
Ketika Nirina telah berusaha mengontrol emosinya sebisa mungkin, kini dia keluar dari toilet umum di sana. Tanpa melihat sekeliling, dia tak ingin melihat sosok yang dihindarinya.
"Na!" Panggil suara yang tak asing di telinganya.
Deg..
Seketika dua hati manusia berbeda lawan jenis itu memacu dengan cepat, keduanya mematung. Haruskah pertemuan ini terjadi?
Nirina menarik nafas dalam-dalam sebelum berbalik badan. Netra Nirina bertemu dengan mata berbinar milik Al. Mereka saling bertatapan seakan berbicara dalam diamnya mereka.
"Ck. Ngapain berdiri aja, sini duduk" Al menepuk-nepuk kursi di sampingnya.
"Kenapa... gak di meja kita aja" Nirina berucap ragu.
"Udah sini gabung sama mereka" Al menarik paksa Nirina agar duduk di sampingnya. Kini dua pasangan itu duduk berhadapan.
"Kenalin, dia saudara gue" Al melirik Arbian yang kini tengah menatap Nirina.
"Hah?" Alis Nirina menyatu.
"Kenapa kaget, hm? Muka kita beda ya, pasti gantengan dia" Ucap Al bercanda, tapi jika mereka dibandingkan, ya sebelas dua belaslah.
Sepertinya reaksinya salah di tangkap Al, dia terkejut bukan karena mereka tidak mirip, hanya saja apakah dia akan kembali bersama dengan orang yang berbeda keyakinan?
"Lo ngomong apa sih? Kalian tuh sama-sama gan..." Nirina melihat gadis di depannya sekilas, gadis itu menatapnya datar tanpa ekspresi "Eh l-lo ganteng kok. Ganteng banget malah. Kan tiap cowok punya kadar kegantengan masing-masing" Nirina tertawa canggung di akhir kalimatnya, dia berucap sok asik di tengah rasa gugupnya.
Sosok lelaki yang melihatnya dari tadi merasa kecewa, tapi sebisa mungkin tidak terlihat. Tidak bisakah memujinya juga? Perasaan itu masih terbesit di benaknya.
Bibir Al melengkung lebar ke atas "Masa iya gue ganteng?"
Al hanya di beri anggukan tulis dari Nirina.
"Tuh kan gue sampai lupa ngenalin namanya" Sesal Al. "Ini Arbian, kayak yang tadi gue bilang dia saudara gue, kita sepupuan. Yang bikin kita paling beda adalah Gue Islam dia Non Islam"
Nirina tersenyum canggung, dia tidak mau jika Al tahu kedua insan manusia itu pernah menjalin kasih.
"Salaman dong biar resmi kenalannya"
Arbian terus menatap Nirina, tatapan sayu yang dia tunjukkan. Dia mengulurkan tangannya ke depan lalu tersenyum manis. Dia rindu gadisnya yang dulu bersamanya.
Nirina menyambut uluran tangan itu. Tangan mereka bertaut hingga terasa sapuan kecil terasa di permukaan kulit Nirina.
Perbuatan Arbian salah! Dia sudah punya tunangan! Dan bahkan sekarang dia sedang duduk di samping Arbian, menatap tautan tangan itu dengan kecemburuan.
"Udah jangan lama-lama, nanti tunangannya marah lagi" Al terkekeh saat mengatakannya. Dia memegang kedua tangan itu dan memisahkannya dengan mudah. Sepertinya Al memang tidak tahu apapun.
"Gantian sekarang. Ini Luna tunangannya dan Arbian, Luna, Ini.." Ucapan Al terpotong oleh Luna.
"Nirina, iya kan?" Ucap Luna bersemangat.
"Kok lo tahu, kalian udah saling kenal?" Ucap Al menerka, dan memang benar itu adanya. Sayangnya mereka tidak ada yang mau memberitahunya.
__ADS_1
"Pernah ketemu kita. Gak sengaja waktu itu" Luna melirik Nirina seolah mengingatkan kejadian mengerikan saat itu.
"Waah keren dong, kalian pasti bakal cepat akrab"
Keren dari mananya? Pasalnya hari itu membuat kacau balau hubungan mereka.
"Diam gak Al, ngomong mulu lo. Gue sumpel pakai cabai baru tau rasa lo" Gertak Arbian terlihat seperti lelucon di mata Al.
"Yaelah kayak lo gak pernah aja, lo ama yang dulu aja cerewetnya minta ampun" Cibir Al terlupa akan Luna, dia tersenyum canggung kepadanya.
Suasana tiba-tiba menghening.
