Arrive

Arrive
12 Funfair


__ADS_3

"Waaaah!"


Kami memandang takjub keramaian serta keindahan pasar malam. Lampu warna warni menghiasi stand-stand yang ada di sana mulai dari stand makanan hingga games ringan.


Pedagang permen kapas yang ada dimana mana dan jangan lupakan bianglala dan komedi putar yang selalu menjadi sasaran utama orang orang yang datang ke sini.


Daniel, Nina, Rangga dan aku memutuskan untuk berkeliling dulu sebelum naik bianglala selain menunggu antrian yang masih sangat panjang kita juga ingin naik ke wahana yang lain. Kami berempat bersenang-senang, membeli makanan, permen kapas juga mencoba permainan ringan seperti permainan melempar bola, menembak bebek dan lain sebagainya.


Dan pada akhirnya kita dapat menaiki bianglala ini bersama. Kami berempat masuk ke dalam satu kurungan bianglala yang memang maksimal untuk empat orang. Memandangi pasar malam dari ketinggian yang terlihat indah sambil memakan permen kapas.


"Wah Ran bagus banget pemandangannya,"ujar Nina menganga karena terkagum kagum melihat kerlap kerlip cahaya lampu kota. Bianglala ini cukup tinggi sehingga kita juga dapat melihat sebagian pemandangan kota.


"Hooh bagus banget,"ucapku sambil memasukan satu cubitan permen kapas ke mulutku. Aku lalu melihat ke arah Daniel yang merasa kagum juga, aku tersenyum memandangi itu sambil memakan permen kapas ku dengan senang hati.


Mataku lalu beralih pada Rangga yang sedari tadi terdiam seolah tak berani melihat ke bawah. Tubuh nya agak bergetar dan sedikit berkeringat.


"Rangga Lo takut ketinggian?"tanyaku. Seketika Daniel dan Nina melihat ke arah Rangga. Rangga mengangkat kepalanya lalu berpura pura tegar. Mungkin dalam hatinya ia berkata aku kuat aku kuat.


"Sedikit,"jawab Rangga sambil membuang muka. Daniel menutup mulutnya menahan tawa yang hampir pecah.


"AAAAAAAA!"suara teriakan.


Nina memandang ke arah ku dan aku juga memandang ke arahnya. Aku dan Nina sepertinya memiliki pikiran yang sama.


"Ayo guys kita turun,"ajak Nina setelah bianglala itu berhenti tepat di atas tanah. Kami pun turun satu persatu.


Setalah menginjakkan kaki nya duluan di tanah, Rangga membungkukkan badannya dengan tangan yang menopang di lutut ia memegangi kepalanya.


"Udah ayo,"ujar Daniel tertawa pelan lalu menepuk pundak Rangga pelan membuat Rangga kembali menegakan kepalanya.


"Jangan ketawa Lo,"dengus Rangga menatap Daniel tajam.


"Ke rumah hantu yuk,"ajak ku menengahi mereka berdua. Mereka menoleh ke arah ku bersamaan. Kemudian mengangguk. Aku tersenyum senang ke arah Nina.

__ADS_1


"Ayo guys let's go!"


***


Seorang pria berdiri agak jauh dari wahana rumah hantu. Ia memperhatikan ke empat remaja yang tengah menatap takjub betapa mengerikannya tampilan luar wahana itu apalagi dalamnya.


Sedari tadi ia memang sudah mengawasi ke empat orang tersebut. Mengikuti mereka yang tengah bersenang-senang. Dari membeli permen kapas sampai naik bianglala. Ia memegang perutnya yang agak mual.


Pria itu mendesah pelan kurang menikmati tugasnya sebagai penguntit ke empat remaja tersebut. Di umurnya yang sudah tidak bisa di katakan sebagai remaja lagi bagaimana bisa ia mengikuti kegiatan mereka dan menikmati tugasnya. Hanya mengekori mereka saja membuatnya lelah.


"Hallo?"ia mengangkat handphone nya karena ada sebuah panggilan.


"Bagaimana?"tanya seseorang di sebrang.


"Disini cukup tidak baik,"jawabnya memutar bola matanya malas.


"Hei jangan pernah mengeluh lakukan tugas mu dan jangan lupakan yang itu."pria di telepon itu memarahinya dan ia hanya bisa mendesis sebal.


"Iya iya."


***


Saat memasuki rumah hantu itu aku memegangi tangan Nina dengan sangat kuat. Memegang begitu agar aku tidak di tinggal lari jika tiba tiba hantu-hantuan muncul. Aku dan Nina berjalan di belakang Daniel dan Rangga yang berjalan santai di depan.


