Arrive

Arrive
2 Pesan Misterius


__ADS_3

"Kapan?"


"Kemarin lewat Chat," ujar Nina kemudian menunjukan riwayat pesan WhatsAppku dengan nya, dan disitu aku berkata bahwa pacarku akan menjadi anak baru besok.


Ini sangat tidak mungkin, aku tidak pernah mengetik pesan seperti itu sungguh aku tidak pernah mengirim pesan seperti itu. Aku terus meyakinkan Nina tapi tetap saja dia tidak Percaya.


"Gue gak ngetik gitu kok," ucapku kemudian menunjukan riwayat pesan di handphoneku.


"Apaan itu Lo ngetik kayak gitu," ujar Nina setelah melihat handphoneku, aku pun melihat nya tidak percaya tapi nyatanya itu benar aku mengetik pesan seperti itu dalam riwayat pesan ini tapi sungguh aku tak pernah mengetik hal tersebut.


"Jadi Lo mau nutupin pacar Lo ke gue," ujar Nina sedikit ngambek.


"Apa yang mau ditutupin kalau pacar nya aja enggak ada Ninaaaa," jawabku masih bingung, serius ini benar benar membingungkan.


"Atau... Lo lagi marahan ya sama pacar Lo?" tanya Nina mengintimidasi.


"Gue gak punya pacar," ucapku terus menyakinkan Nina.


"Benerkan Lo lagi marahan sama pacar Lo?"


"Stop Nina jangan bahas pacar pacar lagi, nanti gue traktir Lo di kantin deh! Gimana?" ucapku berusaha menghentikan pembicaraan membingungkan ini.


"Oke" ucap Nina kemudian duduk di sampingku dengan tenang dan seolah tak terjadi apa apa. Itulah Nina makanan adalah kelemahan dan kekuatannya.


Aku pun menarik napas panjang sambil memikirkan apa yang terjadi sebenarnya. Dan apakah murid baru yang Nina maksud itu Rangga?


***


Di kantin aku hanya bisa memandangi Nina yang sedang lahap menyantap makanannya, bukan aku tidak memesan makanan tapi pesananku belum datang.


"Lo gak makan?" tanya Nina sambil tetap lahap menyantap makanan, anehnya walaupun Nina Hobi makan badannya tetap langsing.


"Pesanannya belum datang" jawabku tak lama pesananku pun datang semangkok bakso--makanan favoritku-- dan segelas jus mangga.


Aku memasukan sesendok bakso ke mulutku saat aku sedang mengunyah perlahan, tiba tiba handphoneku bergetar tanda ada notifikasi yang masuk. Aku pun membuka nya, dan ternyata ada sebuah pesan WhatsApp  dari nomor yang namanya pacar.


"Tunggu!kapan aku menyimpan nomor ini? Nomor siapa ini dan kenapa namanya pacar?"pikirku bingung.


Pacar


Hai sayang!


Kamu udah makan?


Sayang?


Maaf kayaknya salah kirim


pacar


Enggak kok


Ini Rani kan?

__ADS_1


Iya tapi ini siapa ya?


pacar


Aku ini pacar kamu


Masa kamu lupa


Maaf tapi gue emang gak punya pacar


Jangan ngejek Lo


pacar


Hahahaha


Aku ini pacar kamu


Aku gak ngejek


Siapa sih??


pacar


Aku pacar kamu


Yaudah makan aja baksonya, nanti dingin


"Ran kenapa celingak-celinguk gitu?nyari cowok ganteng?" tanya Nina setelah selesai makan."kalau iya tuh di pojok sana ada cowok ganteng liat ke sini terus," lanjut Nina sambil menunjuk ke arah pojok kantin yang berada dibelakang tubuhku.


Aku pun membalikan tubuhku dan tak ada yang kulihat selain dia, iya Nina benar kalau bilang dia ini tampan dan Nina juga benar kalau dia terus memperhatikan kesini tapi apa benar jika Rangga yang mengaku ngaku jadi pacarku?karena hanya ada dia disana.


Aku kembali membalikan badan menatap Nina yang sedang asyik memainkan handphonenya.


Aku kemudian menatap baksoku lalu kembali memakannya dengan pikiran yang masih berputar putar kebingungan.


***


Seperti biasanya aku bangun pada tengah malam kemudian menutup jendelaku yang terbuka. Setelah jendelaku tertutup rapat aku kembali menuju ranjangku untuk tidur.


