
Setelah itu kami digiring keluar dari sana oleh beberapa orang yang berseragam dengan pria berkumis itu. Kami berjalan cukup jauh dari ruang tadi kemudian satu persatu masuk kedalam pintu besar dengan tulisan besar di atasnya.
RUANG KURUNGAN
Tulisan besar yang memiliki arti sama dengan penjara itu membuat kami sedikit ngeri dan ragu untuk melangkah masuk, tapi kita semua didorong untuk masuk kesana.
Kami serombongan berjalan di koridor yang di setiap sisi nya terdapat jeruji yang terbuat dari sinar bukan besi. Kami menjadi bahan tontonan setiap narapidana sangar yang ada disana.
Sampai sampailah kita di sebuah ruang penjara yang besarnya setengah dari balai istana tadi lalu Kami semua di paksa masuk kedalam satu ruangan besar itu lalu di kurung dengan jeruji sinar berwarna merah yang akan mengeluarkan listrik jika disentuh.
Di sini benar benar berbeda dengan penjara pada umumnya. Penjara disini lebih bersih namun di sini sangatlah panas. Walaupun ruangan ini terbilang luas, bisa kalian bayangkan tiga ratus orang lebih ada di dalam satu ruangan.
Aku terduduk seperti yang lainnya dengan raut cemas. Kepala sekolah, para guru, dan wali kelas mencoba untuk menenangkan kami. Sedangkan para supir dibawa oleh orang orang tadi untuk di interogasi.
Daniel yang sedari tadi berdiri di sampingku mendadak memeluk ku. Aku menepis pelan tangannya.
"Daniel ih,"kataku.
"Ya maaf,"ujarnya sambil terkekeh. Kenapa dia setenang ini saat semua hal aneh telah menimpa kita.
"Karena ada kamu disini."aku menatap ke arahnya yang tengah tersenyum. Aku lalu menyipitkan mataku.
"Niel Lo bisa jelasin apa yang sebenarnya terjadi?"Rangga duduk di hadapan aku dan Daniel.
"Maafin gue sebelumnya."ia menghela nafas pelan."orang lain banyak berbicara jika para supir melihat asap asap hitam. Mereka pikir itu adalah asap dari kendaraan. Tapi mereka salah,"gumam Daniel pelan hanya bisa terdengar oleh aku dan Rangga.
"Maksud kamu gimana?"tanya ku bingung.
"Jika asap hitam itu benar benar ada, bisa aku pastikan kalau semua ini adalah ulah Ayah."ia menatapku lesu karena merasa bersalah.
"Tapi kenapa?"kini Rangga yang bertanya.
"Gue gak tau apa yang direncanakan sama ayah. Dan gue gak bisa mengembalikan kalian semua. Energi yang dibutuhkan terlalu besar."aku memegang tangannya dengan kedua tanganku.
"Tapi kenapa ayah kamu bisa?"
"Dia melakukan itu bersama orang orangnya."
***
__ADS_1
Darliam terduduk dalam satu ruangan bersama kedua orang tuanya dan juga beberapa tamu ayahnya.
"Sayang sekali Daniel tak ikut makan malam bersama kita,"keluh seorang pria yang seumuran dengan Amantha.
"Putri mu juga tidak ada disini padahal aku ingin sekali melihatnya,"balas Amantha kemudian melap tangannya sehabis makan lalu meletakan sedok dan garpu di pinggir piring makannya.
"Ah iya kemana Putri kalian? Bukankah ia calon menantu ku,"Liona--istri Amantha--tertawa pelan menggoda besannya.
"Dia sibuk dengan sekolah dan teman temannya. Dia bahkan jarang menghubungi kami,"kini Laura--besan sekaligus istri dari Barnard.
Darliam meneguk segelas air putih kemudian melap bibirnya yang basah. Dia tentu mendengar ocehan dan obrolan kedua orang tuanya dengan kedua tamu bangsawan yang akan menjodohkan anaknya dengan Daniel, kakaknya sendiri.
Darliam tersenyum tipis dengan obrolan yang di bahas oleh para orang tua. Hatinya sedikit teriris, ia merasa iri dengan kakak yang hanya berbeda dua tahun darinya itu. Ayah dan ibunya begitu menyayangi Daniel hingga mereka melakukan apa saja untuk kakaknya itu.
Darliam kadang merasa cemburu dengan kakaknya itu. Tapi dia berusaha untuk selalu kuat menghadapi ini. Darliam menanamkan dalam pikirannya jika orangtuanya melakukan semua itu untuk membuat jera Daniel dari masalalu nya.
Darliam menghela nafas pelan kemudian pamit untuk pergi ke kamarnya dengan sopan. Ia keluar dari ruang makan itu kemudian berjalan dengan gagah dan angkuh. Ia akan berusaha keras untuk bisa di andalkan selalu oleh ayahnya walau karena itu ia tak pernah dapat suatu kisah cinta.
