Arrive

Arrive
20 Langkah Awal


__ADS_3

Sebenarnya cinta itu apa? Lantas keraguan juga apa? Darimana mereka berasal? Orang bilang mereka berasal dari hati namun juga dari pikiran. Katakanlah mereka berasal dari kedua nya. Lantas untuk apa mereka datang padaku? Siapa yang mengirim rasa ragu tentang cinta padaku? Apakah aku pantas? Siapa sebenarnya aku ini dan kenapa aku harus melakukan ini?


Mencoba untuk mencintai orang lain agar tidak menyakiti hatinya. Apa tindakan ku salah? Apa benar ini yang namanya cinta? Aku tak tau perasaan yang kini menghantui ku. Aneh. Aku merasa aneh dengan semua ini. Tapi mamah ku benar aku harus memberinya kesempatan saat dia pun memberi ku kesempatan untuk menerimanya. Saat aku ragu dia akan merasa kecewa dan marah sehingga aku merasa bersalah. Sekali lagi aku tanya apa ini yang namanya cinta?


Aku menunduk frustasi kalut dengan pikiran sendiri. "Sudahlah Rani tidak salahnya kan mencoba,"pikirku. Ya Cinta ada karena terbiasa bersama, aku sudah lama bersamanya, pasti aku mencintai nya kan. Mungkin aku hanya kurang menyadarinya, ya benar aku sudah mencintai dia.


Leher ku bergerak pelan lalu aku menengadah mencari Daniel diantara ratusan orang yang tengah berbaris mendengarkan panita yang tengah briefing untuk keberangkatan kami sebentar lagi. Dalam cahaya lampu lapangan yang menerangi aku lihat dia ada disana, berbaris bersama kawannya disana. Apa dia mendengar suara hatiku dari sini?


Tatapan ku tak lepas darinya, aku terus memanggil manggil namanya. Siapa tahu dia mendengar suara hati ku disini. Tapi ia tetap fokus tak menoleh sedikitpun. Mungkin suara hati ini tak terdengar sampai sana.


Saat aku akan berbalik untuk menatap ke depan, ekor mataku menangkap seseorang yang tengah menoleh ke arah sini. Rangga. Ia tersenyum tipis padaku, aku tarik juga senyum di wajahku kemudian memalingkan wajah dari nya.


"Rani ayo cepetan nanti kamu telat loh,"mamah berteriak dari dalam mobil menyuruhku agar cepat cepat menyimpan koper ku di bagasi lalu segera berangkat.


Aku kemudian mengangkat koperku dengan susah payah. Rangga yang berdiri di sebelahnya menawarkan bantuan.


"Mau gue bantu?"tanya nya. Aku menggeleng pelan karena kopernya sudah berhasil aku angkat dan aku simpan di bagasi mobil walau susah payah.


"Gue kuat kok,"aku tersenyum ke arahnya yang tengah menyimpan koper abu abu nya di samping koperku. Daniel kemudian datang dan menyimpan kopernya kasar lalu tersenyum ke arah aku dan Rangga.


"Ayo kita berangkat nanti kita telat loh,"Daniel merangkulku kemudian membawa ku ke samping mobil. Ia membukakan pintu belakang untukku.


"Aku sama mamah aja di depan. Kamu sama Rangga ya."Daniel mengajak ku untuk duduk bersama tapi aku menolak dengan manis dan memilih untuk duduk di kursi depan bersama mamah.


Mobil kami kemudian bergegas menuju sekolah yaitu titik kumpul keberangkatan kami. Aku kemudian melirik ke kaca spion dalam mobil dan memperhatikan mereka yang saling membuang muka satu sama lain. Aneh.

__ADS_1


"Rani ayo,"Nina menarik tanganku sekaligus menarik ku kembali ke kesadaran dimana kini barisan telah bubar dan para siswa/siswi bergerak menuju bus nya masing masing.


"I-iya ayo,"ujarku. Aku membiarkan Nina memegang tanganku erat dan membawaku masuk ke dalam bus. Kami telah menyimpan barang bawaan kami dan hanya membawa makanan ringan untuk dimakan saat perjalanan serta ransel kecil berisi beberapa barang.


Aku duduk dekat jendela di barisan ke empat dari depan. Sesuai dengan arahan yang sedikit aku dengar tadi bahwa wali kelas duduk di dekat supir kemudian para siswi dan yang paling belakang adalah para siswa.


Bus dengan cepat terisi penuh dan berisik oleh suara orang orang yang berebut tempat juga mesin bus yang mulai dinyalakan. Untungnya Nina membawa ku cepat sehingga kami tak perlu berebut untuk duduk. Nina terduduk memainkan handphonenya. Aku kemudian berdiri dan melihat kebelakang untuk mencari seseorang.


