
Di rumah Zhefanya. Mamanya sedang menyiapkan makanan di dapur dan Zhefanya hanya melihatnya saja, dia akan membantu jika mamanya memintanya untuk mengupas bawang, memotong-motong sayur dan mencuci bahan masakan atau hanya mengaduk-aduk, jika dia ikut memasak yang ada jadi hancur makanannya.
Tok..tok..tok...
Suara ketukan dari arah pintu utamanya membuyarkan fokus mereka, saling melempar pandang, lalu Zhefanya bersuara "Biar aku yang buka ma" kata Zhefanya yang membersihkan sayuran di angguki mamanya.
Zhefanya berjalan kearah pintu melihat siapa yang bertamu, mungkin orang yang sudah ditunggunya sejak dari tadi, sosok yang nyebelin dimatanya tapi juga sosok yang dia rindukan.
"Zhee gue kangen banget sama loo" Ucap Riri menyerobot tubuh Zhefanya dan memeluknya setelah Zhefanya membukakan pintu.
"Lebay banget lo, sesek nih gue" Zhefanya melepaskan pelukan Riri karena seperti hampir mencekiknya.
Mendengar pernyataan saudaranya membuat Riri naik pitam, dengan refleks ia sedikit keras menepuk tangan Zhefanya yang membuat sang empunya meringis kesakitan.
"Sakit tau!" ucap Zhefanya mengelus lengannya, Riri malah bahagia melihat saudaranya kesakitan, memang tidak waras mereka berdua.
"Siapa Zhe?!" teriak mama Zhefanya dari dapur, tidak mendengar suara Riri rupanya.
"Ini mah Si Babi, Riri" ucap Zhefanya puas mengatai Riri, dia cekikikan sendiri.
"Kamu ngomong apa, sama saudara sendiri juga" sambung mamanya lagi dari dapur.
"Iya nih tante, aku dizolimi hiks...hiks..." Riri menghampiri tantenya dengan berlari kecil dan berpura-pura menangis, merengek mengadukan Zhefanya.
"Udah pada gede juga" Sindiran mamanya membuat Riri dan Zhefanya meringis malu.
"Aku bantuin tante" Riri mengambil bahan masakan untuk dipotong.
"Nah tuh bagus tuh, jangan makan mulu bisanya" serobot Zhefanya lalu mengambil ponsel di sakunya.
"Nomor gak dikenal" Batin Zhefanya didalam hati melihat nomor di layar ponselnya.
"Mending lo sini deh, angkatin makanan ke meja makan" Riri mulai mengangkat makanan dan memindahkan ke meja makan, dirinya merasa geram pada Zhefanya yang asik bermain handphone.
"Hm" Zhefanya hanya berdeham.
Sebenarnya Zhefanya dan Riri itu saling sayang hanya saja memang tingkah mereka yang bar bar jadi sering ribut tanpa alasan.
"Bener-bener kayak restoran rumah ini" Ucap Riri tidak percaya dengan makanan yang ada di depannya, matanya berbinar, perutnya benar-benar tidak sabar menampung banyak makanan itu.
"Gara-gara lo ya, ni rumah kayak restoran, banyak request!" Gerutu Zhefanya menunjuk Riri dengan garpu yang dipeganginya.
"Udah ayo makan nanti dingin" Ucap Mama melerai mereka, jika tidak mereka akan terus berdebat dan membuat pusing.
__ADS_1
Mereka makan dengan tenang, ditengah-tengah mereka makan diselingi dengan canda tawa yang ditimbulkan oleh Riri, Riri adalah salah satu mood maker mereka.
Segera mereka merapikan meja makan ketika mereka selesai, Zhefanya dan Riri bekerja sama kali ini, tentunya dengan sedikit adu mulut.
"Akhirnya selesai juga" Ucap Zhefanya, lalu mengajak Riri ke kamarnya.
"Sumpah panas banget di sini, gak ada AC-nya apa?" Riri mondar-mandir tidak jelas sambil mengibaskan tangannya bermaksud menyindir Zhefanya.
"Tadi mati anjir, berisik lo" Jawab Zhefanya lalu menghidupkan Ac-nya.
"Good"
Riri membaringkan tubuhnya di kasur empuk milik Zhefanya. "Kenyang banget perut gue, kerja bagus zhe"
"Hm"
"Ri mau gak maskeran? gue baru beli nih" Zhefanya memilih-milih masker yang diletakkan dimeja rias.
