
Aku menundukkan tubuhku, ternyata aku masih ada di dalam wahana rumah hantu dan itu artinya aku telah pingsan.
Wajahku memerah malu
"Ran Lo gak papa kan?"Nina memegang erat kedua bahu ku. Semua mata tetap menatapku.
"G-gue gak papa. Tadi mendadak pusing."aku memegang pelan kepalaku. Semua orang bernafas lega kemudian membantu aku untuk berdiri.
"Maaf gara gara saya pingsan wahananya jadi terhenti,"ujarku merasa bersalah. Aku membungkukkan sedikit tubuhku di depan semua orang.
"Gak papa lebih baik kamu pulang terus istirahat,"ucap seorang pria yang mengenakan sebuah kemeja dan kalau tak salah itu pemilik wahana ini. Setelah berterima kasih kami segera untuk keluar dari sana.
"Bwahahahaha!"Rangga dan Daniel tertawa kencang di saat kami berjalan menuju parkiran untuk pulang.
"Lo ketakutan terus pingsan,"ujar Rangga dengan mata yang berkaca kaca karena tertawa ia juga memegangi perutnya saking lucunya aku tadi. Mereka berdua tetap tertawa bahkan saat kami akan masuk ke dalam mobil. Aku mendelik ke arah mereka sebal lalu menarik Nina agar dia duduk bersamaku di kursi belakang.
"Loh kamu sama aku lagi aja ya duduknya. Biar Nina di depan."cegah Daniel.
Aku menatap ke arah Daniel kemudian ke arah Nina bergantian, Nina menatapku bingung dan berkata dengan ekspresi 'terserah'.
"Gak! gak mau! Aku mau sama Nina,"ucap ku final. Aku menarik Nina untuk masuk ke dalam mobil.
"Maaf Ran maaf,"ucap Rangga yang sudah terduduk di kursi pengemudi dan ia berkata sambil menahan tawanya. Daniel masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Rangga pasrah.
Dari kursi depan Daniel mengulurkan tangannya lalu memegang tanganku.
"Maaf ya. Tapi Rangga gak usah di maafin,"Daniel melirik ke arah Rangga mengejek.
"Dih enak aja maafin gue juga ya Ran."Rangga tiba tiba berbalik ke arah belakang. Aku menatap ke arah mereka berdua jengkel dan menatap Nina yang sedang terkejut melihat ke arah depan. Karena aku penasaran aku melakukan hal yang sama.
"D-dia siapa?"tunjuk ku pada seorang pria yang tengah berdiri tepat di depan mobil kami dan menatap kami dengan tatapan yang sangat tajam.
"Jalan aja,"ucap Daniel menepuk pundak Rangga pelan. Rangga mengangguk perlahan lalu melajukan mobilnya. Tiba tiba pria itu tertembus oleh kendaraan kami. Aku dan Nina melotot tak percaya.
Daniel dia adalah seorang roh dan Rangga juga punya six sense jadi sepertinya mereka tau siapa orang menyeramkan tadi.
"Ran tadi itu hantu?"tanya Nina histeris aku melirik ke arah Daniel dan Rangga untuk menjelaskan.
"Dia itu iblis seperti-"Rangga menggantung kalimat nya dan seperti tak ingin melanjutkan perkataannya, ia kembali fokus ke jalanan.
__ADS_1
"Itu hantu jahat,"jawab Daniel yang juga tetap melihat ke arah jalanan. Aku menatap mereka berdua bingung.
"Ya ampun mimpi apa gue semalem bisa ketemu hantu jahat? Atau hantu beneran di rumah hantu tadi ngikutin kita? Gimana dong?"Nina memeluk ku histeris juga ketakutan aku memeluknya. Entah kenapa aku pun ikut merinding. Aku tak tahu tapi pikiran ku tiba tiba mengarah ke kalung berbentuk bulan sabit yang tergantung di leherku.
Kakek
Kakek bilang akan ada seseorang yang datang untuk mengambil hidupku. Apakah jika laki laki tadi itu orangnya. Karena aku benar benar merinding memikirkannya.
"Bukan!"Daniel tiba tiba menyahut.
apakah dia mendengar batin ku lagi? Aku melihat ke arahnya yang agak kebingungan untuk menjelaskan.
"Maksudnya, kita akan baik baik aja."
***
Aku berbaring di tempat tidurku, menenggelamkan tubuhku dalam selimut juga kehangatan dari pelukan guling. Aku menatap langit langit. Bayangan perang itu masih berputar dalam otak ku, semua nya benar benar terlihat nyata.
