Arrive

Arrive
4 sebenarnya


__ADS_3

"Iya gue mau jadi pacar Lo,"


Aku sedikit ragu menerima semua ini tapi entah kenapa hanya jawaban ''iya" yang bisa aku perdengarkan dari mulutku.


"Gak bisa! Rani udah punya pacar!" ucap seorang membuatku dan Rangga berdiri kemudian melihat ke arah sumber suara. Dan ternyata orang itu adalah orang yang aku tabrak tadi pagi.


"Rani itu pacar gue," ujarnya kemudian menghampiri kami lebih dekat, aku menatap ke arah Rangga yang hanya menutup mulut dan hidungnya dengan satu tangannya. Apa dia kaget?


"Lo Daniel?" tunjukku ke arah lelaki yang baru saja datang itu, dan lagi lagi aku tak asing dengan tatapannya.


"Iya," ucap Daniel kemudian tersenyum padaku.


"Gak... Gak bisa, Rani itu pacar gue," ujar Rangga dengan masih menutup mulut dan hidung nya.


"Rani itu milik gue enak aja lo rebut dia dari gue," ucapnya kemudian merangkulku dan ia berkata padaku."Rani inget ya kamu itu pacar aku, milik aku, belahan jiwa aku."


Tatapan yang tak asing, lalu kata kata barusan sepertinya aku pernah dengar tapi dimana? Aku tiba tiba teringat pada sesuatu yang telah terjadi sebelumnya.


"Rani Lo jangan deket deket sama dia, dia gak baik sama Lo dia berengsek," ucap Rangga. Aku hanya terdiam.


"Berengsek? Emang Lo baik buat Rani? Lo itu baru kenal sama dia," ucap Daniel. Aku masih tetap diam.


"Tapi gue sama Rani saling kenal," ucap Rangga, "emang Rani kenal sama Lo, kagak kan?"


"Lo itu cuma tetangga nya, gak usah sok deketin dia," ujar Daniel.


Aku melepas rangkulan tangan Daniel kemudian menatap ke arahnya lalu aku mulai berkata,"Kenapa Lo bisa masuk ke mimpi gue?"


"Kamu udah inget?" ujar Daniel kemudian memelukku, dan tentu saja aku melepaskan pelukannya.


"Gak usah peluk peluk deh jawab aja," ucapku sedikit sebal.


Daniel kemudian melepaskan pelukannya dan mulai berkata."Aku cuma mau mastiin kamu baik baik aja."


"Dengan setiap hari masuk ke kamar gue gitu?" tanyaku kesal pada Daniel. Sebenarnya dia ini siapa?


"****** Lo!" ujar Rangga puas.


"Eh diem Lo, Lo gak tau apa apa," jawab Daniel agak marah.

__ADS_1


"Gue tau semalem Lo masuk ke kamar Rani kan lewat jendela, roh bejad Lo,"


Aku menatap Daniel dan Rangga bergantian dengan tatapan bingung.


"Roh?" ucapku kini menatap Rangga bingung dengan apa yang dia katakan.


"Gue punya six sense dan dia bukan manusia," ujar Rangga membuatku semakin bingung.


Aku kemudian duduk di bangku taman sambil memijat kepalaku perlahan, dan mereka pun ikut duduk di sebelahku. Dan kursi taman terasa sempit karena di himpit oleh kedua lelaki aneh ini.


Aku pun berdiri dan sesuai dugaan mereka ikut berdiri.


"Kalian berdua duduk aja," suruhku pada mereka dan mereka menurut.


"Gue mau nanya sama Lo," tunjukku pada Daniel yang sedari tadi menatapku. "Apa bener Lo itu roh?"


"Iya," jawabnya.


"Roh macam apa Lo?" tanyaku lagi padanya sejujurnya aku begitu kaget saat mendengar bahwa Daniel ini adalah roh yang menyamar jadi manusia dan aku juga tau roh dengan mudah mempermainkan mimpiku.


"Aku ini roh penjaga kamu dari kalung itu," tunjuk Daniel pada kalung yang menggelantung indah di leherku. Kalung yang di berikan Kakek sejak kecil--kalung turun temurun-- dan memang sih Kakek bilang kalung ini untuk melindungiku, tapi ini sedikit aneh.


"Tapi kenapa Lo ngaku ngaku jadi pacar gue?"