"What maskeran iuuhh" ucap Riri sok jijik tanpa melihat maskernya, biasanya dia akan mengolok-olok Zhefanya jika masker yang dibelinya harganya murah padahal dia orang kaya, seperti itulah candaan para Sultan.
"Gak mau?, ya sudah" Zhefanya menunjukkan masker mahal yang dia punya, sengaja dia angkat tinggi-tinggi agar Riri melihatnya.
"Eh..eh.. mau doong" Riri bangun dari tidurnya dan menyabet masker yang ditangan Zhefanya, kekehan kecil muncul di wajahnya.
Setelah memakai maskernya Zhefanya dan Riri rebahan di kasurnya, membicarakan hal-hal yang nyeleneh yang sesekali membuat mereka tertawa.
"Tuh kan masker gue retak!!" teriak Riri membuat Zhefanya tak kuat menahan tawanya. Akhirnya nya mereka menyudahi memakai maskernya dan Zhefanya langsung tidur, tidak bermutu sekali pertemuan mereka.
"Eh lo bangun gak!?" Riri menyenggol kecil Zhefanya yang hampir saja ke alam mimpi.
"Hm, ngantuk gue" Kata Zhefanya masih menutup matanya.
"Lu ye udah gue bela-belain nginep disini lu malah tidur, emang kebo lu" gerutu Riri.
Klingg..
Zhefanya yang mendengar handphonenya berbunyi langsung membukanya, menampilkan nomor tak dikenal.
Zhefanya membuka pesan itu dan mengabaikan Riri yang terus ngoceh disebelahnya.
...08572******...
Hai
__ADS_1
Ingat gue gak?
07.30
Gue Samuel, yang tadi siang ketemu lo, waktu lo sama Nirina
09.45
"Hemm giliran hp bunyi langsung tuh diliat, giliran gue yang ngomong dari tadi gak digubris" Riri menatap Zhefanya kesal, tapi Zhefanya tak perduli dia tetap memandangi HP-nya dan membalas pesan itu .
^^^Oh Samuel, iya gue ingat kok^^^
^^^09.46^^^
"Siapa sih, cowok baru nih pasti wah keren banget saudara gue baru sekolah dua hari aja udah punya gebetan" Zhefanya memandang saudaranya dengan malas.
"Ceritain dong, ayo cepetan ceritain!" Desak Riri agar Zhefanya mau bercerita.
"Dia itu Samuel ketua tim basket, yang pasti bukan pacar gue, ga sudi juga gue sama cowok tengil kek dia"Jawab Zhefanya dengan penuh kemalasan, tapi daripada dia tidak membalas yang ada saudaranya itu terus nyerocos ga jelas.
"Udah ah gue ngantuk, tidur dulu besok sekolah"
"Ga asik lo" Riri akhirnya pasrah dan berusaha keras menidurkan dirinya sendiri.
...***...
Hari ini Zhefanya berangkat sekolah agak telat karena Riri mengganggunya waktu dia tidur, ngomong-ngomong Riri sudah pulang pagi-pagi karena dia juga sekolah.
Disini kelas 12 Mipa 3 sudah hampir penuh karena waktu masuk sebentar lagi.
"Pagi Zhefanyaa" ucap Nirina yang sedang asyik mendengarkan musik ditempat duduknya.
"Pagi" Zhefanya menyapanya kembali dan duduk di kursinya.
Zhefanya menaruh tas di samping mejanya dan tidak sengaja dia melihat sesuatu di mejanya, nampak sebuah secarik kertas yang lecek.
"Untuk Zhefanya, Kalo lo gak pengecut dateng ke gudang belakang sekolah sendiri!!! Kalo gak mati lo!!!" Karena penasaran Zhefanya membuka kertas itu dan membacanya.
Zhefanya sudah ditantang, artinya dia harus melawan, tidak ada di kamus Zhefanya takut kepada manusia.
"Siapa sih kayaknya gue ga ada masalah deh sama orang" Zhefanya penasaran siapa yang mengirimkan surat itu, pasalnya dia aja baru di sekolahnya kan? mana mungkin sudah mendapatkan musuh.
Pelajaran sudah dimulai sejak satu setengah jam yang lalu, anak-anak yang mulai bosan memikirkan cara untuk membuat keramaian, terlintas satu cara di benak laki-laki ini membuat senyum devil di wajahnya.
__ADS_1
Bughh..