
Author point of view
"Hwaaaa."
Ravanya menggeliatkan tubuhnya, mengusap matanya yang ber iris coklat perlahan. Ia menyapu seisi ruangan melihat para pelayan perempuan yang sedang menunduk menunggu Ravanya selesai mengumpulkan nyawa nya setelah tidur nyenyak
"Nyonya Alice tolong siapkan air mandi untuk ku ya,"suruh Ravanya sopan pada salah satu pelayannya. Alice pun menundukkan badan lalu pergi.
"Apakah puteri tidak bangun terlalu pagi?"tanya Ella, pelayan Ravanya juga.
"Sepertinya aku terlalu bersemangat nyonya Ella, karena hari ini aku akan pergi ke akademi kerajaan."ucap Ravanya lalu turun dari ranjang. Ella mengulurkan tangannya untuk membantu Ravanya namun dengan senyum manis di wajahnya Ravanya menolak.
"Tak apa nyonya Ella, aku bisa turun sendiri,"ujar Ravanya.
"Puteri! Air mandi nya sudah siap,"ucap Alice.
"Terimakasih nyonya Alice."
Kedua pelayan itu lalu berjalan bersama Ravanya menuju ruang pemandian. Mereka membantu Ravanya membuka gaun tidurnya itu dan membantu Ravanya masuk kedalam bak mandi tempat ia biasanya berendam.
Sebari menyisir rambut Ravanya yang panjang, Ella bertanya pada Ravanya.
"Apakah puteri Ravanya akan melupakan kami?"tanya Ella. Ravanya menggeleng.
"Tentu saja tidak, tapi yang pasti aku akan merindukan kalian."jawab Ravanya.
"Semoga di akademi kerajaan nanti, puteri Ravanya mendapatkan pelayan yang dapat melayani puteri Ravanya dengan baik."kini Alice yang berucap sambil meluluri satu per satu tangan Ravanya.
"Iya semoga saja."Ravanya tersenyum.
"Nyonya Alice! Nyonya Ella! Kalian boleh pergi,"suruh Ravanya.
Kedua pelayan Ravanya yang melayani Ravanya sejak kecil itu kemudian mengangguk kemudian pergi untuk berdiri di depan pintu ruang pemandian.
Mereka membiarkan Ravanya membersihkan tubuhnya sendiri, karena itu adalah keinginan Ravanya setelah ia beranjak remaja. Ravanya berkata jika ia sudah besar dan ia bisa membersihkan tubuhnya sendiri.
***
Ravanya menatap dirinya sendiri lewat cermin besar yang ada di kamarnya. Gaun yang di pilih oleh Alice dan Ella, memanglah favoritnya. Gaun yang tidak terlalu heboh namun nyaman. Ravanya beralih menatap rambutnya yang terurai panjang, dengan tiara indah di puncak kepalanya. Ravanya tersenyum menatap dirinya sendiri.
"Puteri Ravanya sangat cantik. Para pangeran pasti akan terpesona melihat penampilan Puteri,"ujar Ella memuji Ravanya. Ravanya tersenyum malu malu.
"Ayo puteri, kereta menuju Akademi kerajaan sudah tiba. Pangeran Firlangga pun sudah menunggu Puteri disana,"ucap Alice.
Alice dan Ella membawa barang bawaan Ravanya, lalu mereka bertiga bergegas menuju halaman depan istana. Di halaman istana beberapa orang menunggunya. Termasuk Raja dan Ratu juga Kakek tercintanya.
Ravanya memeluk ibu nya lalu bergantian memeluk ayahnya. Mereka berdua menguvaokan berkat dan doa untuk Ravanya.
"Terimakasih ayah Raja dan ibu Ratu,"ujar Ravanya membungkukkan badannya sambil tersenyum. Ravanya lalu beralih menatap kakek untuk terakhir kali sebelum ia pergi ke akademi kerajaan.
"Ravanya berhati-hati lah dengan para pangeran ya, mereka pasti akan memperebutkan mu disana,"ujar Kakek Ravanya menggoda nya.
__ADS_1
"Ah Kakek,"cemberut Ravanya. Kakek Ravanya tertawa pelan.
"Oh iya ada Firlangga kan? Pasti mereka tak berani mendekati kamu,"ujar Kakek Ravanya sambil melirik Firlangga yang berdiri di sebelahnya dan itu membuat Firlangga tersenyum tipis.
Setelah berpamitan Ravanya dan Firlangga pun naik ke atas kereta kuda itu dengan hati hati. Para pelayan pun memasukan barang Ravanya satu persatu.
Semua sudah siap, kusir pun menyuruh kuda untuk melaju. Ravanya dan Firlangga pun melambai pergi.
Di dalam kereta kuda itu sunyi. Tak ada sepatah kata pun keluar dari mulut Ravanya maupun Firlangga. Ravanya melihat ke arah Firlangga yang sedari tadi sibuk membaca buku, ia pun berinisiatif untuk membuka pembicaraan.
"Apa dalam perjalanan menuju Neutralis kamu hanya membaca buku?"tanya Ravanya.
"Tentu saja,"jawab Firlangga tanpa melepas penglihatannya dari halaman yang ia baca.
"Terimakasih,"ujar Ravanya. Firlangga pun memusatkan perhatiannya pada Ravanya yang kini tengah menatap keluar jendela kereta, menatap langit biru dengan awan putih yang berbentuk tak beraturan namun indah.
"Untuk apa?"tanya Firlangga.
"Terimakasih telah menjemput ku."Ravanya tersenyum manis, membuat matanya membentuk satu garis lurus.
