
"Jadi Nina juga seorang Manusia abadi? Iya?"Daniel mengangguk.
Aku terduduk di bibir ranjang, mengusap kebelakang rambut sebahu ku lalu menunduk penat.
Kenapa banyak hal yang tak terduga dalam hidup ku?
"Nina di jodohin sama aku, tapi aku tahu kalau adik aku suka sama Nina, jadi aku gak bisa lakuin itu. Dan lagi aku hanya cinta kamu,"ucapnya menjelaskan. Aku menatapnya marah.
"Lalu buat apa kamu pegang tangan dia?"ucapku tenang tapi dalam hati ada api besar yang sedang menyala nyala.
"Kami berdua saling menolak perjodohan ini dan kami berjabat tangan setuju. Hanya itu Ran gak lebih,"jawab Daniel.
Aku menatap wajahnya lekat lekat memperhatikan ketulusan yang di pancarkan oleh wajahnya, melihat rasa cinta yang teramat besar darinya untuk ku. Melihat rasa khawatir yang muncul di setiap garis wajahnya. Dia menatapku penuh harap. Aku menangkap matanya yang merasa sangat bersalah itu. Aku membuang muka ku perlahan, tak kuat menatap wajah nya.
"Baiklah aku maafin, tapi aku harap kamu gak pernah sembunyiin apa apa lagi dari aku."Daniel tersenyum tipis lalu mengusap puncak kepalaku dan menatapku.
"Aku sangat mencintaimu."ujarnya membuatku mengukir senyum di wajah ku.
"Emm... aku juga,"jawabku. Ruangan ini menjadi hening.
"Yaudah kalau gitu aku mau ketemu sama Rangga dulu,"ucapku lalu beranjak untuk mengambil ranselku kemudian memakai nya di punggungku.
Tangan ku tercekal, Daniel memegang tanganku erat, menahan ku agar tidak pergi.
"Ada apa?"tanya ku padanya.
"Jadi kamu beneran mau jadi Ratu di sini?"Aku terdiam menunduk. Berfikir.
"Dan Rangga sebagai Raja nya?"tanya nya lagi.
"Aku gak tahu, gak ada yang mau dengerin pendapat aku di sini."Daniel menatapku menunggu aku melanjutkan pembicaraan.
Aku menarik nafas panjang
"Mereka itu maksa aku buat kembali jadi Ravanya, tapi kamu tahu kan kalau aku sama Ravanya itu hidup di dua masa yang jelas jelas berbeda. Dan bukankah waktu itu bisa merubah segalanya?"
"Ya itu benar. Tapi satu hal yang pasti gak akan berubah,"ucapnya. Aku jadi penasaran.
"Apaan?"
"Cinta kita,"jawabnya membuat aku tersipu.
"Daniel."aku menyipitkan mataku menatapnya sambil sedikit menahan tawa.
"Kenapa?"tanya nya seperti apa yang dia katakan itu salah. Sebenarnya tak salah sih, hanya saja kenapa dia itu sangat jago membuat gombalan. Aku terkekeh.
"Gak sih gak papa kok,"jawabku mengalah.
"Ngomong-ngomong kamu kan makhluk abadi jadi kamu tahu Ravanya dong?"lanjutku bertanya. Daniel mengangguk.
__ADS_1
"Ravanya sangat cantik,"ujarnya dan entah kenapa aku merasa sebal. Aku mengerucutkan bibirku.
"Antara aku dan dia, siapa yang lebih cantik?"tanya ku dan Daniel malah tertawa pelan.
"Muka kamu sama dia kan sama, ya cantiknya juga sama lah,"kekeh Daniel.
"Gak! Pokoknya harus aku yang lebih cantik,"ujarku tak setuju.
"Iyalah iya."
"Berarti kamu juga tahu dong siapa Daylan?"tanya ku lagi. Tawa Daniel terhenti.
"Aku ini Daylan."Aku terkejut, sedetik kemudian tertawa.
"Kamu Daylan? Oke oke kalian mungkin sama tapi-"aku menggantung kalimatku. Menatapnya lalu kembali berbicara.
"Apa kamu mau culik aku sekarang?"tanya ku bercanda dan sekarang Daniel yang nampak terkejut. Aku tak kuat menahan tawa ku.
"Kamu gak percaya aku ini Daylan?"aku berhenti tertawa lalu menggeleng.
"Aland bilang Daylan itu sudah bunuh diri,"ucapku.
"Jadi Aland udah ngasih tahu kamu?"
"Iya, jadi kamu gak bisa nipu aku lagi."
"Bukanya apa yang di lakuin daylan itu salah?"tanya Daniel.
"Saat aku ngasih kesempatan sama dia, artinya aku juga bakal maafin masalalu kami. Tapi seharusnya dia gak mengorbankan nyawa nya, harusnya dia bersabar sebentar lagi dan menunggu aku kembali datang."Daniel memperhatikan ku dengan serius.
