Arasya | Sinar Yang Pernah Hilang

Arasya | Sinar Yang Pernah Hilang
Minggu


__ADS_3

"Ma Zhefanya pergi dulu!" Teriak Zhefanya di ambang pintu.


"Lho, ini loh bekalnya ketinggalan!" Sahut mamanya berjalan menghampiri Zhefanya dengan menenteng makanan.


"Mau cepat-cepat ketemu pacarnya ya gini, semuanya di lupain" Ejeknya.


"Ih Mama Apaan sih, bukan pacar Zhe tau"


Mendengar jawaban putrinya yang kesal membuatnya tersenyum kegirangan "Iyaa bukan pacar. Tapi..."


Zhefanya penasaran dengan kalimat yang digantung itu "Tapi apa ma?"


"Calon menantu mama" Dia tertawa senang.


"Mama, stop!" Gerutunya kesal.


"Yaudah sana berangkat taksinya udah nungguin"


"Dadah mama" Pamit Zhefanya lalu pergi bersama taksi yang telah nangkring di depan rumahnya.


***


Beberapa menit di perjalanan kini mobil taksi itu terparkir di rumah sakit tempat Arasya di rawat.


"Makasih pak" Sopan Zhefanya lalu pergi memasuki lobi rumah sakit. Berjalan lagi hingga sampai di sebuah kamar yang dia tuju.


"Aras-ya" Ucapnya dari semangat langsung memelan.


"Loh Arasya, lo dimana?" Paniknya mendapati ranjang yang kosong, Arasya tidak ada di sana.


Dughhh...


Suara seperti benda jatuh terdengar di telinga Zhefanya, sepertinya berasal dari ruangan yang tengah tertutup dari sana.


Segera Zhefanya membuka pintu dan...


"Sya lo ngapain?!" Pekik Zhefanya membelalakkan matanya.


Arasya langsung mendongak, melihat siapa penolongnya "Zhe tolong"


"Lo ngapain gue tanya!?" Sentak Zhefanya saat hendak menolong Arasya yang jatuh ke lantai.


"Jatuh Zhe" Polos Arasya.


Zhefanya tahu lelaki itu terjatuh, tapi apa alasannya dan mengapa dia pergi ke sana sendiri? Dasar Cowok sok kuat!


"Ya ngapain juga pakai jatuh" Sewotnya tak suka.


"Gak sengaja"


"Kenapa juga lo pergi ke toilet sendirian! Nungguin gue bentar kan juga bisa" Ucap Zhefanya tanpa sadar mereka berbeda gender.


"Nungguin kamu?"


Mereka saling diam, Zhefanya mencoba memahami kata-katanya sendiri.


"Kalau aku nungguin kamu, kamu bakal nganter aku ke toilet?" Arasya mengerutkan dahinya.


Astaga! Zhefanya baru tersadar!


Mulutnya dia buka lebar dan langsung di tutupi kedua tangannya. Dengan respon cepat dia mundur hingga keluar dari area toilet.


"Bodoh lo Zhe!" Zhefanya merutuki dirinya sendiri dalam hati. Bagaimana bisa mengatakan hal seperti itu kepada laki-laki. Mau di taruh di mana mukanya?


"Zhe tolongin Aku" Rengek Arasya dari dalam.


"Gak! Lo mesum!"


Hah? Apa yang Arasya dengar? Dia yang mesum.

__ADS_1


"Mana ada aku mesum?"


"Udah deh diem!" Sentak Zhefanya, dia merasa malu menunjukkan wajahnya.


"Zhe tolongin, Aku gak bisa berdiri"


Dengan terpaksa menahan malunya Zhefanya membantu Arasya. Dia merangkulnya.


Perlahan-lahan Zhefanya mendudukkan Arasya di kasurnya.


"Kalau mau apa-apa bilang, bisa panggil perawat juga"


Arasya sedari tadi diam dan menunduk.


"Gue gak ngomong sama batu ya!" Zhefanya kesal mendapati lawan bicaranya yang sekalu diam seperti itu.


"Iya maaf"


Mata Zhefanya memicing menatap sekilas Arasya "Maaf maaf! Maaf mulu perasaan. Udah gitu nanti diulang lagi" Gerutunya pelan tapi masih terdengar du telinga Arasya. Bukan merasa panas mendengar omelan, Arasya malah menyukainya.


Tiba-tiba Zhefanya melontarkan pertanyaan "Udah makan?"


Salah satu yang sering diabaikan oleh laki-laki itu adalah makan. Bahkan dis aat seperti ini.


"Udah" Jawabnya sembari mengangguk.


"Gak bohong kan?" Curiga Zhefanya. Dapat suap apa dia?


"Enggak. Kalau gak makan nanti kamu marah-marah lagi" Ucapnya lesuh.


Tangan Zhefanya secara tak sopan langsung di arahkan ke kepala Arasya "Anak pintar" Ucapnya sembari menepuk-nepuk pelan kepalanya itu. Mereka berdua lalu tersenyum manis bersama.


