Arasya | Sinar Yang Pernah Hilang

Arasya | Sinar Yang Pernah Hilang
Get Out


__ADS_3

Setelah beberapa hari Arasya di rawat di rumah sakit, Akhirnya sekarang sudah boleh pulang. Di sana sudah ada Zhefanya yang setia membantu Arasya.


"Bisa berdiri gak?" Tanya Zhefanya saat Arasya hendak turun dari atas tempat tidur.


Arasya tersenyum kecil "Bisa"


Zhefanya membiarkan Arasya mengganti baju rumah sakit dengan bajunya sendiri.


Setelah beberapa saat akhirnya dia selesai, dan mereka sudah siap untuk pergi dari rumah sakit. Rasanya begitu lega. Tidak ada lagi aturan rumah sakit!


"Taruh gak tasnya!" Sentak Zhefanya saat melihat Arasya ingin mengambil tas yang berisi barang-barang miliknya. Belum saja menyentuh, si singa betina itu sudah mengaung.


"Kenapa?" Dengan polosnya Arasya bertanya. Dia rasa dia yang harus membawanya toh itu miliknya. Kenapa harus dilarang?


"Lo gak boleh bawa itu. Biar gue aja"  Zhefanya yang tadinya duduk dan sibuk bermain ponsel kini menghampiri Arasya lalu mengambil tas yang ada di depannya.


"Gak usah Zhe. Aku bisa sendiri kok. Lagi pula aku udah sembuh"


Mendapati wajah Zhefanya yang masam dan sangat mengerikan membuatnya bergidik ngeri terlebih dengan sorot matanya yang mulai menajam sadis. Gadis itu benar-benar marah sekarang.


"Kalau gue mau bawa, ya gue bawa! Ngerti gak!?"


"Iya" Arasya mengangguk patuh.


Zhefanya menahan senyumannya "Pinter banget sih" Ucapnya dengan senyum yang mengembang sempurna. Dia menepuk-nepuk kecil kepala Arasya.


Hati siapa yang tidak melayang, itulah yang dirasakan Arasya. Sentuhan hangat yang membuatnya mabuk kepayang.


Wajahnya yang berseri-seri membuat wajah tampannya Arasya terlihat kembali, terlebih luka-luka yang dulu dia dapatkan sudah kembali pulih.


"Lo pasti seneng banget ya udah boleh pulang" Zhefanya membuka percakapan di sepanjang perjalanan keluar menuju lobi rumah sakit.


"Iya" Arasya mengangguk semangat.


"Katanya Bunda mau pulang. Jadi tambah seneng deh"


"Beneran?!" Semangat Zhefanya mendengar kepulangan Bunda Arasya yang sudah bertahun-tahun lamanya. Biasanya di hanya dengar cerita Bunda dari Arasya. Tapi sekarang, dia akan langsung tahu Bundanya. Tentu saja jika Arasya mau mempertemukan mereka.


"Iya. Kamu mau ketemu Bunda?"


"Boleh! Mau banget dong! Gue mau tau gimana si perawakan Bunda yang sayang banget sama lo" Zhefanya tertawa renyah di akhir kalimatnya.


Arasya tersenyum jahil, terlintas di benaknya sebuah pertanyaan "Kalau kamu sayang Aku gak?"


"Say.." Hampir saja dia keceplosan. Kadang susah di rem mulutnya.


"Eh apaan si Sya! Gila lo ya" Karena salting akhirnya dia mempercepat jalannya hingga mendahului Arasya.


Kau tahu bagaimana Arasya sekarang?

__ADS_1


Tentu saja lelaki senyum penuh kemenangan. Bahagia sudah dia hari ini. Dia tahu betul kata yang seharusnya Zhefanya katakan.


******


"Bentar, mama telpon" Ucap Zhefanya kepada Arasya yang hendak masuk ke pekarangan rumah milik Bunda.


"Duluan aja" Lanjutnya.


Mendapat titah dari Zhefanya, Arasya langsung menurutinya. Dia lebih memilih masuk terlebih dahulu, dia juga ingin memberi ruang untuk Zhefanya mengobrol. Kan tidak enak menguping pembicaraannya dengan calon mertua, eh mamanya maksudnya.


Saat hendak membuka pintu, dia dibuat berpikir oleh keanehan pintu rumah itu. Dia rasa saat terakhir kali datang, dia sudah kunci dengan benar. Tapi kenapa sekarang tidak terkunci?


Apa jangan-jangan???


******


Di tempat tongkrongan yang biasa di tempati Samuel and the geng. Terdapat Al yang sedari tadi terus melamun hingga tak sadar teman-temannya memandang dirinya aneh.