Pikiran ku tertuju pada mimpi ku beberapa waktu lalu. Tentang seorang putri yang kabur bersama kekasihnya. Setelah di pikir pikir aku tak menonton film apapun yang berhubungan dengan itu dan perang.
Lantas perang itu apa ada hubungannya dengan mimpiku?
Dan apakah ini juga berhubungan dengan kata kata Kakek juga kalungku*?
Aku menggenggam erat kalungku, pikiran ku tertarik ke satu tahun dimana kakek menghembuskan nafas terakhirnya.
Kakek sedang terbaring lemah di atas tempat tidur. Kami sekeluarga menatap Kakek khawatir. Ayah, ibu dan keluarga yang lainnya tak henti henti nya menangis dan merapalkan doa.
Aku menatap Kakek nanar.
"Rani,"ucap Kakek lirih, segera aku menghampiri dan memegang tangannya erat. Ia tersenyum padaku.
"K-kakek p-pengen b-bi-bicara sa-sama kamu,"ucapnya susah payah. Aku semakin memegang erat tangannya.
Kakek melirik ke arah ayah dan ibuku untuk menyuruhnya pergi. Semua nya mengerti kemudian meninggalkan aku dan Kakek berdua.
Kakek tersenyum padaku dan aku bersusah payah menahan air mataku yang hampir tumpah. Ia mengusap surai ku pelan.
Kakek mencoba untuk duduk aku pun membantunya perlahan lalu menunggu apa yang akan Kakek sampaikan.
__ADS_1
"Rani a-ambil i-itu,"tunjuk Kakek pada sebuah kotak kecil di atas nakas nya. Aku mengangguk pelan dan menuruti perintahnya.
"Co-Coba b-buka,"ucapnya terus tersenyum.
Aku terkagum kagum saat melihat isi di dalam kotak kecil itu. Aku angkat pelan sebuah kalung emas dengan liontin berbentuk bulat sabit yang begitu indah. Aku menatap Kakek tidak percaya. Apakah dia akan memberikan ini untuk ku?
"Pa-pakai l-lah."Aku menggantungkan kalung cantik itu di leherku dan itu benar benar indah. Aku menatap Kakek senang.
"Makasih Kek, ini bagus. Tapi kenapa Kakek kasih ke aku?"tanyaku penasaran. Diantara banyak cucu nya kenapa aku yang terpilih untuk memelihara kalung ini.
"Untuk b-berjaga,"gumam Kakek. Aku mengerutkan dahi ku bingung.
"Maksudnya?"
"Maafin k-kakek tapi akan d-datang se-seseorang mengambil Kehidupan."Aku semakin tidak mengerti. Apakah kalung ini diberikan Kakek untuk menjagaku dari seseorang yang akan mengambil kehidupanku?
"Jadi kalungnya buat jaga aku?"aku memperhatikan liontin bulan sabit itu dan mengelusnya dengan jari ku pelan lalu menatap ke arah Kakek yang tengah mengangguk tanpa menghilangkan senyum di wajahnya.
"Makasih Kek tapi aku pengen Kakek disini. Kakek pasti sembuh kan?"Aku benar benar berharap begitu. Kakek hanya tersenyum sayu lalu menggeleng pelan membuat mataku kembali berkaca kaca.
"Kakek gak boleh putus asa. Rani ada disini buat Kakek,"aku berusaha untuk menghiburnya tapi ia tetap menggeleng.
"Rani perjalanan panjang ada di depan jangan disini untuk Kakek."Kakek terdiam sejenak."Kakek rindu nenek,"ucapnya lirih tanpa terpatah patah seolah rasa sakit itu telah hilang. Ia tersenyum mengelus kembali surai ku. Aku membantunya untuk kembali berbaring.
"Kamu anak yang baik jaga orang orang."Kakek memejamkan matanya dan tertidur dengan tenang. Air mataku tumpah aku memegang tangan Kakek yang mulai dingin. Aku panik lalu memeriksa nadi di tangannya.
Tidak ada
"Kakek!"
Aku menangis sejadi-jadinya memeluk tubuh Kakek yang telah kaku. Aku tak pernah membayangkan Kakek akan dengan cepat menyusul nenek ke keabadian. Meninggalkan aku dengan sejuta pertanyaan akan kata kata nya. Tetapi kita tak bisa menghentikan kehendak Tuhan. Ini pasti yang terbaik.
"Kakek,"aku bergumam pelan kembali ke masa kini dimana aku tengah menangis mengingat kenangan itu.
Aku mengusap air mata di pipiku. Mendekap kalung yang tergantung indah di leherku kemudian terpejam perlahan.
Kakek siapa yang akan mengambil kehidupanku? Aku takut.
***
__ADS_1
TBC....