
Rencana Zhefanya untuk istirahat malam ini harus tertunda karena begitu banyak pesan dari Samuel kepadanya.
...Samuel...
Zhe
Woy Zhefanya
Lo ngapain
Entar lagi jam lapan
Lo gak lupa ama janji lo kan
Jangan sampe telat!
Gue jemput lo jam delapan
Woy jawab gue!
Mati lo!
06.54.
^^^Ya!^^^
^^^06.59^^^
"Masih ada satu jam lagi kali" Zhefanya bergumam setelah membalas pesan beruntun dari Samuel, emang sudah gila dia.
Zhefanya heran dengan perubahan sikapnya terkadang terlihat seperti berwibawa dan terkadang sifat tengil bin amit-amit keluar.
Tok...tok...tok...
Suara pintu Zhefanya diketuk oleh seseorang. Zhefanya langsung berdiri dari ranjangnya dan membukakan pintu.
"Ada apa ma?" Tanya Zhefanya melihat mamanya membawa sebuah kotak kado.
"Ini buat kamu, tadi ada kurir yang nganter" Mama menyodorkan kotak itu.
"Lah Zhe kan gak ada pesen apa-apa" Zhefanya bingung dengan yang dikatakan mamanya dan mengambil kotak ditangan mamanya.
"Tapi tulisannya ada nama kamu loh" Kata mamanya juga ikut bingung.
"Eemm, ma nanti aku pergi sama temen boleh gak"
"Boleh, tapi jangan larut malam pulangnya!" Peringat mamanya lalu pergi turun kebawah
Zhefanya kembali menutup pintunya dan membuka isi kotak itu.
"Hah, baju? Siapa yang ngirim?" Zhefanya bengong saat membuka isinya, siapa juga yang mengirimkan itu padanya.
Kriiiiinggg....
Telepon genggam Zhefanya berbunyi.
"Samuel, ngapain lagi si dia" Zhefanya heran dengan manusia satu ini, senang sekali mengusik dirinya.
"Hmm" ucap Zhefanya saat sudah tersambung.
"Udah terima paket dari gue?"
"Jadi lo yang ngirim baju ini?!" Mata Zhefanya terbelalak mendengar pernyataan Samuel. Gila kata itu yang terbesit di benak Zhefanya.
"Emang kenapa?" Mendengar jawaban Samuel membuat Zhefanya sedikit menghela nafas.
"Lo kira gue gak punya baju?!!" Ucap Zhefanya sedikit tinggi karena tersinggung.
"Gue mau lo pake itu"
Tut..tutt..
__ADS_1
Sambungan diputus sepihak oleh Samuel. "Kurang ajar banget tuh orang".
Walaupun Samuel kelakuannya kayak monyet lepas dari kandangnya tapi Zhefanya juga tidak mau hutang budi dengan Samuel.
Zhefanya mengambil baju itu dan memakainya, warna baju yang diberikan Samuel bagus jadi dia menyukainya jadi dia memakainya.
Tinn..tinn..
"Gue udah didepan rumah lo" Zhefanya membaca pesan yang baru masuk dari Samuel.
Zhefanya sedikit membuka mulutnya, dia terkejut melihat pesan dari Samuel, padahal dia baru saja ingin memberi alamatnya pada Samuel tapi malah manusia itu sudah sampai dirumahnya duluan.
Zhefanya langsung menyelesaikan sedikit riasan diwajahnya kemudian bergegas turun dan menghampiri Samuel, sebenarnya dia berias bukan untuk Samuel, hanya saja dia tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri.
Saat Zhefanya keluar rumah dan membukakan gerbang sialnya bener Samuel udah dateng, Samuel dengan santai menyandarkan tubuhnya ke mobil bagian depan.
Samuel tersadar saat Zhefanya mendekat padanya dia langsung menatap Zhefanya dari bawah hingga keatas.
"Apaan lo lihat-lihat!" Ucap Zhefanya sarkas.