Daniel tersenyum sambil melambai ke arah ku, dan aku lihat ia duduk dengan Rangga disana. Tadinya aku pikir terjadi suatu hal dengan mereka. Tapi pikiran itu ku buang jauh jauh saat mereka terlihat minat duduk bersama. Aku merasa lega kemudian kembali duduk dengan nyaman.


Aku melirik keluar jendela dimana langit sudah menggelap namun tak ada bulan atau pun bintang yang menggantung disana.


"Semua nya di absen dulu ya,"ujar Bu Ajeng yaitu wali kelas ku kelas 12 B berdiri di depan bersama Bu Indah yang merupakan wali kelas 12 I kelas Daniel dan Rangga.


Satu persatu tangan terangkat dan mengatakan hadir. Dan Bu Indah segera menceklis siswa yang sudah terabsen. Tak lama semua telah di pastikan ada dalam bus. Kini Rasya--salah satu panitia dari kelas 12 B-- berbicara dan mengulang sedikit materi briefing tadi. Sambil Rasya bicara Athaya--panitia kelas 12 I--membagikan sebuah name tag gantung sebagai penanda dalam rombongan.


***


Aku mengerjapkan mataku terbangun saat bus sedikit terguncang karena jalanan. Aku lirik jam tangan ku dan waktu menunjukan pukul dua dini hari. Aku melihat sekilas ke sekeliling dan semua masih tertidur lelap--kecuali supir-- Ku intip langit malam lewat gorden yang ku buka pelan. Dan langit masihlah hitam.


Dimana kita sekarang?


Aku berusaha untuk memejamkan mataku dan tertidur dengan posisi senyaman mungkin tapi rasa kantuk ini sepenuhnya telah hilang. Aku bosan dan aku mulai memainkan ponsel ku tapi tak lama aku kembali bosan.


Oh iya apa Rangga dan Daniel juga masih tertidur?

__ADS_1


Aku mengadahkan sedikit kepalaku ke atas lalu melirik kebelakang untuk mencek keadaan mereka. Dan mereka masih tertidur dengan nyaman.


Aku membenarkan posisi duduk ku kemudian kembali menatap ke arah jendela. Terlihat siluet dari gedung gedung tinggi juga bangunan lainnya dan itu sangat indah saat langit di taburi bintang dan bulan berwarna pucat yang malu malu menampakkan dirinya.


Ku perhatikan jalanan kemudian bus berhenti di rest area untuk mengisi bahan bakar begitu juga dengan bus bus yang lainnya. Selepas itu bus kembali melaju menyusuri jalanan yang penuh kerlap kerlip lampu mobil yang berbeda beda.


Nina menggeliat dengan keadaan yang masih tertidur. Ia kemudian memeluk ku tak sadar. Nina benar benar lucu saat tidur. Ia menggeliat lagi kemudian menjauhkan tubuhnya dari ku kemudian tertidur membelakangi ku.


Aku kembali melihat ke arah jalanan yang kini lebih sepi dari sebelumnya. Jalanannya pun sedikit lebih sempit dan agak rapat dengan pohon pohon besar. Aku belum pernah keluar kota sejauh ini sebelumnya. Tapi entah kenapa aku merasa tak asing dengan tempat ini. Mungkin karena jalanannya mirip dengan jalanan kota yang pernah aku kunjungi.


Ciiittt


Bus ini berhenti mendadak mengikuti bus di depannya membuat seisi bus terbangun dengan tiba tiba. Mereka mulai bersuara dan saling menyahut "ada apa ini?".


"Ran ada apa sih,"Nina yang duduk di sebelah ku pun ikut bangun dan mulai bertanya padaku. Aku menggeleng dan menjawab tidak tahu. Lampu dalam bus dinyalakan kemudian menjadikan pencahayaan dalam bus terang benderang. Semua orang mulai panik pasalnya kami terhenti mendadak di sebuah jalanan sepi penuh pohon rindang.


Pikiran negatif mulai menyerang otak orang orang. Terlebih lagi saat orang orang dalam bus depan mulai turun dengan rata rata wajah yang masih kusut mengantuk lalu berdiam di pinggir jalanan. Tak lama supir dari bus lain datang dan menyuruh supir bis kami turun. Entah ada apa tapi tak lama kemudian kami pun di suruh turun juga.


Sebenarnya ada apa ini?


Aku takut jika ini merupakan pembajakan bus. Tapi semoga saja itu hanyalah pikiran dalam otak ku. Aku menghela nafas panjang kemudian berbaris untuk turun bersama yang lainnya dengan ransel kecil di punggungku.


Sebenarnya ada apa?


***

__ADS_1


TBC.....


__ADS_2