Arasya | Sinar Yang Pernah Hilang

Arasya | Sinar Yang Pernah Hilang
Lebih dekat


__ADS_3

Pagi-pagi Zhefanya sudah berangkat ke sekolah, tak banyak orang yang berangkat pagi-pagi tapi entah kesambet apa Zhefanya ingin berangkat pagi.


Sebenarnya Zhefanya ingin mencontek pr dari temannya karena semalam dia tidak sempat mengerjakannya karena disidak makan malam bersama Samuel.


Zhefanya sampai dikelas 12 Mipa 3 yang menampakkan laki-laki yang menangkupkan kepalanya dikedua tangannya diatas meja.


Zhefanya meletakkan tas dikursinya dan melangkah mendekati Arasya. "Emm Sya gue boleh minjem buku tugas lo gak?" Zhefanya mencolek-colek lengan Arasya dengan jari telunjuknya membuat Arasya mengangkat kepalanya.


"Eh sya muka lo kenapa?!" Zhefanya kaget dengan luka lebam yang membekas di wajahnya.


"Gak papa kok" Ucap Arasya mengelak lalu tersenyum menutupi rasa sakitnya.


"Sya lo luka!, Kalo lo sakit bilang aja sakit, senyum lo ga bisa nutupin kesakitan lo Sya" Ucap Zhefanya sedikit menusuk dan menampar Arsya, yang diucapkan Zhefanya itu benar.


"Kamu salin aja semua" Arasya memberikan buku tugas yang diambil dari tasnya.


Zhefanya mengambil buku itu kemudian menyalinnya dibuku tugasnya.


Saat Zhefanya menyalin tugasnya Arasya pergi keluar kelas saat menyadari mulai ada orang yang sudah berangkat.


...***...


Arasya pergi ketempat biasanya, dia pergi ketaman sekolah yang cukup sepi, dia bersama seekor kucing yang selalu menemaninya, kucing itu selalu berada di taman sekolah.


"Hhh kamu seneng disini ya" Arasya berbicara dengan kucing itu lalu menggendongnya dipangkuannya.


Sudah beberapa menit Arasya berada ditaman, tanpa memberi tahu Zhefanya yang sudah datang dari sejak kapan tiba-tiba duduk disamping Arasya membawa kotak P3K.


"Gue obatin luka lo ya, gue tahu pasti belum lo obatin" Ucapnya dengan kepdan Zhefanya yang entah datang darimana.


"Gak usah nanti juga sembuh sendiri"


Zhefanya tidak mendengarkan perkataan Arasya ia tetap memberikan salep pada bekas luka Arsya.


"Ash sakit Zhe" Arasya meringis kesakitan.


"Kalo udah tau sakit kenapa berantem?! Kalo lo digebukin orang seharusnya lo tuh ngehindar kalo nggak yang lo pukul balik lah" ucap Zhefanya dengan entengnya.


"Gue kesel ngeliat lo kesakitan waktu gue obatin lo" Zhefanya melempar kotak P3K ketubuh Arasya.


"Kamu gak perlu obatin aku Zhe" ucap Arasya tak mau memandang Zhefanya dan memegang sisi perutnya yang terkena lemparan kotak P3K.


"Mak..maksud gue gak gitu Sya, gue cuma gak tega aja lo digituin" Dalam beberapa detik Zhefanya menyadari Arasya meringis dalam diamnya sambil memegang perutnya.


"Perut lo kenapa Sya?"


"Gapapa kok" Zhefanya tidak percaya dengan ucapan Arasya lalu menaikkan sedikit baju seragam Arasya.


"Perut lo juga luka sya?!"


"Dikit kok"


"Keras kepala!" Zhefanya langsung memberi salep juga pada perut Arasya.


Mereka terdiam beberapa saat.


"Kok ada kucing?" Tanya Zhefanya ketika tersadar ada kucing dibawah kakinya.


"Iya, dia temanku sebelum kamu"


"Dia lucu" Zhefanya mengelus-elus kepala kucing itu.


"Kamu juga" Zhefanya terpaku beberapa detik mendengar ucapan Arasya.


...***...

__ADS_1


Arasya dan Zhefanya yang tadinya ditaman langsung menuju kelas saat bel telah berbunyi.


Mereka menjadi pusat perhatian saat masuk kedalam kelas berbarengan. Hampir semua siswa didalam kelas membicarakan mereka.


Nirina langsung menarik lengan Zhefanya dan langsung menyuruhnya duduk.


"Zhe lo apa-apaan bisa sama pembunuh itu?!" Nirina melihat Arasya dengan Sarkas dan laki-laki itu hanya membalasnya datar.


"Stop bilang dia pembunuh Na, gue malah ngeliat yang sebaliknya, ya kalaupun dia emang pembunuh dia bisa berubah jadi orang yang baik kan?" Zhefanya mengambil jalan positif dari pikirannya.


"Waah lo gila Zhe, gue loh yang udah lama sekelas ama dia" Nirina tidak percaya yang diucapkan Zhefanya.


"Maaf" Zhefanya tidak tahu alasannya minta maaf, tapi dia melakukan untuk temannya karena sepertinya akan marah.


"Selamat pagi anak-anak" Ucap bu Tari menengahi percakapan Zhefanya dan Nirina.


"Pagi buu" ucap siswa serentak.


"Sekarang kumpulan tugas kalian!" Perintah Bu Tari kepada seluruh siswanya.


"Lah emang ada tugas ya" Bara mengambil buku Arasya dengan paksa dan melihat-lihat tugas yang dimaksud bu Tari.


Arasya hanya memerhatikan Bara selagi dia tidak berbuat aneh.


