Arrive

Arrive
Season 2 Chapter 05 Kenapa Dia Mirip Dengan Ku?


__ADS_3

Ravanya menatap Firlangga yang kini sedang terduduk di samping tubuhnya yang tengah berbaring. Firlangga terus memperhatikan ke arah jendela.


"Saat malam tiba, puteri harus menutup jendela ini."ujar Firlangga lalu berdiri untuk menutup jendela.


Di bawah selimut Ravanya mengangguk. Ia lalu bangkit dari posisi nya dan menatap ke arah Firlangga.


"Apa kamu akan menunggu sampai aku benar benar tidur?"tanya Ravanya pada Firlangga yang berjalan menghampiri nya.


"Iya. Apakah puteri keberatan?"tanya Firlangga.


"Aku sebenarnya tidak keberatan, tapi aku merasa sangat tidak enak pada pangeran. Kamu harus tertidur larut demi menunggu aku tidur. Jadi lebih baik pangeran kembali saja ke kamar, pasalnya malam ini aku tidak terlalu mengantuk."jawab Ravanya.


Firlangga lalu membuka selimut dan memasukan tubuhnya ke bawah selimut yang sama dengan Ravanya. Ravanya terdiam kaget.


"Apa yang pangeran lakukan?"tanya Ravanya mundur sedikit dari posisi nya.


"Jika puteri tidak keberatan aku akan tidur di sini saja."Firlangga bertanya dengan senyuman di wajahnya. Ia berniat menggoda Ravanya.


"Tentu saja aku keberatan. Pangeran tidak boleh tidur di sini."ujar Ravanya dengan wajah yang memerah. Firlangga lalu tertawa dan keluar dari dalam selimut.


"Baiklah puteri maaf kan aku. Jadi lebih baik puteri tidur sekarang, atau aku yang akan tidur di sini."Firlangga menggoda Ravanya lagi.


Ravanya kembali berbaring. Memejamkan matanya dan menunggu mimpi muncul di kepalanya. Tapi matanya terbuka kembali.


"Aku belum mengantuk. Aku tak bisa memaksa diri ku untuk tidur,"teriak Ravanya sambil turun dari ranjangnya.


"Bagaimana kalau kita jalan jalan sebentar?"ajak Ravanya.


"Ini sudah malam puteri,"tolak Firlangga.


"Tapi aku memaksa. Jadi ayo berkeliling akademi ini lagi, tapi hanya kita berdua begitu,"ajak Ravanya lagi sambil menarik lengan Firlangga dan membawanya pergi keluar.


Anna dan Cal membiarkan mereka berdua pergi berkeliling bersama. Membiarkan dua orang itu berjalan jalan ria.

__ADS_1


Dari suatu tempat Daylan memperhatikan mereka berdua. Sekali lagi, niat Daylan untuk meminta maaf pada Ravanya kembali gagal. Ia kembali lagi ke dalam kamarnya.


"Pangeran, apa Pangeran sudah meminta maaf?"tanya Bert setiap kali Daylan pulang dari rencana nya untuk meminta maaf.


"Di samping Ravanya selalu ada Firlangga. Aku tidak mau meminta maaf di depan Firlangga. Sepertinya dia tahu jika akhir akhir ini aku sering mendatangi kamar Ravanya malam malam."


***


"Puteri apa puteri sudah mengantuk?"tanya Firlangga sembari terus menyamai langkahnya dengan Ravanya.


"Belum,"jawab Ravanya dengan nada yang masih bersemangat. Tatapan matanya pun masih terlihat segar. Mereka lalu duduk di sebuah taman dan melihat ke arah bulan.


"Sedang apa kalian di sini?"tanya Amanda menghampiri mereka berdua.


"Kami belum mengantuk. Jadi kami berjalan jalan sebentar,"jawab Ravanya sambil tersenyum.


"Puteri Amanda sendiri sedang apa di sini?"tanya Firlangga.


"Aku sendiri juga belum mengantuk jadi aku berniat untuk jalan jalan, jadi bolehkah aku bergabung?"tanya Amanda. Firlangga dan Ravanya mengangguk. Amanda kemudian duduk di antara Firlangga dan Ravanya, memisahkan dua orang itu.


"Bukan,"jawab Firlangga selepas melihat ke arah Ravanya yang masih memandang bulan. Amanda menarik nafas lega lalu tersenyum.


