
Pagi-pagi sekali Zhefanya sudah bangun dari tidurnya, dengan setengah nyawa yang belum terkumpul Zhefanya memandang jam lamat-lamat lalu turun dari kasurnya mengambil handuk dan bergegas untuk mandi.
Cukup lama Zhefanya dikamar mandi, entah apa yang dia lakukan didalam sana, tapi yang pasti melakukan ritual wajib bagi perempuan, hehehe.
Setelah selesai dengan mandi, ritual selanjutnya yang dilakukan Zhefanya didepan kaca adalah merias diri. Cukup beruntung Zhefanya yang mempunyai wajah yang cantik, wajah yang diidamkan banyak wanita, juga memiliki rambut yang bagus,badan yang bagus, membuat wanita lain iri.
Selesai dengan yang dilakukannya saatnya tiba di Ritual terakhirnya, dia menyemprotkan parfum di badannya yang menimbulkan semerbak wangi di seluruh ruangan kamarnya.
Kembali dia melihat jam yang setia menempel di dinding menunjukkan pukul setengah tujuh, dia segera turun ke meja makan.
"Wah mama masak banyak banget" Dengan mata yang berbinar Zhefanya menyomot ikan ayam yang baru di goreng mamanya.
Mamanya memasak banyak hari ini, ada ikan ayam, telur gulung, spaghetti dan yang lainnya.
"Iya dong sayang, ini kan hari pertama kamu sekolah di sini" Mamanya melempar senyumannya dan mulai membiarkan putri nya makan.
"Ma ini enak banget" ucap Zhefanya dengan mulut yang masih penuh makanan.
"Hati-hati makannya nanti kamu tersedak" peringatan mamanya.
Zhefanya menghabiskan makanan yang ada di piringnya, hari ini dia berangkat sekolah diantar oleh mamanya karena mamanya belum menyewa sopir untuk antar jemput Zhefanya, jadi sementara mamanya yang melakukannya.
"Sekolah yang rajin yaa sayangnya mama" Zhefanya keluar dari mobil mamanya yang terparkir didepan gerbang sekolah.
"Iya ma"
Baru beberapa langkah dia masuk kedalam sekolah itu, dia sudah menjadi pusat perhatian banyak siswa. Zhefanya yang notabenenya cuek tidak memperdulikan mereka sama sekali.
"Wah gila tuh cewek cantik banget"
"Itu cewek kemaren bor, sekolah disini ternyata"
"Sekolah kita kedatangan bidadari cuy"
"Eh itu beneran cewek di sekolah kita"
"Cantik banget kakaknya"
"Iri banget gue"
Begitulah kira-kira kalimat pujian untuknya yang tertangkap oleh telinga Zhefanya.
Zhefanya terus berjalan menuju ruang guru tanpa memperdulikan mereka semua, ia tak suka menjadi pusat perhatian.
Kriing..kriing...
Bel sekolah telah berbunyi membuat siswa yang hampir telat langsung berhamburan lari ke kelasnya masing-masing.
"Zhefanya Clarisse Gabriella" Zhefanya reflek menengok kearah sumber suara itu.
"Iya bu" Jawabnya berdiri dari kursi tunggu yang berada didepan ruang guru.
"Mari ikut saya" Zhefanya mengangguk pada gurunya, dia bu Tari wali kelasnya.
Zhefanya hanya mengangguk dan mengikuti langkah gurunya menunjukkan kelas yang akan dihuninya.
Setelah melewati beberapa lorong kelas akhirnya sampailah mereka didepan kelas bertuliskan 12 Mipa 3 di atas pintu.
__ADS_1
Suara keributan dari dalam tiba-tiba berhenti ketika bu tari melangkahkan kakinya masuk kedalam kelas bersama dengan Zhefanya.
"Pagi anak-anak" sapa bu tari ketika sampai didalam ruangan.
"Pagi bu" ucap serentak siswa yang berada didalam ruangan.
Namun mata para siswa yang di kelas bukan tertuju pada gurunya melainkan pada Zhefanya yang berada di sampingnya.
