
Dengan sudut yang terangkat, riang gembira hati terasa. Zhefanya menyusuri lorong kelas dengan perasaan senang.
"Arasya!" Panggil Zhefanya saat melihat satu sosok punggung yang tak asing lagi.
Hari ini Arasya telah kembali bersekolah seperti biasanya. Laki-laki itu menengok, tampak mulutnya berkomat-kamit. Arasya sedang bilang "Hai" Zhefanya berlari menghampiri Arasya.
"Hati-hati" Perhatian Arasya.
"Hmm" Jawab Zhefanya dengan malas-malasan. Mereka melanjutkan jalannya beriringan.
"Aku boleh pinjam buku kamu gak?"
"Boleh lah. Dan gue pastikan tangan lo bakal pegal banget"
"Emangnya kenapa? Banyak banget ya?"
"Ya pikir aja sendiri, berapa hari lo gak berangkat"
"Aaah~ Lama banget ya"
"Tuh tahu"
Mereka menghentikan percakapannya, lanjut berjalan dengan kesunyian. Hampir saja mereka memasuki kelasnya tiba-tiba mata Zhefanya menangkap manusia paling menyebalkan, menurutnya. Laki-laki itu pun melihatnya juga, tentu bersama para antek-anteknya.
"Sya, tunggu deh" Arasya berhenti, dia menoleh ke Zhefanya.
Tanpa di duga Zhefanya mengikis jarak diantara mereka, dia semakin dekat dengan Arasya. Tangannya ia ulurkan ke leher Arasya.
"Kalau pakai dasi itu yang benar. Mana ada miring kayak gini" Zhefanya membenarkan dasi Arasya yang menurutnya sedikit miring itu. Lalu tangannya membenarkan kerah bajunya hingga terlihat sempurna di Arasya.
Zhefanya mendongak, sungguh wajah mereka sangat dekat sekali. Dia tak sadar akan hal itu tadinya, kini malah membuatnya panas dingin. Niatnya ingin memanas-manasi Samuel, eh malah dirinya yang panas sendiri. Terlihat dari pipinya yang begitu merah. Dia tersipu malu.
Samuel yang melihatnya bersikap seolah tak peduli. Namun, senggolan dari para teman-temannya yang juga melihatnya membuatnya geram. Dia langsung mempercepat langkahnya dan segera pergi dari sana.
"Tadi udah benar kok" Ucapan Arasya membuat Zhefanya mundur beberapa langkah.
"M-mana a-da, orang miring kok"
Arasya mengeluarkan senyum andalannya "Iya, makasih ya"
"Hmm"
"Zhe!" Suara Nirina terdengar di telinga mereka. Zhefanya celingukan mencari keberadaannya.
"Lo ngapain di sini?" Tanya Nirina sembari melihat Arasya. Tatapan itu sulit untuk di jelaskan.
"Lo gak lihat, kita lagi ngobrol"
"Ngobrol aja terus. Lo gak nyadar anak-anak di kelas lagi pada lihatin lo. Lo jadi bahan buat mereka" Sinis Nirina merasa tak suka ada yang membicarakan sahabatnya, apalagi bersama dengan Arasya.
__ADS_1
"Gue gak peduli omongan orang" Jelas Zhefanya, Nirina menghela nafas kasar lalu masuk ke dalam.
"Maaf" Cicit Arasya.
"Lo itu gak salah, jadi lo gak usah minta maaf. Udah lah gak perlu di pikirin"
***
Waktu istirahat telah tiba, semua siswa bergegas mengurus perut mereka.
Zhefanya pergi bersama Nirina. Arasya entah pergi kemana dia tidak tahu. Tapi sesaat terdengar suara keributan dibalik kerumunan anak-anak.
"SIALAN LO!"
"COWOK GAK BERGUNA! BAJU GUE JADI BASAH GARA-GARA LO"
"Aku benar-benar gak sengaja"
Deg
Zhefanya langsung menghentikan aktivitasnya saat mendengar suara yang tak asing, dia langsung beranjak. Dengan gesit dia membelah kerumunan.
"Arasya"
Pelaku dan korban itu menengok bersamaan. Entah kenapa Zhefanya langsung merasa kesal.
Dan bodohnya Arasya tetap diam dengan segala tindakan keji gadis itu terhadap dirinya.
Mata Zhefanya memicing, jari telunjuknya dia arahkan ke lengan baju gadis itu. Gadis itu sedang menggunakan sweater sekarang dan itu kotor karena tidak sengaja ketumpahan minuman Arasya.
Tangannya dia gerakkan seolah merasakan tekstur dari baju itu "Palsu!" Dia tertawa remeh di akhiran.
Gadis itu langsung kelimpungan menahan malunya. Bagaimana gadis seperti Zhefanya tahu merek baju terkenal.
"Sok tahu!" Sewotnya langsung pergi dari sana.
