
Zhefanya telah sampai di kediaman keluarga besar Samuel. Tubuhnya seakan melemas karena kecepatan mobil Samuel di tengah lebatnya hujan.
"Duduk!" Perintah Samuel meninggalkan Zhefanya di ruang tamu.
Beberapa menit Samuel kembali datang ke Zhefanya, dia membawa pakaian untuk Zhefanya "Pakai"
Bajunya basah karena Samuel tadi menariknya paksa ke dalam mobilnya, jadi dia pergi ke rumah Samuel yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah sakit.
"Di mana?"
"Di situ ada kamar mandi" Tunjuk Samuel ke arah kamar mandi. Kini tidak ada modus atau apapun itu. Sifat Samuel berubah!
Zhefanya pergi ke sana, beberapa menit dia berganti akhirnya dia selesai. Baju itu pas di badannya, mungkin kepunyaan mamanya?
Zhefanya kembali menemui Samuel, saat hendak berjala dia tak sengaja melihat sebuah foto yang terpampang di atas meja.
Mata Zhefanya membulat, ia menutup mulut dengan tangannya.
"Om Bimo, Papa Arasya!?"
Dia benar-benar terkejut, wajah Papa Samuel dan Arasya sama! Kenapa tadinya dia bisa lupa wajah papa Samuel!?
"Zhe" Panggil Samuel membuyarkan pikiran Zhefanya. Samuel berjalan menghampirinya.
******
Kini Al melajukan motornya dengan senang dan riang gembira, akhirnya dia bisa berkencan juga!
Matanya berbinar ketika dia telah sampai tepat di depan gerbang kebesaran Nirina. Dia merapikan rambutnya sehabis melepas helm yang dia kenakan. Berjalan lenggang ke depan pintu.
Tok..tok...tok...
"Nirina, abang dateng neng" Teriaknya dari luar, dia sudah tidak sabar.
Beberapa saat pintu rumah itupun terbuka, lihatlah siapa dia. Nirina, itu Nirina. Dengan dress selutut berwarna peach, sangat terlihat elegan.
Mata Al terus menyorotinya sampai tak sempat berkedip "Cantik" Ucapnya tanpa sadar.
"Al" Panggil Nirina membuyarkan lamunan Al.
"Eh, iya?" Ucap Al merasa salting. "Ayo" Ajaknya.
Al tidak berniat menggandeng Nirina, dia tahu itu lancang!
"Na, pakai dulu" Ucap Al memberikan helm kepada Nirina.
Nirina mengambilnya, dia memasang sendiri, terlihat begitu kesusahan dan tidak bisa memakainya.
Melihat hal itu Al terkekeh kecil "Susah ya?"
"Gak usah ngeledek!" Peringat Nirina dengan muka masam yang dia perlihatkan.
"Enggak ngeledek kok" Jawabnya masih dengan tawanya, menurutnya Nirina lucu.
"Itu ketawa!"
"Kamu lucu" Akunya terus terang.
__ADS_1
"Lucu? lucu dari mana, gue kesusahan kayak gini" Gumamnya kesal. Dia berucap pelan hingga terdengar samar di telinga Al.
Selesai dengan helm, Al melepas jaketnya mendekatkan tubuhnya ke arah Nirina.
"Ngapain!" Teriaknya panik.
"Mau masangin jaket, lo bawa rok pendek. Gue gak mau ada yang liat paha mulus lo"
"Dasar mesum!" Nirina takut sendiri mendengarnya, ia merinding saat lelaki di depannya bilang seperti itu. Refleks dia memukul dada bidang Al.
"Enggak Na" Ucap Al ngeles, tetapi niatnya memang tulus untuk melindungi Nirina dari para mata busuk orang-orang "Yang mesum kan mereka yang mau lihat-lihat kamu kayak gitu, aku mah enggak"
Nirina diam.
"Yaudah ini pakai sendiri" Al memberikan jaket kepada Nirina lalu menaiki motornya. Begitu juga dengan Nirina.
"Udah siap?" Tanya Al sebelum mereka pergi.
"Hm" Deheman Nirina memberikan jawaban. Al melajukan motornya menjauh dari pekarangan rumah Nirina.
"Nirina mau kemana?" Tanya Al, ia ingin tahu apa yang gadis itu inginkan dan yang di sukainya.
"Terserah" Jawaban seadanya andalan cewek.
Sepertinya bukan itu jawaban yang dia inginkan. Dia mendengus kecewa.
Motornya melaju tanpa henti hingga sampailah di sebuah restoran megah, nuansa romantis tergambar jelas hanya dari luarnya saja.