Zhefanya sedikit terkaget ketika melihat satu sosok laki-laki yang tidak asing baginya, seperti dia sudah pernah menemuinya.
"Hari ini kelas kita kedatangan murid baru, dia pindahan dari Jakarta. Saya harap kalian tidak mengganggunya dan kalian dapat berteman dengan baik" Jelas guru itu.
"Iya buu" ucap para siswa
"Kalau cantik apa sih yang enggak" serobot salah satu laki-laki mendapat sorakan dari teman-temannya. Laki-laki itu Bara Ketua geng The Boys, geng yang suka merundung anak-anak yang lemah, dia cukup tampan namun sayangnya ga punya akhlak.
"Bara yang sopan kamu!" Kata Bu Tari memperingatkan Bara dan serentak semua siswa tertawa saat melihat Bara kena marah sama Bu Tari.
"Kamu silahkan memperkenalkan diri" Ucapnya pada gadis yang berada disebelahnya, gadis itu hanya mengangguk patuh
"Hai aku Zhefanya Clarisse Gabriella, kalian bisa panggil aku Zhefanya"
"Namanya panjang banget, jadi susah, aku panggil sayang aja yaa" ucap Dirta menggoda Zhefanya kemudian ber-tos ria dengan Bara. Tapi malah disambut tatapan sinis dari Zhefanya.
Bu Tari hanya menghela nafasnya dalam-dalam melihat kelakuan anak muridnya yang begitu bar bar
"Kamu boleh duduk di sana" Bu Tari menunjukkan kursi belakang yang masih kosong, kursi ketiga nomor dua dari belakang.
Zhefanya menurut perkataan Bu Tari dan langsung duduk di kursinya disambut manis perempuan yang duduk di depannya.
"Eh hai, gue Zhefanya" Membalas uluran tangan temannya, Zhefanya tersenyum canggung.
Mereka semua kembali terfokus pada Bu Tari yang memulai pelajaran, tetapi nggak dengan Bara dan gengnya mereka malah bermain game di ponselnya.
Gimana bisa sih mereka sekolah disini, yaa itu mungkin bisa terjadi karna uang mereka mampu melakukannya, mudah bagi mereka menyuap guru yang mata duitan itu.
Kriing..kriing...
Bel istirahat sudah berbunyi, tanpa komando semua murid yang berada dikelas berhamburan keluar, menyisahkan hanya satu orang yang berada di kursi baris pertama paling belakang.
"Dia Siapa Na?" Bisik Zhefanya mengarahkan pandangannya ke arah siswa yang dimaksudnya itu, dia bertanya pada Nirina yang hendak pergi ke kantin bersamanya, namun pikirannya masih penasaran dengan siswa itu.
"Dia Arasya, tau nggak dia pernah ada kasus loh dan kasusnya itu pembunuhan, dan lo tau siapa pembunuhnya? dia sendiri tau Zhe yang membunuh saudaranya, dia juga yang suka bikin keributan disini, kemarin aja bikin ribut di kantin, sebaiknya lo jangan deket-deket sama dia deh" Zhefanya menatap mata Nirina, tidak terlihat seperti orang yang sedang bercanda, berarti yang ia bilang benar.
Ucapan Nirina sedikit keras, mungkin saja Arasya bisa mendengarnya.
"Kalau bener dia yang membunuh saudaranya kenapa kemarin dia kayak orang lemah, harusnya bisa dong ngelawan, membunuh aja bisa masa mukul engga?"
Pikiran Zhefanya berkutat pada kejadian kemarin, memikirkan kemungkinan yang terjadi.
"Hey hayo ngelamun apa lo" Nirina menyenggol bahu Zhefanya membuyarkan lamunannya.
"Eh enggak kok"
"Ya udah yuk makan lapar"
...***...
__ADS_1
Waktu menunjukkan pukul tiga sore dan artinya waktu pulang sekolah tiba, seperti waktunya siswa terbebas dari jeratan materi-materi yang menyerang.
Zhefanya yang sedari tadi pusing dengan pelajaran yang ada didepannya sedikit merasa lega, untuk hari ini.
