Arrive

Arrive
Season 2 Chapter 02 Harga Diri Seorang Puteri


__ADS_3

"Silahkan masuk Puteri!"Anna membukakan pintu kamar Ravanya lalu membawa kan barang barangnya masuk dan menutup pintunya rapat.


Ravanya memperhatikan kamarnya yang cukup luas, walau memang tak seluas kamarnya di istana, tapi di sini sangat bersih dan nyaman. Mata Ravanya melihat pada satu jendela di dekat tempat tidur. Selagi menunggu Anna membereskan barang bawaannya ia berjalan ke arah jendela dan membuka nya, karena penasaran akan pemandangan apa yang akan ia jumpai di sana.


"Apa kamu yang membersihkan kamar ini?"tanya Ravanya sambil berjalan ke arah jendela.


"Betul, Puteri Ravanya. Saya merasa terhormat karena bisa melayani seorang puteri dari kerajaan besar."Anna memasukan barang-barang Ravanya kedalam lemari.


Ravanya terkagum hebat melihat pemandangan dari luar jendela ini. Karena Akademi kerajaan berdiri di atas bukit, tentu saja pemandangan yang ia dapatkan juga bukit namun bukit yang ia pandang berwarna hijau dengan langit biru di atasnya. Perpaduan indah dari alam.


"Aku suka kamar ini nyonya Anna,"ucap Ravanya lalu berjalan menuju tempat tidur dan duduk di atas ke empukan kasurnya.


"Terimakasih puteri, tapi bolehkan puteri tidak memanggilku dengan sebutan nyonya. Umur saya tidak jauh berbeda dengan puteri,"ucap Anna karena ia di perlakukan seperti pelayan senior di sini. Karena umurnya tak jauh dari umur Ravanya, hanya saja Ravanya yang lebih muda dari nya.


"Baiklah nyonya An-. maksudku Anna. Maaf aku terbiasa memanggil para pelayan ku dengan sebutan nyonya,"jawab Ravanya sambil tersenyum ke arah Anna.


"Terimakasih puteri. Oh iya saya akan pergi untuk mengambil makanan, bisakah Puteri menunggu sebentar?"tanya Anna benar benar sangat sopan. Ravanya tersenyum melihat tingkah pelayan nya yang sangat sopan itu. Ravanya mengangguk.


"Tunggu Anna. Aku ingin bertanya,"ucap Ravanya menghentikan langkah Anna. Anna pun berbalik dan menunggu Ravanya berbicara.


"Silahkan puteri."


"Apa kamu tahu dari kerajaan mana pangeran Daylan berasal?"tanya Ravanya.


"Pangeran Daylan berasal dari kerajaan Minurslis puteri."Angguk Anna. Ravanya ber'oh'ria.


"Jika saya boleh tahu kenapa puteri menanyakan hal itu?"


"Aku hanya ingin tahu saja Anna."


"Sebaiknya puteri jangan terlalu dekat dengan dia. Minurslis itu kerajaan iblis. Aku takut dia membuat Puteri kenapa-napa,"ucap Anna khawatir. Ravanya menghampiri Anna perlahan lalu menenangkannya.


"Tenang saja Anna."Ravanya tersenyum,"aku pun tahu sedikit tentang kerajaan itu, tapi apakah mereka mampu membaca pikiran?"lanjut Ravanya.


"Banyak orang yang bilang jika mereka memang bisa melakukan hal tersebut. Mereka juga memiliki kekuatan seperti kerajaan Plusialis, namun katanya kekuatan mereka terlampau besar bahkan sampai bisa memanggil roh jahat,"jelas Anna membuat Ravanya paham.


"Puteri Ravanya saya permisi dulu,"pamit Anna.

__ADS_1


***


Dengan troli hidangan yang berisi berbagai macam makanan, dari makanan pembuka hingga makanan penutup. Anna berjalan menuju kamar Ravanya. Di depan kamar Anna mengetuk pintu perlahan, namun tak ada jawaban apa apa dari dalamnya. Ia pun mencoba membuka pintu itu, namun sayang pintu itu terkunci dari dalam.


Pikiran pikiran buruk masuk dengan cepat ke dalam otak Anna. Ia khawatir jika di dalam terjadi sesuatu pada Ravanya. Dengan berusaha tenang ia tetap mengetuk pintu.


Tapi tetap tak ada jawaban


"Puteri Ravanya! Puteri di dalam?"panggil Anna sambil kembali mengetuk pintu. Anna terdiam berusaha menenangkan diri karena tak ada jawaban dari dalam sana. Anna mulai bingung.


"Masuklah Anna,"suruh Ravanya yang ternyata sudah membuka kan pintu. Anna lalu masuk kemudian menutup pintunya kembali. Ia mendorong troli hidangan itu ke dekat nakas lalu menyimpannya sebagian ke atas nakas. Anna mencium wangi sesuatu.


"Puteri! Apakah puteri habis mandi?"tanya Anna.


"iya,"jawab Ravanya. Anna seketika kaget atas jawaban dari Ravanya.


"Ya ampun kenapa Puteri tidak menunggu ku. Seharusnya aku melayani puteri,"cemas Anna.


"Aku terkadang menyiapkan air mandi dan mandi sendiri, Anna. Sudahlah tidak apa apa."Senyum Ravanya terukir di wajahnya menenangkan kegelisahan Anna.


