
Sekarang Zhefanya juga Arasya tengah di rumah sakit, berada di kamar perawatan Arasya. Laki-laki itu sudah baik-baik saja sekarang.
"Arasya, lo gak mau gitu hubungi nyokap bokap lo atau saudara gitu?" Bujuk Zhefanya.
Arasya menggeleng pelan, sangat pelan "Gak usah, udah ada kamu aja lebih dari cukup"
Sudah berkali-kali Zhefanya membujuk tapi justru penolakan yang diterimanya, ya seperti saat ini.
Zhefanya tentu khawatir, seharusnya jika ada kerabat yang datang pasti akan ada yang merawat dirinya "Tapi kalau gue pulang lo gak ada yang jagain"
"Kan masih ada perawat Zhe" Arasya malah terkekeh kecil.
Raut wajah Zhefanya berubah menjadi cemberut "Kalau gue lagi serius bisa gak lo gak usah ketawa-ketawa gitu!" Gerutunya benar-benar kesal.
Arasya tersenyum, senyum rasa bersalah. "Iya maaf"
"Habisnya aku suka kalau kamu khawatir"
Zhefanya menatap Arasya cengo. Apakah benar dia sedang khawatir? Dia bahkan tidak menyadari itu.
"K-kalau orang lain di posisi lo, ya pasti gue juga khawatir kali" Ucapnya tergagap.
Ahh salah paham rupanya, jika rasa khawatir itu hanya untuk Arasya kan dia lebih senang "Iya-iya, Makasih ya"
"Buat?" Entah kenapa Zhefanya salah tingkah hingga membuat fokusnya buyar.
"Kamu kan udah nolongin aku"
Zhefanya mengangguk-angguk paham "Ahh iya"
Kata itu mengakhiri perbincangan mereka, hingga keheningan mendadak datang. Pikiran Zhefanya berkelana entah kemana saat Arasya terus saja menatap ke arahnya, dia tak berani memberi tatapan balik kepada Arasya.
"Emm..." Bingung Zhefanya saat ingin berbicara.
"Kenapa?" Arasya tahu Zhefanya ingin berbicara, tapi terus saja tertahan.
Zhefanya sedang memutar otaknya sekarang, Ayolah berfikir keras!
"Emm...lo yakin gak kenal siapa yang nyerang lo?"
Mendengar pernyataan Zhefanya membuat Arasya diam tak berkutik, wajahnya datar sedatar-datarnya.
Dia menggeleng "Gak kenal"
"Tapi kok bisa nyerang lo kayak gitu?"
"Sudah gak usah dipikirin" Jika mengingat kejadian itu membuatnya terasa sesak.
"Gimana gak dipikirin! Kalau gak ada gue dan gue gak nolongin lo mungkin udah sekarat mau mati!" Nada Zhefanya sedikit meninggi, bisa-bisanya dia ingin menganggap kejadian itu hal sepele dan melupakannya begitu saja? Mungkin dampak yang ditimbulkan membuat otaknya sedikit bergeser!.
"Kamu berharap aku mati?"
Salah tangkap anak ini! mungkin seperti itu yang terlihat dari raut wajah Zhefanya. "Bukan gitu maksud gue!"
"Terus apa?" Ucapnya sangat lirih.
"Lo tadi merengek kesakitan ke gue udah kayak orang sekarat, terus tiba-tiba lo pengen lupain kejadian itu semua gitu aja??!" Kesalnya.
__ADS_1
"Tapi kan sekarang udah baik-baik aja" Bela Arasya untuk dirinya sendiri.
Tap..
"Akh, sakit Zhe" Arasya memegangi perutnya yang tiba-tiba dipegang Zhefanya. Baru juga diobatin.
"Sakit kan?!"
Arasya mengangguk, dia persis seperti anak kecil yang sedang dimarahi ibunya.
"Rasain! Makanya jangan sok" Sinis Zhefanya.
Malu sudah Arasya dibuatnya. Saat Zhefanya hendak berbicara, dia sudah terdiam terlebih dahulu melihat tingkah laki-laki di depannya itu.
Arasya menutup seluruh wajahnya menggunakan selimut rumah sakit.
"Lo ngambek?" Baru pertama kali dia melihat tingkah Aneh Arasya, membuat dirinya terkikik geli. Namun sebisa mungkin tidak terdengar.
Tampak di balik selimut Arasya menggelengkan kepalanya.
"Yaudah kalau gitu, lo tidur aja, gue mau pulang" Zhefanya berdiri dari duduknya.
"Pulang?" Arasya kembali membuka selimutnya menampakkan wajahnya saja.
"Udah malam, lo gak liat jam?"
Arasya mengerti itu tapi dia tidak relaa "Besok datang?" Tanyanya begitu berharap.
