Arrive

Arrive
Season 2 Chapter 04 Aku yang Merasa Bosan


__ADS_3

Anna membuka jendela secara perlahan, membuat cahaya mentari menyelusup begitu saja dan menerpa wajah Ravanya dengan hangat. Ia mengerjapkan matanya, melihat mentari yang sudah menyapa. Mendengar suara burung yang berkicau di pagi yang cerah ini. Secerah wajahnya kali ini.


Ia bangkit dari tidurnya kemudian meregangkan otot nya perlahan. Tersenyum pada dunia untuk memberi tahu jika hari ini adalah hari baru untuknya.


"Puteri aku sudah menyiapkan air mandi untuk puteri,"seru Anna.


"Terimakasih Anna."Ravanya turun dari ranjangnya dan bergegas untuk mandi.


Kemudian setelah selesai mandi dan berpakaian rapi, ia dan Anna bersiap siap menuju ruang kelas dimana ia beserta puteri yang lain akan belajar sesuatu. Ravanya sungguh tak sabar, ia tak henti henti nya tersenyum.


Anna mengantarkan Ravanya ke ruang kelas lalu pergi. Para puteri di tinggal sendiri untuk belajar di ruang kelas ini. Ravanya melangkahkan kaki nya kedalam ruang kelas yang penuh dengan buku di dalamnya. Ruang kelas yang sangat besar, beberapa puteri sudah duduk dan mengobrol di sana.


Ravanya belum memiliki teman, jadi ia pun berinisiatif untuk ikut mengobrol bersama mereka.


"Permisi! Apa aku boleh ikut duduk di sini?"tanya Ravanya ramah. Para puteri di sana tersenyum pada Ravanya dan membolehkan Ravanya duduk di antara mereka. Duduk di samping seorang puteri berambut ikal panjang dan kalau tidak salah namanya ada Bella dari kerajaan Crachah, kerajaan bawahan dari kerajaan Neutralis.


"Puteri kemarin sangat hebat. Puteri mampu mengalahkan ke angkuhan dari puteri Amanda,"ujar Bella sambil berbisik.


"Terimakasih,"jawab Ravanya tak tahu harus berkata apa lagi. Ravanya hanya menjalankan apa yang benar menurutnya.


Setelah berbincang bincang, tiba tiba seorang guru datang. Seorang pria bangsawan yang membawa sebuah biola di tangannya.


"Selamat pagi para puteri semua. Saya Dion dan hari ini kita akan belajar tentang musik,"ujar Dion kemudian memainkan biola itu.


Semua puteri terpesona akan permainan musik yang di mainkan oleh Dion, suara tepuk tangan pun mengisi seluruh ruangan itu.


"Musik adalah suatu seni yang menyampaikan perasaan lewat alunan nada dan melodi. Perasaan itu harus sampai ke hati para pendengar, perasaan itu harus masuk ke dalam relung relung jiwa mereka."Dion memainkan biola nya lagi dengan penuh penjiwaan. Sekali lagi tepuk tangan membanjiri seisi ruangan.


Ravanya ikut bertepuk tangan setelah mendengar alunan yang di bawakan oleh Dion, hanya saja di kerajaannya dulu ia pernah belajar tentang musik dan dia pun sudah pandai bermain biola, ya walaupun belum sampai sangat menjiwai seperti Dion. Ravanya terdiam memperhatikan para puteri yang saling berbisik kagum.


"Puteri Ravanya! Ku dengar di kerajaan Neutralis sudah di ajarkan ya tentang bermain musik?"tanya Dion menyadarkan Ravanya dari lamunannya.


"Iya. Saya sudah pernah belajar,"jawab Ravanya.


"Kalau begitu coba tunjukan pada kami,"suruh Dion. Ravanya terkejut dan memperhatikan orang orang yang kini sudah menatap ke arahnya. Dengan Ragu ia pun bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Dion.


Ia mengambil perlahan biola yang di berikan Dion lalu mengangkat dan menyimpannya di atas bahu. Sekali lagi ia menatap ke arah para puteri yang menontonnya. Ia tersenyum lalu memejamkan matanya dan mengalun dengan perlahan.


Daylan


Ravanya membuka matanya saat ia salah menggesek biolanya. Ia memejamkan matanya lagi dan menemukan wajah Daylan disana.


"Ada apa ini, kenapa wajah pangeran Daylan selalu muncul."batinnya. Ravanya menarik nafas lalu memainkan biola itu lagi, ia berusaha untuk fokus.


Prokkk prokkk prokkk

__ADS_1


Ravanya membuka matanya dan tersenyum, kemudian menundukkan badannya perlahan dan memberikan biola itu pada Dion.


"Puteri! Apa puteri Ravanya sedang tidak fokus tadi?"tanya Dion sambil menerima biola itu.


"Maaf Tuan Dion,"ucap Ravanya kemudian kembali duduk dan berjalan ke tempat duduknya.


***


Setelah kelas berakhir Ravanya berjalan sendirian. Ia menyuruh Anna untuk membiarkannya berjalan jalan sendiri.


Ravanya berkeliling istana karena bosan setelah menghadiri kelas yang kebanyakan sudah Ravanya pelajari di Kerajaan, dan bisa di bilang jika dia sudah menguasai hal itu. Ia pikir saat masuk akademi ia akan belajar sesuatu hal yang berbeda.


Tak terasa langkahnya mengantarkan dia pada kelas para pangeran, kelas mereka belum selesai. Ravanya melihat dari jauh, para pangeran sedang belajar bermain pedang. Ravanya merasa tertarik akan hal itu. Ia juga sempat berfikir untuk belajar bermain pedang juga seperti para pangeran.


