Arasya | Sinar Yang Pernah Hilang

Arasya | Sinar Yang Pernah Hilang
Masa lalu


__ADS_3

Malam ini Arasya tengah berada di rumah Zhefanya saat sedari pulang sekolah Arasya mampir dan menyalin catatan-catatan punya Zhefanya.


Saat mereka tengah asik dengan kegiatan mereka masing-masing tiba-tiba terdengar ketukan dari luar rumah.


Tokk..tokk...tok...


"Zhefanya mama pulang" Ucap mama Zhefanya menghampiri putrinya tanpa rahu ada tamu yang datang.


"Tante" Arasya bergegas berdiri, menghampiri mama Zhefanya. Menarik tangannya, kemudian Arasya mencium tangan itu. Tak langsung terkoneksi, otak mama Zhefanya terus berpikir, sepertinya wajah anak itu tidak asing baginya.


"Tumben mama pulang cepat?" Tanyanya penasaran, pasalnya mamanya itu biasanya pasti pulang hingga larut. Tapi sekarang baru pukul tujuh.


"Kebetulan bos mama lagi baik hati" Jawabnya disertai kekehan kecil.


Arasya yang ada di sana hanya diam memperhatikan anak dan ibu itu berbicara. Sepertinya sangat seru sekali.


"Ma, ini Arasya. Teman Zhefanya" Zhefanya memperkenalkan Arasya.


Sesaat dia tersadar "Ooh ini teman kamu toh, tadi pagi dia yang nolongin mama waktu tas mama hampir dirampok. Dia jago banget loh bela dirinya" Ucapnya penuh semangat saat bercerita.


"Mama dirampok, kok gak bilang? Ih mama ya, anaknya sendiri gak dikasih tahu!" Gerutunya kesal karena merasa di duakan.


Arasya tersenyum melihat sisi lain Zhefanya.


"Orang mama juga gak apa-apa kok. Makasih ya nak" Ucapnya pada Arasya.


"Ya udah kalau gitu mama ke atas dulu ya" Ijinnya lalu diangguki kecil.


Mereka kembali duduk. Zhefanya terus menatap tajam Zhefanya "Lo bisa bela diri?!" Ucapnya masih terkejut dengan perkataan mamanya.


"Kenapa lo diam aja waktu lo digebukin sama Bramana. Terus kejadian kemarin sampai lo masuk rumah sakit. Terus waktu lo di bully sana anak-anak yang lain, Kenapa lo gak ngelawan? Hah?" Lanjutnya memburu.


"Emangnya kalau aku ngelawan bisa nyelesaiin masalah?"


"Seenggaknya kan ko gak bonyok-bonyok amat. Gak cape apa, badan lo kena pukul terus?"


"Gak ada gunanya juga kalau aku ngelawan, nanti ujung-ujungnya pasti dilaporin"


"Bagus dong kalau dilaporin, jadi mereka bisa dihukum. Mereka gak bakal ganggu lo lagi"


"Mereka para guru, ah enggak. Semuanya, mereka semua gak ada yang percaya sama aku. Gimanapun aku benar atau salah pasti aku yang akan disalahin. Kamu tahu kan kalo aku itu pembunuh? Namaku udah gak baik lagi di telinga mereka" Arasya berucap sendu.


Arasya bisa tetap sekolah dengan rumor buruk yang beredar karena Bundanya donatur tetap di sana. Dia yang membujuk sekolah agar Arasya bisa tetap sekolah.


"Emangnya lo yang ngelakuin itu?" Zhefanya bertanya untuk pertama kalinya. Dan dia sangat penasaran tentang itu sekarang.


"Bukan" Jawab Arasya dengan mudah.


Zhefanya menghembuskan nafasnya "Terus, kenapa lo diam sih Sya? Kenapa lo biarin hal yang gak bener itu?"


