
Sehabis selesai kelas, Ravanya berjalan terburu-buru untuk menemui Firlangga. Ia berjalan sendiri melewati beberapa orang, mereka tidak memperdulikannya dan tetap mengobrol ria. Tapi tidak dengan Amanda yang begitu penasaran, ia mengikuti Ravanya dari belakang secara diam diam.
Hingga sampailah mereka di lorong menuju kelas pangeran.
"Pangeran Firlangga."panggil Ravanya saat dirinya berpapasan dengan Firlangga. Amanda lalu bersembunyi di balik tembok dan menguping pembicaraan mereka berdua.
"Kebetulan sekali pangeran ada di sini. Aku baru saja akan menemui pangeran."Firlangga tersenyum memperhatikan Ravanya.
"Ada apa puteri mencari ku?"tanya Firlangga senang, karena tak selalunya Ravanya datang mencari dirinya.
"Soal yang kemarin.. Bagaimana?"tanya Ravanya sedikit berbisik. Firlangga memiringkan kepalanya bingung.
"Soal kamu yang akan mengajari ku bermain pedang,"lanjut Ravanya.
Amanda yang mendengar itu langsung terkejut dan segera lari untuk memberitahukan berita besar ini dan menyebarkan ke satu akademi. Mungkin dengan ini Amanda bisa membalas perlakuan Ravanya di hari pertama.
"Maaf Puteri tapi aku tidak bisa mengajari puteri,"jawab Firlangga pelan setelah tahu apa yang Ravanya tanyakan adalah bukan tentang dirinya. Wajah Ravanya berubah kecewa.
"Mengapa memangnya? Apa karena aku perempuan?"Firlangga terdiam.
"Justru karena aku perempuan aku harus bisa melindungi diri ku sendiri. Jadi aku mohon pangeran tolong ajari aku,"pinta Ravanya.
"Puteri tak perlu belajar menggunakan pedang untuk melindungi diri, karena ada aku disini yang akan melindungi puteri tanpa diminta sekalipun. Aku akan selalu ada untuk puteri,"Firlangga berhenti sejenak untuk menarik nafas.
"Untuk setiap perempuan ada seorang laki laki yang akan melindungi nya,"lanjut Firlangga.
"Tapi kamu tidak selamanya ada di sisi ku."Ravanya lalu pergi tanpa pamit dengan wajah nya kesal.
"Maka jadilah Ratu ku, puteri. Dan aku akan selamanya di sisi mu,"gumam Firlangga pelan dan tentunya hanya di dengar oleh dirinya sendiri.
Ravanya berjalan dengan raut wajah yang tertekuk. Halis yang berkerut kesal, ia kadang mengusap wajahnya yang lelah. Dan di persimpangan jalan, ia bertemu dengan Daylan. Mata mereka saling bertemu namun hanya dalam beberapa saat saja.
"Kenapa dia?"gumam Daylan berbalik memperhatikan Ravanya.
***
Berita yang Amanda bicarakan sangat cepat sekali menyebar. Bagai cahaya petir di langit. Semua menghardik apa yang Ravanya lakukan.
"Apa benar puteri Ravanya minta di ajari bermain pedang?"tanya salah seorang puteri pada puteri lainnya.
__ADS_1
"Aku dengar begitu. Aku heran padahal selalu ada Pangeran Firlangga di sisi nya, jadi untuk apa dia belajar bermain pedang?"balas temannya.
"Kalian tahu pikiran puteri Ravanya itu selalu berbeda dengan Puteri lainnya. Dan pikiran nya selalu saja melanggar aturan."seru Amanda semakin memanaskan gosipnya.
Saat Firlangga lewat di depan mereka, mereka terdiam. Dan memperhatikan Firlangga yang begitu gelisah dan berjalan ke arah kamar Ravanya.
Mereka kembali bergosip setelah Firlangga benar benar pergi dari sana. Amanda lalu bergegas pergi untuk menemui Firlangga.
"Pangeran Firlangga!"panggil Amanda berjalan cepat-cepat. Dengan berat hati Firlangga berhenti berjalan dan berbalik.
"Pangeran bisakah kita berbicara sebentar?"tanya Amanda, niatnya untuk menghindarkan Firlangga dari Ravanya.
"Baiklah! mari,"terima Firlangga karena tidak enak hati, dan mungkin, ia juga perlu membiarkan Ravanya sendirian dahulu.
Amanda tersenyum ramah, namun di balik itu ada senyuman licik karena rencana yang ia jalankan berhasil. Bahkan bukan hanya dapat mempermalukan Ravanya, ia juga bisa menjauhkan Firlangga dari Ravanya.
