
"Oh jadi kamu yang bernama Rani?"
Dia siapa?
Aku dan Rangga berdiri kemudian menoleh ke belakang. Mencari siapa yang memanggil nama ku.
Seorang pria paruh baya yang berpakaian rapi terlihat berwibawa dan gagah dan wajahnya agak mirip dengan Daniel namun yang ini terlihat lebih sangar.
Apa Dia ayah Daniel?
"Apa kau bernama Rani?"tanya nya lagi sambil menghampiri ku dengan tersenyum miring. Aku hanya mengangguk dan memperhatikan nya baik baik.
"Dia?"pria itu menunjuk ke arah Rangga.
"Saya Rangga dan kami berdua temannya Daniel."Rangga menundukkan tubuhnya pelan untuk memberi hormat aku pun mengikutinya walau aku sebenarnya agak bingung.
"Plusialis? Apakah kau berasal dari sana?"tanya pria itu seperti tau jika Rangga memang punya suatu kelebihan.
Bukankah Plusialis itu nama salah satu kerajaan kuno di daratan Bhilbhult yang lain. Kalau tak salah berisi manusia yang berkemampuan khusus.
"Bukan. Indra ku hanya lebih sensitif,"jawab Rangga dengan ekspresi yang tenang. Sedangkan aku tengah berfikir jika pria di depan ku ini adalah seorang roh juga, di lihat dari tatapan Rangga yang menatapnya.
"Kalian berdua manusia?"aku dan Rangga mengangguk."mau apa kalian datang ke rumah iblis? Apa kalian mau memberikan jiwa kalian?"
"I-iblis?"tanya ku ragu ragu. Apa maksudnya ini? Iblis apa? Siapa?. Rangga hanya terdiam menunduk apakah dia sudah tau tentang ini.
"Maaf tapi kami hanya ingin bertemu dengan Daniel,"ujar ku terus terang.
"Pergilah pulang, kalian tak seharusnya kesini,"katanya. Pria itu berbalik hendak pergi meninggalkan kami tapi aku mencegahnya.
"Tapi kami ingi-"
"Jangan ganggu anak ku."
"Apa maksudnya?"aku bertanya dan mendekati perlahan pria paruh baya itu lalu berdiri penuh rasa penasaran di belakangnya. Ia lalu berbalik dan menatapku seram.
"Kau dan Daniel itu beda dunia, jadi jauhi Daniel jangan ganggu dia jangan dekati dia. Aku sudah menjodohkan dia,"ucapnya sambil menunjukan jari telunjuknya ke depan wajahku.
"Sebenarnya kami sudah tau tentang itu. Dan kami berteman baik baik saja."ucapku mencoba untuk sedikit santai.
"Pergi! Aku sudah menjodohkannya,"ucap ayah Daniel membuatku jadi agak linglung.
"Em. Kalau itu kami baru tau dan tentu itu tak masalah. Tapi masalahnya Daniel harus selesaikan sekolahnya dulu dan kami datang kesini untuk mengajaknya belajar bersama."aku mencoba untuk tersenyum se natural mungkin untuk menutupi rasa gugup ku. Dia menarik nafas panjang seperti menahan amarahnya.
"Apa kau tahu kenapa Daniel datang kepadamu?"tanya nya dengan tatapan yang sangat tajam.
"Mu-mungkin karena A-aku cantik,"jawabku agak ragu sepertinya karena aku menahan rasa takut ku. Ayah Daniel kemudian tersenyum miring kemudian kepulan asap hitam muncul di sekitaran telapak tangannya. Aku tak tahu itu apa tapi aku benar benar merinding. Aku mundur perlahan.
"Dugaan ku benar kau memang tak tahu apa apa,"ujarnya. Aku benar benar merinding saat tangannya ia arahkan ke arahku. Aku tak tahu ayah Daniel akan melakukan apa.
"Cukup ayah."
__ADS_1
Daniel tiba tiba berdiri di hadapan ku menghalangi jarak antara aku dan ayahnya. Asap di tangan ayahnya perlahan menghilang. Aku berlari ke arah Rangga untuk menghindari perdebatan antara ayah dan anak itu.
"Daniel lihatlah."
Ayah Daniel tertawa keras seolah merendahkan Daniel, ia menunjuk ke arah aku dan Rangga yang berdiri di belakang tubuh Daniel. Aku memegang erat lengan Rangga karena takut.
"Ayah aku tak tahu maksudmu. Sudah cukup dan jangan coba untuk menyerang mereka."
"Daniel lihatlah dengan mata kepala mu sendiri gadis itu bukan milikmu."ayah Daniel masih tertawa. Aku tak mengerti dengan hubungan ayah dan anak ini mereka terlihat tak akur dan mengapa ayahnya seolah tak menghargai Daniel.
"Rani benar. Ayah memang tak pernah menghargai ku,"ujar Daniel mendengar suara hati ku lagi. Aku takut benar benar takut dan lebih takut lagi jika suara hati ku barusan dapat menimbulkan masalah.
Asap hitam yang ku lihat tadi kini terkepul di sekitar tangan Daniel begitu juga dengan tangan ayahnya. Aku tak berharap jika Daniel akan menyerang ayahnya sendiri.
"Daniel."gumamku pelan sambil melepas pegangan ku dari tangan Rangga. Daniel menatap ke arah ku sendu.
Daniel kenapa?
"Mau apa kau?"tanya ayah Daniel marah.
"Maaf menyela tapi kalian ini ayah dan anak harusnya tidak begini,"ucapku melerai mereka berdua. Ayah Daniel menatap ku jengah.