"Yang belum tinggal Arasya, Bara, Dirta sama Bumi, mana buku kalian?"


Bara mengembalikan buku Arasya, entah apa yang membuat hatinya bermurah hati pada Arasya, jika tidak dia pasti akan melempar keluar buku Arasya.


Arasya kemudian mengumpulkan tugasnya, dia yang terakhir.


"Buku kamu mana Bara?!" Pagi-pagi sudah bikin emosi aja.


"Ngapain ngerjain tugas nambah beban pikiran aja, mending mikirin kamu bu" Otaknya Bara sudah tidak waras lagi sepertinya, memang nasib guru yang masih muda seperti Bu Tari menghadapi siswa seperti Bara.


"Kurang ajar kamu sama saya ya!" Pekik bu Tari.


"Keluar kelapangan sekarang!"


"Yaah cantik kok marah"


...***...


"Sam masa lo kalah ama pembunuh itu" Ucap Leo saat setelah melihat Arasya dan Zhefanya jalan berdua selepas dari taman, Mereka sekarang ada dikantin.


"Haha ya kali gue kalah sama dia" Terlihat smirk di wajah Samuel.


"Siapa sih yang gak mau sama gue?"


"Iya dah tau gue, lo emang cowok idamannye para cewek tau dah gue" Sambung Alandra tapi biasa dipanggil Al oleh teman-temannya.


"Hahaha...emang nasib lo Al udah punya wajah jelek gak punya pacar lagii" Leo puas menertawai Al.


"Emang dia tuh JJN" imbuh Rendra.


"Jjn apaan?" Tanya Al penasaran.


"Jamet Jomblo Ngenes hahaha..." Rendra tertawa terbahak-bahak begitu juga dengan teman-temannya menertawai Al.


"Emang Anjing lo pada!!!" Al melempar roti kearah teman-temannya.


"Kekelas yok" Ucap Zein yang paling waras diantara mereka semua.


"Gak asik lo"


Mereka akhirnya bubar setelah mendapat komando dari Zein.

__ADS_1


"Eh siapa yang bayar rotinya ini!" Seru ibu-ibu kantin melihat rotinya yang berceceran diatas lantai.


"Samuel bu" Al langsung berlari, takut dihajar habis oleh Samuel.


"Kampret lo temen sialan!"


...***...


"Zhe ntar malem gue diajak cowok gue dinner doong, gue mau dikenalin keorang tuanya" Nirina berjingkrak kesenangan sehabis dikabari pacarnya yang baru beberapa minggu.


Mereka sedang berada di kantin sekarang, menunggu makanan yang dipesan.


"Beneran, bagus dong" Zhefanya juga merasakan kebahagiaan temannya.


"Baru kali ini Zhe gue diajak serius sama cowok dan baru kali ini juga gue ngerasa nyaman banget sama cowok, sumpah gue bahagia banget, mimpi apa coba gue semalem"


Walaupun Nirina terkadang suka curi-curi pandang ke laki-laki tapi dia tahu hatinya hanya untuk pacarnya seorang, tidak ada yang bisa menggantikannya.


"Gue juga seneng kok dengernya, gue harap itu cowok terakhir lo ya Na"


"Iya, tapi gue kok ngerasa ada yang aneh sama dia" Nirina terlihat berpikir.


"Aneh apanya?" Zhefanya merasa bingung dengan perkataan temannya.


"Kayak aneh aja gitu, soalnya pas gue bicara soal..." Nirina ragu untuk mengucapkannya.


"Soal apa?" Zhefanya mulai penasaran.


"Waktu itu kan habis Adzan asar, gue dijemput dia pulang terus pas deket mushola gue bilang kedia kamu gak sholat dulu aku tungguin, soalnya waktu itu gue lagi halangan, tapi jawaban dia aneh Zhe" Terang Nirina.


Ditengah perbincangan mereka muncul lah Samuel and the geng, datang dengan rusuh ke meja Zhefanya.


"Hai cantiik" Samuel langsung duduk dan meminum jus mangga milik Zhefanya.


"Na gue cabut dulu" Zhefanya berdiri dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Nirina dengan para lelaki itu, Zhefanya muak melihat ketengilan Samuel.


"Yaah Samuel kok ditinggal sii" Ucap Samuel menggoda Zhefanya yang berlalu pergi.


"Kamu sama aku aja mas" Ejek Rendra  pada Samuel yang dibalas tatapan tajam.


"Yah kok gue ditinggal ama orang ga jelas ini" Ucap Nirina berpura-pura sedih, dia seperti kena serangan mental melihat kelakuan teman-teman Samuel.


"Yah kok pergi, hati abang sakit neng" Ucap Al memegangi dadanya ketika Nirina juga meninggalkan mereka.


"Buahaha.." Suara tawa terdengar dari teman-temannya melihat kelakuan konyol Al.


"Ada dua hati yang tersakiti nih" Rendra mengejek Samuel dan Al bergantian.


Samuel menatap Rendra tajam dan Al masih dengan kepura-puraannya.


"Goblok lo emang" Zein menoyor kepala Rendra.


"Ahh segerr" ucap Rendra setelah meminum minuman Nirina.


"Minuman bekas Anj**g!" Sahut Leo dengan muka julidnya.


"Gapapa bekas orang cantik" Ucap Rendra lalu tertawa sendiri.


"Bukan temen gue" Ucap Al menggelengkan kepalanya.


Mereka semua meninggalkan Rendra yang masih duduk dan minum.


"Woy tungguin gue!" Rendra tersadar teman-temannya meninggalkannya.


"Samuel Sialan!"

__ADS_1


__ADS_2