Arrive

Arrive
17 Rencana Jalan Jalan


__ADS_3

Yeeeee


Semua murid kelas 12 bersorak gembira. Ujian telah selesai tinggal menunggu hari kelulusan dan tak sabar menanti jalan jalan edukasi beberapa hari lagi. Termasuk aku, tapi aku harus segera menyelesaikan tugas portofolio sejarah ku.


Aku berjalan keluar dari ruang ujian bersama Nina. Sedari tadi Nina hanya memperhatikan Handphonenya saja. Begitu serius.


"Nin Lo liat apa sih?"aku mencoba untuk mengintip ponselnya.


"Whoaaa. Ran liat,"ucapnya berteriak histeris. Ia kemudian menunjukan layar Handphonenya ke depan wajahku.


Si pembawa pesan di temukan menghilang di sel nya beberapa hari yang lalu. Kemana perginya?


Sebuah judul artikel yang memberi tahu bahwa si pembawa pesan telah menghilang dari sel penjaranya.


"Si pembawa pesan kabur?"aku mengangkat kedua alis ku tak percaya.


"Iya deh. Tapi kata artikelnya polisi gak nemuin jejak kabur dan lagi penjara nya tertutup banget,"ujar Nina sambil menscroll layar ponselnya antusias.


"Aneh,"gumamku pelan.


Kemana perginya si pembawa pesan itu?


Aku pikir orang itu pasti telah kabur dari penjaranya tapi jika benar kabur dia pasti mudah tertangkap karena semua orang sudah tau wajahnya. Terus penjara nya benar benar tertutup selain itu juga dia di tempatkan di sel isolasi dengan penjagaan yang ketat. Jadi bagaimana bisa ia pergi dan kemana perginya.


"Jadi ke perpus?"tanya Nina membuyarkan lamunan ku.


"Eh iya. Ya jadi dong yaudah yuk,"ajak ku kemudian menarik Nina ke perpustakaan sekolah.


Sesampainya kami di perpustakaan kami segera masuk ke ruangan yang penuh buku itu. Aku tak begitu suka membaca buku apalagi buku pelajaran. Tapi untuk novel dan komik aku benar benar menyukainya khususnya genre romantis.


"Bu buku sejarah sebelah mana ya?"tanya ku pada guru penjaga perpus yang tengah membereskan buku buku lama.


"Cari aja di rak ketiga di pojok,"ucapnya sambil menunjukkan jari nya ke tempat yang di maksud. Aku pun mengangguk paham dan menuju ke sana.


Aku melihat banyak sekali buku disana dan semua nya tebal tebal. Aku meraba satu persatu buku disana juga mencari buku sejarah yang tepat. Hingga aku menemukan satu buku yang pas. Aku menarik buku itu perlahan membaca sekilas isinya kemudian menangkupnya di tanganku.


Aku rasa buku ini cukup untuk acuan portofolio ku. Daftar isi nya lengkap dan lumayan tebal pasti memuat beberapa informasi yang tak aku dapatkan di internet.


"Nina gue udah dapet nih bukunya,"ujarku melirik ke samping. Tapi tidak ada siapapun disana aku hanya sendirian. Dengan segera aku membawa buku itu ke meja penjaga perpustakaan untuk di data peminjaman nya.


"Nina Lo lagi ngapain?"tanya ku melihat Nina yang sedang memilah milih buku novel lama yang tadi sedang di bereskan oleh penjaga perpustakaan.


"Lagi milih novel sama buku lama. Ibu nawarin barangkali kalian mau. Cari aja yang masih bagus sebelum di kirim buat di daur ulang,"ucap Bu Ira guru penjaga perpustakaan itu sambil mencatat peminjaman buku ku.


"Beneran Bu boleh?"aku mengambil kembali buku sejarah ku.

__ADS_1


"Iya boleh. Sekalian bantu ibu ya,"balas Bu Ira.


"Iya Ran cepetan sini kita juga belum boleh pulang kan,"ujar Nina masih asyik memilah buku.


"Loh kok belum boleh pulang?"


"Iya Bu soalnya mau ada pengumuman buat jalan jalan edukasi itu,"jawabku lalu menghampiri Nina dan ikut memilih buku.


"Oh gitu."angguk Bu Ira mengerti.


***


"Bu Terimakasih ya,"ujarku dan Nina berbarengan kemudian meninggalkan perpustakaan. Bu ira hanya tersenyum.


Kami berdua berjalan menuju aula untuk mendapatkan pengumuman dari para panitia kelas dua belas tentang acara jalan jalan edukasi beberapa hari lagi.


Aku menatap ruangan itu yang hampir penuh kemudian mata ku tertuju pada beberapa bangku kosong di barisan ke empat disana. Dan Disana juga ada beberapa teman kelas kami.


"Kalian dari mana?"tanya Hesty menatap ke arah kami.


"Dari perpus,"jawab Nina duduk di samping Hesty lalu aku pun ikut duduk di samping Nina.


Kami terduduk diam menunggu pengumuman yang masih belum dimulai mungkin karena siswa dan siswi lainnya yang belum berkumpul.


Sambil menunggu aku membuka sebuah buku yang aku dapatkan di perpus tadi. Bukan buku pelajaran sejarah tapi sebuah buku yang agak unik menurutku.


"Oh ini buku diary tapi ibu gak tau punya siapa. Ini juga buku nya udah lama."Bu Ira mengembalikan buku itu ke tanganku.


Sebuah buku dengan sampul berwarna coklat seperti kayu, tak ada judul apapun disana. Aku pun membuka nya perlahan. Aku raba kertas di halaman pertama itu, kertasnya seperti masih baru dan buku nya pun masih bagus padahal aku menemukan ini di tumpukan buku yang hancur di makan rayap.