"Huuuu" Sorakan berasal dari orang-orang yang melihat perdebatan mereka. Gadis sok populer itu hanya seorang penipu ternyata. Bukan tanpa alasan, karena dia gadis populer. Tapi sombong, suka memamerkan apa yang dia kenakan. Dan nyatanya? Semua itu palsu.
Kembali Ke Zhefanya. Gadis itu menarik Arasya menjauh dari sana. Nirina yang melihatnya sedari tadi hanya bisa pasrah.
Zhefanya membawa Arasya sampai di depan lab Ipa, di sana tidak ada satu orang pun.
"Sumpah gue gak habis pikir sama lo. Lo tahu kan apa yang dia lakukan? Kenapa lo diam aja sih Sya!?" Kekesalan Zhefanya sudah memuncak. Dia peduli tapi yang dipedulikan tidak sadar sama sekali. Pasti membuat kesal kan?
"LO ITU COWOK SYA! APA LO LUPA?! HAH? HARGA DIRI LO UDAH DI RENDAHIN! DAN LO DIAM AJA!?
"Zhe, dia perempuan makanya aku gak lawan. Karena aku tahu aku laki-laki, aku gak mungkin permalukan dia di depan umum. Ja-"
"Terus lo yang dipermalukan?"
__ADS_1
Arasya bungkam, laki-laki tampak tak tahu harus berbicara apa lagi.
"Kalau bunda tahu gimana Sya? Anaknya yang selalu bilang dia bahagia. Teman-temannya baik semua. Terus kalau bunda tahu hal kayak tadi gimana?"
Arasya tertampar dengan pernyataan pedas dari Zhefanya, tapi semua yang dikatakannya memang benar.
"Zhe, sto-" Panggil Arasya dengan suara parau.
"Apa!? Gue kayak gini karena gue peduli sama lo! Gue gak suka lihat lo kayak gitu Sya!" Ups Zhefanya baru saja keceplosan.
Karena sudah sangat kesal juga malu karena mengatakan hal seperti itu, Zhefanya langsung pergi begitu saja.
Tapi belum sempat jauh, langkahnya di cekal tangan Arasya yang menarik tangan Zhefanya hingga mereka berdua saling berhadapan.
Tak mau melewatkan kesempatan, Arasya langsung memeluk Zhefanya dengan tak sopannya. Zhefanya yang baru pertama kali diperlakukan seperti itu terbelalak kaget.
Pelukan Arasya semakin erat saat tak mendapati penolakan dari Zhefanya, tapi gadis itu tak kunjung memeluknya juga.
"Makasih udah peduli" Suara serak Arasya terdengar lembut di telinga Zhefanya.
Tiba-tiba Zhefanya teringat akan sesuatu. Percakapannya dengan Bunda Arasya waktu itu.
Flashback On
"Bunda boleh tanya gak?" Rania mendongak melirik Zhefanya yang lebih tinggi darinya.
"Boleh dong Bunda"
Rania menggiring Zhefanya untuk duduk di kursi yang mereka jumpai saat di jalan.
Mereka saling diam sebelum Rania angkat bicara "Kamu sayang gak sama Arasya? Tanyanya to the point.
Zhefanya menatap nanar jalanan "Ini mungkin terdengar aneh buat Bunda, tapi jujur. Zhefanya benci dengan laki-laki" Rania tidak berkomentar, dia ingin terus mendengarkan apa isi hati gadis itu. Tapi tak dipungkiri juga bahwa dirinya terkejut dengan pengakuan yang tak terduga itu.
"Zhefanya punya trust issue Bunda. Zhe gak bisa nerima laki-laki di kehidupan Zhe" Mendengar itu, Rania langsung memeluk Zhefanya dari samping.
"Kamu kenapa sayang?" Tanyanya dengan lembut sembari mengelus surai lembut Zhefanya.
"Pernikahan Mama hancur, itu semua gara-gara Papa yang nikah lagi. Hati mama sakit banget. Zhefanya jadi takut Bunda. Zhe takut untuk memulai semuanya" Mata yang berkaca-kaca itu tak kunjung luruh. Tetap Zhefanya bendung. Dia tidak ingin terlihat rapuh.
"Bunda tahu kok, pasti sakit, berat banget rasanya. Tapi Zhefanya gak boleh terpaku dengan itu semua ya nak. Zhefanya punya kehidupan sendiri yang harus dijalani" Rania ikut terenyuh, pernikahannya juga tidak berjalan dengan mulus.
"Zhefanya harus bisa buka hati buat orang yang tepat. Walaupun nantinya itu itu Arasya atau bukan. Dan mungkin saja orang yang belum pernah Zhefanya temui. Patah hati, gagal dalam percintaan itu hal yang wajar di dunia ini. Itu perjalanan Zhefanya untuk menemui akhir yang bahagia"
Zhefanya akhirnya menangis di pelukan Rania.
Flashback end
***
__ADS_1