Amanda dan Firlangga pun terus berbincang. Dan Ravanya terus mendengarkan sampai tiba tiba rasa kantuk masuk ke dalam tubuhnya. Firlangga yang melihat Ravanya terlelap di senderan kursi taman, segera berdiri dan menepuk tubuh Ravanya pelan.


"Puteri!"panggil Firlangga, Ravanya mengerjapkan matanya perlahan."puteri Amanda maaf tapi sepertinya aku harus mengantar puteri Ravanya ke kamarnya."ucap Firlangga kemudian menuntun Ravanya berjalan.


Ravanya mengucek matanya perlahan. Dia sangat mengantuk, tapi ia masih sanggup berjalan. Walau begitu Firlangga tetap memegangi Ravanya dan mengantarnya ke kamar.


Sesampainya di kamar, Ravanya naik ke atas ranjang lalu tidur dengan pulas. Firlangga pun menarik selimutnya dan mengecup kening Ravanya lalu pergi dari sana bersama Cal.


Anna segera menutup pintu dan masuk ke dalam kamarnya setelah ia memastikan bahwa Ravanya sudah benar benar tertidur.


"*Stop please stop. Udah berapa kali sih gue bilang gue bukan pacar siapa siapa oke. Just Friend."

__ADS_1


"Rangga! Daniel! Kita ini temen ya kan?"


"Kamu milik aku Rani."


"Gue pacar Lo loh Ran*."


Ravanya tiba tiba terbangun dari tidurnya. Karena sebuah mimpi yang tidak ia pahami. Wajah seorang perempuan yang begitu mirip dengan nya namun wajah kedua laki laki itu terlihat samar. Pakaian mereka pun terlihat aneh, dan bahasa yang mereka gunakan belum pernah Ravanya dengar, dia tidak mengerti.


"Rangga, Daniel, dan Rani. Siapa mereka? Dan kenapa perempuan bernama Rani itu wajahnya sama dengan ku?"bingung Ravanya. Ia lalu turun dari ranjangnya untuk meminum segelas air, setelah meneguk segelas air, ia kembali berjalan ke arah jendela dan menemukan sesuatu di sana.


"Bulu hitam lagi? Dan ini bulu dari mana? Aku rasa tidak ada hewan berbulu hitam dengan ukuran sebesar ini,"gumam Ravanya. Ravanya pun memasukan bulu hitam itu ke dalam laci bersama bulu hitam yang pernah ia temukan sebelumnya.


Di tempat lain


Daylan masuk ke dalam kamarnya dengan terengah-engah, nafasnya tak beraturan. Ia meneguk segelas air dengan cepat. Bert yang menunggu kedatangan Daylan langsung panik.


"Pangeran ada apa?"tanya Bert khawatir.


"Aku.... Saat masuk ke kamar Ravanya aku mendapati nya telah tertidur dan aku tak tega membangunkannya. Namun saat aku akan pergi dari sana, kepala ku mendadak pusing dan aku dapat melihat dengan jelas mimpi Ravanya. Dalam mimpi itu ada seorang yang mirip dengan aku namun seorang perempuan dan laki laki yang lain wajahnya tidak jelas. Dan orang yang mirip dengan ku itu bernama Daniel,"cerita Daylan panjang lebar.


"Sepertinya dia bukan mirip dengan pangeran tapi dia adalah pangeran di masa depan. Bukankah bangsa pangeran itu adalah makhluk abadi?"jawab Bert lalu mendirikan Daylan di atas ranjang.


"Ya kau benar. Tapi aku yang itu terlihat berbeda. Wajahnya menyerupai ku tapi tingkah nya sama sekali tidak mirip dengan diriku Bert."Daylan memijit kening nya pelan.


"Waktu bisa merubah seseorang, pangeran. Mungkin juga suatu hal yang lain telah merubah sikap pangeran saat itu."Bert lalu membawakan segelas air untuk Daylan, agar ia lebih tenang.


"Aku tidak ingin minum lagi Bert,"tolak Daylan."itu mungkin terjadi tapi bagaimana bisa pikiranku terhubung dengan mimpi Ravanya?"lanjut Daylan.


"Mungkin kalian mempunyai ikatan takdir satu sama lain,"jawab Bert tapi jawaban itu tidak memuaskan Daylan.


"Itu tidak mungkin. Aku akan meminta maaf saja selalu terhalang oleh Firlangga. Bagaimana bisa kami terikat satu sama lain?"


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2