"Bu kok buku ini gak di makan rayap kayak yang lainnya?"tanya ku penasaran.


"Ibu juga gak tau mungkin itu kertasnya khusus. Buku itu sudah lama disini dan ibu juga pernah membacanya tapi ibu gak ngerti itu diary siapa dan tentang apa,"ucap Bu Ira sambil memasukan buku buku yang di makan rayap itu ke sebuah kardus besar.


Aku menatap kembali buku itu dan mulai membaca sebait tulisan di halaman pertama buku itu.


Ini untukmu. Jika kamu rindu tulislah tentang kita disini. Ini dari ku khusus untukmu.


"Bu buku nya aku ambil ya,"ucapku setelah membaca halaman pertama dari buku itu. Hanya beberapa kalimat saja yang ada di halaman pembuka tapi dilihat dari isi tulisannya ini sungguh romantis.


Yeeeeeeee


Sorak semua orang menyadarkan ku. Aku menatap ke sekeliling dan semua tengah bersorak dan bertepuk tangan gembira.


"Loh Nin ada apa?"tanya ku bingung yang melihat Nina dan yang lainnya ikut bersorak juga.

__ADS_1


"Destinasi jalan jalan nya di tambah, terus jalan jalan nya seminggu bukan lima hari."balas Nina gembira. Seketika senyum muncul di wajahku aku pun ikut bersorak.


Angkatan kelas dua belas memang mengadakan suatu jalan jalan edukasi mengelilingi situs sejarah di negara Alphetis. Tidak semua sih karena negara Alphetis itu cukup luas. Jadi kami telah memilih beberapa tempat yang memang menakjubkan dan bagus juga mempunyai nilai sejarah.


Selama satu Minggu penuh kami akan berkeliling di kota "Langgavanya". Kota itu di beri nama berdasarkan nama Raja dan Ratu pertama Alphetis dan konon katanya di kota itu lah semua tentang Alphetis berasal jadi banyak sekali situs sejarah disana selain itu Langgavanya juga di jadikan ibu Kota negara Alphetis. Kota itu terletak lumayan jauh dari kota ku sekarang yaitu kota Arafura.


Alphetis pula merupakan negara yang maju di belahan daratan Bhilbhut kanan. Diantara negara negara lain Alphetis merupakan negara yang memiliki banyak sekali sumber daya alam dan teknologi yang maju. Beruntung Raja Firlangga dan Ratu Ravanya dapat pergi dari peperangan Bhilbhut kiri kemudian mendirikan negara disini.


Daratan Bhilbhut itu terbagi dua yaitu kiri dan kanan. Nah yang kiri itu lah tempat kerajaan kerajaan kuno itu berdiri dan letaknya benar benar jauh dan di batasi oleh laut ganas berkabut membuat siapapun tak ada yang berani kesana. Makanya saat si pembawa pesan itu datang mereka terheran heran. Termasuk aku dan kini si pembawa pesan itu menghilang. Itu sangat aneh, pikirku.


"Ran pengumuman nya udah selesai Lo gak mau pulang?"tanya Nina berdiri dari kursi nya begitu juga dengan siswa siswi yang lain. Aku kembali melamun rupanya.


"Oh yaudah ayo pulang,"ucapku kemudian berdiri dan keluar bersama Nina dari aula itu.


"Lo pulang sama Rangga atau Daniel?"tanya Nina.


"Gue bawa motor sendiri,"jawabku.


"Tumben,"ujarnya. Kami memang berangkat bersama naik motor masing masing. Tapi ya tumben sekali memang seharian ini di sekolah aku tak bersama dengan Rangga dan Daniel aku rasanya bebas.


"Gue duluan ya,"Nina pergi duluan bersama motornya dari parkiran. Aku melambai padanya kemudian berjalan menuju motorku. Dan disana sudah ada Rangga dan Daniel yang sedang menunggu.


Aku mendelik sebal baru saja aku merasa bebas.


"Ran tau gak?"tanya Rangga.


"Ya enggak lah. Emang apaan?"tanya ku balik.


"Kamu mau duduk sama Rangga atau aku?"kini Daniel yang mulai bertanya.


"Gue kan bawa motor sendiri,"jawabku sebal. Mereka ini kenapa sih jelas jelas mereka tau kalau aku membawa motor.


"Bukan pulang tapi di bis,"ujar Daniel lagi. Rangga mengangguk pelan.


"Lah emang kita satu bis?"tanya ku bingung. Jalan jalan edukasi itu memang menggunakan bis untuk transportasi nya, satu bis juga memang untuk dua kelas karena jumlah perkelas hanya tiga puluh orang dan jumlah kursi bis yang lebih dari enam puluh kursi. Tapi bukankah kelasnya berurutan dan urutan kelas ku dengan mereka itu jauh.


"Iya. Tadi Lo dengerin semua pengumuman nya kan? Nah buat bis dua kelas itu di random kelasnya dan kelas gue sama kelas Lo."ucapan Rangga membuat ku sedikit mengerti.


"Oh gitu gue tadi gak ngedengerin banget,"ucapku lalu mengambil helm dan memakaikannya di kepalaku.


"Jadi kamu mau duduk sama siapa?"tanya Daniel lagi.


"Nina,"gumamku lalu menatap ke arah mereka berdua. Dan mereka tampak kecewa, aku hanya terkekeh melihat mereka.


"Udah ah Ayo pulang,"ajak ku pada mereka yang masih terdiam kecewa.

__ADS_1


***


TBC.....


__ADS_2