
"Ada apa Rangga?"tanya ku di telpon.
"Gue udah di depan gerbang rumah Lo, kita liat orang pembawa pesan itu yuk?"ajak Rangga dari sebrang sana. Tadinya sih aku tak ada niatan untuk kesana tapi tumpukkan pertanyaan dalam otak ku membuat aku penasaran.
"Yaudah tunggu bentar ya gue siap siap dulu,"jawabku. Aku lalu mengakhiri panggilan itu dan mengganti baju ku. Setelah siap aku lalu berjalan menuju pintu kamar.
"Mau kemana kamu?"langkahku terhenti aku menatap ke arah sumber suara. Dan suara itu berasal dari Daniel yang sedang duduk manis di ranjangku. Mataku membulat kaget. Sejak kapan dia ada disana?
"Sejak kau berganti baju,"ucapnya santai. Aku kembali terbelalak kaget. Refleks aku menyilangkan kedua tanganku di dada untuk menutupi tubuhku.
"Daniel Lo mesum,"ujarku kaget. Dia hanya tertawa lalu berdiri kemudian menghampiriku ia lalu memelukku dan berbisik lembut di telinga ku.
"Apakah aku tidak boleh mesum pada istri ku?"bisiknya. Aku menjauhkan tubuhnya dari tubuhku. Kemarin dia mengaku kalau aku pacarnya. Sekarang ia mengganggap aku istrinya. Apa apaan itu. Aku sedikit kesal.
"Daniel lelucon Lo itu gak lucu,"ujarku kesal. Ia hanya kembali tertawa.
"Ayolah Ran. Kakek mu itu sudah menikahkan kita. Kau saja yang lupa,"aku kembali terkejut mendengar perkataan Daniel. Aku semakin bingung.
"Terserah Lo deh,"ucapku lalu meninggalkan dia di kamar.
Aku berjalan menuju pintu gerbang rumahku dan disana sudah ada Rangga yang menunggu dalam mobil. Bukannya akan macet tapi kenapa Rangga malah membawa mobil.
"Aku yang menyuruhnya,"ucap Daniel yang sudah berdiri di belakangku. Dia selalu saja muncul tiba tiba. Ini yang membuatku yakin kalau dia memang benar benar bukan manusia.
"Bisakah kau yakin juga kalau aku ini kekasihmu?"tanya nya. Lagi lagi ia membaca pikiranku.
"Daniel tolong jangan selalu baca pikiran gue. Itu gak sopan!" Ucapku marah aku lalu duduk di kursi depan bersama dengan Rangga yang menyetir dan Daniel ia duduk di bangku belakang. Dan ia tak berbicara sedikitpun.
Kupikir perjalanan menuju pembawa pesan itu akan sangat macet dan berdesakkan. Tapi itu tidak benar, jalanan yang kami lalui lancar dan damai. Tapi si pembawa pesan itu ada dimana?
"Rangga, sekarang si pembawa pesan itu ada dimana?"tanya ku.
__ADS_1
Sambil fokus menyetir Rangga menjawab.
"Menurut berita yang gue baca kayaknya dia ada di rumah sakit Alphetis deh,"
"Yaudah ayo kesana,"ajakku.
"Iya,"
Aku menatap Daniel melalui spion depan yang tergantung di antra aku dan Rangga. Aku melihatnya tengah tertidur lelap. Entah kenapa rasa bersalah tiba tiba menusukku. Apakah aku terlalu keras padanya?
Sesampainya kami di parkiran rumah sakit. Aku dan Rangga turun dari mobil untuk melihat keadaan, dan disini sangat ramai orang orang mengerumuni beberapa orang polisi yang menggandeng si pembawa pesan itu. Aku dan Rangga mencoba masuk lebih dalam ke kerumunan itu. Tapi rasanya susah sekali akhirnya aku dan Rangga kembali dan menghampiri Daniel yang sedang berjalan ke arah aku dan Rangga. Kami berhenti beberapa meter dari kerumunan itu.
"Susah banget liatnya,"keluh Rangga.
"Yaudah deh kapan kapan kita liat lagi," ucapku lalu mengajak mereka berdua pulang. Kami berjalan menuju mobil kami. Tiba tiba seseorang memanggil kami.
"Pangeran!Putri!"kami bertiga berbalik. Itu si pembawa pesan. Tapi mengapa ia meneriaki kami dengan sebutan pangeran dan Putri? Ia berlari ke arah kami di ikuti oleh polisi dan orang orang.