Darliam bukan tak tampan tapi sampai saat ini belum ada gadis yang memikat hatinya. Walau pernah ada satu orang yang kini tersimpan dalam luka hatinya. Kisah cinta itu ia korbankan untuk kakaknya.
"Andai dia dijodohkan dengan ku,"batin Darliam geram. Seseorang yang pernah ia sukai harus menikah dengan kakaknya sendiri. Itu sangat menyakitkan.
***
Aku baru membuka buku ini setelah kamu memberikannya padaku. Aku belum menulis apapun saat itu, kau tentu tahu rindu ku tak bersembunyi dalam dada ku saat aku selalu bersama mu...
Ah ya jadi kini aku merindukanmu dan aku akan mulai menulis tentang kita disini...
Apa kamu ingat saat kita pertama kali bertemu. Aku belum jatuh cinta pada mu saat itu tapi karena kemampuan hebat mu yang membuat ku ingin banyak belajar dari mu...
Aku sebal saat kau terus menolak dan menjadikan alasan kalau aku ini perempuan. Aku kan hanya ingin belajar memanah juga bermain pedang. Aku bosan menjadi seorang putri yang belajar berjalan dengan buku tebal di atas kepala atau belajar cara minum teh dengan anggun...
Semua itu sudah di ajarkan di istana jadi aku pikir dengan pergi ke akademi kerajaan aku akan bisa diam diam belajar apapun tanpa membatasi status ku sebagai seorang putri...
Tapi aku tak menyesal sama sekali karena aku bisa belajar itu semua dari mu dan aku bisa merasakan apa itu jatuh cinta bersama diri mu....
Aku tersenyum senyum membaca halaman kedua dari buku diary yang aku temukan di perpustakaan waktu itu. Aku memang sengaja membawa nya dan akan membacanya ketika aku dilanda rasa bosan didalam jalan jalan edukasi ini.
Semua bosan itu ternyata benar benar datang. Bagaimana tidak, disini aku hanya bersama Nina yang tengah fokus dengan handphonenya, tak tahu apa yang dia minati disana.
__ADS_1
Daniel dan Rangga mereka pergi Bersama beberapa orang yang lain untuk di interogasi secara bergantian. Kaum Adam dahulu yang sedang di tanyai.
Jujur aku masih bingung dengan semua yang menimpa kami ini. Jika benar memang ayah Daniel yang melakukan semua ini, untuk apa ia melakukannya. Jika memang karena tidak ingin Daniel berteman dengan siapapun harusnya ia membawa Daniel saja bukannya membawa banyak orang dan membuat ku semakin dekat dengan Daniel.
Aku menutup buku diary itu dan akan membacanya lagi nanti. Aku mengusap wajahku pelan, aku berharap aku bisa tahu mengapa semua ini terjadi.
Daniel dan yang lainnya sudah kembali lagi ke ruangan ini bersama para penjaga berseragam biru abu itu. Kami semua lalu berkerumun dan bertanya pada mereka.
"Daniel! Tadi mereka nanya apa aja sama kamu? Kamu gak di apa apain kan?"tanya ku lalu menggenggam tangannya.
"Gak ada apa apa,"ucapnya sambil tersenyum lebar. Aku bersyukur mereka tidak berbuat hal aneh pada Daniel.
Aku lalu mencari Rangga di samping atau dibelakangnya. Tapi dia tak ada.
"Rangga kemana?"
"Permisi apa kamu yang bernama Rani?"tanya pak berkumis yang sering aku sebutkan tadi. Aku mengangguk ragu menatapnya.
"Nama saya Beval atasan tertinggi keamanan kerjaan Neutralis. Kami akan membawa kamu untuk di interogasi,"ucapnya pria berkumis yang bernama Beval itu.
"Sekarang giliran perempuan? Bukannya ada beberapa laki laki yang belum di interogasi?"tanya ku memastikan karena beberapa jam yang lalu ia sendiri yang bilang kalau sesi interogasi itu bergantian.
"Informasi yang kami dapatkan sudah cukup. Kamu tinggal ikut saja dengan kami,'ucapnya dengan tegas.
"Hanya aku? Maksudnya cuma aku sendirian?"aku menunjuk diriku sendiri.
"iya,"ucap Pak Beval sambil mengangguk setelahnya ia mempersilahkan aku pergi dengan gerakan tangannya. Tapi aku tetap bergeming disana.
"Pak aku tidak mau pergi sendirian, Aku ingin pergi bersamanya."aku merangkul tangan Daniel lalu tersenyum ke arahnya. Pak Beval menggeleng secara tegas.
"Tidak bisa!"
"Kalau gitu aku tidak bisa ikut dengan Bapak,"kataku tegas. Aku bersikukuh untuk tidak ikut dengannya kalau harus pergi sendirian. Aku tak tahu pak Beval akan memaksa ku atau tidak tapi sejauh ini dia terlihat baik.
"Baiklah hanya dia saja yang boleh ikut."
***
TBC.....
__ADS_1
Pasti pada tau kenapa Rani di suruh ikut. Jelas banget itu :0