
"Maaf tapi dia bukan kekasihku,"jawab Ravanya melipat kedua tangannya di dada. Kemudian sebuah ide terbersit dalam kepala Ravanya, dia akan meminta Daylan untuk mengajarinya bermain pedang sebagai salah satu syarat supaya Ravanya dapat memaafkan Daylan.
"Aku tidak setuju dengan syarat mu itu,"ujar Daylan setelah mendengar isi pikiran Ravanya. Ravanya merutuki dirinya sendiri karena lupa akan hal itu.
"Tolong ajari aku pangeran!"pinta Ravanya.
"Tidak bisa,"tegas Daylan.
"Kenapa? Apa karena aku perempuan? Kenapa semua laki laki sama,"kesal Ravanya pada Daylan.
"Ya karena kamu seorang perempuan, kalian itu lemah dan cengeng,"jawab Daylan.
"Berani sekali kamu bicara seperti itu. Kami perempuan tidaklah lemah. Maka ajari aku bermain pedang, dan akan aku tunjukan betapa kuatnya aku."Ravanya mengangkat dagu nya. Daylan yang melihat itu menatap Ravanya dengan tatapan aneh.
"Apa kamu tidak takut jadi bahan pembicaraan orang-orang lagi?"
"Untuk apa takut. Aku tidak akan peduli dengan apa yang mereka katakan. Dan lagi kita bisa belajar diam diam, iya kan?"
"Tetap tidak bisa,"tolak Daylan lagi. Ravanya melipat kedua tangannya di dada, bibirnya mengerucut sebal. Dia memperhatikan Daylan dari atas ke bawah.
"Yasudah. Pangeran bisa pergi dan aku tidak akan memaafkan pangeran,"kesal Ravanya.
"Dasar gadis licik. Baiklah baiklah aku akan mengajari mu,"jawab Daylan setelah memikirkannya berulang ulang.
"Sungguh?"Daylan mengangguk. Ravanya tersenyum kegirangan.
"Terimakasih pangeran Daylan,"ucap Ravanya.
"Tapi ada satu hal yang perlu kita lakukan."
Beberapa Saat kemudian
"Pangeran apa benar kita harus melakukan ini?"tanya Ravanya ragu.
"Memangnya kenapa? Bukankah kau mengiyakan tadi?"
"Tapi apakah ini akan sakit?"tanya Ravanya.
"Tidak akan terasa apa apa. Kau tenang saja,"Daylan menyakinkan Ravanya.
"Baiklah. Tapi ini pertama kali buat ku."
__ADS_1
"Mendekatlah,"
"Tapi pangeran!"
"Kenapa kau sangat takut? Tenang saja. Kita hanya akan berteleportasi bukan akan loncat dari atas tebing."
Setelah Ravanya berdiri di sampingnya, Daylan segera mengucapkan beberapa mantra. Kabut hitam lalu mengelilingi mereka. Dan saat itu juga mereka menghilang.
Anna yang terbangun dari tidurnya karena suara berisik dari kamar Ravanya, ia segera menemui nya, namun Daylan telah membawa Ravanya pergi. Anna terkejut melihat itu dan ia tak tahu harus berbuat apa selain segera pergi untuk memberitahukan ini pada Firlangga.
Anna berlarian di sepanjang lorong yang sepi. Ia begitu panik dan khawatir. Sesampainya di depan pintu kamar Firlangga, Anna bingung harus bagaimana. Ia takut jika Firlangga sudah tidur dan dia mengganggunya. Akhirnya Anna memutuskan untuk mengetuk pintu kecil di samping kamar Firlangga, tempat dimana Cal berada.
Tok tok tok
"Cal. Tolong buka pintunya! Cal!"teriak Anna sambil tak henti mengetuk pintu kayu itu.
Pintu pun terbuka dan menampakkan kal di sana, dan seperti nya dia belum tidur sama sekali.
"Ada apa? Kamu mengganggu aku dan pangeran yang sedang berbincang."
"Syukurlah jika kalian belum tidur, aku ingin memberitahu kan sesuatu pada pangeran Firlangga. Ini tentang puteri Ravanya,"seru Anna dengan raut wajah khawatir.
"Baik baik. Aku akan membuka kan pintu kamar pangeran."Anna yang melihat Cal masuk kedalam segera berpindah dan berdiri di depan kamar Firlangga. Setelah di ijinkan masuk ia pun masuk dan menceritakan apa yang di lihatnya dengan raut raut kepanikan.
