil Al menarik tangan Nirina untuk menghentikan langkahnya, Nirina menoleh, dia melihat laki-laki dengan deruan nafasnya yang bisa di dengar telinganya.


Zhefanya melihat itu, saat matanya bertemu dengan netra Al dia langsung tahu apa maksud laki-laki itu, Zhefanya langsung masuk kedalam, itu bukan urusan dia.


Nirina melihat kearah tangan Al, dia sangat tidak suka kelancangannya, dan laki-laki itu langsung melepaskannya.


"Apa?" angat tidak biasa anak itu menghampirinya, di kantin saja mereka tidak berbicara sedikit pun, Al hanya memandangi Nirina dari samping, tadi Nirina sangat menyadari itu, tapi dia benar-benar malas untuk bertengkar dengan siapapun, jadi dia membiarkannya saja asal masih normal.


"Em.." Al menggaruk kepalanya yang tak gatal, sepertinya dia ragu-ragu.


"Lo gak ngomong, gue masuk!" Peringat Nirina karena laki-laki itu tak segera angkat bicara.


"Malam minggu sibuk gak?" Akhirnya dia berbicara, melihat lawan bicaranya yang tak segera merespon membuat jantungnya berdegup dengan kencang.

__ADS_1


"Enggak" Jawaban Nirina membuat secuil harapan.


"Keluar yuk, jalan"


Nirina menggeleng, melihat tanggapan gadis itu yang bermalas-malasan membuat hatinya menciut, Yahh kecewa, sudah Al duga dia akan menolak, tapi tetap saja rasa kecewa itu ada.


"Ayolah" Bujuk Al, dia sedang dalam mode serius.


"Buat apa? Gue males"


"Sekali aja yaaa?" Al menunjukkan jarinya yang menyimbolkan angka satu, apakah laki-laki itu sesuka itu pada Nirina? sampai-sampai dia memohon seperti itu.


"Gue pengen jalan sama lo"


"Terserah" Setelah kata itu terucap, dirinya langsung berbalik badan dan masuk ke dalam kelas.


"Lo mau kan?!" Kau tahu bagaimana perasaan Al, tentu sangat senang bagai di timpa panah asmara.


"Gue jemput lo jam delapan!"


Tidak ada sautan, tapi yang pasti Nirina mendengarnya.


***


"Zhe, tolong gue!" Leo berlari dan berteriak dari kejauhan menghampiri Zhefanya yang berjalan di lorong baru saja keluar dari kelasnya.


"Kenapa?"


"Samuel, buat onar!" Ucapannya masih menetralkan nafasnya yang memburu.


"Hubungannya sama gue?" Alisnya terangkat sebelah, bukan sulit mengerti maksud Leo, akan tetapi dia membodohi dirinya sendiri berpura-pura tidak mengerti.


Pentingkah Samuel untuknya? dia rasa tidak penting!


"Cuma lo yang bisa nenangin dia"


"Apa sih maksud lo, lo kan temennya, urus aja sendiri!"


"Gue bakal lakuin apapun buat lo!"


"Gak butuh!" Zhefanya meninggalkan Leo tanpa berpikir panjang lagi.


Baru dua langkah dia berpindah dari tempatnya, langkahnya sudah di cekal oleh Leo, laki-laki itu berlutut dihadapan Zhefanya.


"Di-dia sekarat" Laki-laki itu menunduk lesu, tercetak jelas sekali raut wajah muramnya.


"Gue mohon"


***


"Sya!" Gadis itu sedikit berteriak memanggil sosok nama di seberang telepon.


Tak ada jawaban yang hanya ada deru nafas yang tak teratur, suara lemah itu mampu membuat hati Zhefanya seperti dijatuhi gemuruh bebatuan.

__ADS_1


"To-long Zhe, sakit"


__ADS_2