"Tempat ini?" Nirina merasa aneh, mereka bukan pasangan tetapi makan di tempat seperti itu..apakah bisa?
"Bagus, tapi gak cocok buat kita" Ucap Nirina dalam hati.
"Udah ayo masuk" Ia berjalan terlebih dahulu, diikuti Nirina dari belakang.
Saat sampai di meja yang sudah dia pesan, Al menarik kursi untuk Nirina duduk.
Mata Nirina terus menelisik seisi ruangan sampai tak sadar dia terus di perhatikan lelaki yang duduk di depannya.
"Na" Nirina menoleh dengan cepat mendengar suara berat Al.
"Hm?"
"Gue suka sama lo" Ujarnya serius. Mereka saling bertatapan, hening setelahnya.
Mengerti dengan ketidaknyamanan Nirina Al langsung kembali berbicara "Lo gak perlu suka gue Na. Buat gue suka sama lo aja gue udah seneng kok. Gue tau gue terlalu cepat ngomong hal kayak gini, tapi gue gak bisa mendem terlalu lama Na. Gue beneran tulus"
Nirina terus terdiam, dia tidak tahu harus berbuat apa. Dia enggan membuka hati untuk siapapun untuk saat ini.
Sedetik kemudian pelayan mendatangi mereka membawakan banyak makanan "Hari ini ada bonus spesial dari kami, paket spesial untuk pasangan" Pelayan itu memberikan makanan berbentuk hati untuk mereka.
"Selamat menikmati" Ucapnya lalu pergi dari sana meninggalkan dua orang yang diyakini pasangan kekasih itu.
"Jangan diliatin terus, buruan makan"
Mereka asik makan dan sesekali Al melontarkan pertanyaan yang hanya di jawab singkat oleh Nirina.
"Enak gak?"
__ADS_1
"Enak" Nirina mengangguk.
"Buat omongan gue yang tadi, gak usah dianggap kalo bikin lo gak nyaman. Anggap aja gak pernah terjadi apa-apa"
"Sorry Al, gue belum bisa buka hati buat orang lain" Ucap Nirina menunduk, ia menyesal tapi entah untuk apa.
"Gak perlu minta maaf, bukan kesalahan lo"
Al tertawa kecil berniat mencairkan suasana "Udah ah jangan bahas ke situ"
Nirina manggut-manggut, ia tersenyum tipis.
Lama kelamaan senyum itu memudar matanya terus tertuju pada pengunjung yang baru saja masuk ke dalam.
Pranggg...
Sendok yang dipegang Nirina terjun bebas kelantai, dia langsung panik seketika.
"Lo gak apa-apa Na?" Al berucap panik.
Nirina menggeleng kuat "Gak apa-apa kok Al, gak sengaja" bohongnya.
"Serius?" Tanya Al curiga.
"Iya" Nirina menyunggingkan senyumnya agar meyakinkan lelaki di depannya "Tadi beneran gak sengaja kok"
Al manggut-manggut "Ouh, yaudah kalau gitu"
Mata Nirina tertuju pada dua orang yang baru masuk, dia langsung menciut. Matanya berkaca-kaca tanpa diminta, dadanya terasa sesak. Dia butuh begitu banyak pasokan oksigen di ruangan yang luas itu.
Al melihat itu, dia merasa khawatir "Nirina. Are you okay?" Tanyanya lembut kepada Nirina yang masih dengan posisinya.
Tak mendapati jawaban membuat angkat bicara lagi "Nirina" Panggilnya sembari menepuk kecil lengannya.
"Eh" Dia tersadar.
"G-gue ke toilet dulu" Dia terburu-buru pergi, doa takut menangis di tempat.
Sebelum Al menjawab Nirina sidah menghilang dari hadapannya. Dia benar-benar tak tahu apa alasan yang membuat gadis kesayangannya seperti itu.
Al terus memandang kepergian gadis itu hingga punggungnya benar-benar tak terlihat di pelupuk matanya.
Al melihat sosok yang tak asing di matanya, dia berjalan menghampirinya "Arbian!"
"Wah bro, sama siapa lo?" Tanya Arbian langsung menyalami Al dengan tos ala laki-laki.
"Ada" Mereka duduk di tempat yang Arbian pilih. Akan ada doubel date kali ini!!
******
Ketika dua couple itu tengah duduk bersama, suasana tiba-tiba menghening.
"Kalian?" Tanya Arbian menunjuk Nirina juga Al bergantian.
"Kita..."
"Pacaran!" Sela Nirina dengan cepat memotong ucapan Al.
__ADS_1