Arasya | Sinar Yang Pernah Hilang

Arasya | Sinar Yang Pernah Hilang
Akhir kata


__ADS_3

Kelas 12 IPS 5 hari ini sedang jam pelajaran olahraga, seperti yang biasa dilakukan Samuel dan teman-temannya mereka sedang melakukan permainan bola basket, mereka menunjukkan betapa hebatnya pemain basket SMA Bakti Jaya.


Samuel mengibaskan rambutnya yang basah akibat keringatnya menambah ketampanan yang hakiki.


"Sam ada Zhefanya!" Seru Rendra saat melihat Zhefanya melewati lorong sekolah. Samuel langsung menghentikan aktivitasnya, tanpa berlama-lama dia pergi menghampiri Zhefanya.


"Hai Zhefanya" Goda Samuel memunculkan wajahnya dihadapan Zhefanya. Zhefanya sedikit terlonjak kaget saat kedatangan Samuel yabg tiba-tiba.


"Lo ngapain si disini?!" Gerutu Zhefanya, moodnya tiba-tiba turun, niatnya ingin menenangkan pikirannya sebelum ulangan matematika malah bertemu Samuel yang dianggapnya menyebalkan.


"Mau ketemu lo" Ucapnya tengil namun dengan senyuman yang manis.


"Kalo gue gak mau?" Zhefanya langsung pergi dari hadapan Samuel.


Langkah Zhefanya terhenti ketika Samuel menarik tangannya dan mengarahkan ke tembok. "Auwh" Punggung Zhefanya sedikit tersentak tembok dibelakangnya.


"Lo cantik kalo lagi marah, gue jadi suka, jadi pengen gue cium" Kata samuel mendekat mengikis jarak antara keduanya, terdengar suara serak Samuel  membuat sekujur tubuh Zhefanya merinding, jantungnya memompa dua kali lebih cepat dari biasanya, jika ketahuan guru mampus sudah riwayatnya.


Zhefanya mendorong tubuh Samuel kebelakang tapi usahanya gagal melawan Samuel yang bertubuh kekar, Samuel tersenyum melihat tingkah Zhefanya, lucu.


Zhefanya mengambil kesempatan untuk pergi dari samping tapi dengan cepat Samuel menghalangi dengan kedua tangannya.


Samuel memandang mata Zhefanya yang terlihat sangat gugup membuat Samuel semakin berani, Samuel memajukan wajahnya mendekati Zhefanya, matanya terus tertuju pada bibir berwarna pink milik Zhefanya.


Bugh...


"Akh.." Samuel menutup matanya dan memegangi kepalanya yang habis saja terbentur oleh bola basket. Samuel sangat ingin berkata kasar sekarang tapi dia tahan karena ada Zhefanya, berbanding terbalik dengan Samuel Zhefanya malah sangat bersyukur karena bola itu telah membantunya.


Samuel menelusuri dari mana datangnya bola itu dan matanya tepat pada rekan-rekannya yang cekikikan tidak jelas di lapangan basket, Samuel menatap mereka dengan tatapan sinis membuat mereka memalingkan pandangannya.


Plakk...


"Lo gila Sam!" Zhefanya tidak habis pikir dengan apa yang baru saja ingin Samuel lakukan.


Samuel memegang pipinya yang terasa sedikit panas akibat tamparan seorang gadis didepannya.


"Gue benci sama lo!"


Zhefanya pergi ke kelasnya dengan perasaan dongkol, niatnya ingin tenang tapi malah menghancurkan moodnya.


Teman-temannya yang melihat kejadian itu meringis, mereka heran tak percaya orang seperti Samuel baru saja ditampar oleh seorang cewek.


...***...


Nirina hari ini tidak berangkat sekolah, kepalanya serasa pening akibat menangis semalaman, bukan cukup sulit saja tapi benar-benar sulit ketika kita harus melepas orang yang kita cintai.

__ADS_1


Tok...tok...tokkk...


Nirina mendengar suara ketukan pintu dirumahnya tapi dia malas untuk berjalan keluar.


Tok...tok...tokkk...


"Iyaaa" Ucap Nirina bermalas-malasan lalu keluar dari kamarnya.


Dengan langkah lesuh dan rasa pusing yang masih ada Nirina turun kebawah dan membukakan pintu.


Saat pintu sudah sedikit terbuka menampilkan satu sosok laki-laki yang membuat hati Nirina perih, dia langsung menutup pintunya dengan cepat.


"Lo pergi!" Ucap Nirina dibalik pintu menahan air matanya.


"Izinin aku ketemu kamu Na" Dia laki-laki diluar pintu Nirina, dia Arbian pacar Nirina, ups.. lebih tepatnya Arbian adalah mantannya.


Arbian sangat berharap Nirina mau membukakan pintu untuknya, dulu pintu yang selalu terbuka lebar untuknya sekarang seperti tak ada jalan untuknya masuk.


Nirina ingin sekali bertemu dengan Arbi tapi takut hatinya akan goyah.


"Na aku mohon, untuk terakhir kalinya" Arbian benar-benar memohon, laki-laki itu hampir frustasi saat hubungannya dengan Nirina buruk.


Masih tak ada jawaban dari Nirina dari dalam, Nirina tampak berpikir apakah membukakan pintu untuk Arbian adalah keputusan yang benar.