Saat aku berbalik ke arah ranjangku aku tak kuasa menahan rasa tidak percaya hingga aku mundur beberapa langkah dari tempatku berdiri.


"Bagaimana aku bisa tertidur disitu?" ujarku bingung setelah aku melihat diriku yang lain tengah tertidur pulas diatas ranjang,"dan dia siapa?" gumamku setelah melihat seorang lelaki  berpakaian serba hitam yang berdiri tegap sambil memperhatikan diriku yang lain yang sedang tertidur.


Aku menutup mulutku tak percaya. Lelaki itu mengecup kening diriku yang lain lalu setelahnya keluar sebuah sayap hitam di punggungnya dan dia menghilang.


Aku menatap sudut demi sudut di kamarku namun lelaki tadi tak aku temukan lagi, sepertinya ia benar benar pergi dari sini.


Karena aku begitu penasaran aku pun menghampiri diriku yang lain itu yang sedang tertidur nyenyak.


Satu langkah


Dua langkah

__ADS_1


Tiga langkah


"Rani," dengan suara yang lembut seseorang memanggilku dari belakang, aku pun menoleh ke arah suara.


Deg


"Ka-kamu... siapa?" Aku terkejut setelah melihat sesosok yang sebelumnya aku lihat beberapa menit yang lalu, lelaki yang berpakaian serba hitam dan sepasang sayap hitam di punggungnya.


"Aku pikir dia telah pergi," batinku bergumam.


"Bagaimana aku bisa pergi?jika sebagian jiwaku ada padamu," ucap lelaki itu.


Dia memegang kedua tanganku kemudian menatapku, dan tatapannya begitu teduh.


"Ya ampun aku berpikiran apa, mungkin saja dia ini orang jahatkan," batinku.


Sontak aku melepas genggaman tangannya lalu aku berkata,"kamu siapa?da-dan dia siapa?" tunjukku pada diriku yang lain yang sedang tertidur.


"Aku telah membawamu ke satu hari sebelum hari ini, dan dia itu dirimu saat sedang tertidur kemarin malam," ucapnya menunjuk diriku yang lain lalu menatapku kembali.


Aku memalingkan wajahku tak kuasa menatap tatapannya itu.


"Katakan siapa dirimu?mengapa kau datang padaku?" tanyaku memberanikan diri dengan suara yang lebih tinggi.


"Aku ini milikmu,"gumamnya sambil terus menatapku dan tatapannya berubah seolah aku ini miliknya,"kau memang milikku," ucapnya dan lagi lagi ia bisa mendengar ucapan pikiranku.


Aku terdiam membeku saat dirinya tiba tiba memelukku begitu erat. Aku terus meronta ronta berusaha melepaskan pelukannya, tapi nihil tangan nya terlalu kekar untuk tubuhku yang mungil ini.


"Diam, biarkan kau menjadi milikku," bisiknya membuatku merinding.


Deg


Aku terbangun dari tidurku dengan keringat dingin yang bercucuran, detak jantung yang tak beraturan dan pikiran yang tak percaya bahwa tadi hanyalah perbuatan alam bawah sadar.


"Cuma mimpi, tapi... itu terasa nyata," Aku mengambil segelas air putih yang ada di meja samping tempat tidurku kemudian meneguknya sampai tak tersisa, kemudian aku memijat kepalaku perlahan sambil mencoba menenangkan diriku.


Aku melihat ke arah jam. Sepertinya aku bangun saat tengah malam. Dan benar saja terpampang di jam digital itu jam 00:00, tepat tengah malam.


Seperti biasa juga aku melihat ke arah jendela dan tentu saja jendelaku terbuka, namun tak ada angin yang meniup gordennya.


Aku beranjak dari tempat tidurku, setelah dua langkah aku menoleh kebelakang takutnya jika aku masih tertidur disana seperti mimpi tadi.


"Ya ampun itu hanya mimpi," ucapku menepuk jidatku lalu berjalan menuju jendelaku.


Di hadapan jendelaku yang terbuka aku menatap ke depan, aku menemukan seseorang yang sedang menatapku dari seberang. Aku menatapnya bingung dan dia menatapku kaget.


"Rangga!"


Ternyata dia tetanggaku.


***


Tbc.....

__ADS_1


__ADS_2