
Setelah kejadian berdarah kemarin sekolahku di datangi banyak polisi dan garis polisi terpasang mengelilingi gudang. Sesuai dengan ucapan Daniel mereka meninggal karena kecelakaan setelah membully salah satu siswa. Tak ada barang bukti apapun kecuali handphone yang berisi Foto foto salah satu teman Vina yang menggantikan aku. Aku tau itu pasti ulah Daniel. Dia mungkin menyelamatkan aku tapi tetap saja aku belum bisa bersikap biasa terhadap semua ini.
Aku bahkan membuang seragam yang aku kenakan tadi dan untungnya aku masih punya seragam cadangan untuk aku pakai ke sekolah. Aku duduk bersender di kepala ranjang sambil memeluk erat lututku.
Rasa seram masih menghantui ku. Darah, mayat yang mengenaskan, aku tak tahu apa yang Daniel lakukan terhadap mereka. Aku mohon pergilah wahai pikiran mengerikan. Aku mau melanjutkan sekolahku dengan damai. Aku mau melupakan semua kejadian hari ini.
Tok Tok Tok
"Rani ada Daniel nih,"ucap mamah sambil membuka pintu kamarku yang tidak di kunci. Aku bangkit dari duduk ku kemudian menghampiri mamah di ambang pintu. Terlihat di belakang mamah berdiri seorang laki laki jangkung yang tengah tersenyum padaku.
"Eh Daniel,"aku mencoba untuk tersenyum juga.
"Yaudah mamah tinggal ya,"ujar mamahku kemudian melengos pergi meninggalkan aku dan Daniel.
"Aku masuk ya?"tanya nya sambil memperhatikan ku.
Tumben ijin dulu
"Yaudah masuk aja,"ujarku kemudian mempersilahkan nya untuk masuk. Pintu kamar aku biarkan terbuka dia juga tak menutup pintunya.
"Kamu banyak pikiran ya?"ia terduduk di sofa yang terletak di samping nakas tempat tidurku.
"Ya gitu deh. Masih belum bisa aja lupain kejadian tadi,"aku memegang keningku frustasi.
"Kamu gak usah pikirin lagi. Biasa aja,"ucapnya santai.
"Tapi gak bisa kejadian nya terlalu-"ucapanku terpotong karena tiba tiba kepalaku pusing. Aku memegang kepalaku bahkan sedikit menarik rambutnya.
"Rani,"Daniel menangkap ku yang hampir terjatuh. Semua nya terlihat berputar kepalaku benar benar pusing.
Daniel kemudian medudukan ku di sofa, ia mengelus pelan rambutku dan perlahan rasa sakit serta pusing itu hilang. Ia kemudian menatapku sambil tersenyum.
"Udah mendingan?"tanya nya. Aku hanya bisa mengangguk setuju.
"Makasih,"ujarku pelan kemudian menatapnya sambil tersenyum.
"Gue harus ke dokter deh kayaknya. Bekas pukulannya bikin pusing,"ucapku sambil terus memegangi kepalaku. Aku seperti akan segera pergi ke dokter, pusing dan sakit kepala ini agak menyiksa ku.
Cup
Daniel mengecup pucuk kepalaku singkat. Aku menatapnya kaget juga bingung.
Apakah dia telah menyembuhkan aku lagi?
"Apa sekarang jadi lebih baik?"tanya nya khawatir. Aku menggerak nggerakan kepala ku ke kanan dan ke kiri juga ke atas dan kebawah memastikan apakah ada yang berubah.
__ADS_1
"Kamu ngapain?"
Aku menghentikan kegiatanku kemudian memandang Daniel. Sebuah senyum kemudian mengembangkan di wajahku.
"Wah iya nih kepala gue udah agak ringan gak kayak tadi,"ucapku bersemangat.
"Haaaaa!"
Aku bersender di bahu sofa kemudian meregangkan kedua tanganku ke atas. Aku tak tahu apa yang terjadi pada tubuhku tapi rasa rasa nya perasaan cemas dalam diriku hilang dan aku sendiri juga lupa mengapa aku bisa cemas. Aku bersikap acuh yang penting aku merasa santai sekarang.
"Mau jalan Jalan?"tanya ku sambil berdiri bersemangat memandang Daniel yang hanya tersenyum tipis.
Aku memiringkan kepalaku juga berkacak pinggang menatap Daniel aneh. Tak biasa nya dia begini, biasa nya cerewet dan juga....
Sedikit agresif.
"Jadi kamu pikir aku kayak gitu?"tanya nya mengejek dan merubah wajahnya seperti anak kecil angkuh yang tidak terima dirinya di ejek. Aku meremas jari ku pelan kemudian tersenyum salah tingkah.
Mulai sekarang aku harus berbicara dengan hati hati walau dalam hati
"Ya lakukanlah,"ucapnya dingin seperti marah. Aku berfikir keras bagaimana cara membujuk laki laki moodyan ini. Ia menatap ke arahku makin sebal. Aku memukul pelan bibirku yang sedari tadi menyatu.