"APA! Siapa yang membawa nya pergi? Dan bagaimana?"teriak Firlangga ikut panik juga.
"Maaf pangeran aku tidak sempat melihat siapa yang membawa puteri pergi, tapi setelah sekian detik puteri Ravanya pergi. Aku melihat ada kabut hitam yang perlahan menghilang juga,"tambah Anna.
"Aku tahu siapa yang melakukan itu,"ujar Firlangga dengan raut wajah kesal.
Firlangga kemudian mengambil jubahnya kemudian segera bergegas pergi ke kamar Daylan dengan langkah yang tergesa-gesa dan tangan yang mengepal kuat.
"PANGERAN DAYLAN BUKA PINTUNYA!"teriak Firlangga membuat para penghuni kamar yang lain keluar karena penasaran dengan apa yang terjadi.
Pintu lalu terbuka, namun tidak ada Daylan di sana hanya ada pelayannya yang berdiri tertunduk.
"Dimana pangeran Daylan?"tanya Firlangga setelah memastikan jika Daylan benar-benar tak ada di kamarnya.
"Aku tidak tahu,"jawab Bert.
"Jangan bohong kamu! Cepat katakan!"sentak Firlangga.
__ADS_1
"Pangeran Daylan pergi untuk meminta maaf pada puteri Ravanya,"jawab Bert berterus terang.
"Lalu dia bawa kemana puteri Ravanya?"tanya Firlangga lagi. Bert hanya menggeleng tidak tahu.
Orang-orang yang memperhatikan dari luar, saling berbisik satu sama lain.
"Tak ada cara lain lagi."Firlangga lalu mempersiapkan dirinya untuk memakai kekuatan yang biasanya tak pernah ia gunakan. Sebuah kekuatan untuk mengetahui dimana keberadaan Ravanya. Kekuatannya bukan hanya dapat mencari tahu keberadaan seseorang, kekuatan nya pula bisa menebak dengan tepat kekuatan yang di miliki seseorang ataupun mengetahui siapa orang yang sedang menyamar.
"Guessed power,"gumam Firlangga sambil memejamkan matanya dan mencari dimana keberadaan Ravanya.
Penglihatan yang awal nya hanya berkas hitam berubah menjadi gambaran buram diamana Ravanya dan Daylan tengah belajar bermain pedang, dan lokasinya ada di hutan yang tak jauh dari akademi.
"Cal ayo kita pergi. Anna tolong katakan pada Pengurus akademi kalau kami akan pergi keluar sebentar. Dan kau jangan bilang kami akan pergi kemana,"suruh Firlangga dan Anna mengangguk paham.
Walau memiliki aturan tapi akademi di sini mengijinkan para puteri dan pangeran untuk keluar masuk akademi, asal tidak berlebihan dan kembali lagi ke akademi, sebelum pembelajaran mereka di akademi usai.
"Mohon maaf para pangeran, tidak ada apa apa yang perlu di cemaskan. Jadi kalian bisa kembali beristirahat."ujar Cal menyuruh orang orang untuk kembali masuk ke dalam kamar mereka, dan tidak ikut campur dengan masalah ini.
Setelah mereka masuk, Firlangga dan Cal segera bergegas pergi.
***
"Pangeran Daylan menancapkan nya terlalu Dalam. Aku jadi susah menariknya,"ucap Ravanya sambil berusaha keras untuk menarik pedang yang tertancap di tanah.
"Aku hanya menusuknya sedikit ke dalam. Apa kau tidak bisa mengangkatnya? Jika ia lebih baik kita sudahi saja semua ini,"tegas Daylan. Ravanya yang masih ingin belajar menolak dan kembali berusaha dengan sekuat tenaga nya.
Akhirnya pedang itu pun dapat ia cabut dari tanah. Ia kemudian mengangkat pedang itu perlahan.
"Lihat... Aku... Bisa melakukannya,"ucapnya susah payah karena mengangkat pedang yang lumayan berat.
"Baik, sekarang ayunkan pedang itu perlahan."Ravanya lalu mengayunkan pedang itu perlahan ke samping kiri dan kanannya.
"Sampai kapan seperti ini?"
"Sampai kau terbiasa dengan itu."
Terkadang Ravanya berhenti sejenak untuk mengistirahatkan lengannya. Lalu ia kembali mengayunkan pedangnya.
Daylan mengusap keningnya kemudian mendekati Ravanya.
"Bukan seperti itu!"
__ADS_1
***
Bersambung....