
"Dengan sesuka hati kamu membaca isi hatiku. Tapi aku tak pernah paham jalan pikiranmu. Apakah benar hanya ada aku disana?"
***
Beberapa hari kemudian
Perasaanku kini tak lagi pada kenyataan yang membuatku terheran heran. Tapi perasaan ini tetap pada kenyataan yang membuatku canggung tak karuan.
Mataku menyapu seisi meja makan yang penuh dengan berbagai hidangan nikmat dan mewah. Aku berada dalam perjamuan makan antara Kerajaan Neutralis dan Plusialis, untuk merayakan kedatangan ku. Seorang Ratu seperti apakah aku dulu hingga mereka merayakan ini karena kedatang ku.
Aku terduduk diam di samping Rangga lalu di kelilingi oleh petinggi kedua kerajaan itu. Aku merasa seperti orang yang sangat penting. Ini pengalaman pertama ku untuk di perlakukan seperti ini.
Semua orang telah selesai makan, para pelayan kemudian berdatangan untuk membereskan meja makan. Aku melap bibirku yang basah sehabis minum, melap bibir saja rasanya sangat canggung saat semua mata kini tertuju pada ku dan Rangga.
"Kami benar-benar senang saat kalian datang. Ramalan tua itu kini menjadi kenyataan,"ucap Raja Baron--Raja Plusialis. Dia terduduk di depanku bersama istri--Ratu Ellena-- dan seorang putra nya--Aland.
Semua yang ada di perjamuan ini bersorak gembira. Tapi aku hanya tersenyum kikuk sama seperti Rangga.
"Masa kalian pasti akan kembali lagi,"ujar Raja Alison.
"Benar. kami merasa terhormat untuk menyerahkan kerajaan ini pada kalian,"timpal Raja Baron.
"Aku dan Rani tidak berniat untuk mengambil tahta kerajaan."Rangga kini membuka suaranya. Matanya menatap ke arah ku, aku lalu mengangguk setuju.
"Rangga benar kami gak pantas untuk itu,"kata ku. Aku melirik ke satu persatu wajah kedua raja itu, mereka nampak tak setuju.
"Hei kalian tentu pantas. Bukankah kalian juga sudah mendapatkan bimbingan untuk itu."ujar Ratu Alisa menyahut. Kami mengangguk pelan. Aku dan Rangga memang telah mendapatkan beberapa pengajaran untuk menjadi seorang bangsawan, tapi aku tak pernah memahami itu dengan serius. Aku menjadi Ratu? Itu tidaklah benar.
"Ya benar. Sudah sampai mana kalian belajar?"tanya Ratu Ellena.
"Pelajaran dasar,"sahut ku.
"Nah sebentar lagi kalian akan pantas."timpal Raja Baron di barengi anggukan dari Raja Alison.
"Tapi kami tidak bi-"
"Tidak ada tapi-tapian. Kalian harus memimpin disini seperti kata ramalan,"ucap Raja Alison memotong ucapan Rangga.
Aku dan Rangga hanya bisa menunduk pasrah. Ini terlihat seperti sebuah paksaan. Mau kami ini reinkarnasi atau apapun kami merasa tak nyaman dengan kenyataan ini.
Ku lihat Rangga yang tengah menghembuskan napasnya panjang. Ia mengangkat kepalanya lalu berbicara dengan yakin.
"Baiklah kami akan menerimanya,"ujar Rangga yakin. Mataku membulat tak percaya, ucapan meyakinkan Rangga membuat ku ingin menarik ucapan ku tadi. Sepertinya hanya aku yang tak nyaman dengan ini.
Semua orang yang ada di ruangan itu bersorak gembira, termasuk para pelayan dan penjaga yang tersenyum senang. Tapi kenapa tak ada satu pun disini yang bertanya pada ku. Bukankah Rangga yang setuju dan aku belum menyetujuinya.
Aku merasa kesal.
__ADS_1
***
Aku dan Rangga keluar dari perjamuan khusus itu menuju kamar kami berbarengan karena letak kamar kami yang bersebelahan. Aku bersama Nina dan Rangga bersama Daniel.
"Rangga Lo kok main setuju-setuju aja sih?"tanya ku protes. Rangga mengangkat alisnya lalu balik bertanya.
"Lo gak suka sama gue ya?"
"M-maksudnya?"tanya ku lagi dengan ekspresi kikuk.
"Lo gak mau jadi Ratu gue ya?"lagi lagi ia malah menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.
"Rangga jadi Raja dan Ratu itu gak mudah. Nih ya kita itu masih Sma walau udah gak akan belajar lagi tapi kita kan belum dapet surat kelulusan. Terus ya Lo tau kan gue itu ogah-ogahan belajar buat jadi Ratu."Rangga menghentikan langkahnya kemudian menatap ke arah ku.
"Gak ada salah nya kan buat mencoba?"Rangga memegang kedua pundak ku untuk menyakinkan.
