Arrive

Arrive
19 Keraguan Dalam Cinta


__ADS_3

"Kamu suka sama Rangga ya?"


"Apa!"


Aku tersentak kaget lalu menatap ke arahnya yang tetap fokus pada makanannya. Aku tak berniat untuk menjawab pertanyaan dari nya. Dengan cepat aku menghabiskan makanan ku setelah itu berlari pergi ke kamar ku. Meninggalkan Daniel tanpa sepatah kata pun.


"Loh Daniel kok sendiri? Rani nya kemana?"tanya mamah yang menghampiri Daniel di meja makan.


"Ke kamarnya Tante, mungkin mau mandi."jawab Daniel santai. Mamah kemudian menggerutu.


"RANI! Ini bekas makannya di beresin dulu,"teriak mamah.


Aku yang hampir saja masuk kamar harus kembali lagi ke dapur. Aku tak tau maksud Daniel menanyakan itu dan aku pun tak ingin menjawab nya. Bukankah Daniel tau isi pikiranku. Dengan langkah gontai aku kembali ke dapur dan mencuci piring.


Aku mengambil piringku kemudian berjalan menuju wastafel dan ku lihat ada Daniel disana sedang mencuci piring bekas makannya. Aku menghampiri nya perlahan dan menunggunya selesai.


"Sini piringnya,"ujar Daniel sambil menyodorkan lengannya ke arah ku.


"Gak usah Daniel, biarin Rani cuci sendiri piringnya. Kamu mending mandi gih di kamar tamu Tante juga udah siapin baju nya,"suruh mamah. Daniel kemudian menurut dan pergi meninggalkan aku dan mamah.


"Pacar kamu rajin banget yah. Kamunya malah ninggalin dia makan gimana sih?"desis mamah memuji Daniel. Dan mamah hanya tau jika Daniel itu adalah pacarku.


Aku terdiam melanjutkan kegiatan mencuci piringku. Aku juga merasa sedikit bersalah padahal aku tak harus begitu hanya karena ia menanyakan tentang Rangga. Aku harus segera meminta maaf padanya dia mungkin akan menyangka kalau aku memang suka pada Rangga.


"Kamu ini ya, kasih dong Daniel kesempatan kalian itu pacaran bukan sekedar temenan kasian dia,"ucap mamah sambil memegang pundak ku.


Aku berbalik setelah mengeringkan tangan ku kemudian menatap mamah dengan tatapan tak tau harus apa.


"Mah.. Aku gak tau harus apa?"ucap ku frustasi. Aku benar benar tak mengerti harus apa aku mengusap poni ku ke belakang.


"Kasih dia kesempatan. Dia itu bener bener suka sama kamu loh."mamah mengelus surai ku lembut kemudian tersenyum. Dan aku hanya bisa mengangguk pelan.


***


Setelah selesai mandi aku pergi ke kamar tamu untuk menemui Daniel. Tapi saat aku buka pintu nya perlahan dia tidak ada disana. Mungkin dia pulang tapi kenapa tak pamit padaku.


Aku kemudian berlari ke luar rumah melihat ke arah garasi dan menemukan motor Daniel disana. Aku khawatir jika dia pergi dari rumah tanpa menggunakan motornya. Aku lalu mulai mencari nya di sekitaran rumahku tapi ia tetap tak ada.


"Mah liat Daniel gak kemana?"tanya ku pada mamah yang tengah menonton sebuah talkshow.


"Masih di kamar tamu. Dari tadi juga belum keluar,"jawab mamah santai.


"Ih gak ada mah tadi aku udah kesana,"ujarku gelisah.

__ADS_1


"Lagi di kamar mandi kali. Kan gak mungkin dia ilang tiba tiba."aku menepuk jidatku, andai mamah tau jika dia memang bisa melakukan itu.


Aku kemudian bergegas mencari nya lagi di kamar tamu. Ku buka pintu kamarnya perlahan lalu memanggil Daniel pelan.


"Daniel?"tak ada jawaban. Aku kemudian masuk ke kamarnya kemudian berkeliling disana untuk mencarinya.


"Ada apa?"tanya Daniel setelah keluar dari kamar mandi.


"Ah enggak kirain Lo udah pulang,"ujar ku kemudian menghampirinya yang baru saja duduk di bibir ranjang. Aku berdiam berdiri di hadapannya. Dan ia tak menatapku sedikit pun.


"Daniel gue gak tau maksud Lo nanyain itu apa tapi gue bener gak suka kok sama Rangga. Maaf ya."aku menyatukan telapak tanganku di di depan wajah kemudian duduk di sampingnya.


"Aku cuma cemburu aja sama dia,"jawabnya malu malu nampak dari wajahnya yang memerah. Aku tersenyum menatapnya.


"Kamu jangan cemburu kita kan temenan,"ujarku tersenyum tapi ia menatap ku seolah tak setuju dengan perkataan ku barusan.


