
Malam sudah larut, Arasya yang baru saja pulang dari bengkel masuk kedalam rumah, keadaan rumah terlihat sangat sepi. Sepertinya para penghuni rumah sudah berada di alam mimpi.
"Habis jalan sama tante-tante lo" ucap saudaranya yang masih terjaga, perkataan itu langsung menghentikan langkah Arasya, membuatnya diam tak berkutik. Rasanya sangat berat melanjutkan langkahnya ke dalam rumah besar itu, dia hanya diam pasrah dengan hinaan yang dilontarkan saudaranya yang tengah asik bermain video game di ruang keluarga.
Arasya pasti tidak mempersalahkan perkataan saudaranya itu, jika dia lakukan tamatlah sudah riwayatnya, siapa yang bisa percaya dengan seorang pembunuh? tentu tidak ada.
Sesekali Arasya ingin merasakan kehidupan yang tenang, dia juga ingin disambut dengan nyaman bukan dengan celaan, sekedar sapaan hai pun tak apa.
"Aku hanya ingin hidup seperti mu saudaraku, tapi aku tidak bisa, entah mengapa begitu sulit untukku" Dengan wajah memelas Arasya memandangi sebentar saudaranya yang masih setia bermain game.
Dengan langkah gontai ia pergi ke kamarnya, segera dia mengambil handuk dan mandi, membersihkan tubuhnya yang terasa lengket akibat keringatnya seharian.Segera ia memakai baju yang tersimpan di lemarinya dan mengeringkan rambutnya dengan handuk yang ada di tangannya.Arasya terlihat sangat menawan ketika sedang mengeringkan rambutnya. Tapi apalah gunanya ketampanannya jika selalu tertutup dengan luka-luka yang membekas di wajahnya.
Kling...
Ponsel milik Arasya berbunyi menampilkan pesan resmi tagihan dari sebuah perusahaan.
"Gue lupa bayar" Dengan suara lemas dia mencoba mengambil dompet yang berada di atas meja belajarnya.
"Tinggal lima puluh ribu, cukup gak yah buat seminggu ke depan" Terlihat tekukan wajah Arasya memerhatikan uangnya yang hanya tersisa lima puluh ribu, padahal uang gajiannya masih diberikan satu minggu lagi, jika dia minta uang gajinya lebih awal dia merasa tidak enak sama Bang Damar, dia sudah terlalu banyak merepotkan Bang Damar, rasanya malu sekali jika harus meminta bantuan bang Damar lagi.
Arasya menghembuskan nafasnya panjang kemudian membaringkan tubuhnya ke kasur, melihat langit-langit tanpa berpikir apapun, rasanya kosong, setidaknya dia bisa merasakan tidur untuk menenangkan penatnya, walaupun beriringan dengan mimpi-mimpi buruk yang menghantuinya.
...***...
Paginya disekolah Bhakti Jaya, pagi-pagi sudah dibuat geger cowok tampan yang sedang memperlihatkan permainan basketnya di lapangan, dengan para gadis penggemarnya yang sesekali bersorak dipinggir lapangan.
Bagaimana tidak para gadis tidak menyukainya, pasalnya dia punya wajah yang menawan, ketua dari tim basket, pinter lagi, idaman para kaum hawa.
__ADS_1
"Kak Samuel! Lo ganteng banget jadi suka!!!" ucap perempuan adik kelasnya dipinggir lapangan membuat sang empunya besar kepala malah mengibaskan rambutnya kebelakang.
Para gadis yang melihatnya berteriak manja tak kuat melihatnya, hingga membuat mereka berbisik-bisik mengungkapkan ketampanan yang sangat sempurna dimata mereka itu.
Cowok tampan nan mempesona itu adalah Samuel, pemain basket terhebat di SMA Bhakti Jaya, hanya melihatnya berjalan saja mampu meruntuhkan hati para gadis, apa lagi dengan bermain basket, membuat gila saja, seperti tak kuat lagi bernapas.
Gadis itu, dia Zhefanya yang melihat kejadian di depan matanya malah merasa jijik melihat tingkah tengil cowok yang merasa sok ganteng itu, dia terlihat sangat biasa-biasa saja di mata Zhefanya.