"Lo cantik" Samuel tersenyum kepada Zhefanya malah dibalas tatapan sinis.
"Gue tau tanpa lo bilang" Narsis Zhefanya dibalas senyum manis oleh Samuel lalu membukakan pintu mobil untuk Zhefanya.
"Gue gak lumpuh ya!" Zhefanya masuk kedalam mobil Samuel.Samuel tidak perduli apa yang dikatakan Zhefanya, dia masuk kedalam mobil dan menyalakannya.
"Lo tau rumah gue dari mana?" Tanya Zhefanya penasaran.
"Gue tau semua tentang lo" Jawab Samuel tengil.
Flashback on
Waktu pulang sekolah Samuel melihat Zhefanya sedang menghentikan mobil taxi yang lewat, Samuel ingin mengantar Zhefanya pulang tapi malah keduluan taxi.
Saat Zhefanya masuk kedalam taxi, Samuel mengikuti Zhefanya hingga sampai dirumah besar Zhefanya.
Samuel melepas helm yang dikenakannya.
"Jadi ini rumah lo"
Flashback off
Samuel mengendarai mobilnya dengan kecepatan normal karena dia sedang membawa wanita, jika tidak dia akan mengebut dan menyalip beberapa mobil dan moto lainnya.
"Eh itu Arasya ya? Dia kerja di Bengkel?" Zhefanya tidak sengaja melihat Arasya yang sedang memakai pakaian bengkel. Dia benar melihatnya, matanya masih normal.
"Salah liat kali lo" Tangan Samuel mencengkeram erat stir mobil walaupun wajahnya terlihat normal.
"Tapi bener kok gue gak salah liat, tadi emang Arasya" Ucap Zhefanya meyakinkan.
"Jangan ngomongin laki-laki lain didepan gue!" Samuel memandangi Zhefanya dengan tajam. Ucapan Samuel menutup pembicaraan mereka, tertinggal keheningan.
Setelah beberapa saat Samuel mengendarai mobil akhirnya mereka sampai disebuah restoran mewah membuat Zhefanya takjub melihat keindahan restoran ini.
Saat Samuel menggandeng tangan Zhefanya masuk, mereka sudah disambut pelayan yang mengarahkan ke tempat duduk yang sudah dipesan Samuel.
Zhefanya ingin melepaskan genggaman Samuel tapi ada banyak orang dan pelayanan disana, jadi dia tidak ingin membuat malu dan Samuel pun sudah menggenggam erat tangannya.
Mereka sampai di tempat yang romantis, tidak ada seorang yang bisa mengganggu, tempat mereka mengarah langsung ke pemandangan malam kota Bandung.
Samuel memundurkan kursi didepan Zhefanya dan mempersilahkan untuk duduk.
"Suka gak tempatnya?" Tanya Samuel dibalas senyuman oleh Zhefanya.
Makanan satu persatu datang sesuai permintaan Samuel. "Lo udah pesen?" Zhefanya bertanya pada Samuel dan diangguki cowok itu.
"Gue gak mau lo nunggu lama" lanjutnya.
"Tau banget lo Sam" Ucap Zhefanya cekikikan kemudian langsung terdiam ketika tersadar dirinya sedang kelepasan, Zhefanya memang orangnya sedikit tidak sabaran.
Melihat tingkah Zhefanya malah membuat Samuel juga tertawa kecil, dia menganggap lucu.
__ADS_1
Zhefanya yang sedikit salting langsung menyantap makanan yang ada didepannya.
Uhuk..uhukk...
Zhefanya tersedak makanan dan dengan sigap Samuel memberikan minuman kepada Zhefanya.
"Makannya hati-hati kalo makan?"
"Sorry" Zhefanya membenahkan dirinya.
Mereka menyelesaikan makannya dengan sedikit cepat, tanpa membuka pembicaraan yang banyak.
...***...