"Aku ganggu kehidupan kamu ya?"tanya nya melenceng jauh dari apa yang aku bicarakan.


"Enggak kok,"ucap ku berterus terang. Daniel kemudian tersenyum lebar menatapku.


"Maaf ya aku kekanak-kanakan. Harus nya aku gak ninggalin kamu makan tadi,"ucapku lembut.


"Aku kamu?"tanya nya bingung karena selama ini aku memanggilnya dengan sebutan Lo gue padahal dia selalu memanggilku halus.


Aku mencoba menghiburnya dengan mengusap rambutnya pelan. Aku juga akan mencoba untuk menghargai nya sebagai seorang pacar. Aku juga akan coba menyukai nya seperti dia menyukai ku. Walau entah kenapa hati ku agak ragu.


Ia tiba tiba mendorong ku dari pelukannya. Aku tak tahu kenapa tapi ia terlihat sangat marah dan tak terima.


"Kenapa kamu ragu? Apa karena kita makhluk yang berbeda?"tanya nya kini marah. Ah aku lupa jika dia bisa membaca isi hati ku. Aku terdiam tak tahu harus menjawab apa selain kata "maaf".


"Jadi karena itu?"tanya nya lagi dengan ketus.


"Daniel bukan kayak gitu."hanya itu yang bisa aku jawab aku terus berfikir dan berfikir untuk kembali mencari jawaban yang tepat hingga aku teringat akan kata kata ayah Daniel.


"Jaman sekarang siapa yang mau di jodohkan,"katanya, ucapanku di dahului oleh nya.


"Aku hanya ingin kamu Rani hanya kamu. Aku gak pernah main main saat aku bilang kamu itu milik ku."


Aku terdiam menunduk tak tau harus menjawab apa lagi. Dia pasti tau isi hati ku yang benar benar merasa bersalah padanya. Aku menarik nafas panjang.


"Maaf Daniel maaf. Aku bersyukur kamu datang pada ku, mencintai ku, menyayangiku. Aku belum pernah di cintai atau di sayangi oleh laki laki lain selain ayah ku. Aku juga belum pernah punya pacar, belum ada yang menyukai ku selama ini. Tapi saat kamu datang aku bisa merasakan apa yang selama ini ingin aku rasakan,"ujar ku kemudian kembali terdiam.


Ia membulatkan matanya seolah tak percaya. Ia mengusap rambutku pelan. Ia lalu memeluk ku perlahan.

__ADS_1


"Maaf Daniel maaf,"kata maaf terus keluar dari mulutku.


"Aku juga minta maaf. Aku pikir kamu berubah tapi aku kini yakin kalau kamu memang selalu mencintai ku."


Selalu?


"Iya jadi boleh ya aku cinta sama kamu?"


"Tentu saja kamu memang begitu."


Daniel memeluk ku semakin erat.


***


"Tante Rani nya ada?"tanya Rangga berdiri di ambang pintu. Ia lalu melihat ke arah garasi dimana ada motor Daniel disana.


"Ada ayo masuk."Rangga tersenyum kemudian melangkahkan kaki nya masuk ke dalam.


"Rani nya di kamar tamu sama Daniel, kamu tau kan dimana letak kamarnya?"Rangga mengangguk lalu tersenyum. Ia berjalan ragu menuju kamar yang di tuju di pikirannya terus berputar pikiran pikiran negatif tentang Daniel dan Rani. Tapi ia menepis itu Rani tak mungkin seperti itu.


Tapi pikiran positif itu kembali di tepis lagi dengan suara yang ia dengar dari dalam kamar.


"Aku juga minta maaf. Aku pikir kamu berubah tapi aku kini yakin kalau kamu memang selalu mencintai ku."itu suara Daniel.


"Iya jadi boleh ya aku cinta sama kamu?"dan ini suara Rani.


"Tentu saja kamu memang begitu."


Dada Rangga tiba tiba terasa sesak dan ia tak tahu mengapa. Ia terus bertanya tanya apa yang sedang mereka berdua lakukan. Rangga terdiam di depan pintu dan akan mengetuk pintu tapi niat itu ia batalkan. Rangga kemudian membuka knop pintu dan membukanya segera.


Seketika jantung Rangga seolah di tusuk panah dari belakang. Rangga membelalakkan matanya tak percaya melihat mereka berdua tengah berpelukan. Daniel yang melihat kedatangan Rangga memeluk Rani semakin erat dan menatap Rangga dengan sinis. Seolah olah ia berkata.


"Aku yang menang"


Rangga mengepalkan tangannya kemudian pergi dari sana. Rangga tak habis pikir kenapa ia selalu berada di keadaan yang tidak tepat. Melihat mereka yang seperti itu membuatnya sangat kesal.


"Makhluk sialan seharusnya aku tidak bersekutu dengan dia!"


***


Chapter ter-bucin parah:b


TBC....

__ADS_1


__ADS_2