"Sama sama,"jawab Firlangga lalu kembali membaca buku. Ravanya yang tadi nya duduk di depan Firlangga kini menggeser untuk duduk di samping Firlangga.
"Kamu membaca buku apa?"tanya Ravanya antusias sambil mengintip sedikit ke arah buku yang sedang Firlangga baca. Firlangga lalu menutup buku itu dan menampilkan sampul depan dari buku yang di bacanya.
Sampul berwarna merah maroon polos itu sangat tebal, namun tak ada satu pun judul di sana. Ravanya menatap Firlangga bertanya tanya.
"Ini buku diplomatik. Apa kamu mau membacanya?"tawar Firlangga.
"Apa kamu punya buku lain?"tanya Ravanya.
"Aku bawa beberapa buku tapi selain ini, aku simpan di dalam tas ku,"jawab Firlangga. Ravanya mendesah pelan.
"Ya sudah kalau begitu."Ravanya kembali ke tempat duduknya berasal lalu menatap langit lagi. Ia bosan.
"Sebentar lagi kita akan sampai,"ujar Firlangga.
***
Ravanya dan Firlangga segera turun dari kereta kuda yang mereka naiki, saat turun mereka di sambut oleh seorang pelayan laki laki, dan sepertinya itu adalah pelayan untuk Firlangga.
Setelah kusir menurunkan barang barang Ravanya dan Firlangga, kusir itu pamit untuk pergi.
"Nama saya Calder, pangeran bisa memanggil saya cal atau panggilan apa saya yang pangeran suka saya akan terima,"ucap pelayan bernama cal itu menundukkan badan lalu membawa barang barang Firlangga.
Ravanya melihat kesana kemari, ternyata banyak para puteri serta pangeran yang bersekolah di akademi ini juga.
"Tunggu sebentar Cal, dimanakah pelayan puteri Ravanya?"tanya Firlangga.
"Maaf pangeran, puteri, sepertinya dia sedikit terlambat,"jawab Cal tanpa mengangkat sedikitpun wajahnya.
"Ya sudah aku akan menunggunya."Ravanya tersenyum, sambil menunggu kedatangan pelayannya.
__ADS_1
"Mari pangeran,"ajak Cal.
"Cal bisakah kau pergi duluan, aku akan menemani puteri Ravanya dulu di sini,"suruh Firlangga.
"Pangeran duluan saja, aku akan menunggu di sini."Ravanya tersenyum lalu duduk di sebuah kursi kayu panjang yang ada di sana. Firlangga mengangguk.
"Puteri berhati-hatilah,"ucap Firlangga kemudian pergi bersama Cal.
Setelah Firlangga dan Cal pergi. Ravanya terduduk diam sambil melihat ke sana kemari memperhatikan beberapa orang yang menarik perhatiannya.
"Dari mana saja kau ini, aku sudah menunggu lama. Cepat bawa barang bawaan ku,"teriak seorang puteri kepada pelayannya. Pelayan bertubuh kecil itu pun dengan kesusahan membawa begitu banyak barang bawaan. Ravanya nampak kasihan melihat itu. Dan ia berniat untuk membantunya.
"Kau mau kemana? Kau ini seorang puteri tak seharusnya menolong seorang pelayan,"ujar salah seorang laki laki yang seumuran dengannya, yang sedari tadi duduk di kursi kayu tak jauh dari Ravanya.
"Bagaimana kamu tau aku akan menolongnya?"tanya Ravanya heran.
"Bukankah itu nampak jelas, saat kau melihat dia kesusahan kau langsung berdiri. Itu berarti kau iba padanya."ujar laki laki itu. Ravanya melihat laki laki itu terkagum kagum, memikirkan bagaimana bisa dia membaca gerakan seseorang. Itu sangat hebat.
Laki laki itu tersenyum lalu membuang mukanya.
"Dia terlihat sombong sekali,"ucap Ravanya dalam hati.
"Puteri Ravanya maaf saya terlambat!"Ravanya yang tadi memperhatikan laki laki itu kini teralih karena mendengar suara yang memanggilnya.
"Ah tidak apa apa. Siapa nama mu?"tanya Ravanya sambil tersenyum ramah.
"Nama saya Anna, puteri."pelayan itu membungkuk.
"Baiklah nyonya Anna bisa kamu tunggu sebentar,"pinta Ravanya. Pelayan itu mengangguk.
Ravanya lalu menghampiri laki laki itu, lalu membungkukkan badannya untuk memperkenalkan diri.
"Puteri Ravanya Betley dari kerajaan Neutralis,"laki laki itu mengucapkan apa yang seharusnya Ravanya ucapkan. Ravanya kembali terheran heran.
"Kau kan seorang puteri dari kerajaan besar, semua pasti tahu tentang diri mu,"ucapnya dingin.
"Kalau begitu apa aku boleh tahu siapa dirimu wahai pangeran yang hebat dalam menebak jalan pikiran seseorang,"ucap Ravanya. Pangeran itu hanya terdiam tak ingin menjawab.
"Apa aku tak boleh mengetahui nama mu? Kalau aku memanggil mu pangeran yang hebat dalam menebak jalan pikiran seseorang, itu terlalu panjang."pangeran itu menatap wajah Ravanya.
"Daylan,"gumamnya.
"Dari kerajaan?"tanya Ravanya lagi. Namun Daylan malah menatap Ravanya sebal.
"Kenapa kau malah banyak bicara. Lihat pelayan mu menunggu lama,"ujar Daylan lalu membuang wajah nya lagi. Ravanya menghembuskan nafasnya pelan.
"Kalau begitu sampai bertemu lagi."Ravanya menundukan badannya kemudian pergi bersama pelayan nya.
***
Bersambung.....
__ADS_1