Setelah mereka makan, Zhefanya mengajak pulang, dia beralasan jika mamanya akan marah jika dia terlambat, itu memang benar tetapi alasan utamanya hanya saja karena tidak ingin berlama-lama dengan Samuel.
Samuel menyetujuinya dan mengantarkannya pulang.
Ditengah perjalanan Zhefanya kembali memastikan jika yang dilihatnya waktu berangkat adalah memang benar Arasya.
Dia melihat ketempat bengkel tetapi bengkel itu sudah tutup, dia tidak berbicara tentang Arasya lagi dengan Samuel daripada Samuel membentaknya.
Mobil Samuel telah sampai didepan rumah Zhefanya, dengan cepat Samuel membukakan pintu untuk Zhefanya.
"Dibilangin gue gak lumpuh ya!" Zhefanya melangkahkan kakinya keluar mobil dengan pasrah.
"Gue pengin Zhe"
"Emm makasih ya makanannya" Zhefanya menurunkan sedikit egonya tak lupa berterima kasih.
Samuel menaikkan kedua jari tangannya ke pelipis dan melempar kedepan sebagai jawabannya.
"Masuk gih" ucap Samuel dibalas anggukan canggung oleh Zhefanya.
Zhefanya masuk kedalam rumah dan membiarkan Samuel pergi dari rumahnya.
...***...
"Sialan!!" Samuel berteriak saat masuk mobilnya dan sudah tidak ada tanda-tanda Zhefanya.
"Sialan Arasya berani-beraninya dia mau merebut Zhefanya dari gue" Samuel menancap gas mobilnya hingga kecepatan mobilnya berjalan diatas rata rata.
Emosi sudah memenuhi hati Samuel.
Dengan cepat Samuel sampai ke gedung besar yakni rumahnya, kedua orang tuanya sedang tidak ada dirumah, mereka sedang berada diluar kota membebaskan Samuel melakukan hal yang disukainya.
Raut wajah Samuel sudah tidak bisa terkondisikan lagi, dengan cepat Samuel masuk kedalam rumah, bukan kamarnya yang dia tuju tetapi kamar saudaranya.
Braakk..
Pintu kamar saudaranya terbuka akibat tendangan keras yang ditimbulkan olehnya.
Bughh...
"SIALAN LO ANJ**G!!" Pekik Samuel saat berhasil melayangkan satu tinjuan membuat lawannya yang sedang mengerjakan tugasnya langsung tergeletak dilantai tidak bisa mengimbangi pukulan samuel yang tiba-tiba.
"GUE UDAH BILANG KE ELO JANGAN PERNAH SEKALI-KALI LO AMBIL APA YANG GUE PUNYA!!"
Samuel tidak sengaja melihat tas yang tadi pagi dibawa Zhefanya, Samuel sudah memerhatikan tas itu sedari pagi, tapi dia tidak mau bertanya pada Zhefanya dan ternyata ada bersama Arasya, artinya itu untuk arasya.
Mengetahui itu membuat Samuel mendidih, Marahnya semakin menggebu-gebu.
Bughh...bughh..
Kembali ia melayangkan tinjuan kepada Arasya bertubi-tubi, Arasya tidak ingin membalasnya , dia tahu saudaranya sangat marah,dia tidak mau menambah amarahnya.
Setelah dia puas memukuli saudaranya yang sudah babak belur ,dia langsung meninggalkannya tanpa rasa iba.
Arasya adalah saudara Samuel yang selama ini dia sembunyikan, dia tidak ingin orang tahu jika Arasya adalah saudaranya, itu membuatnya malu.
Arasya meringis kesakitan ketika ia ingin membuka mulutnya. Hanya perih yang dapat dia rasakan dan rasa nyeri pada perutnya yang terkena tendangan Samuel.
__ADS_1
Arasya membaringkan tubuhnya kekasur miliknya tanpa mengobati lukanya.
Sakit, tubuhnya benar-benar sakit.