Arrive

Arrive
Season 2 Chapter 09 Ku Pikir Kau Tahu


__ADS_3

Beberapa Minggu telah berlalu, Mereka bertiga pun semakin dekat. Ravanya pula semakin pandai memainkan pedang. Seperti malam ini, mereka akan mencoba satu lawan satu.


"Pangeran Daylan, ayo bertarung pedang dengan ku,"ajak Ravanya. Daylan memperhatikan Ravanya dari atas hingga ke bawah.


"Kau memakai gaun, pasti akan susah bertarung menggunakan itu."ujar Daylan menolak.


"Daylan benar puteri, kau pasti akan susah untuk bergerak,"timpal Firlangga ikut mengingatkan.


"Tidak itu tidak akan terjadi. Lihat gaun ku juga longgar aku pun masih bisa  berlari,"jawab Ravanya melebarkan gaunnya lalu berlari kecil.


"Baiklah. Tapi tetap hati hati."Daylan kemudian bangkit dari duduknya dan menghampiri Ravanya, ia kemudian mengeluarkan pedang miliknya dan memegangnya dengan tangan sebelah kanan.


Ravanya bersiap juga dengan pedang yang ia pegang dengan kedua tangannya. Ia kemudian berlari, begitu pula dengan Daylan. Namun tiba tiba Ravanya menginjak gaunnya dan dirinya jatuh menimpa Daylan, dengan pedang yang mengarah ke dada Daylan, namun untungnya pedang Daylan menahannya. Dalam posisi itu mereka bertatap tatapan, memperhatikan setiap sudut wajah masing masing. Mata mereka bertemu. Angin menerpa wajah mereka, membuat rambut Ravanya tersisir ke atas wajah Daylan.


Ravanya segera menjauhkan tubuhnya dari Daylan dan membantu nya berdiri.


"Maaf. Aku tidak sengaja,"ujar Ravanya.


"Sudah kubilang, jangan memakai gaun saat bertarung."Daylan menepuk nepuk baju nya yang kotor.


"Sudah puteri duduk dan lihatlah kami bertarung,"ujar Firlangga menghampiri mereka berdua dengan pedang di tangannya.


Ravanya pun menurut dan duduk di bawah pohon. Melihat kedua laki laki itu akan bertarung, dan mereka sedang berbincang terlebih dahulu. Ravanya menunggu, ia menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga, angin malam meniup niup rambutnya.


"Sudah berapa kali ku bilang. Jangan merayu puteri Ravanya, bahkan mencuri curi kesempatan bersama nya. Kau sudah ku peringatkan,"kesal Firlangga.


"Aku tak pernah merayu ya. Kejadian tadi hanyalah kebetulan dan aku tidak mengambil kesempatan dari nya,"jawab Daylan membela diri.


"Kenapa kau harus cemburu? Jika dia memang akan jadi milikmu, kenapa kau bersikap begitu pada ku? Atau jangan jangan dia sendiri tak ingin menjadi milikmu?"lanjut Daylan dengan senyum miring di bibirnya.


"Jangan asal bicara! Ayo bertarung dengan ku,"ajak Firlangga sambil mengarahkan pedangnya ke wajah Daylan.


"Tentu saja, tidak ada yang takut di sini."balas Daylan.


GUBRAK!!


Daylan dan Firlangga menatap seketika ke arah Ravanya yang tersungkur di samping pohon. Mereka menghampiri nya khawatir.


"Puteri Ravanya!"panggil Firlangga sambil menepuk nepuk pipi Ravanya. Mata Ravanya perlahan terbuka, ia lalu memandang sekitar.


"Apa kalian sudah bertarung nya?"tanya Ravanya.


"Belum,"jawab Daylan datar.

__ADS_1


"Oh syukurlah, aku pikir aku ketinggalan sesuatu tadi,"ucap Ravanya mengucek matanya perlahan.


"Aku mengantuk. Bisakah kita pulang?"tanya Ravanya.


"Mari kita pulang."


***


Mereka bertiga lalu sampai di dalam kamar Daylan.


"Pangeran Daylan, kami pergi dulu."ujar Ravanya pamit. Sedangkan Firlangga pergi begitu saja mengikuti langkah Ravanya.


"Aw kepalaku,"gumam Daylan sambil memegangi kepalanya. Ravanya yang sudah di ambang pintu kembali berbalik dan menghampiri Daylan khawatir.


"Kamu kenapa?"tanya Ravanya sambil memegangi pundak Daylan lalu mendudukkannya di ranjang.


"Seperti energi ku terkuras habis karena beberapa minggu ini selalu melakukan teleportasi, kepala ku jadi pusing,"jawab Daylan masih memegangi kepalanya.


