Arrive

Arrive
1 Tengah malam


__ADS_3

Cerita ini hanya fiktif belaka, penuh rekaan dan TIDAK benar benar nyata. Cerita yang menggabungkan kisah Romansa, misteri penuh teka teki dan Fantasi.


-


-


-


-


-


-


-


SELAMAT MEMBACA


:)


***


Aku bangun dari tidurku karena mendengar suara jendela yang terbuka dan gorden yang melambai-lambai tertiup angin. Aku pun berdiri dan bergerak melangkah menuju jendela untuk menutupnya, sebelum kututup kulihat di sekeliling tak ada apa pun, mungkin hanya angin yang kencang yang kemudian membuka jendela yang sebelumnya belum kututup rapat.


Setelah kututup rapat jendela kamarku, aku pun kembali tertidur karena jam menunjukan pukul 00:05 dini hari atau tengah malam. Aku berbaring nyaman di ranjangku dan kembali tidur agar saat bangun aku tidak kesiangan untuk berangkat ke sekolah.


Hampir setiap tengah malam aku terbangun untuk menutup jendela kamarku entah kenapa aku pun tak tahu, tapi sekarang aku sudah  terbiasa untuk tidur, bangun, menutup jendela kemudian tidur lagi.


Kadang aku berfikir mungkinkah ada seseorang yang menyelinap masuk ke dalam kamarku, tapi berhubung kamarku ada di lantai dua dan setiap kali aku menatap ke luar jendela, aku tak pernah menemukan apapun. Aku menyerah untuk mencari tahu dan membiarkannya, membuatnya menjadi rutinitas ku.


Aku pikir mereka sudah datang. Mereka yang Kakek katakan setahun yang lalu sebelum kepergiannya dan katanya mereka datang untuk mengambil 'hidupku'


Entahlah hidup yang di maksud itu apa, karena kata itu seperti tersirat maknanya.Tapi sejauh ini aku baik baik saja dan tak ada yang aneh dalam hidupku.


***


Pagi pagi aku berpamitan pada orang tua ku untuk berangkat ke sekolah. Aku mengencangkan tali sepatuku kemudian berteriak.


"Aku berangkat."


"Tunggu dulu Rani, ini sekalian kamu kasihin ya ke tetangga baru," ucap mamah kemudian memberikanku sekotak kue yang pasti enak.


"Tetangga baru?sejak kapan?" tanyaku menatap bingung mamah.

__ADS_1


"Semalem mereka pindahnya, mamah baru sempet nyapa aja belum ngasih apa apa," ucap mamah menjelaskan bahwa mamah menyapa mereka saat sedang menyiram bunga dan kebetulan mamah bertemu dengan tetangga baru itu.


"Semalem?" tanya ku lagi, apakah benar mereka pindah malam tadi? saat malam tadi aku terbangun untuk menutup jendela aku tak melihat ada orang pindahan, atau mungkin yang di maksud mamah itu dini hari?


"Iya gak tau semalam gak tau dini hari, yaudah kamu tanya aja sekalian sambil kasih kue nya," ucap mamah kemudian menyuruhku untuk segera memberikan kue tersebut sekaligus menanyakan kedatangan mereka. Aku pikir mamah sudah tau.


Aku pun berjalan menuju Rumah tetangga yang berdiri kokoh tepat disamping rumahku. Rumah yang telah lama tak berpenghuni, sampai aku pikir rumah ini mungkin berhantu karena sudah lama rumah ini di jual tapi belum ada yang mau membeli nya. Tapi sekarang aku buang jauh jauh pemikiran itu, toh sekarang rumah ini berpenghuni, mungkin waktu kemarin belum rejeki nya si penjual.


"Permisi!" teriakku sambil melihat ke sekeliling rumah, memang masih berantakan kardus kardus besar ada dimana mana. Namanya juga orang pindahan apalagi pindahan nya semalam pasti berantakan.


"Permisi!"teriakku lagi,"apa mereka masih sibuk," pikirku.


Aku pun beranjak untuk pergi dari rumah itu dan memberikan kotak kue ini kembali ke mamah, dan kapan kapan saja aku kesini lagi karena sepertinya mereka sedang sibuk untuk membereskan rumah.


Sedetik setelah aku berbalik, seorang wanita paruh baya memanggilku,"Hei kamu mau kemana?"


Aku kembali berbalik dan terlihat seorang wanita paruh baya sedang tersenyum ke arahku.


"I-ini Tante kue dari mamah," ucapku kemudian memberikan sekotak kue tersebut dan dengan senang hati Tante tersebut menerimanya.