"Ah udahlah lupain aja. Lagian aku kan punya kamu sekarang,"ujarku menatap Daniel. Daniel tersenyum.
"Kesempatan itu telah kamu berikan pada Daylan, Rani. Tapi sayang kamu juga harus berkorban."tiba tiba suara muncul dari belakang tubuhku, dan saat aku berbalik, aku melihat wajah ayah Daniel yang menatapku dengan benci.
"Ayah ngapain ke sini?"tanya Daniel lalu menarik ku untuk berdiri di sampingnya.
***
Rangga berjalan bersama raja Alison untuk menemui Rani, untuk berbincang tentang kelanjutan penyerahan tahta ini. Namun saat di depan pintu kamar Rani, mereka membulatkan mata tak percaya.
"Daylan anak ku, bukankah kita akan menculik Ravanya lagi?"Rangga mengenal suara ini, dan ini adalah suara dari ayah Daniel. Lalu dengan segera tenaga Rangga membuka pintu kamar Rani yang untungnya tak di kunci.
"APA APAAN INI! Amantha jadi dia anak mu?"teriak Raja Alison, melihat Rani yang akan di bawa paksa oleh raja Amantha.
"Ya dan kami akan menculik Ravanya lagi."raja Amantha dan Rani tiba tiba menghilang. Daniel terkejut melihat itu, pasalnya pengawal istana dengan segera datang dan mengepungnya.
"Jadi semua ini rencana Lo Daniel?"Rangga menatap Daniel penuh amarah.
"Rangga gue di jebak,"ucap Daniel membela dirinya. Rangga menatap wajah Daniel muak.
__ADS_1
"Cukup dengan Lo udah nyakitin hati Rani. Saat Rani bisa kami temukan, gue gak akan pernah biarin Lo ketemu sama dia lagi,"ujar Rangga geram kemudian berlalu pergi.
"Pengawal cepat bawa dia ke sel tahanan khusus, sel tahanan dimana sihir atau kekuatan apapun tidak dapat berfungsi,"suruh Raja Alison tegas. Raja Alison lalu menatap Daniel yang terdiam tak berdaya.
"Iblis tetaplah iblis."
***
Aku membuka mata ku perlahan, menyapu seluruh ruangan yang sangat gelap dan pengap ini. Aku tak tahu aku ada dimana. seingatku aku telah di bawa pergi oleh ayahnya Daniel.
Aku terdiam, mataku mulai berkaca kaca. Dimana kah diri mu Daniel.
Aku kemudian melihat pintu yang bergerak karena di buka oleh seseorang. laki laki itu kemudian berjalan menuju jendela dan membuka nya agar ruangan ini tidak terlalu gelap. Ia juga membacakan sesuatu dan muncul lah asap hitam di sekitaran jendela, dan aku rasa itu semacam sihir.
"Aku gak mau di sini, aku mau kembali."ujarku padanya.
"Aku tak bisa membantu mu keluar dari sini. tugas ku hanya menjaga mu agar dirimu tidak kabur atau pun mati."
"Ini dimana? Aku ingin bertemu Daniel, ayahnya membawa ku ke sini. Jadi bisakah kamu membantu ku untuk bertemu dengan Daniel?"pinta ku lagi, tapi jawaban yang ia lontarkan membuat ku kecewa.
"Dia tak ada di sini. Dan kau harus tetap di sini."ucapnya kemudian pergi dan menutup pintu ruangan dengan keras.
Aku melihat dari pintu itu muncul lagi sihir yang sama seperti di jendela. Aku menatap asap hitam itu lalu menyentuh asap itu perlahan.
"Aw,"pekik ku.
Asap hitam itu sangat panas, jari jari ku jadi memerah aku meniup jari ku perlahan sambil memperhatikan seisi ruangan.
Sebuah kamar
Ya aku di kurung di sebuah kamar, aku menjelajahi kamar itu dan melihat satu ruangan kecil, aku membuka nya dan itu adalah kamar mandi.
Aku kemudian menyalakan saklar lampu. Ternyata lampunya menyala. Setelah itu aku tak tahu akan melakukan apa lagi aku terdiam duduk di atas ranjang yang keras.
Ransel ku?
Aku mencari cari ransel ku yang ternyata ada di tempat aku pingsan tadi, dengan cepat ku cari ponsel ku tapi ponsel itu tak dapat di nyalakan.
"Gimana nih, pasti baterai nya habis,"gerutu ku. Dalam ransel ku memang ada Charger tapi di kamar ini tak ada lubang listrik, saklar saja hanya ada satu. Aku mendesah pelan menatap kedua buku yang ada dalam ransel ku.
***
Hai! Flo balik lagi nih, maafin flo ya karena menggantung cerita ini lama😥
tapi kali ini Flo usahain untuk tetep update.
maapin😓
TBC....
__ADS_1