Arasya | Sinar Yang Pernah Hilang

Arasya | Sinar Yang Pernah Hilang
Berbohong


__ADS_3

Akhirnya Zhefanya setuju dengan bujukan Leo, tak enak hati juga melihat Leo yang memohon kepadanya, toh apa salahnya juga dia membantu orang lain.


Motor Leo melaju di jalan yang lengang, dengan kecepatan yang lumayan tinggi akhirnya mereka sampai di sebuah tempat, tempat yang ramai, apakah ini tempatnya?


Zhefanya merasakan ada sedikit keanehan, dia melihat tempat itu sebuah rumah, dengan banyak mobil yang terparkir, jika Samuel buat onar, bukankah mereka bisa mengatasinya?


"Rumah siapa?" Tanya Zhefanya akhirnya bersuara.


Memandang datar lawan bicaranya kemudian melangkah mendahuluinya kemudian berkata "Samuel"


"Kok Ramai?" Zhefanya mengikuti langkah Leo.


"Iya"


"Gak butuh gue lagi dong?" Mendengar perkataan Zhefanya, Leo langsung berhenti, berbalik badan menatap Zhefanya.


"Gue kan udah bilang, maunya sama lo! Terus buat apa gue sampai mohon-mohon ke lo, kalau lo-nya gak ada, sia-sia gue nuruin harga diri gue buat hal gak guna kayak gini, kalau bukan karena bekal makan siang yang sebenarnya lo bawa buat Arasya, gak mungkin Samuel kayak gini, so bit*h, Lo.." Ucap Leo menjelaskan dengan detail.


Sepertinya ini kali pertamanya mendengar Leo berbicara panjang lebar kepadanya, tentunya dengan ciri khas dirinya yang sangat ketus.


Drttt....Drttt....


"Bentar" Sela Zhefanya saat Leo belum selesai bicara, laki-laki itu mendengus sebal.


Zhefanya mencari keberadaan ponsel miliknya di dalam tas, betapa dia terkejut akibat melihat banyaknya Panggilan telepon tak terjawab dari Arasya.


"Siapa?" Leo penasaran.


"Arasya" Jawab Zhefanya, kenapa juga dia menjawab pertanyaan Leo, bukankah itu tidaka da urusannya dengan Leo.


"Jangan diangkat" Perintah Leo dan lawan bicaranya malah merasa di tantang, dia sengaja menekan tombol hijau saat Arsya kembali menelponnya.


Srekk


Leo menarik paksa ponsel Zhefanya laku menekan tombol merah, dan...Sambungan terputus.


"Lo apa-apan sih!?" Kesal, itu dia yang dirasakan Zhefanya.


"Samuel lebih penting sekarang!" Leo langsung beranjak dari tempatnya, memasuki rumah besar Samuel, oh bukaan, milik Papa Samuel lebih tepatnya.


"Balikin hp gue!" Mau tidak mau Zhefanya ikut Leo, ingin sekali Zhefanya menendang Leo dari belakang dan mendapatkan kembali ponselnya.


Tak ada jawaban dari sang empu yang di maksud, hingga mereka berada di ruang tamu, tapi kosong tak ada satu orangpun di sana, akan tetapi terdengar keramaian dari belakang rumah itu.


"Ini maksudnya gimana sih? Samuel mana!?" Zhefanya bingung dengan keadaan sekarang.


"Bawel! Ribet lo!"


"Katanya Samuel butuh gue dan sekarang gue ada disini, mana Samuelnya?"


"Pengen ketemu dia lo?"


Oh Leoo, bukankah memang itu tujuannya.


"Ya! Biar gue cepet pulang!"


"Ikut gue!" Leo memegang pergelangan tangan Zhefanya, menariknya hingga berada di depan pintu sebuah ruangan.


"Masuk" Ucap Leo dengan nada datar miliknya, mendorong Zhefanya ke dalam.


Ceklekk..


Pintu itu terkunci, Leo sengaja menguncinya.


"Leo!! Buka gak!!" Teriak Zhefanya dari dalam.


"Gak sampai Samuel datang" Ucapnya laku pergi begitu saja, tentunya membawa ponsel Zhefanya.


"LEO!"

__ADS_1


***


Di tempat lain, Samuel dan Zein beriringan keluar dari sebuah gedung tak berpenghuni dan sudah terbengkalai, melajukan motornya menjauh dari sana.


Di depan sudah ada tempat yang mereka tuju, tempat yang tak asing lagi bagi mereka, Rumah papa Samuel.


Mereka bertemu dengan Leo yang sibuk bermain ponselnya di ruang tamu.


"Gimana?" Tanya Samuel kepada Leo.


"Hancur" Leo melirik tajam Samuel yang menatapnya penuh harapan.


"Hah? Serius?" Samuel tidak percaya dengan apa yang dikatakan Leo barusan, tidak mungkin gadis itu menolaknya, jika iya apa sebegitu tidak sukanya pada Samuel?


"Serius" Ucap Leo menghentikan kalimatnya lalu berkata lagi "Hancur harga diri gue"


"Lo ngapain?" Gantian Zein yang bersuara.


"Tanya noh ama temen lu!"


Zein menatap Samuel, dan laki-laki tidak kunjung menjelaskan "Gak penting juga" Kata Zein.


"Jadi gimana aman?"


"Aman"


Di wajah Samuel tercetak jelas senyum miringnya.


"Segitunya lo?" Ucap Zein heran dengan teman yang satunya ini, obsesinya itu loh, sulit sekali dikalahkan.