Daniel membuka sebuah pintu besar kemudian kami berempat masuk bersama. Suasana mencekam mulai muncul. penerangan yang remang remang serta angin dingin yang terhembus menusuk kulit terluar ku membuat bulu bulu halus di kulit menjadi berdiri tegak. Aku mengusap ngusap tanganku pelan. Suhu dingin karena ac yang sengaja dinyalakan dengan suhu rendah agar membuat suasana yang mencekam. Pikirku untuk tidak terlalu takut.


Kami berjalan perlahan dan tak ada apapun disini tapi tiba tiba,


"HUAA,"Sebuah boneka hantu dengan pakaian putih dan rambut panjang melayang di samping kami dengan tiba tiba. Membuat kami berempat berteriak karena kaget. Tak hanya itu dari sisi yang lainnya ada juga muncul boneka hantu tanpa kepala. Dari atas jatuh melayang beberapa tengkorak mainan.


Kami terdiam kaku disana karena kaget. Tak lama ada suara seseorang yang berjalan di belakang kami. Seketika kami menoleh dan ternyata itu hanya seorang pria dengan wajah yang di make up seseram mungkin dan penuh darah tengah menyeringai lalu mengangkat sebuah Kapak di tangannya. Pria psikopat itu berlari ke arah kami seolah penuh nafsu membunuh. Kami seketika langsung menjerit dan berlari. Walau hanya wahana tapi kami benar benar ketakutan.


Boneka-boneka hantu menyeramkan muncul tiba-tiba lagi di sisi kami saat kami berlari. Kepala-kepala buntung palsu bergelantungan di atas kepala kami membuat kami sedikit menunduk saat berlari. Karena penasaran aku menoleh kebelakang saat berlari.

__ADS_1


NGIIIIIIIIIING!


NGIIIIIIIIIIIIIIING!


NGIIIIIIIIIIING!


Telinga ku tiba tiba berdenging, kepala ku sangat sakit tak sengaja aku melepas pegangan ku dari Nina. Aku meremas rambut ku tapi pandangan yang buram dan terus berputar putar tak kunjung hilang. Aku melirik ke sana kemari tak ada yang berubah semua nya tetap kabur dan semua benda seolah berputar di sekelilingku, tengkorak tengkorak palsu, boneka hantu, kepala kepala buntung palsu mengelilingiku seperti tornado.


Sakit. Kepalaku makin sakit. Kaki ku bergetar kuat. Air mata perlahan mengalir. Rasa pusing terus merajam ku seolah kepalaku di pukulkan pada benda keras. Seolah rambutku di tarik sangat kencang. Aku memegang kepalaku lalu menunduk dan memejamkan mataku. Terus merapalkan doa dalam hati, itu yang aku lakukan. Hingga perlahan rasa sakit itu memudar.


Aku mengangkat dan membuka mataku perlahan. Begitu terkejutnya aku saat yang aku pandang kini bukan boneka hantu juga suasana remang remang rumah hantu tapi aku tetap melihat sesuatu yang mencekam.


Perang.


Aku tiba tiba berada di tengah-tengah sebuah perang. Orang-orang tak melihatku bahkan tubuhku tertembus oleh mereka. Aku mengelilingkan pandanganku.


Prajurit-parjurit yang saling menyerang berada di sekelilingku. Suara pedang yang beradu, darah yang terciprat di depan mataku, anak panah yang melayang di atasku juga suara suara jeritan penuh amarah selalu masuk ke telingaku.


Ini semua benar benar terlihat nyata dan sekali lagi aku tak dapat menyentuh mereka apalagi menghentikan semua ini. Aku memandang langit yang tiba tiba menggelap tapi bukan karena tanda akan hujan ataupun malam akan tiba tapi sesuatu yang mengerikan juga begitu besar berdiri gagah di atasku. Tubuh yang hitam legam, kuku runcing yang lebih panjang dari sebuah pedang. Beberapa pasang mata besar memenuhi wajahnya.


Monster itu menginjak injak sesuatu di bawahnya tanpa iba, merobek robek bahkan tak segan melempar para prajurit manusia. Aku menutup mulutku ketakutan. Aku pikir ini pertarungan antar manusia tapi setelah aku lihat lagi ini adalah sebuah pertarungan manusia melawan makhluk-makhluk yang mirip dengan manusia namun punya taring serta kuku panjang juga sepasang sayap hitam. Juga menyeramkan.


Monster bermata banyak itu mengangkat sebelah kaki nya dan bersiap siap menginjak tempat aku berdiri.


BRAKK


Pandanganku mulai menggelap.


Aku membuka mataku terkejut dan lebih terkejutnya lagi aku telah di kelilingi oleh banyak orang. Ada Nina dan yang lainnya yang menatapku khawatir.


Aku menundukkan tubuhku, ternyata aku masih ada di dalam wahana rumah hantu dan itu artinya aku telah pingsan.


Wajahku memerah malu

__ADS_1


***


TBC....


__ADS_2