"Maafkan aku, ini semua salah ku. Kamu jadi seperti ini. Maafkan aku,"ujar Ravanya merasa bersalah.


"Kau tak perlu cemas. Seperti nya aku harus kembali ke kerajaan untuk memulihkan energi ku."


"Apakah akan lama?"tanya Ravanya, ada sedikit kecewa di nada bicaranya. Daylan pun bingung, kenapa Ravanya melakukan demikian.


Ravanya terdiam, menatap wajah Daylan diam diam. Ia menunduk, menunggu Daylan berbicara lagi. Entahlah, ada rasa kecewa di hati nya.


"Puteri, ayo kita kembali ke kamar. Pelayan kita pasti menunggu,"ajak Firlangga. Ravanya mengangguk pasrah, kemudian pergi dari kamar Daylan dengan senyum tipis di wajah.


Daylan terdiam, Ravanya dan Firlangga telah pergi. Ia kini berdua di dalam kamarnya dengan Bert, yang tengah berdiri untuk mengambilkannya minum.


"Ada apa dengan dia? Kenapa raut wajahnya kecewa. Isi hati nya pun sama. Ada apa? Lalu kenapa aku merasa bersalah padanya?"


***


"Terimakasih pangeran sudah mengantarkan aku ke kamar."Ravanya tersenyum pada Firlangga.


"Sama sama puteri."Firlangga balas tersenyum masuk ke dalam kamar bersama Ravanya.


"Loh pangeran kenapa ikut masuk? Sekarang sudah malam, lebih baik pangeran ke kamar dan tidur. Tak usah menemaniku hari ini,"ujar Ravanya menolak secara halus.


"Ah ya sudah kalau begitu, selamat tidur puteri."Firlangga mengusap rambut Ravanya kemudian berlalu pergi.


Anna yang telah menunggu Ravanya pulang langsung menghampiri dan membantunya untuk berganti pakaian menjadi pakaian tidur.

__ADS_1


Setelah itu Ravanya terbaring di ranjangnya dan menyuruh Anna untuk meninggalkannya. Ravanya terbaring menatap jendela yang sedikit terbuka, ia membiarkan nya. Ia berfikir mungkin saja Daylan akan menemui nya.


"Ah apa yang aku pikirkan,"ucapnya meralat pikirannya sendiri. Ia menutup wajahnya malu, terbayang kejadian ketika dirinya dan Daylan bertatap tatapan. Wajah Ravanya kini memerah, ia menutup wajahnya kembali.


"Ada apa dengan aku ini?"


"Jadi kau memikirkan aku yah?"Daylan tiba tiba muncul dari balik jendela dengan sayap hitamnya.


Ravanya terduduk kemudian mendekati Daylan. Matanya mengarah ke sayap hitam di punggung Daylan. Tangannya menggapai sayap tersebut.


"Kenapa?"tanya Daylan menjauhkan sayapnya.


"Boleh aku menyentuh itu?"tanya Ravanya. Daylan mengangguk. Ravanya tersenyum lalu memegang sayap itu. Sayap hitam yang lembut dan harum.


"Jadi bulu hitam itu dari sayap mu?"tanya Ravanya sambil mengelus sayap hitam itu.


"Iya. Maaf aku masuk ke kamar mu diam diam,"ujar Daylan.


"Baiklah aku maafkan. Asal kamu jangan begitu lagi, dan oh biarkan aku memeluk sayap mu ya?"ujar Ravanya, belum di iya kan oleh Daylan tapi Ravanya sudah memeluk sayap itu.


"Hei apa yang kau lakukan?"tanya Daylan kaget.


"Maaf. Tapi sayap mu lembut dan harum, aku sangat suka,"ucap Ravanya lalu memeluk sayap Daylan lagi.


"Ngomong-ngomong, mau apa kamu kemari?"tanya Ravanya.


"Aku mau berbicara sesuatu,"jawab Daylan sambil menghilangkan sayap hitam nya. Ravanya terdiam kaget, wajahnya berubah kecewa.


"Sudahlah kau boleh pegang sayapnya lagi nanti,"ujar Daylan memalingkan wajahnya karena sedikit memerah.


"Kamu mau berbicara apa?"


"Aku akan pergi malam ini. Jadi kemungkinan besok pagi aku sudah tidak di akademi ini lagi,"jelas Daylan.


"Oh begitu, tapi kenapa kamu pamit padaku sebelumnya?"


Daylan dan Ravanya saling bertatapan. Raut raut kecewa muncul di wajah mereka masing masing.


"Karena beberapa hari ke depan kau harus belajar dengan Firlangga saja. Aku harap kita bisa bertarung setelah aku kembali nanti."Daylan tersenyum.


Ah.. aku pikir..


***

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2