"Belum tau" Zhefanya mengedikkan bahunya.
Arasya kembali menutupi wajahnya dengan selimut.
"Beneran?" Arasya membukanya kembali.
"Iya!" Zhefanya beranjak pergi.
Puas sekali saat Arasya bisa melampiaskan sifat manjanya yang selama ini dia pendam bersama ratusan kalimat yang tersimpan dan selalu menjadi rahasia. Jika manjanya bukan kepada Zhefanya lalu kepada siapa lagi?
...***...
Paginya di sekolah Zhefanya.
"Loh Na, lo liat gak kuncir rambut gue?" Zhefanya bertanya pada Nirina yang sibuk berbenah.
Mereka tengah berada di loker tempat penyimpanan sehabis berganti baju olahraga.
"Enggak, emangnya lo taruh mana?"
"Gue lupa" Sesal Zhefanya.
"Yah gimana dong, gue cuma bawa satu" Nirina menunjukkan miliknya kepada Zhefanya laku memakainya, untuk mengikat rambutnya sendiri.
Memang dia kadang mengikat rambutnya waktu olahraga, dan melepaskannya ketika pelajaran biasanya.
"Makanya kalau taruh barang itu di ingat-ingat" Suara berat laki-laki itu terdengar di telinga mereka.
Tanpa persetujuan Zhefanya, Samuel langsung mengikatkan rambut untuk Zhefanya.
__ADS_1
Gadis itu langsung membelalakkan matanya, lancang sekali everybody!!
"Lancang lo ya!" Sentak Zhefanya langsung menghadap Samuel, untung saja Samuel sudah selesai dengan ikatannya.
Merasa menjadi orang ketiga di tengah keributan yang pasti akan terjadi membuat Nirina langsung pergi dari sana "Gue pergi".
"Kan gue pacar lo" Ucap Samuel posesif.
"Sejak kapan!?" Tatapan tajam itu penuh kebencian "Jangan halu deh!"
"Gimana kalau kita resmiin sekarang?" Alis Samuel terangkat sebelah, Ayolah terima saja toh Samuel tampan dan terkenal.
Tanpa menjawab pertanyaan Samuel, Zhefanya pergi begitu saja. Mengurusi manusia gak jelas seperti Samuel hanya akan menambah stress yang ada.
Samuel tersenyum smirk melihat kenaifan Zhefanya yang selalu menolaknya.
"Gue pasti dapetin lo Zhe"
...***...
"Woy gurunya mana nih!" Teriak salah satu teman Zhefanya.
"Tau nih, udah lama nunggu juga" Sahut temannya yang lain.
Kini mereka sedang berada di lapangan basket, sesuai materi yang telah di sampaikan tentunya akan bermain basket. Namun sayangnya guru mereka tak datang-datang.
"Sam!" Teriak ketua kelas.
Jalan Samuel terhenti ketika melihat Samuel yang sedang berjalan di lorong kelas, dia menghampiri Samuel dengan tergesa.
Mereka nampak berbincang-bincang.
"Ngapain tuh si ketua kelas sama Samuel?" Tanya Nirina membuyarkan lamunan Zhefanya.
Zhefanya mengikuti arah pandang Nirina, benar saja mereka tampak serius berbicara. "Mana gue tau" Dia mengedikkan bahunya acuh tak acuh.
Nirina mendekatkan dirinya ke Zhefanya, tepat di telinganya dia berbisik "Zhe semalem Samuel telfon gue loh"
Merasa geli dengan tindakan Nirina, Zhefanya pun menjauh, toh juga tidak perlu berbisik-bidik "Ngapain?"
"Nanyain lo" Nirina berucap dengan senyum mencurigakan
"Emang tanya apa?" Padahal semalam dia bersama Samuel, kenapa tidak bicara langsung saja pada dirinya.
"Dia cuma tanya lo udah pulang apa belum"
"Gitu doang?" Dahinya berkerut, dia merasa Samuel semakin hari semakin aneh.
Nirina mengangguk semangat "Iya"
"Gak jelas" Sewot Zhefanya.
Sekarang muncul banyak pertanyaan di otak Nirina "Emang lo habis kemana? Ngapain aja samapi di cariin kayak gitu?'
"Emm.. enggak kemana-mana kok" Bohongnya, mungkin Nirina tidak perlu tahu jika dia bersama Samuel dan setelah itu pergi bersama Arasya. Gadi itu pasti akan marah kepadanya.
"Loh Samuel ngapain buka bajunya?" Nirina membelalakkan matanya, Samuel membuka atasan kemejanya hingga menyisahkan kaos hitamnya, lalu satang ke arah mereka.
__ADS_1
"I'm your teacher right now" Ucapnya sembari memandang lekat Zhefanya.