
Zhefanya pulang dari rumah Nirina setelah merasa Nirina sudah baik-baik saja, sebenarnya Zhefanya sangat ingin menginap, sayang sekali dia harus berangkat sekolah besoknya.
Zhefanya keluar dari kawasan perumahan elit setelah berjalan beberapa menit sampai di jalan raya, cukup sulit mendapatkan Taxi di jam malam seperti ini.
Zhefanya memainkan kerikil kecil dikakinya saat ia mulai merasa bosan menunggu taxi yang lewat, dia melihat jam di tangannya sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat.
"Zhe!" Zhefanya menoleh kearah sumber suara itu, menampakkan seseorang yang tengah membuka helmnya.
"Arasya?" Zhefanya terkejut akan kedatangannya lalu mendekat pada Arasya.
"Kamu kok diluar malem-malem gini?" Tanya Arasya, suatu kebetulan dirinya bertemu dengan Zhefanya.
"Gue tadi dari rumah Nirina" jelas Zhefanya.
"Kenapa nggak nginep, ini udah malem bahaya buat kamu" Ucap Arasya perhatian, dahinya berkerut memperjelas kekhawatirannya.
Zhefanya hanya meringis menanggapi omongan Arasya. "Ayo naik, aku anterin" Dengan senang hati Zhefanya mendapat tumpangan, setelah berdiri lama tak mendapatkan kendaraan.
Arasya mengendarai motornya dengan kecepatan normal, jalanan yang lumayan lengang membuat kesunyian menimpa mereka berdua, hanya duduk tanpa membuka suara, masih setengah perjalanan tiba-tiba punggung Arasya terasa berat, kepala Zhefanya sudah nyaman bersandar di punggung Arasya, sangat nyaman hingga tertidur pulas.
Arasya yang mengetahui itu langsung menyatukan kedua tangan Zhefanya dan memegangnya didepan perut Arasya, bukan bermaksud modus dia hanya tidak ingin Zhefanya terjatuh dari motornya.
Selang beberapa waktu Arasya mengendarai motornya sampailah dia pada sebuah gedung besar milik Zhefanya.
"Zhe, bangun zhe" Arasya menepuk pelan pipi Zhefanya. Merasa ada yang membangunkannya, Zhefanya membuka matanya perlahan-lahan.
"Hah gue dimana? Hoaam" Kata Zhefanya linglung karena baru terbangun dari tidurnya, matanya mengerjap membangun kesadarannya.
"Ini di rumah kamu, engga mau masuk?" Arasya tertawa kecil melihat tingkah Zhefanya yang dianggapnya lucu.
"Ah iya ya" Zhefanya turun dari motor Arasya.
"Makasih ya Sya" Arasya mengangguk melihat kepergian Zhefanya masuk kedalam rumahnya.
"Kamu ngantuk banget ya"
...***...
__ADS_1
Samuel dan teman-temannya baru saja pulang dari tongkrongannya, mereka melaju dengan cepat saling adu kecepatan gasnya, suara motor yang mendominasi seakan penguasa jalanan.
Sorakan dari teman-teman Samuel ketika mereka berhasil melewati beberapa motor.
"Keren lo Sam" Al bersorak tetap disamping motor Samuel. Sorakan dari Al mengawali mereka mengendarai motor dengan kecepatan normal kembali.
"Sam Arasya bonceng Zhefanya!" Ujar Leo sedikit teriak yang melihat Arasya dan Zhefanya yang berbelok dan berlawanan dengan mereka.
Samuel berhenti lalu diikuti temannya di belakang. "Mana?" Wajah samuel terlihat tidak suka. Leo langsung menunjuk kearah Arasya dan Zhefanya.
Samuel menancap gasnya menyusul mereka tapi tidak dengan temannya, mereka bubar sesaat setelah kepergian Samuel yang berbeda Arah dan memberikan kode untuk bubar kepada mereka.
"Arasya anj**g lo!" Ucap samuel tidak keras tapi menekan.
Samuel sedang menatap Zhefanya yang sedang bersandar dipunggung Arasya, ingin rasanya Samuel menghabisi Arasya malam ini tapi sayang jika dilakukan, dia pasti lebih memilih menyiksanya terlebih dahulu.
Samuel muak dengan kelakuan Arasya, setelah Zhefanya masuk Arasya pergi meninggalkan rumah Zhefanya lalu diikuti Samuel dari belakang.
Saat sampai ketempat yang sepi Samuel langsung menancap gas motornya melaju dengan cepat dan menghalang Arasya dengan badan motornya. Hal itu sontak membuat Arasya mengerem motornya.
