
Aku berdiri kaku di depan altar pernikahan memandangi setiap orang yang memandang ke arah kami. Ku lihat calon suami ku yang tengah tersenyum ke arah ku.
Aku menghela nafas panjang lalu menampilkan senyum terbaik ku untuk hari bersejarah ini.
Kami mengucap sumpah janji setia. Setelah itu kami resmi menjadi suami istri. Semua orang bertepuk tangan bahagia memandang kami sebagai Raja dan Ratu baru mereka. Aku meneteskan air mataku.
"Kamu terharu?"tanya suamiku memegang pundak ku pelan. Aku mengangguk lalu tersenyum sebaik mungkin, semanis mungkin, sebahagia mungkin hingga rasa sakit dalam hati ku dapat tertutupi. Aku menunduk lemah.
"Selamat nak ayah yakin kalian akan menjadi Raja dan Ratu yang bijaksana,"ucap pria paruh baya yang seorang mantan Raja dan kini menjadi ayah mertua ku. Ia memberi kami berkat begitu juga dengan ibu mertuaku, Ayah ku juga Ibuku. Mereka memberi kami berkat yang banyak mendoakan kehidupan kami dan mereka semua terlihat bahagia.
Apakah hanya aku yang berbohong?
Hanya aku yang berbohong. Ya berbohong untuk terlihat bahagia. Disini hanya aku yang merasa tak bahagia. Merasa kecewa. Tapi aku tak bisa menampakan itu semua, menampakan ekspresi sebenarnya, menampakan isi hati yang begitu kecewa. Aku benar benar tak bisa.
Aku menebar senyum bahagia ke semua orang. Aku mencoba untuk tidak egois walau ini benar benar sakit. Aku harus bisa berbahagia dan menerima kenyataan pahit ini bulat bulat. Aku tak boleh mengecewakan rakyat ku. Ya rakyat ku setidaknya harus bahagia. Aku ini Ratu baru mereka.
"Aku benar benar bahagia,"bohongku menutupi air mata duka yang mengalir di wajahku. Semua menatap ke arah ku tersenyum.
Apakah aku terlalu hebat dalam bersandiwara?
Atau mereka yang memang tak pernah mengerti aku. Terpaksa. Aku terpaksa menikah dengannya karena orang tua ku memaksa, untuk mempererat hubungan diplomatik katanya.
Aku mengusap air mata haru palsu ku kemudian tersenyum lebar di hadapan semua orang.
Aku ingin supaya waktu dapat membantu ku menerima kenyataan dan membantu ku untuk mencintai seseorang yang tak pernah ku cintai sebelumnya.
Suamiku, Aku akan berusaha mencintai mu.
Orang tua dan mertua ku, Aku akan berusaha menerima ini.
Rakyat ku, Aku akan membuat kalian tentram dan bahagia. Dan
Cintaku, Maaf aku akan berusaha melupakan mu.
Kringgg Kringgg Kringgg
Aku terbangun dari mimpiku karena deringan dari jam weker yang merasuki ruang telingaku. Aku menekan nekannya supaya deringan itu berhenti.
Aku kemudian medudukan tubuhku dan menguap. Aku turun dari ranjangku lalu meregangkan otot otot ku. Setelah itu aku bergegas menuju kamar mandi untuk bersiap siap pergi ke sekolah.
"Barusan aku mimpi apa ya?"
***
__ADS_1
"Mah aku berangkat!"
"Iya hati hati ya,"
Aku melambaikan tanganku pada mamah yang berdiam di ambang pintu kemudian ia masuk ke rumah. Aku berjalan mengendap-endap sambil melirik keluar pagar rumahku. Apakah ada Daniel disana.
Tidak ada siapa siapa ternyata
"Tumben belum ada. Apa gue nyetel alarm nya kepagian ya?"
"Rani!"panggil seseorang. Aku menoleh terkejut.
Apakah itu Daniel? Bukan! itu Rangga.
"Bareng sama gue yuk,"ajaknya.
Tadinya aku akan berangkat sendiri menggunakan motorku. Tapi karena ada seseorang yang memberi ku tumpangan kenapa aku harus menolak.
"Boleh."
Aku naik ke motornya setelah memakai helm yang Rangga berikan. Setelah itu kami segera pergi ke sekolah.
"Daniel kemana?"tanya Rangga.
"Gue juga gak tau,"jawabnya pelan.
Sepanjang jalan kami hanya mengobrol ngobrol ringan membahas tentang ujian, belajar, Universitas bahkan tugas portofolio yang di kumpulkan h+ setelah ujian. Juga tentang rencana jalan jalan edukasi se angkatan kelas dua belas. Aku jadi tak sabar ingin segera jalan jalan.
Sesampainya kami di sekolah Rangga mengajak ku untuk pergi ke kantin terlebih dahulu untuk sarapan. Aku pun mengiyakan itu dan pergi ke kantin bersamanya.