Terlihat senyum bahagia yang terpancar dari wajah Arbian, Arbian bersyukur masih ada ruang dirumah Nirina untuknya.


"Maafin aku Na, aku gak bermaksud nyakitin hati kamu, maafin aku karena udah nyembunyiin hal besar dari kamu, aku emang BODOH NA BODOH!" Ucap Arbian menampar pipi kanan dan kirinya bergantian dan menekankan akhir kalimatnya.


Nirina tidak tega melihat Arbian begitu terpuruk kehilangannya, dia hanya bisa menunduk tidak mampu melihat mata Arbian. Dia semakin merasa dirinya tak pantas mendapatkan Arbian yang begitu tulus, dia merasa bukan wanita yang tepat untuk Arbian.


"Lihat aku Na" Perintah Arbian, dia menangkupkan kedua tangannya di pipi Nirina, menggiring Nirina untuk memandang mata Arbian, namun dengan sigap Nirina menghempaskan tangan Arbian, matanya mengedar menahan Air mata yang hampir jatuh.


"Perempuan itu" Ucapan Arbian terhenti, entah kenapa rasanya berat membicarakan hal itu.


"Itu perjodohan Na, aku gak pernah setuju dan aku gak pernah suka sama dia, aku gak berhianat Na" Hati Nirina mencelos seketika mendengar penjelasan Arbi.


"Cukup Arbii, lo gausah cerita apapun lagi" Ucap Nirina yang sudah frustasi dengan keadaan.


"Harus Na, aku harus cerita semuanya, aku gak mau kamu salah paham" Arbi menarik tangan Nirina lalu digenggamnya.


"Sekarang udah gak guna!" Ucapnya memejamkan matanya dengan nada tinggi.


"Aku gak mau kamu benci aku na, aku bisa gila kalo sampai itu terjadi, aku bakal jadi laki-laki yang paling menyesal di dunia ini" Arbian menahan air matanya, dia mengacak-acak rambutnya.


"Na aku mohon, jangan benci aku ya" Arbian menangkup wajah Nirina yang masih tak mau memandang wajah Arbian ,Nirina mengalihkan pandangannya saat tangan Arbian sudah memegangi pipinya.

__ADS_1


"Lihat aku Na" Arbian mengarahkan wajah Nirina kearah pandangannya hingga tatapan mereka saling beradu.


"Jadikan perpisahan ini yang terindah untuk kita"


"Arbiii" Nirina memeluk Arbi dengan erat, air mata yang sudah dia tahan sedari tadi tak kuat dia bendung lagi, dia menumpahkan segala perasaan dipelukan nyaman Arbi, dia menangis sejadi-jadinya, dia harus merelakan segalanya.


"Sampai kapanpun aku akan tetap sayang kamu Na" Seorang laki-laki kuat seperti Arbian menangis di pelukan gadis yang sangat dia cintai, terlihat senyum diwajahnya tapi tidak dengan hatinya. Mereka sedang tidak baik-baik saja sekarang.


Setelah tersadar dia tidak berhak atas Arbian dia langsung melepaskan pelukan mereka. Nirina mengapus air matanya yang telah membasahi pipinya.


"Arbi sayang Na kan?" Tanya Nirina membuat Arbian mengangguk kecil.


"Mau gak Arbi janji sama Na?" Nirina tersenyum kecil.


"Arbi janji" Arbian kembali mengangguk.


"Arbi gaboleh nangisin Na ya" Ucap Nirina membujuk Arbi sambil mengapus air matanya dan merapikan rambut Arbian yang berantakan.


"Sekarang Na bukan siapa-siapa Arbi lagi, Arbi sekarang udah punya calon istri" Nirina tersenyum.


"Enggak, enggak Na" Arbian memegang tangan Nirina yang sekarang sedang mengelus kecil pipinya.


"Arbian harus bisa, Arbi harus mulai belajar mencintai Luna yaa, Arbi mau janji kan?"


Arbian memeluk Nirina kembali, bisa dilihat betapa besar cinta Arbian kepada Nirina dari eratnya pelukannya.


Nirina sedikit ragu membalas pelukan Arbian lalu menepuk-nepuk pelan punggung Arbian. "Arbi jangan sakitin diri sendiri ya, Arbi juga harus jaga kesehatan"


"Makasih untuk semuanya" Arbian berusaha mati-matian menahan air matanya luruh kembali, lalu melepaskan pelukan mereka.


"Arbi pamit Na"


Arbi memandangi Nirina sejenak lalu menaiki motornya.


"Dadaah sahabat Na" Nirina melambaikan tangan kearah Arbian yang bersiap menancap gasnya.


Nirina langsung masuk setelah motor Arbian menjauh. Badan Nirina lirih kelantai sesaat setelah dia melihat pintunya.


"Na juga sayang Arbian" lagi dan lagi air mata Nirina jatuh lagi.


"Haha... Lucu ya Bi, aku yang udah nguatin kamu, tapi aku sendiri malah yang lebih rapuh" Nirina tertawa namun tawa mengejek dirinya sendiri.


Bohong jika Nirina sudah bisa ikhlas, pelukan hangat dari Arbian pasti akan sangat dirindukan Nirina.


"Aku sayang kamu bi"

__ADS_1


__ADS_2