"Turun lo!" Samuel melepas helm dan turun menggebrak motor Arasya. Arasya tampak bingung dengan saudaranya yang tiba-tiba marah kepadanya, dia pikir dirinya tidak melakukan kesalahan.
"Salah aku apa?" Ucap Arasya tertatih langsung mendapat satu tendangan di lutut belakangnya membuat Arasya jatuh tersungkur, lututnya mengenai aspal jalanan.
"Saudaraku" Suara purau Arasya meminta iba dari Samuel.
"Gue bukan saudara lo!!" Samuel kembali melayang kan tinjuan kepada Arasya hingga tersungkur kebelakang.
Lampu motor menyoroti kedua laki-laki itu, hingga suara dari motor itu mendekat membuat Samuel menghentikan kegiatannya, pasti Samuel sedang merutuki siapapun itu yang menyaksikan kejadian yang baru saja terjadi.
Samuel baru bisa bernafas lega setelah tahu jika dia adalah temannya, dia Zein.
Saat Samuel menyuruh bubar, mereka semua langsung berpencar tapi tidak dengan Zein, dia mengikuti Samuel diam-diam tanpa sepengetahuan Samuel.
Zein sengaja mengintai Samuel dari kejauhan tapi dia juga masih bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, Zein tahu Samuel orangnya arogan dan pasti akan menghajar Arasya habis-habisan, Zein tidak ingin jika temannya kelewat batas apa lagi hanya karena perempuan.
"Ash siall!" Umpatan Samuel pelan tapi masih terdengar Zein.
__ADS_1
Zein sangat mengerti kenapa Samuel malah mengumpat saat kedatangannya, Rahasia yang sudah dia pendam selama bertahun-tahun mungkin sudah diketahui temannya ini.
"Santai aja kali Sam, gue gak akan bilang kesiapa-siapa" Zein menghampiri Samuel dan menepuk pundaknya beberapa kali.
"Lo kenal gue kan?" Ucap Zein memupuk kepercayaan Samuel kepadanya.
Dan benar Samuel percaya dengan temannya itu, untuk menenangkan dirinya sendiri dia langsung mengendarai motornya pergi dari sana, begitu juga dengan Zein, Zein melihat keadaan Arasya yang babak belur tapi tidak berniat menolongnya karena kesetiannya sebagai teman Samuel, sesetia itu sampai tidak mengerti rasa kesakitan Arasya.
...***...
"Hari ini saya akan memberikan sedikit ulangan matematika, jadi persiapkan diri kalian, ini jam tujuh lewat sepuluh dan saya akan mulai jam delapan, kalian mengerti?!" Perintah Bu Tari yang baru saja masuk kedalam kelas 12 Mipa 3.
Mendengar ucapan Bu Tari membuat seluruh isi kelas mengehela nafasnya kasar, rasanya semua makanan yang ada didalam perut ingin dimuntahkan mereka.
"Yaah bu gabisa gitu doong, kalo mendadak temen saya gabisa ngerjain, kalo temen saya gabisa ngerjain, saya gabisa nyontek " Ucap Dirta putus asa.
"Tidak ada alasan, tidak ada contek menyontek" Ucap Bu Tari langsung pergi dari kelas.
"Alah ga penting juga, mending bolos aja" Ucap Bara dengan entengnya kepada Dirta.
Satu kelas sudah tidak heran dengan kelakuan mereka, brandalan kelas.
"Bara emang the best" Ucap Dirta mengikuti Bara keluar kelas.
Disisi lain Zhefanya yang mulai gelisah dan gugup, pagi-pagi sudah disuguhi ulangan matematika seperti sarapan paginya, rasanya sudah mual saat melihat materi-materi yang sangat sulit untuk dicerna otaknya.
"Mampus dah gue, Nirina juga gak berangkat" Zhefanya berdeham lalu mengacak rambutnya kesal.
...***...
"Lo ngapain si disini?!" Gerutu Zhefanya, moodnya tiba-tiba turun, niatnya ingin menenangkan pikirannya sebelum ulangan matematika malah bertemu samuel yang dianggapnya menyebalkan.
"Mau ketemu lo" Ucapnya tengil namun dengan senyuman yang manis.
"Kalo gue gak mau?" Zhefanya langsung pergi dari hadapan Samuel.
Langkah Zhefanya terhenti ketika Samuel menarik tangannya dan mengarahkan ke tembok.
__ADS_1
"Auwh" Punggung Zhefanya sedikit tersentak tembok dibelakangnya.
"Lo cantik kalo lagi marah, gue jadi suka, jadi pengen gue cium"