Di tempat lain. Daylan berjalan menuju kamarnya. Dan beberapa kali ia sempat mendengar bahwa orang orang tengah membicarakan tentang Ravanya yang ingin bermain pedang.
Mereka menggosipkan itu karena memang baru pertama kali ada seorang puteri yang ingin bermain pedang, dan itu pula melanggar aturan, baik di akademi maupun kerajaan.
"Dia memang suka kebebasan,"gumam Daylan.
***
Dalam pikirannya terus muncul kata mengapa dan kenapa.
Kenapa seorang puteri tidak boleh belajar bermain pedang?
Mengapa seorang puteri harus selalu bergantung pada pangeran?
Dan mengapa orang orang yang berlalu lalang menatap aneh ke arahnya. Dalam hati mereka seolah tengah mencibir Ravanya.
"Puteri Ravanya!"panggil Anna kemudian menundukan kepalanya pelan.
"Ada apa Anna?"tanya Ravanya. Anna terdiam sejenak.
"Puteri jadi bahan pembicaraan karena keinginan puteri untuk belajar bermain pedang."jawab Anna perlahan lahan. Ravanya terdiam kaget. Pantas saja orang-orang menatap aneh padanya.
"Tapi darimana mereka tahu?"
__ADS_1
"Maaf puteri! Saya sendiri pun tidak tahu. Tapi gosip ini sudah menyebar di telinga para puteri dan pangeran lainnya."Ravanya memejamkan matanya menenangkan diri.
"Sekarang apa lagi!?"batinnya.
***
Ravanya duduk diam di atas ranjangnya sambil menatap jendela yang menampakan bahwa langit telah menggelap.
Pikirannya campur aduk. Dia bukan peduli akan omongan orang, tapi jika seperti ini kesempatan nya untuk belajar menggunakan pedang akan semakin menipis. Dan lagi tak ada yang mau mengajarinya.
Bayangan Firlangga yang menolak terus berputar dalam otaknya. Membuat ia menjadi kesal terhadap Firlangga. Ia berniat untuk tidur saja, dan semoga saat ia bangun sesuatu telah berubah.
"Tuan Puteri! Ada Pangeran Firlangga di sini,"ujar Anna setelah Ravanya membaringkan tubuhnya.
"Suruh dia pergi dan katakan jika aku tidak ingin di ganggu oleh siapa pun,"ucap Ravanya dengan malas. Anna pun menganggukan kepalanya paham.
"Maaf pangeran! Puteri Ravanya sedang tidak ingin di ganggu,"ujar Anna. Firlangga meminta sekali lagi pada Anna untuk membiarkan dirinya masuk kedalam.
"Maaf pangeran tapi itu yang puteri katakan,"jawab Anna.
"Kalau begitu tolong kamu sampaikan permohonan maaf dari ku."Firlangga lalu pergi dengan hati yang merasa penuh penyesalan. Mau bagaimana lagi, ia harus menolak demi kebaikan Ravanya.
Setelah Firlangga pergi Ravanya menyuruh Anna untuk kembali ke kamarnya dan membiarkan dirinya sendirian. Ravanya pun berbaring membelakangi jendela. Ia memejamkan matanya perlahan. Tapi telinganya masih mendengar.
Ia mendengar seseorang seperti masuk lewat jendela kemudian melangkah menuju ke arahnya yang sedang terbaring. Jantung Ravanya jadi berdetak kencang, seharusnya ia tak membiarkan Firlangga pergi. Ravanya terus memejamkan matanya untuk berpura-pura tidur.
"Selalu saja dia sudah tidur. Padahal hari ini belum terlalu malam."gumam seseorang di belakangnya. Orang itu pun beranjak pergi.
"Tunggu!"cegah Ravanya.
"Pangeran Daylan? Mau apa kamu datang kemari"lanjut Ravanya sambil turun dari ranjang lalu berjalan ke arah Daylan. Daylan terdiam sejenak lalu mulai berbicara.
"Aku ingin minta maaf soal yang waktu itu. Sekali lagi aku minta maaf,"jawab Daylan.
"Hanya untuk meminta maaf kamu datang ke kamarku? Bukankah tadi siang kita bertemu?"
"Aku tidak suka meminta maaf di depan banyak orang. Terlebih lagi jika ada kekasih mu, Firlangga,"ujar Daylan dengan senyum mengejek di wajahnya.
"Maaf tapi dia bukan kekasihku."
__ADS_1
***
Bersambung.....