Bagi Zhefanya semua laki-laki tidak ada yang tampan, tidak ada seorang laki-laki manapun yang kuat dan mampu mendapatkan hati yang sudah beku itu, mungkin itu untuk saat ini, kalau kedepannya siapa yang tau, mungkin akan ada seseorang yang mampu meluluhkan hatinya.
Hari ini jam pertama dikosongkan karena seluruh guru sedang rapat, suatu hal yang menyedihkan bagi siswa ambisius sedang hal yang paling menggembirakan bagi para kaum pemalas seperti Zhefanya.
Keadaan kelas 12 Mipa 3 sudah tidak bisa terkondisikan lagi, ada yang bermain game, ngerumpi tidak jelas, berjoget-joget ria, menjajar kursi untuk tempat tidurnya, hingga membuat lawakan-lawakan yang menimbulkan gelak tawa bagi yang menontonnya.
"Zhefanya, Samuel ganteng banget" Ujar Nirina menggebrak mejanya kemudian berbalik, membuat Zhefanya yang sedang duduk damai sembari memainkan ponsel terperanjat kaget.
"Kaget tau gue!"
"Itu Samuel siapa?" Dengan datarnya Zhefanya bertanya pada Nirina yang sontak membuatnya menaikkan satu alisnya.
"Whatt!! Lo gak tau samuel cowok terganteng di sekolah ini?" Ucap Nirina heboh sambil mondar-mandir di samping Zhefanya, rasanya ingin teriak di tempat itu juga.
"Yah emang gue gak tau" ucap Zhefanya lagi membuat Nirina menggeleng-gelengkan kepalanya. Bagaimana temannya itu sangat kudet, dia sampai tidak tau Samuel pujaan para gadis.
"Lo tau gak Samuel itu cowok terkeren disekolah kita, ketua tim basket, lo liat kan tadi di lapangan, dia yang namanya Samuel. Gimana, Ganteng kan tuh cowok?" jelas Nirina panjang lebar yang malah membuat Zhefanya seperti kesusahan bernafas.
"Ouh jadi cowok yang main basket tadi Samuel" ucap Zhefanya dalam hati.
__ADS_1
"Eh kok malah bengong, gimana Ganteng gak?" Nirina menyenggol bahu Zhefanya membuyarkan lamunannya.
"Eh eh" Zhefanya membenarkan posisi duduknya yang terguncang karena senggolan Nirina "Gak ada ganteng-gantengnya tuh" Lanjut Zhefanya.
"Zhe lo bener-bener harus periksa mata lo, gue takutnya nanti katarak" Ucap Nirina tanpa berpikir panjang, dia hanya ingin mengatakan apapun yang ada di pikirannya saat itu.
"Masih normal!" Gerutu Zhefanya tidak terima ejekan temannya itu.
Nirina mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya "Udah anak baru, kudet lagi" Nirina menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya apa yang barusan diucapkan temannya itu.
"Ya namanya juga anak baru" Rasanya tidak adil bagi Zhefanya jika anak baru harus tahu semuanya tentang sekolah itu saat itu juga, dan apalagi untuk hal-hal yang tidak di sukanya, seperti kepopuleran seseorang, sama sekali bukan stylenya.
"Zhe kita ke perpus yuk" kata Nirina tiba-tiba.
"Kesambet apa lo? padahal lo tadi seneng banget pas Bu Tari bilang ga ada pelajaran, tapi kenapa lo seneng banget mau sampai mau ke perpus segala" Zhefanya terheran dengan temannya yang tiba-tiba rajin, dia sangat tahu kebahagiaan temannya itu yaa..tidak melakukan apapun.
"Siapa bilang gue mau baca buku di sana?!" Dahi Zhefanya berkerut mendengar penjelasan Nirina, jika ke perpus bukan untuk belajar lalu untuk apa pikirnya, dan mengenai kalimat Nirina sepertinya dia salah tangkap.
"Gue gak bilang" Zhefanya menghembuskan nafasnya, dia kira temanya sudah tobat tapi malah jadi setan sesat, emang kekampretannya gak bisa dirubah.
"Sialan lu" Sebal dengan pernyataan temannya ia langsung saja pergi, dan tanpa aba-aba Zhefanya langsung mengikutinya dari belakang.
"Gue mau numpang tidur" kata Nirina cekikikan.
"Lo harus ikutin jejak gue, nanti gue kenalin deh sama Samuel"
"Gak sudi!"
__ADS_1
"Bilang aja suka"
"No!"