"Udah gak ada gunanya lagi, orang tuaku aja gak pernah percaya sama aku"


"Gue percaya kok" Selak Zhefanya cepat "Gue percaya lo bukan pelakunya, gue tahu lo orang baik, hatilo nggak mencerminkan lo seorang pembunuh, gue bisa ngeliat itu"


Tak dipungkiri bahwa Arasya senang mendengarnya.

__ADS_1


"Gue mau dengerin cerita dari lo langsung. Apa yang sebenarnya terjadi?" Arasya menatap mata Zhefanya yang terlihat begitu ingin tahu. Dia ingin mendengarnya.


Zhefanya terus menatap Arasya dalam-dalam saat dirinya tak mendapat apa yang dia mau. "Gue nuntut!" Lanjutnya posesif.


Arasya tersenyum kecil "Kejadiannya waktu aku masih kecil. Waktu umurku masih.."


Flashback on


"Kak, Kakak yang ngumpet ya. Aku yang jaga" Arasya kecil berbicara dengan suara nyaring. Dia mendapat senyuman dari sang kakak sembari mengangkat jempolnya. Tanda dia menyetujuinya.


Arasya terkekeh kecil lalu mulai menghitung "Satu..dua...tigaa..."


"ARASYA!" Pekik seorang laki-laki yang lebih kecil darinya. Arasya langsung menengok melihat si pelaku.


"Ada apa?" Sejenak terlupa akan permainannya dengan kakaknya, dia kini tengah sibuk berbincang dengan adiknya.


Srekk...


"Ini mainan aku!" Ucap sang adik dengan sinis. Dia menarik paksa mainan di tangan Arasya.


Karena mainannya di rebut begitu saja, Arasya tidak terima. Dia harus mendapatkannya kembali. Dia mengambil mainannya di tangan adiknya tapi di cekal oleh tenaga kuat sang adik yang menahannya.


Mereka terlibat pertengkaran. Kedua saling tarik menarik mainan itu hingga membuat kebisingan.


"Apa yang kalian lakukan?" Melihat kedua adiknya terus bertengkar.


"Dia mengambil mainan ku" Lapor Arasya kepada kakaknya. Wajar kan jika Arasya yang masih kecil itu juga menginginkan mainannya?


"Sam, balikan ke Arasya. Cepat!" Kakaknya berdiri menengahi mereka. Dan benar saja, mereka langsung diam.


BRUKKK!


DUGHH...


"KAKAK!" Teriak Arasya melihat kakaknya menggelinding dari anak tangga yang dipijaknya. Benturan terdengar keras di telinga. Arasya terburu-buru menghampiri kakaknya yang pasti sedang kesakitan sekarang.


Sam sebagai pelakunya tentu saja merasa sangat ketakutan. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Tapi, yang pasti dia langsung menghampiri mamanya yang ada di teras rumah.


Arasya menangis melihat darah yang tiba-tiba mengalir di sekitar kakaknya.


"Arasya! Kamu ngapain kakak kamu!" Suara itu terdengar bergemuruh dari mamanya yang baru saja datang di susul suaminya di belakang.


"Mama" Rengek Arasya dengan air mata yang terus mengalir. Betapa dia tahu sakit yang tengah kakaknya rasakan.


"Mama, dia yang udah bikin kakak jatuh dari tangga" Tuduh Sam juga ikut menangis bersamanya.


Flashback end


"Tanpa berkata apa pun papaku langsung bawa kakakku ke rumah sakit. Tapi aku gak dibolehin ikut. Satu hari setelahnya Papa sama mama pulang, sama adikku juga. Mereka semua nangis. Tapi aku gak tahu kenapa. Aku takut kakak kenapa-kenapa" Suara Arasya terdengar begitu bergetar. Matanya terus berkaca-kaca.


Flashback On


"Papa" Arasya berlari kecil menghampirinya kedua orang tuanya yang baru saja kembali ke rumah. Ia ingin tahu kondisi saudaranya.


PLAKK....