Aku salah bicara lagi
"Uu Daniel maaf ya. Kita jalan jalan yuk. Mau ya mau ya,"ucapku mencubit kedua pipi Daniel lalu mencoba membujuknya seperti membujuk seorang anak kecil yang sedang sensi.
"Hei ini sakit,"ucapnya mengembalikan kesadaran ku aku menggelengkan pelan kepala ku kemudian menjauhkan lenganku dari pipinya. Ia mengusap kedua pipinya yang memerah karena cubitan ku yang gemas.
"Yaudah ayo beli es krim atau mungkin nonton atau kemana kek biar gak bosen,"ajakku bersemangat.
"Sekarang udah mau malem,"ucapnya masih sebal terhadapku. Aku melirik ke arah jam juga jendela yang menampakkan langit jingga yang perlahan menggelap.
"Hah?"waktu cepat sekali berlalu.
"RANI! DANIEL! YUK MAKAN DULU!"teriak mamah dari arah dapur. Aku mengajak Daniel lewat tatapan ekor mataku tapi ia tetap bersender di sofa dan melipat kedua tangannya di dada.
Aku menghembuskan nafas panjang karena gagal menghibur nya. Aku kemudian beralih ke jendela dan menutupnya. Aku kembali melirik ke arahnya tapi ia tiba tiba menghilang.
Loh dia dimana?
"Aku disini,"bisik Daniel yang ternyata telah berdiri di belakang tubuhku. Aku hampir melompat kaget untungnya aku bisa menahan diri.
"Yuk makan,"ajak nya sambil tersenyum. Aku menatap senyum itu lama, rasa nya kelegaan melanda hati ku.
Sepertinya karena dia tak marah lagi.
__ADS_1
***
Di meja makan kami bertiga menikmati makanan kami masing masing dengan tenang. Ya hanya bertiga dan itu lebih baik karena biasanya hanya ada aku dan mamah. Ayah ku seorang abdi negara mengikuti jejak Kakek, dan kalian tau pulangnya tentu beberapa tahun sekali. Aku dan mamah biasanya melepas rindu dengan menelponnya.
Kemarin kemarin ayah ku menelpon dengan panik lalu menanyakan kabarku, seperti ia tau dari berita. Ya aku jadi perbincangan hangat waktu itu selain karena suatu penusukan tapi juga aku yang sembuh dengan cepat dan orang menyebutnya sebuah 'keajaiban' padahal sebenarnya itu adalah insiden pencurian ciuman pertama.
"Makasih tante. Makanan nya enak,"Daniel telah menyelesaikan makan nya ia lalu mengambil segelas air lalu meminumnya.
"Sini tante bawa kebelakang piringnya. Rani kamu bawa sendiri ya piringnya."mamah tersenyum kemudian menghilang dari pandangan.
Aku mengangguk lalu menyuapkan satu suapan terakhir kemulutku sambil tak mengalihkan pandanganku dari Daniel. Aku rasa dia memang lumayan tampan.
"Terimakasih pujiannya,"ucapnya setelah selesai meneguk habis air beningnya.
uhuk uhuk
Aku memegang tenggorokan ku lalu buru buru meneguk segelas air. Aku usap leherku pelan sambil menatap ke arahnya malu.
Harusnya aku gak muji dia
Karena malu aku berdiri dan membawa piringku ke dapur untuk di cuci. Kulihat mamah yang tengah melap sebuah piring yang basah.
Aku menuju wastafel lalu mencuci piring serta sendok makan ku dalam diam. Aku lalu melirik mamah yang kembali ke meja makan untuk membereskan yang lain.
Aku membuang muka lalu kembali fokus mencuci piring. Di dapur yang bersebrangan dengan meja makan ini aku beradu pandang dengan Daniel. Wajahku memanas dan sekali lagi aku merutuki diriku sendiri.
Harusnya aku gak muji dia
"Ran pergi gih sama Daniel,"suruh mamah sambil membawa beberapa piring kotor bekas hidangan dan tatapan mamah juga menyuruhku untuk mencucinya.
"Udah malem mah,"jawabku masih fokus membersihkan noda minyak di piring.
"Di deket balai kota ada wiskul* sama pasar malem loh. Besok kan hari libur juga,"
*Wisata kuliner
"Serius mah?"tanya ku bersemangat.
"Iya refresing kamu sana sebelum ujian. Ajak Rangga sama Nina juga sekalian,"Suruh mamah mengijinkan.
Aku melonjak bersemangat bukan karena sebentar lagi aku akan sibuk dengan ujian ujian sekolah tingkat akhir tapi akhirnya setelah sekian lama aku bisa ke pasar malam lagi dan juga kini membawa pacar. Tunggu, aku meralat sedikit perkataan ku.
Bukan. Salah satu nya atau kedua bukan pacar ku. Hanya saja ini kali pertama aku pergi ke pasar malam bersama teman laki laki.
Karena biasanya kan cuma sama Nina.
__ADS_1
Aku tersenyum tipis sambil melap piring yang basah.
***