Seolah tak perduli dengan kata Zein, lelaki itu malah tersenyum semakin senang "Kalian ke sana aja dulu, gue nyusul"


Samuel bergegas menuju ke ruangan yang di datangi Leo.


Ceklekk


Pintu itu terbuka namun Samuel menutupnya dengan cepat agar gadi yang sudah menatapnya tajam itu tidak melarikan diri.


"Gue gak papa kok" Samuel mengedikkan bahunya, santai sekali ucapannya.


"Keterlaluan lo!" Zhefanya memukul dada bidang Samuel laki-laki itu tidak kesakitan karena tenaga Zhefanya yang tak sekuat itu menurutnya.


"Panik ya?" Ucap Samuel malah cekikikan.


"Panik?" Zhefanya malah tertawa remeh mendengarnya "Gue gak dateng kalau temen lo gak mohon sama gue"


"Tapi sekarang lo udah di sini, artinya lo perduli dong sama gue?"


"Karena gue terpaksa!"


"Yaudah lanjutin deh keterpaksaannya, ayo kita keluar"


Samuel menggenggam tangan Zhefanya, tapi langsung di hempasan.


"Lo gak tau jalannya"


"Lo kira gue setua itu buat lupa jalan yang baru aja gue lewatin, apalagi cuma di dalam rumah!"


"Gue gak ngajak lo keluar dari rumah gue" Samuel tersenyum smirk.


"Ogah, daripada sama lo mending gue belajar sama Arasya"


"Lo gak bakal tahu dimana Arasya" Ucap Samuel geram.


Mendengar nama Arasya disebutkan membuatnya seperti terbakar api cemburu, dia langsung menarik tangan Zhefanya keluar, berbagai cara Zhefanya memberontak untuk lepas dari Samuel, namun sayang itu gagal, mereka Telah sampai di belakang rumah Samuel, banyak sekali orang-orang di sana, sepertinya ada pertemuan.


"Lo bakal gue kenalin sebagai cewek gue" Bisik Samuel di telinga Zhefanya, gadis itu diam mematung.


"Hah? Gue bukan cewek lo!"

__ADS_1


"Nurut gue, lo bakal bahagia"


"Cuihh"


"SAM"


Perdebatan Samuel dan Zhefanya pecah saat seseorang memanggilnya, dia wanita paruh baya yang cantik yang berjalan lenggok kepadanya.


"Siapa ini?" Ucapnya memandang Zhefanya dengan senyum tulus diwajahnya.


"Pacar Sam ma" Jawab Samuel juga dengan senyumannya.


"Sam" Zhefanya menggerutu berucap pelan namun masih terdengar.


"Gausah malu-malu sama tante"


"I-iya tante" Zhefanya tersenyum canggung.


"Ini cuma pertemuan keluarga biasa aja kok, santai aja yaa" Mama Samuel mengelus surai Zhefanya.


Pertemuan keluarga biasa apanya? Pakaian mereka saja mewah sekali, sedangkan dirinya masih dengan seragam sekolah yang terbalut sweater pink miliknya.


Ini memang pertemuan rutin bagi keluarga besar Samuel, tapi teman-temannya selalu ikut, dan tentu saja hanya untuk makan makanan enak, toh mereka di sambut baik.


Dan hal menarik bagi mereka juga seperti sebuah kewajiban bagi Samuel, disetiap pertemuan seperti ini dirinya harus membawa pacar, karena kebetulan dia sedang jomblo jadi dia jadikan Zhefanya sebagai tumbalnya.


"Samuel tuh emang pinter kalau cari pacar, pasti cantik"


"Makasih tante" Zhefanya tersenyum manis mendengarnya.


"Kok tante-tante terus dari tadi, Panggil Mama dong biar sama kayak Samuel" Omel Mama Samuel.


"Iya ma, ma-ma" Dia masih canggung untuk mengucapkannya, asal mama Samuel tahu jika Zhefanya bukan pacar anaknya.


"Mama tinggal bentar ya, mau samperin tante kamu" Ucap mamanya berpamitan lalu pergi meninggalkan dua sejoli yang bukan pasangan itu.


"Sam! Gue gak bisa kayak gini lagi" Zhefanya mendekati menatap Samuel.


"Bisa sayang"


"Iuuh" Zhefanya merasa jijik.


Ting..ting..ting...


Samuel memukul-mukul gelas dan sebuah garpu yang dia ambil dari pelayanan yang melewatinya.


"PENGUMUMAN-PENGUMUMAN" Semua mata tertuju pada Samuel Dan Zhefanya, percayalah Zhefanya sangat ingin menghilang sekarang, namun dia hanya bisa mengeluarkan senyum canggungnya.


"Selamat malam semuanya, saya ingin memperkenalkan seseorang yang sangat spesial bagi saya, gadis cantik yang selalu membuat saya ingin selalu ada di dekatnya"


Bualan yang dikeluarkan Samuel sangat muak ditelinga Zhefanya.


"Ini Zhefanya, Pacar Samuel" Ucap Samuel merangkul Zhefanya, dia tidak nyaman tapi juga tidak ingin membuat malu, jadi dia biarkan saja untuk sementara ini.


Semuanya menyoraki Samuel, mereka merasa senang.


"Baiklah, silahkan lanjutkan kegiatan kalian"


Setelah berucap Samuel mengajak Zhefanya duduk, laki-laki itu menatap lama Zhefanya yang sedari tadi diam.


"Kenapa?"


"Hp gue mana?"


"Ada"


"Gue mau pulang"


"Nanti dulu, nanti aku kasih"

__ADS_1


"PULANG!"


__ADS_2