Kelas 12 Mipa 3 telah kosong, tak ada seorangpun didalamnya, bukan hanya kelas 12 Mipa 3 sana tapi seluruh kelas disekolah hampir kosong.
"Gue pulang duluan ya, udah dijemput sama bebeb gue, bye" Nirina melambaikan tangan pada teman barunya itu yang sedang menunggu jemputan di depan gerbang sekolah.
Zhefanya membalas lambaian Nirina yang sudah menjauh darinya.
Tanpa sengaja Zhefanya melihat laki-laki yang tak asing baginya, yang sedari tadi duduk diparkiran motor yang sudah sangat sepi, dia sedang memberi makan kucing.
Entah terdorong apa hatinya, melihat laki-laki itu membuat hatinya terenyuh melihat bekas luka yang ditimbulkan akibat kejadian kemarin.
"Apa bener dia jahat?"
...***...
Arasya menatap punggung Zhefanya yang telah masuk kedalam mobil menjauhi sekolah.
Arasya tahu sedari tadi gadis itu menatapnya ketika dia sedang memberi makanan pada kucing. Tapi Arasya tak berani menatap mata gadis itu. Dia takut jika wanita itu memandangnya dengan tidak suka.
Arasya pasti sudah menduga jika gadis itu tahu apa yang membuatnya dikucilkan.
Setelah melihat kucing itu menghabiskan makanannya, Arasya menghidupkan motornya dan mengendarainya ke suatu tempat.
Selang beberapa menit ia mengendarai motornya, terlihat ia memarkirkan motornya di sebuah bengkel yang sedikit besar namun memiliki sedikit pegawai.
"Eh Arasya udah dateng" Seseorang berjalan mendekati Arasya dan ber-tos ala laki-laki. Dia Pemilik bengkel, namanya Damar, meskipun masih muda tapi dia sudah bisa mengelola bengkelnya dengan baik.
"Iya bang" Arasya hanya meringis setelah melepaskan helm yang masih menempel di kepalanya.
"Eh muka lo kenapa bonyok kek gitu" Damar menunjuk luka Arasya.
"Ahs sakit bang" Arasya meringis kesakitan ketika Damar tidak sengaja menyentuh luka lebam milik Arasya.
"Jadi ini alasan lo kemaren gak masuk?" Tanya Damar, karena kemarin Arasya nggak masuk kerja dan banyak motor yang harus diperbaiki.
"Maaf bang gak ngabarin" Arasya menunduk karena merasa bersalah.
"Ya udah dah sana ganti baju lo" Terus Damar menunjuk ruang ganti. Arasya hanya mengangguk kecil mendengar ucapan bos nya yang udah anggap dia seperti adiknya sendiri. Arasya berbalik berjalan menuju ruang ganti.
"Lo berantem?" Belum sempat Arasya masuk sudah dihentikan oleh pernyataan Bang Damar.
"Gue gak berantem kok bang" Arasya menatap Damar. Damar menghembuskan nafasnya dalam.
Sudah biasa bagi Damar jika Arasya datang ke bengkelnya dengan luka lebamnya, pasalnya Damar menjadi tempat cerita Arasya ketika dia sudah benar-benar lelah.
"Gapapa bang" ucap Arasya yang tau jika Damar sedang menghawatirkan nya.
Damar bingung kenapa anak sebaik Arasya menanggung dosa yang bukan di buatnya.
Arasya bergegas mengganti baju sekolahnya dengan baju bengkel, dia bergerak mendekati motor dan mobil yang rusak, dia memperbaikinya dengan telaten.
Jika orang tua Arasya kaya kenapa dia malah susah payah untuk bekerja?. Ingat!! orang tua Arasya tidak menyukai anak itu. Jadi Arasya harus berusaha keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, dia membayar biaya sekolah dengan uang hasil jerih payahnya sendiri berbeda dengan anak lain yang hanya bilang ke orang tuanya pasti akan langsung dikasih.
Arasya tidak iri dengan anak-anak lain yang menikmati masa mudanya untuk bersenang-senang dengan temannya, dia hanya menghabiskan waktunya untuk bekerja.
__ADS_1