"Mau makan buah gak?" Tawarnya lalu Arasya menggeleng sebagai jawaban.


"Emm…?" Zhefanya tampak berpikir, harus apa dia sekarang.


"Kenapa?" Peka Zhefanya terhadap kegugupan Arasya.


"M-mau keluar dari sini"


Mata Zhefanya langsung melotot mendengarnya "Apa lo bilang?" Alisnya terangkat sebelah.


"Mau keluar" Cicit lelaki itu pelan.


"Lo gak boleh keluar! Lo masih harus di rawat sampai dokter sendiri yang kasih ijin!" Posesif Zhefanya.


"T-tapi katanya boleh kok kalau buat jalan-jalan sebentar"


"Jalan-jalan?" Zhefanya bertanya dengan wajah cengo-nya. Dia kira Arasya tidak ingin dirawat lagi, ternyata hanya ingin keluar jalan-jalan. Salah tangkap sudah.


Arasya mengangguki pertanyaan Zhefanya "Suntuk"


Benar juga yang dia katakan. Sedari pertama dia di rumah sakit tidak ada yang menemaninya selain Zhefanya. Papanya pun malah menambah beban pikiran untuk Arasya. Dia selalu dalam kamar dan sendirian. Betapa malangnya nasib Lelaki itu.


"Oouh bilang dong kalau mau jalan-jalan" Zhefanya mengangguk-angguk mengerti.


"Bentar gue ambilin kursi roda dulu"


***


Mereka sudah berada di taman rumah sakit. Arasya dapat tersenyum lebar setelah menghirup udara segar dari Sang Alam.


"Banyak orang ya Zhe" Ceplos Arasya.


"Ya kalau sepi itu kuburan! Mau kesana? Gue anterin sekarang" Kejam Zhefanya, itupun dia berpura-pura.


"Siapa bilang sepi" Kata Arasya dengan wajah datarnya. Ia mendongak melihat Zhefanya yang terlihat sudah kesal sekali.


"Terserah lo!" Yang tadinya Zhefanya berada di belakang Arasya kini dia beralih di kursi sana.

__ADS_1


Sekarang Zhefanya sudah marah kepadanya, dia harus apa? Dia bingung!


"Akhh" Dia meringis sambil melihat reaksi gadis itu. Benar sesuai dugaannya, gadis itu panik! Dia langsung menghampiri Arasya dengan sigap.


"Lo kenapa? Sakit lagi? Mana yang sakit?" Cerewet Zhefanya dengan kekhawatirannya.


"Kita balik aja yah"


Kepanikan gadis itu membuat Arasya sedikit tertawa, itu sangat lucu. Berbeda dengan Zhefanya, gadis itu langsung menatapnya tak suka.


Sejenak dia mencoba memahami keadaan "Lo bohongin gue ya?!"


"Hehe maaf, soalnya kamu lu.."


Bughhh


"Akk!" Pekik Arasya merasa benar-benar kesakitan. Bagaimana tidak jika Zhefanya dengan sengaja memukul perutnya. Terasa ngilu sekali.


"Sakit banget Zhe"


Sebenarnya dia tidak tega melihat Arasya memelas seperti itu tapi rasa kesalnya juga besar "Lagian, siapa suruh lo bohongin gue kayak gitu hah?"


"Kamunya kesel terus sama Aku"


"Karena lo nyebelin!"


"Yaudah iya gak diulangi"


"Bilang apa?"


"Iya gak diulangi lagi"


Percayalah tingkah Arasya membuat Zhefanya harus menahan tawanya. Arasya sungguh seperti anak kecil yang baru saja kehilangan Ice cream-nya.


Kriiingg...


Suara dering telepon Zhefanya membuatnya bergegas menekan tombol hijau di layarnya.


"Hai babi"


"Lo dimana?"


"Rumah sakit"


"Tau gue, tapi di bagian mananya? Eh mending sekarang lo balik ke kamar Arasya"


"Lo di sini?"


"Ya, gue sama Damar. Buruan kesini"


"Loh lohh? Lo kenap.."


Tuuttt


Sambungan terputus begitu saja, tentu saja Riri pelakunya.


"Ada apa?" Tanya Arasya merasa penasaran.


"Riri kok sama Abang lo itu?" Zhefanya mempertanyakan kebersamaan mereka. Rasa-rasanya mereka tidak sedekat itu, apalagi Riri yang ada di ruang Arasya. Dia ingin menjenguk Arasya? Sangat tidak mungkin.


"Bang Damar?" Zhefanya mengangguk.


"Mereka ada di kamar lo"


"Yaudah kita kesana"


Zhefanya menurut, dia segera membantu Arasya mendorong kursi rodanya itu.


Zhefanya masih dengan kebingungannya, dia berucap samar-samar "Kenapa mereka sama-sama? Apa jangan-jangan...?"

__ADS_1


__ADS_2