Keheningan itu membuat kepala Arbian dipenuhi banyak bisikan-bisikan "Kalian?" Tanya Arbian menunjuk Nirina juga Al bergantian.
"Kita..."
"Pacaran!" Sela Nirina dengan cepat memotong ucapan Al.
Arbian mengangguk-angguk lemah "Ooh" Hatinya terasa tergores pisau tajam, sangat menyakitkan.
Berbeda dengan Arbian, kini Al mematung. Kata yang bahkan tak berani dia pikirkan, disebut enteng oleh gadis yang selalu menolaknya. Apakah dia bermimpi?
"Selamat ya. Semoga kalian cepat nyusul kita" Ucap Luna tambah semangat, tak ada lagi deh penghalang diantara mereka!
"Iya, makasih" Jawab Nirina dengan senyum yang indah. Namun, getir rasanya.
"Secepat itu kamu ngelupain aku Na" Ucap Arbian dalam hatinya yang teriris.
"Kita pulang yuk Al, udah malam"
"Kita cabut dulu Ar, Lun"
Al beranjak pergi bersama Nirina. Setelah kepergian du sejoli itu Luna segera melepas gandengannya.
Dengan tatapan cemburu Luna melihat Arbian yang senantiasa dengan lamunannya.
"Kamu masih suka sama dia?!" Tuduh Luna dengan kesal.
"Gak lah, gue kan udah punya lo. Dan dia juga udah punya...Al" Elak Arbian.
"Bohong!" Tegas Luna tidak percaya, bahkan dia bisa membaca kebohongan yang terpancar jelas di mata Arbian
"Gak percaya?!" Arbian membalas dengan tatapan tajam "Terserah! Gue pulang"
Hancur sudah makan malam romantis yang mereka rencanakan. Rencana ingin mempererat hubungan malah harus kandas di tengah jalan.
"Arbi!"
******
Sekeluarnya Arbian dari restoran mewah itu disusul oleh Luna yang berlarian mengejarnya dari belakang.
__ADS_1
"Arbi tunggu!" Susah Luna mengejar langkah Arbian yang lebar.
"Arbi! Gue tunangan lo Bi!" Sentak Luna terdengar lantang.
Percayalah hati siapapun pasti sakit jika terus diabaikan, itu yang di rasakan Luna sekarang. Dia tahu dia memiliki Arbian karena perjodohan dari keluarganya. Tentu tidak ada Cinta. Tapi Luna berusaha untuk itu. Tak bisakah Arbian melihat dan sedikit menghargainya?
Arbian menghentikan langkahnya, matanya terus tertuju pada satu titik dimana ada dua insan yang bercumbu mesra di sana.
******
"Zhe" Panggil wanita paruh baya, dia sama sekali tidak mendapatkan respon dari gadis yang dipanggilnya.
"Zhefanya" Dia mendekati pintu kamar si gadis, tidak terkunci rupanya.
"Zhefanya kamu ngapain dari tadi mama panggil gak jawab" Dia menghampiri Zhefanya yang tengkurap di kasurnya yang empuk.
"Hehe maaf ma, Zhefanya gak denger"
"Ya emang gak dengar orang dari tadi kamu ngelamun terus"
"Enggak ah ma" Elak Zhefanya.
Memang benar dari tadi dia sedang melamun. Dia memikirkan kejadian yang bersangkutan antara Arasya dengan Samuel, rasanya agak aneh.
"Jangan bohong sama mama"
Zhefanya tampak menimang-nimang, apakah tidak apa berbicara pada mamanya?
"Temen Zhefanya sakit ma" Terus terang Zhefanya.
"Cowok ya?" Zhefanya mengangguk.
Ia membenarkan posisinya menjadi duduk "Zhefanya kasihan deh ma sama dia. Masa dia tiba-tiba dipukuli orang, terus sekarang dia di rawat di rumah sakit. Zhefanya kasihan waktu lihat dia kesakitan, apalagi keluarganya gak ada yang datang"
Mamaya tersenyum menggoda "Kamu kasihan atau khawatir?"
Zhefanya panik! "Kasihan kok ma!"
"Kamu suka ya sama dia?" Tuduhnya tepat. Baru kali ini dia mendengar Zhefanya cerita tentang laki-laki kepadanya, dia senang mendengarnya.
Zhefanya menggeleng cepat "Enggak!"
"Besok masih libur kan?" Dia sengaja mengganti topik pembicaraan. Anggukan Zhefanya sebagai jawaban.
"Kalau gitu besok kamu ke sana aja, temenin dia"
"Boleh?"
"Boleh dong"
"Makasih maa"
__ADS_1