"Maaf puteri, tapi itu tugas ku."Anna kembali cemas.


Anna menerima sisir itu gemetar. Ia bingung bagaimana ada puteri seperti Ravanya?. Sambil menyisirkan rambut Ravanya, Anna tersenyum karena betapa beruntungnya dia bisa menjadi pelayan Ravanya.


"Oh iya Puteri. Sehabis makan kita harus berkumpul di aula akademi,"ujar Anna memberitahu Ravanya. Ravanya pun mengiyakan.


Anna menyimpan sisir itu di dekat cermin, lalu membawakan Ravanya makanan. Ravanya berterimakasih pada Anna, lalu mulai menyantap hidangannya dengan lahap. Jujur saja dia sangat lapar, di perjalanan dia hanya makan beberapa buah dan air mineral saja.


Selesai makan, Anna dan Ravanya kembali mengobrol. Anna menjawab segala sesuatu yang Ravanya tanyakan tentang akademi, dan Ravanya sangat antusias mendengar berbagai cerita dari Anna.


tok tok tok


Dengan segera Anna membukakan pintu. Di ambang pintu terlihat pangeran Firlangga yang berdiri dengan gagah dan di belakangnya berdiri Cal.


"Aku ingin bertemu Puteri Ravanya,"ucap Firlangga. Anna pun mempersilahkan mereka masuk, Anna dan Cal menunggu Ravanya dan Firlangga di samping pintu.


"Kamu sudah makan Puteri?"tanya Firlangga.

__ADS_1


"Ah iya. Apa kamu juga sudah makan?"tanya Ravanya kembali di jawab dengan anggukan dari Firlangga.


"Mari kita pergi ke aula bersama,"ajak Firlangga. Ravanya tersenyum setuju. Mereka berempat pun menuju aula akademi bersama dengan pangeran dan Puteri lainnya juga.


Sesampainya di aula, mereka di persilahkan masuk kemudian duduk di tempat yang sudah di sediakan, dan para pelayan berdiri di belakang menunggu acara selesai.


Saat Ravanya berjalan menuju kursi tempat duduknya, semua mata tertuju padanya. Entah apa yang mereka perhatikan, yang jelas Ravanya terus menebar senyum di wajahnya.


"Selamat sore para puteri dan pangeran. Terimakasih karena kalian sudah datang ke akademi ini, dan saya merasa terhormat karena ketiga penerus kerajaan besar ada di akademi ini,"ucap pengurus Akademi. Saat itu juga para mata memandang ke arah Ravanya, Firlangga juga Daylan."saya perwakilan dari para pengurus akademi akan membacakan beberapa peraturan yang harus kalian ikuti di akademi ini."lanjut laki laki jangkung itu.


Satu persatu peraturan pun di bacakan. Para pelayan masing masing menerima satu surat yang berisi peraturan tertulis untuk tuan mereka.


"Terakhir, dimata para pengajar kalian adalah muridnya. jadi di mohon untuk bersikap sopan pada guru kalian. Terimakasih."Laki laki jangkung itu mundur perlahan, memberikan lembaran kertas itu kepada pengurus yang lainnya dan ia kembali berkata.


"Untuk para pangeran dan puteri silahkan berkeliling akademi bersama pelayan kalian masing masing."


Ravanya dan para puteri yang lainnya memperhatikan barisan para pangeran segera berdiri. Namun, para puteri hanya terduduk menunggu pelayannya datang. Ravanya berfikir,


"Kenapa juga harus menunggu, kita kan bisa mendatangi mereka juga seperti para pangeran,"pikir Ravanya dalam hati.


Ravanya lalu berdiri dari kursi nya. Sekali lagi para mata memandang ke arahnya dengan terkejut, mereka berbisik satu sama lain. Para pangeran yang akan meninggalkan aula pun berbalik melihat Ravanya yang berjalan menuju Anna.


"Puteri Ravanya! Kita para puteri punya harga diri dan kamu telah merendahkan harga diri itu saat dirimu bangkit dan berjalan menghampiri pelayan mu,"teriak seorang puteri dari kerajaan bawahan kerajaan Plusialis. Puteri Amanda.


Para puteri yang lain saling menyahut membenarkan perkataan Amanda. Dan Anna nampak cemas saat Ravanya dan dirinya telah berdiri berdampingan. Ravanya tersenyum menatap para puteri dengan anggun.


"Harga Diri seorang Puteri bukan hanya ada pada tahta nya. Tapi juga ada pada cara ia memperlakukan pelayannya. Setidaknya itulah yang Kakek ku pernah ajarkan,"jawab Ravanya penuh senyuman.


Sebagian besar puteri jadi berpindah mempro pendapat Ravanya lalu berdiri mengikuti Ravanya, dan sisanya masih kontra terhadap pendapat itu. Tapi Ravanya tak peduli, bersama Anna yang menatap kagum padanya, Mereka berjalan keluar dari aula istana.


Para pangeran benar benar terpesona akan Ravanya, seperti apa yang Ella pernah katakan, dan itu telah terjadi.


"Puteri Ravanya memang idaman ya kan Pangeran Daylan?"ucap pangeran Arley dari kerajaan bawahan Minurslis. Daylan bergeming menatap Ravanya.


Di matanya, Ravanya hanyalah Puteri biasa yang tidak suka membatasi dirinya sendiri. Itulah yang ia lihat dalam pikiran Ravanya.


***

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2