"Tapi kenapa lo-," ucapanku menggantung karena tiba tiba Daniel berdiri kemudian menatapku begitu dekat lalu berkata. "Kamu itu milik aku, harus berapa kali sih aku ngomong itu ke kamu."


Aku mundur selangkah karena rasanya kami terlalu dekat.


"Yaudah duduk lagi," ucapku aneh.


Memang ada roh penjaga yang suka pada orang yang ia jaga?


"Tentu ada ini buktinya aku," ucap Daniel bisa membaca pikiranku dan aku sudah tidak kaget lagi karena ia melakukan hal yang sama dalam mimpi semalam.


"Diem lo," ucapku sedikit galak pada Daniel, tapi ia hanya tersenyum padaku. Aku kemudian beralih bertanya pada Rangga yang sedari tadi menutup mulut dan hidungnya.


"Apa yang Lo lihat malam tadi?"


"Jadi gini, gue bangun tengah malem karena denger suara jendela kebuka gue pikir itu jendela kamar gue tau nya itu jendela kamar Lo dan gue lihat si roh bejad ini masuk ke kamar Lo," ujarnya sambil tetap menutup hidung dan mulutnya. Di kenapa sih?

__ADS_1


"Gue bukan roh bejad," ucap Daniel menatap Rangga tak suka karena merasa tak terima dengan sebutan yang Rangga berikan.


"Apaan sih jangan deket deket," ucap Rangga menjauhkan dirinya dari Daniel dan ia menutup hidung dan mulutnya dengan kedua tangannya.


Aku bingung dan penasaran,"Kenapa dari tadi Lo nutup mulut sama hidung sih?"


"Si roh bejad ini bau," tunjuk Rangga pada Daniel lalu mengibaskan tangannya di depan hidung dan mulutnya seolah Daniel benar benar bau. Bau apa sih sebenarnya? pasalnya aku tak mencium bau apapun yang menyengat.


"Sembarangan bilang gue roh bejad, Lo sendiri ngapain ngintip ngintip terus ke kamar Rani?" Pertanyaan Daniel membuatku sedikit kaget.


"Ngintip?"


"Iya Rani di ngintipin kamar kamu kemarin malam sebelum aku masuk ke kamar kamu, dan setiap sore di ngintipin kamu juga," ucap Daniel menjelaskan. "untung ada aku yang jagain kamu dari manusia berengsek ini."


"Berengsekan mana sama Lo yang masuk kamar cewek gak bilang bilang?"


"Loh gue ini roh penjaga nya Rani gue berhak keluar masuk kamarnya,"


Rangga dan Daniel terus beradu mulut dan itu membuatku sebal.


"STOP!" Aku berteriak untuk menghentikan kedua laki laki yang sedang beradu mulut ini, mereka laki laki tapi kenapa mereka sungguh cerewet?, "mulai sekarang kalian berdua bukan pacar gue," ucapku kemudian pergi meninggalkan mereka berdua. Dan sekejap mereka berdua terdiam dan menatap kepergianku.


"Lo sih!" Tuduh Daniel pada Rangga.


"Gue aneh deh sama Lo, sejak kapan Lo itu jadi roh penjaga bukannya lo-" ucap Rangga terpotong oleh Daniel yang tiba tiba berbicara menyerobot perkataan Rangga.


"Berisik Lo, awas aja Lo kalau bilang yang sebenarnya," ancam Daniel.


"Gue gak akan bilang, tapi gue bisa dapet apa dari roh bejad kayak Lo," jawab Rangga menolak ancaman Daniel.


"Gue... Gue bakal berbagi Rani sama Lo,"


"Berbagi? Emang Lo pikir Rani barang." Ucap Rangga kembali menolak, "gue mau Rani seutuhnya."


"Dia memang bukan barang tapi sesuatu yang berharga buat gue," ucap Daniel begitu dalam, "sekarang gue lagi baik makanya gue mau berbagi, tapi kalau Lo gak mau gue bakal bawa Rani pergi jauh dari dunia ini."


"Yaudah oke, tapi jauhin badan Lo dari gue! Aura Lo gak enak," Rangga kemudian pergi meninggalkan Daniel.


"Maaf Rani aku ngebagi kamu, karena aku takut jika kamu benci sama aku dan lagi saat ini aku belum bisa membawa kamu pergi," gumam Daniel dalam hati.

__ADS_1


***


Tbc......


__ADS_2