"Lampu ijo dah gue sama Nirina" Kedua sudut bibirnya terus saja melengkung ke atas seperti tak ingin untuk turun.


"Gila nih orang" Leo berucap.


"Gue tahu nih. Ini orang pasti habis muach-muach tuh sama siapa temennya Zhefanya?" Ceroros Rendra sembari mengingat nama gadis yang dimaksud.


"Nirina" Jawab Samuel. Memang apapun yang menyangkut pautkan dengan Zhefanya pasti Samuel selalu ikut campur.


"Iya itu tuh" Rendra menjentikkan jarinya.


Suara tamparan yang nyaring utu berasal dari gamparan keras dari Zein kepada Rendra.


"Astaghfirullah, mulut lo!" Sewot Zein. Tidak boleh siapapun berpikir aneh-aneh!


"Iya deh si paling baik paling bijak. Bapak Zein" Nyinyir Rendra.


"Emang pikirannya butuh di rukiyah" Ceplos Leo mendapat tatapan aneh dari Rendra.


"Rukiyah Aku Bapak Samuel" Rendra berucap seperti orang kerasukaan.


Leo merasa sungguh bersalah telah mengatakan hal seperti itu. Lihatlah sekarang si Rendra tengah ber-acting tidak jelas.


"Berguna gak sih nih anak? Kalau enggak buang aja deh" Samuel berucap ketus membuat laki-laki yang tengah dibicarakannya itu langsung terdiam duduk.


Mendengar jawaban konyol Samuel membuat gelak tawa bagi mereka.


"Enggak-enggak" Sela Al menghentikan tawa manusia-manusia itu. Semua mata tertuju pada Al.


"Yang dibilang Rendra bener kok"


Dughh...

__ADS_1


Al tak sadarkan diri karena mabuk berat.


Flashback On


Laki-laki san perempuan yang tak memiliki hubungan itu saling diam di parkiran. Nirina menunggu Al memberikan jaket dan juga helmnya. Sedangkan Al terus termenung, entah sedang memikirkan apa.


Keduanya terus berhadapan di situasi yang benar-benar canggung.


Sekilas mata Nirina menangkap sosok perawakan yang tak asing. Dia Arbian, menatapnya dari kejauhan.


"I-in.." Belum sempat Al berucap penuh untuk kalimatnya sudah di hentikan oleh aksi tak terduga.


Cupp


Tubuh Al terpaku, matanya terbelalak. Jantungnya berdegup kencang. Helm yang di peganginya pun dengan tak tahu diri jatuh dari tangannya, sebegitu gugupnya dia karena Benda asing yang baru saja menempel di bibirnya.


Entah apa yang ada di pikiran Nirina hingga membuat dirinya begitu berani dan lancang. Dia bertekad untuk itu.


Ini baru pertama kali mereka!


Melihat gadis di depannya memejamkan mata membuatnya iku terpejam. Jangan salahkan dia jika dia terbawa suasana. Nirina yang memberikannya sendiri, tentu hasratnya menginginkannya juga.


Di kejauhan sana Arbian mengeratkan kepalan di tangannya. Hatinya benar-benar sakit melihat dua insan yang saling mencumbu mesra.


Flashback Off


Mereka semua yang mendengarnya tak percaya dengan yang Al ucapkan barusan. Terlebih dengan Zein. Dia sangat anti terhadap hal-hal seperti itu.


"Gila men, cepat banget" Ucap Rendra dengan keheranannya.


"Sat-set Sat-set dapet" Timbrung Leo.


"Istighfar lo pada!" Sentak Zein tidak suka


Rendra berdecak "Dikit doang Zein. Nanti juga lo kayak gitu" Dia menaik turunkan alisnya berniat menggoda.


Zein memutar bola matanya malas


"Pacar bukan main nyosor-nyosor aja tuh anak. Mau lagi ceweknya sama curut begitu" Ucap Leo.


"Namanya juga cinta, Buta bro. kayak lo enggak aja"


"Gue gak segitunya ya! Gue masih dalam batas aman. Ya gak Zein?"


"Harus!" Zein mengangkat tangannya menyambut tos dari Leo.


Tak mendapat dukungan membuatnya mengalihkan pembicaraan. "Lo kapan Sam, kayak gak ada kemajuan?" Senggolnya kepada Samuel yang sedari tadi diam.


"Ingat kan, empat tiga hari lagi sisa waktu lo"

__ADS_1


"Santai aja kali" Samuel merasa sesak. Dia langsung pergi dari sana membuat teman-temannya celingak-celinguk dengan sikapnya yang langsung berubah.


__ADS_2