"Tapi gue jadi Ratu itu enggak-"bibirku yang tadi bicara kini terdiam kaku menatap lekat lekat ke arah dua orang yang tengah mengobrol bersama di depan kamarku. Rangga mengikuti pergerakan leherku dan tiba-tiba ia memeluk ku dengan erat dan menyembunyikan wajah ku di dada nya.
Aku biarkan Rangga melakukan itu. Tapi pikiran ku tak bisa membiarkan apa yang telah aku lihat barusan.
Apa yang aku lihat?
Daniel dan Nina tengah mengobrol bersama bahkan tanpa berat hati Daniel menggenggam kedua tangan Nina dengan tangannya. Daniel menatap Nina sama seperti saat ia sedang membujuk aku yang tengah marah.
Sebenarnya ada apa diantara mereka?
Pelukan Rangga terlepas saat Daniel menarik kerah baju Rangga dengan kasar, ia terlihat sangat marah.
"Beraninya Lo peluk Rani,"bentak Daniel. Rangga kemudian mendorong tubuh Daniel kencang. Nina yang melihat itu terkejut dan membantu Daniel untuk kembali berdiri. Sedangkan aku terdiam kaku.
"Lo sendiri bisa bisa nya khianatin Rani,"ujar Rangga geram sambil menunjuk nunjuk marah ke arah Daniel.
"Jaga omongan Lo."gerutu Daniel lalu menatap Rangga sengit.
"Apa yang kalian pikirkan itu gak sama seperti yang kalian lihat barusan."Nina mendekat ke arah ku berusaha untuk meyakinkan ku. Tapi aku tetap diam.
"Rani aku bisa jelasin."kini Daniel mendekat ke arah ku memegang kedua tanganku lalu menatapku seperti ia menatap Nina beberapa menit yang lalu.
Aku menarik tanganku dari genggaman nya. Kemudian menatap ke arah nya.
"Apa hubungan kamu dengan Nina?"tanya ku.
"Aku gak punya hubungan apa apa selain sama kamu. Cuma kamu satu satu nya buat aku, gak ada yang lain."ucapan Daniel begitu manis tapi rasanya batin ku teriris mendengar itu. Aku dengan jelas melihat semua itu. Mereka bergandengan tangan, saling beradu pandang. Apa mataku sedikit bermasalah lantas mengapa Rangga juga melihatnya.
"Rani ini gak seperti yang kamu pikirkan aku bisa jelasin semua nya,"bujuknya lagi lagi sambil memegang kedua tanganku.
"Gak ada lagi yang perlu lo jelasin, semuanya sudah jelas Daniel,"ujar Rangga ketus.
__ADS_1
"Aku mau sendiri dulu,"gumam ku kemudian berbalik dan berlari menjauh dari sana.
"Rani!"teriak Rangga yang mengejarku.
"Aku mau sendiri Rangga,"tolak ku menghentikan langkahnya untuk kembali mengejar. Selain itu aku tak berharap Rangga yang mengejar.
Namun Daniel dan Nina tak ada satupun dari mereka yang bergerak untuk mengejar ku.
***
Aku pandangi sekali lagi lukisan besar Ratu Ravanya dan Raja Firlangga. Setelah beberapa menit mataku tak lepas dari sana.
Aku memikirkan apa yang membuat hati ku kini resah. Yaitu tentang hubungan Daniel dan Nina. Apa benar yang aku pikirkan itu tak sebenarnya begitu tentang mereka?
Bayangan mereka yang tengah bergandengan masih tergambar jelas dalam otak ku, dalam pikiran kalut yang masih belum bisa aku cerna.
"Ravanya jika benar aku adalah kamu. Apa yang harus kita lakukan?"aku bergumam sendiri seolah olah tengah berbicara dengan lukisan perempuan yang berwajah sama denganku itu.
Tak ada jawaban apapun tapi perlahan mataku terarah pada lelaki dalam satu lukisan itu. Wajahnya benar benar mirip dengan Rangga.
Puk
Seseorang menepuk pundak ku pelan membuatku berbalik dan menatap siapa yang ada di belakangku.
"Wah kalian benar-benar mirip,"ucap Aland memandang wajah ku dan lukisan itu dengan takjub.
"Tapi ada yang berbeda dari kalian,"lanjutnya membuatku terdiam bingung.
"Apa?"tanya ku memandang Laki laki yang kira kira lebih muda dua tahun dari ku--umurku 18 tahun. Dan dia seumuran dengan Rilianza.
"Dia tersenyum tapi wajahmu tertekuk.?"tunjuknya. Perlahan senyum terukir di wajah ku.
"Udah mirip belum?"tanya ku dengan senyum manis di wajah.
"Nah itu baru mirip."Aland terkekeh dengan wajah tampan baby face nya itu. Perasaan ku lumayan membaik.
"Jadi ngapain kamu kesini?"tanya ku lagi.
"Hanya kebetulan lewat,"jawabnya kemudian memperhatikan kembali lukisan di belakang tubuhku itu.
"Aku tak menyangka ramalan itu benar terjadi,"lanjutnya tak lepas dari lukisan.
"Memang apa isi ramalannya?"
***
TBC....
__ADS_1