__ADS_1


Satu tamparan keras mendarat di pipi Arasya hingga dia tersungkur ke lantai. Si kecil tak tahu apa-apa itu menatap Papanya penuh tanya. Dia anak yang kuat bahkan sama sekali tidak memikirkan bagaimana sakitnya. Yang dia pikirkan adalah kondisi kakaknya


"GARA-GARA KAMU DANIEL MENINGGAL!" Sarkas Papanya menunjuk Arasya dengan jari telunjuknya.


Mendengar berita buruk Arasya langsung menitikkan air matanya "Kakak meninggal?" Rengeknya berdiri dan berlari memeluk papanya.


Tapi belum sempat memeluknya, tangan kekar itu mendorongnya kuat.


"Jangan dekati Papa!"


Sam yang juga melihat amukan Papanya, dia merasa sangat ketakutan. Tapi masih ada untungnya. Dia tak disalahkan seperti Arasya. Tentu karena fitnah yang dibuatnya.


"Arasya pengen lihat Kakak, hiks-hiks"


"IKUT PAPA SEKARANG!" Papanya menarik Arasya dengan kasar menjauhi Mamanya yang sudah terduduk lemas di samping Sam.


"Kamu pembunuh!" Ucap Sam membuat Arasya menengok lesu.


Papa Arasya membawanya ke sebuah tempat gelap yang tak ada penerangan. "MASUK!" Perintahnya. Arasya terbanting dengan mudahnya masuk ke dalam. Ruang gelap dan berdebu. Dia berada di gudang sekarang.


"JANGAN PERNAH KAMU TUNJUKIN WAJAH MU DI DEPAN PAPA!" Teriak papanya dari luar pintu, dia meninggalkan begitu saja.


Seketika kedua orang tua terlupa akan sakit yang di derita Arasya.


"Papa.." Arasya terus menangis di dalam sana. Asal kalian tahu. Arasya sudah tidak makan dua hari ini. Tubuhnya melemas. Bahkan perutnya mulai sakit.


"Mama..." Rengeknya terus meminta pertolongan dari kedua orang tuanya. Tapi sayang, tak ada satupun orang yang mendengar keluhannya.


Arasya kecil terus menangis, dia takut, dia kesakitan. Dan dia tidak tahu harus berbuat apa. Wajahnya dia telungkupkan di kedua kakinya.


"Kakak...Arasya takut hiks-hiks. Kakak ayo balik kaak. Main lagi sama Arasya. Kakak gak boleh pergi"


Dia terus menangis sampai terlelah. Cahaya pun semakin menggelap. Berselang beberapa menit tubuhnya ambruk ke lantai. Arasya sudah tak sadarkan diri.


Arasya pingsan! Tapi tak seorangpun tahu.


Flashback end


"Mereka mengurungku di gudang. Di sana gelap, aku takut. Apa lagi Kakak gak pernah datang" Air mata Arasya terus luruh membasahi pipinya, tak hentinya tubuhnya bergetar hebat. Ia tertunduk lesu. Seolah kejadian itu baru saja kemarin di alaminya.


Zhefanya refleks memeluk Arasya, air matanya juga meluruh, ia yang hanya mendengarkan tapi hatinya terasa tersayang pisau yang begitu tajam "Lo pernah bilang gak ada yang meluk lo waktu sedih kan, sekarang ada gue"


Arasya memejamkan matanya, pedih rasanya. Ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Zhefanya.


"Kalau lo butuh pelukan, peluk aja gue sya, gue akan ada buat lo, gue siap jadi sandaran lo. Lo juga berhak bahagia Sya"


Mereka berdua larut dalam kemalangan yang menimpa Arasya.


"Zhe.." Panggil Arasya masih dalam posisi yang sama.


"Kenapa?"


Arasya menggeleng pelan, Zhefanya dapat merasakan gelengan itu.


"Maaf, maaf gue udah buka luka lama lo"

__ADS_1


***


__ADS_2