"Aduhh ngerepotin jadi nya, Oh iya maaf ya tadi agak lama maklumlah orang baru pindahan," ucap Tante itu kembali tersenyum ramah. Sepertinya tetangga baru ini orang orang yang baik.


"I-iya gak apa apa Tante," ucapku balas tersenyum.


Tante itu memandangiku dari atas sampai bawah, apa ada yang salah dengan seragamku?


"Kamu sekolah di SMA Bintang pertama?" tanya Tante itu setelah melihat logo almamaterku.


"I-iya tante," jawabku ragu bagaimana Tante ini tau logo almamaterku padahal ia baru pindah.


"Kamu kelas berapa?" tanya nya lagi.


"Kelas...12 Tante," jawabku lagi.


"Namanya siapa?"


"Rani," jawabku.


Ia kembali tersenyum padaku lalu mengusap rambutku lalu berkata,"Oh iya panggilnya jangan Tante doang panggil aja Tante Hera."


Aku pun mengangguk tanda mengerti.


"Oh iya anak Tante juga sekolah di sana loh kelas 12 juga dia murid baru," ujarnya menjelaskan sedikit tentang anaknya. Dan aku tidak tahu anaknya laki laki atau perempuan. Semoga dia perempuan sebab sudah lama aku tidak punya tetangga perempuan yang seumuran denganku.

__ADS_1


"Kamu mau kan berangkat bareng dia, dia soalnya belum tau arah jalan ke sekolah barunya."


"Boleh Tante aku juga bawa motor kok ke sekolah, bareng aja," jawabku sambil berharap jika anak dari Tante Hera ini seorang perempuan.


"Ehh gak usah kamu bareng dia aja ya, sebentar Tante panggilin dia dulu," ucap Tante Hera kemudian masuk kedalam rumahnya dan ia berteriak memanggil nama anaknya.


"RANGGA," teriak nya. Jika namanya Rangga dia pasti bukan perempuan tapi bisa saja kan namanya Ranggaeni dan itu nama perempuan. Aku terus berharap begitu.


Kemudian Tante Hera keluar dengan seorang lelaki jangkung yang menenteng sebuah tas gendong bersama hilangnya harapanku punya tetangga perempuan yang seumuran.


Katanya dia murid baru tapi kenapa dia memakai seragam yang berlogo sama denganku, dan rompi sekolahnya pun sama. Aku menatapnya bingung.


"Rangga ini Rani kamu berangkat sama dia ya," suruh Tante Hera pada Rangga. Rangga pun mencium tangan Tante Hera dan aku mengikutinya. Tante Hera pun masuk kembali kedalam rumah dan meninggalkan kami berdua


"Iya mah," jawab Rangga kemudian menatapku yang masih menatapnya kebingungan.


"Kenapa lo liatin gue gitu banget?" tanya nya, aku pun tersadar bahwa aku telah menatapnya berlebihan.


"Seragamnya... udah dapet?" tanyaku sambil menunjuk seragam yang dikenakan Rangga.


"Udah lama, baru sekarang aja masuk ke sekolahnya sekalian tahun ajaran baru," ucapnya menatapku dingin.


"Oh oke."


***


Aku duduk dengan nyaman di bangkuku setelah mengantar Rangga ke ruang kepala sekolah untuk menanyakan di kelas mana ia akan tinggal tapi aku buru buru ke kelas karena urusanku untuk mengantarnya sudah selesai tanpa harus tau di kelas mana ia akan tinggal.


Tiba tiba dari arah luar kelas seseorang berlari menghampiriku, dan dengan raut wajah yang bingung aku terus memperhatikannya.


"RANIIIIIIII," teriak Nina sambil berlari menghampiriku, ya dia Nina sahabatku dan dia orang terdekatku di kelas.


"Ada apa sih" tanya ku bingung, kenapa ia harus berlari saat menuju kelas dan mengapa wajahnya terlihat begitu kaget?.


"Jadi anak baru itu pacar Lo ya?" tiba tiba Nina berkata yang tidak masuk akal, apakah maksud Nina itu Rangga?


"Enggak kok... gue gak punya pacar," jawabku terus terang memang sebelumnya aku tidak punya pacar.


"Lo bohong ya, Lo sendiri kan yang bilang pacar Lo bakal jadi anak baru disini," ucapan Nina membingungkanku.


"Kapan?"


"Kemarin lewat Chat."

__ADS_1


***


Tbc........


__ADS_2