Di sisi lapangan, Ravanya melihat Firlangga yang duduk dan sedang minum air. Ravanya pun menghampirinya dan duduk di samping nya.


"Kamu pasti sangat lelah ya?"tanya Ravanya melihat Firlangga yang berkeringat. Ravanya pun mengambil sapu tangan dan memberikan itu pada Firlangga.


"Pakailah ini, wajah mu basah."ucap Ravanya tersenyum memberikan sapu tangan itu.


"Terimakasih, tapi apa kelas puteri sudah berakhir?"tanya Firlangga sambil melap wajahnya. Ravanya mengangguk.


"Ya dan kelasnya sangat membosankan, karena kebanyakan aku sudah mempelajarinya di istana,"curhat Ravanya.


"Bukankah itu bagus? Kamu jadi yang paling pandai di antara mereka."ucap Firlangga sambil tertawa pelan. Ravanya menarik nafas panjang.


Ravanya memperhatikan kepergian Firlangga dan terus memperhatikannya. Sekilas ia juga melihat Daylan di sana, tengah duduk dan memperhatikan ke arahnya. Tatapan Ravanya pun beralih untuk menatap Daylan.


Saat melihat Daylan Ravanya jadi terpikir tentang kejadian di kelas musik tadi. Dalam hati ia terus merutuki dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia memikirkan Daylan saat itu? Ravanya pun tak tahu mengapa bisa demikian.


***


"Apa kau tahu Anna? Aku ingin belajar menggunakan pedang."Anna yang sedang menyisir rambut Ravanya seketika menghentikan kegiatannya lalu sedetik kemudian ia menyisir rambut Ravanya lagi.


"Seorang puteri tidak boleh bermain pedang puteri,"sahut Anna. Wajah Ravanya nampak kecewa.


"Tapi aku ingin sekali, supaya aku bisa menjaga diri,"ujar Ravanya lagi.


"Bukankah puteri sudah punya pangeran Firlangga untuk menjaga puteri?"tanya Anna sekaligus membujuk Ravanya agar tidak kukuh ingin belajar memakai pedang.


"Ah iya kau benar. Aku minta saja pada pangeran Firlangga untuk mengajari ku."seru Ravanya senang.


"Tetap tak bisa puteri. Sebuah pedang itu untuk pangeran,"tolak Anna lagi. Ravanya kembali cemberut.


"Sebentar puteri,"ucap Anna lalu bergegas pergi setelah mendengar ketukan dari pintu. Ia pun membuka pintu itu perlahan dan melihat Firlangga yang berdiri di sana. Anna pun mempersilahkan Firlangga masuk, kemudian menunggu bersama Cal di luar.

__ADS_1


"Pangeran Firlangga,"seru Ravanya antusias lalu segera menghampiri Firlangga. Firlangga pun merasa bingung, kenapa Ravanya begitu senang bertemu dengannya.


"Wah ada apa puteri?"tanya Firlangga salah tingkah. Ravanya tersenyum senyum.


"Emm... Bisakah kamu mengajari ku bermain pedang?"tanya Ravanya. Firlangga langsung kaget.


"Apa? Tidak puteri itu tidak bisa."Jawaban dari Firlangga membuat Ravanya kecewa.


"Aku mohon."Ravanya menyatukan kedua telapak tangannya di dada.


"Aku bisa di marahi oleh ayah Raja jika aku mengajari mu bermain pedang,"ucap Firlangga lalu akan memegang pundak Ravanya. Tapi dengan segera Ravanya menghindar.


"Kita kan bisa belajar secara diam diam pangeran,"kukuh Ravanya berjalan menjauh dari Firlangga.


"Maaf puteri. Tapi.... mungkin aku akan memikirkan nya lagi bagaimana?"Firlangga mengikuti langkah Ravanya sambil membujuknya.


Saat itu Ravanya tersenyum begitu lebar, ia berbalik dan memeluk Firlangga secara tiba tiba.


"Terimakasih Pangeran."Firlangga mengeratkan pelukan itu, sambil melihat kearah jendela saat ia melihat sayap hitam yang muncul dan hilang begitu saja.


"Apa Pangeran Daylan mengganggu mu lagi?"tanya Firlangga lalu melepas pelukan itu. Ravanya menggeleng.


"Tidak. Memangnya kenapa?"tanya Ravanya.


"Apa boleh jika setiap malam aku menunggu mu tidur?"tanya Firlangga. Ravanya berfikir sejenak.


Ravanya sudah menganggap Firlangga ini sebagai sahabat nya sendiri. Sahabat yang selalu menemaninya dari kecil. Ravanya mengangguk.


"Tapi jangan pernah mencium ku secara diam diam ya."tegas Ravanya. Firlangga jadi salah tingkah.


Apakah Ravanya tahu jika ia mencium keningnya tadi malam?pikir Firlangga sambil menggaruk tengkuknya.


"Iya,"


***


"Pangeran, kenapa pangeran cepat sekali kembali?"tanya Bert pada Daylan yang tengah menutup sayapnya.


"Tidak apa apa. Lain kali saja aku minta maaf padanya. Dia juga terlihat baik baik saja,"jawab Daylan.


"Bert bisakah kau membawa kan aku buah buahan? Aku sangat lapar,"lanjut Daylan di balas anggukan oleh Bert.


"Pantas saja Firlangga marah, Ravanya itu kekasihnya ternyata. Tapi kenapa Ravanya menganggapnya hanya sahabat?"gumam Daylan sambil tertawa ringan.


"Kasihan dia."

__ADS_1


***


Bersambung.....


__ADS_2