Kami berdua duduk di meja kantin yang terletak di pojok ruangan. Rangga kemudian pergi untuk memesan makanan. Sambil menunggu aku memainkan ponselku.
Aku membuka kontak telepon lalu terdiam memandangi sebuah kontak yang bertuliskan pacar. Itu nomor Daniel dan namanya masih pacar. Aku tersenyum tipis.
"Gue beneran gak percaya dia itu roh biasa,"Gumamku sambil menggelengkan kepala bingung. Dia bilang jika dia itu roh tingkat tinggi, bisa melakukan apa saja, bisa membaca pikiran dan mendengar suara hati ku. Aku benar benar penasaran siapa dia ini. Kedatangan Daniel itu janggal dalam kehidupanku.
Dia ingin melindungi ku tapi berpura-pura jadi pacarku. Kini aku beralih pada kalungku. kemudian tersenyum.
Terimakasih Kakek sudah memberiku penjaga yang manis
Aku tertawa pelan. Hingga aku teringat jika dia belum menemui ku, yang bahkan datang tiba tiba kini tak ada. Aku akan menghubungi nya malah jadi memikirkannya. Aku lalu menekan nomor itu dan menempelkannya di telinga.
Sungguh aku masih belum bisa menerima jika dia adalah roh yang benar benar totalitas menyamar jadi manusia. Punya handphone bahkan motor apa dia juga punya rumah?
__ADS_1
maaf nomor yang Anda tuju tidak dapat di hubungi cobalah beberapa saat lagi.
"Nomornya gak aktif."aku mencoba menghubunginya lagi tapi yang kudengar tetaplah sama yaitu suara dari operator. Aku jadi agak khawatir.
Dia kemana?
***
"Kerajaan Alphetis kini telah berubah menjadi sebuah negara besar dan maju. Kita benar benar harus bersyukur bisa hidup di sini dengan damai. Jauh dari kata perang dan ketinggalan jaman...."aku memperhatikan guru sejarah yang tengah berbicara lantang di depan kelas. Sambil mendengarkannya aku membuka buka halaman di buku cetak.
Kemudian terhenti di sebuah halaman yang berisi sebuah foto sepasang laki laki dan perempuan yang tengah berdiri berdampingan menggunakan pakaian khas kerajaan. Dan mereka terlihat serasi walau sudah ber umur.
"Nah jadi anak anak ku semua. Tugas portofolio yang akan ibu berikan adalah menulis tentang sejarah lahirnya negara Alphetis kalian boleh mencari di internet atau pun buku di perpustakaan. Di kumpulkan beberapa hari setelah ujian. Dan sekarang ibu akan memberi kalian kisi kisi ujian, untuk sekretaris tolong bantu ibu untuk menuliskannya di papan tulis."
Aku mempersiapkan buku catatannya untuk menulis kisi kisi ujian. Setelah itu mataku terfokus menuju foto tadi. Aku menatap mata kedua orang di foto itu lekat lekat. Wajah itu seperti nya aku kenal.
"Nina kok gue kayak kenal mereka ya?"aku menyenggol tubuh Nina kemudian menunjuk foto itu menggunakan ujung bolpoin.
"Ya iya lah Lo kenal itu kan Raja dan Ratu Alphetis yang pertama dan mereka juga yang membuat revolusi di Alphetis,"ujar Nina sambil menulis. Ya aku tau mereka memang Raja dan Ratu Alphetis yang pertama tapi aku merasa familiar saja. Ah entahlah, aku mencoba mengingat ingat nama mereka.
Tapi aku masih lupa, mungkin karena aku tak begitu suka memperhatikan saat pelajaran sejarah.
Aku belum menulis sama sekali aku masih penasaran dengan foto tersebut. Aku kemudian melihat tulisan di bawah foto itu yang biasanya menunjukkan identitas tentang foto tersebut.
Raja dan Ratu Alphetis pertama. Masa mereka benar benar membawa perubahan. Raja Firlangga dan Ratu Ravanya mereka tak tergantikan.
Oh iya Raja Firlangga dan Ratu Ravanya!
***
"Berhentilah menyakiti dirimu dengan membuat seolah olah cintamu akan kembali Daniel. Berhentilah membuang waktumu di sini kau harus kembali dan segera menggantikan aku. Seabadi abadi nya hidup kita, kita punya batas dan bisa mati. Jadi jangan buang waktu mu."
"Aku akan menjadi Raja saat aku punya Ratu yang mendampingi ku."
"Dia tak akan pernah jadi Ratu mu. Dan aku telah memilihkan Ratu untukmu."
"Aku tak mau menjadi Raja tanpanya dan Ratu selain dia. Dan ayah tidak ada hak untuk menghalangi ku, apalagi menyuruh suruhanmu untuk menakutinya."
"Kau benar benar keras kepala Daniel. Ayah hanya tak ingin kamu selalu kecewa."
***
TBC....
__ADS_1