"Kau pulang saja jangan ikut campur!"
"Sekali lagi aku minta maaf tapi kami hanya ingin berteman apa itu tidak boleh."
"Dia ini iblis kau tak bisa berteman dengannya."
Aku tak tahu usaha ku berhasil atau tidak untuk menghentikan hal yang tidak seharusnya ini.
"Anda tak sepatutnya membatasi pertemanan diantara anak Anda."Rangga kini membantu ku bicara. Aku tersenyum ke arahnya berterima kasih.
Amarah ayah Daniel mulai mereda. Ia menarik nafas panjang untuk mengontrol emosinya. Mungkin ia telah introspeksi diri.
"Kalian akan menyesal nanti."sosok ayah Daniel tiba tiba menghilang di antara kepulan asap hitam.
"Maaf ayah kau memang seharusnya pulang."gumam Daniel perlahan. Aku dan Rangga kemudian mendekat ke arah Daniel untuk menenangkannya.
"Daniel!"
"Aku bisa jelaskan semua nya Ran,"ucapnya merasa bersalah tapi kenapa dia harus begitu. Aku tersenyum.
"Ya bener jelasin semuanya. Rangga Lo juga."tunjuk ku pada Rangga. Aku tersenyum kecil ke arah mereka berdua yang kini tersenyum juga.
"Janji jangan marah."Daniel mengangkat jari kelingkingnya lalu mengarahkannya padaku. Rangga lalu melakukan hal yang sama.
"Jangan marahin gue juga."
Aku menautkan kedua jari kelingking di tanganku ke jari kelingking mereka masing masing.
"Iya gue janji."
__ADS_1
***
Aku meremas sofa mahal itu kuat. Aku menahan amarah ku, aku tak bisa marah aku sudah berjanji. Bagaimana bisa mereka membohongi ku selama ini. Aku menghembuskan nafas panjang berulang ulang.
"Aku memang keturunan iblis tapi aku gak seperti iblis yang kamu bayangkan. Sama tapi berbeda,"ujar Daniel mencoba untuk menjelaskan. Aku menatapnya menuntut untuk menjelaskan nya lebih.
"Rangga bantuin dong,"suruh Daniel sambil menatap ke arah Rangga bingung.
"Jadi Ran walau Daniel begini. Sifatnya bangsa nya tak seperti iblis kebanyakan. Kakek gue bilang mereka memang suka mengabil jiwa seseorang tapi mereka tak sejahat iblis,"ujar Rangga menjelaskan.
"Serius gue masih gak paham."aku menggaruk rambut ku kasar. Aku kurang mengerti tentang semua penjelasan mereka.
"Oke gue jelasin ulang ya. Bhilbhult itu di huni oleh berbagai makhluk dan salah satunya. Manusia abadi, itu adalah nama dari bangsa Daniel kata Kakek gue. Mereka punya kekuatan yang bisa membuat mereka melakukan apa saja. Tapi mereka tetap seperti manusia punya hati nurani dan sikap yang baik bagai koin dua sisi. Bedanya di hidup lebih lama dan berbau aneh."Aku memperhatikan Rangga dengan seksama.
"Lo bilang dia roh sekarang bilang manusia abadi. Bisa gak jelasin lebih simpel?"otak ku pusing dengan penjelasan yang berbelit-belit ini.
"Oke oke jadi manusia abadi itu keturunan Manusia dan iblis gitu,"ujar Rangga yang agak kesal mungkin karena aku yang susah mengerti.
"Beneran Kakek Lo bilang gitu?"
"Iya tapi sebagiannya Daniel yang suruh."kini mataku beralih menatap ke arah Daniel haus penjelasan.
"Iya Koin dua sisi. Tapi sisi jahatnya... Di atas,"ujar Daniel agak kelabakan menjawabnya, mungkin yang ia maksud sisi jahatnya menutupi sisi baik dan ia ragu mengatakannya pada ku. Aku kini mengangguk sedikit mengerti.
"Sayap! Lo dapet darimana sayap itu? Ayah Lo tadi gak punya,"tanya ku lagi tentang sayap hitam yang di miliki Daniel.
"Setiap manusia abadi itu punya sayap cuma gak pernah diliatin,"ujar Daniel berbangga diri."Rangga aja baru tau ya kan?"Daniel menyenggol tubuh Rangga yang menatapnya tak percaya.
"Nah itu fakta baru,"ujar Rangga menunjuk setuju ke arah ku.
Sekarang aku tau siapa Daniel itu mengapa bisa begini mengapa bisa begitu sebagian rasa penasaran ku terjawab. Aku mengangguk angguk kan kepala mengerti lalu tersenyum. Aku akan bertanya sekali lagi untuk memastikan.
"Jadi kesimpulannya Daniel adalah?"
"Pacarnya Rani."
"Hantu cabul."
"Ha?"aku kembali dibuat bingung.
"Gue lebih suka bilang kayak gitu. Soalnya dia suka godain perempuan,"tukas Rangga. Aku menepuk jidat ku.
Terserah
"Jadi?"kini Daniel menggantung pertanyaannya. Aku mengangkat dagu ku seolah bertanya "apa?".
"Kita tetep pacaran. Yes,"kata Daniel bersorak ceria. Aku dan Rangga sama sama menatap sebal ke arahnya.
"No! Just Friend,"ucapku telak. Ya kita semua tetap bisa berteman. Setiap jenis 'manusia' pasti punya sisi baik kan. Memang semua nya juga punya sisi jahat tapi ingat koin dua sisi. Kita tinggal mengubah saja sisi baiknya supaya terletak di atas.
***
__ADS_1
TBC.....