"Pangeran! Putri! Menjauh darinya,"ucapnya lalu mendorong aku dan Rangga menjauh dari Daniel. Lalu dari dalam baju jirahnya ia mengeluarkan sebuah pisau belati yang sangat tajam. Ia mengangkat pisau itu dan siap menghunus Daniel dengan kuat.
jleb
"Aw,"rintihku sambil memegangi perutku yang tertusuk oleh belati tersebut. Ya aku berlari untuk menghalangi Daniel dari hujaman belati itu. Daniel terbelalak kaget. Si pembawa pesan pun terkejut dan raut wajahnya berubah menjadi merasa bersalah. Aku terduduk lesu. Darah terus keluar dari dalam perutku. Semua nya perlahan gelap. Aku yang lihat si pembawa pesan itu di tangkap oleh polisi, lalu sebelum mataku benar benar terpejam aku melihat wajah Daniel yang menatapku sangat khawatir.
***
ku buka mataku perlahan dan yang pertama kali ku lihat adalah langit langit putih juga aroma obat obatan. Seperti aku berada di rumah sakit, ku gerakan sedikit badanku.
"Aw,"rinthku merasakan sesuatu yang agak sakit dari perutku. Aku meraba pelan perutku dan aku merasakan sesuatu yang melingkar disana, dan ternyata itu adalah perban.
"Rani,"dua laki laki itu menghampiriku lalu menatapku penuh khawatir.
__ADS_1
"Gu- gue g-gak pa-pa,"jawabku sambil menahan rasa sakit di perutku itu. Rangga kemudian memegang jemariku lembut dan berkata.
"Dokter bilang lukanya gak terlalu dalam. Tapi sepertinya Lo masih ngerasa sakit ya?"tanya Rangga menatapku khawatir dan di belakang tubuh Rangga ada Daniel yang menatap Rangga sinis.
"Minggir gue mau obatin Rani,"ucap Daniel menyikut pelan tubuh Rangga agar ia menjauh dari ku. Daniel menatapku khawatir, tapi aku bingung bagaimana dia akan mengobati ku.
"Kamu percaya aja oke? aku ini pacar sekaligus roh pelindung kamu jadi jangan ragukan aku,"ucapnya menenangkanku dan ia mengusap rambutku pelan dan ia
"Mphh,"Dia melepaskan bibir nya dari bibirku. Aku menatapnya kaget begitu juga Rangga yang benar benar terkejut dengan kejadian tiba tiba itu.
"Daniel!"teriak ku agar marah karena ia mencari cari kesempatan dalam kesempitan dan bahkan itu ciuman pertama ku.
"Jadi itu ciuman pertama mu ya?"tanya nya sambil terkekeh pelan. aku menutup wajahku malu saat mendapati Rangga yang menatapku kaget. Ah bagaimana bisa aku berciuman di depan seseorang.
"Daniel Lo apa apaan sih. Rani masih sakit,"ujar Rangga marah. Dan Daniel malah tersenyum kemenangan.
"Jangan cemburu aku ini kekasihnya,"Daniel tertawa pelan mengejek Rangga yang sedari tadi menatapnya tajam.
Aku menggerakkan tubuhku kemudian turun dari ranjang rumah sakit perlahan dan aku berniat menghajar si Daniel mesum itu. Aku menghampiri nya lalu memukul bahu nya kencang dengan kedua kepalan tanganku. Dan wajahku tetap memerah malu.
"Rani Lo perut Lo udah gak sakit?"pertanyaan dari Rangga membuatku menghentikan pukulan yang sedari tadi aku layangkan pada Daniel. Aku menatapnya kemudian memegang perutku. Dan aku sudah tidak merasakan apa apa lagi.
"Loh udah sembuh. Udah gak sakit lagi,"ujarku tersenyum kegirangan kemudian memukul mukul perutku untuk memastikan aku bahkan melompat lompat pelan.
"Yeeee udah sembuh Rangga udah sembuh,"aku yang kegirangan refleks memegang tangan Rangga dan bahkan aku hampir memeluknya sebelum Daniel menarik ku kedalam pelukannya.
"Kamu itu sembuh karena ciuman dari ku. harusnya kamu peluk aku bukan dia,"ucapnya sambil memelukku erat erat. fix wajahku memerah lagi bukan karena apa apa melainkan kenapa Daniel harus memelukku di depan Rangga. Aku sangat malu.
"Tentu saja agar dia cemburu,"jawab Daniel membalas pertanyaan dalam pikiranku. Aku menatapnya sebal.
***
__ADS_1
tbc...