
Aku turun dari motorku, melepas helm kemudian menyimpannya di atas jok motor. Aku merapikan rambut sebahuku yang sedikit berantakan melalui kaca spion motorku. Setelah dirasa semua nya telah rapih, dari lapangan parkir aku masuk menuju sekolah.
Aku masih berfikiran aneh terhadap Rangga, saat kemarin malam aku menemui dia di seberang jendela kamarku yang kebetulan bersebrangan dengan jendela kamarnya.
"Rangga!" Ujarku yang melihat dirinya kebingungan."kenapa lo tengah malem gini belum tidur?"
"Eungg... Gue... Gue insomnia," ucapnya sedikit ragu ragu dengan ekspresi seperti menyembunyikan sesuatu.
Aku menyipitkan mataku kemudian kembali bertanya padanya,"Lo kenapa tadi liatin ke arah jendela gue?"
Rangga seperti kebingungan menjawab dan terlihat raut wajahnya sedikit cemas.
"Kenapa lo kayak cemas gitu sih?" tanyaku lagi padanya. Seketika ekpresi wajahnya berubah seperti tak suka.
"Apaan sih gue bilang gue ini insomnia, udah sonoh tidur," suruhnya dengan nada yang sedikit kesal, kemudian ia menutup jendela dan gordennya sehingga aku tak bisa melihat apa yang terjadi padanya.
Brukkk
"Aduh."
Pikiranku tentang kejadian malam tadi buyar saat aku menabrak tubuh seseorang. Aku mengusap keningku yang terbentur pelan dengan dada nya yang bidang.
"Maaf,"ucapku sambil mengangkat kepala agar aku bisa melihat siapa yang aku tabrak barusan.
Seorang lelaki, kemudian ia tersenyum lalu pergi begitu saja. Dan tatapannya itu seperti aku pernah lihat sebelumnya tapi entah dimana? Aku sudah lupa.
Aku kembali berjalan menuju kelasku yang tinggal beberapa langkah lagi dan melupakan kejadian barusan.
Aku yang baru saja selangkah masuk ke kelas, gendang telingaku sudah di buat bergetar oleh suara cempreng Nina,
"RANIIIIIIII."
"Ada apa sih, masih pagi udah teriak teriak" ujarku sambil menutup mulut Nina. Bisa bisanya dia berteriak sekeras itu sepagi ini.
"RANI TADI PACAR LO KESINI," teriakannya memekik telinga aku pun kembali menutup mulutnya.
"Gak usah teriak teriak juga kali Nin, gue denger kok" ujarku kemudian kembali membiarkan Nina bicara.
"Lagian bilang gak punya pacar padahal punya, jahat Lo punya pacar tapi gak cerita ke gue" ujarnya kemudian ia melipat kedua tangan di dada.
"Pacar apaan ya ampun, dari kemarin kan gue bilang gue gak punya pacar," ucapku kemudian mendaratkan pantatku diatas kursi tempat dudukku. Dan Nina juga ikut duduk di sebelah ku dengan ekspresi seperti aku telah membohonginya. Padahal dari dulu aku memang tak punya pacar jika punya aku pasti cerita pada Nina.
"Rani serius lo itu punya pacar, tadi dia kesini nanyain Lo tapi gue bilang Lo nya belum dateng," ujar Nina menjelaskan.
"Ha?" tanyaku bingung.
Nina kemudian menarik nafas panjang lalu kembali berkata, "Ya pokoknya Lo itu punya pacar dan Lo gak cerita sama gue," ucapnya mendengus sebal.
__ADS_1
Aku mengangkat sebelah alisku.
"Gue serius Nin gue gak punya pacar, Lo kok gak percaya sih?"
"Ya gimana gue gak percaya, gue kan udah ketemu sama pacar Lo,"
"Dia datang ke sini?"
"Iya,"
Aku mulai berpikir apakah orang yang Nina maksud itu adalah orang yang tadi pagi aku tabrak, karena rasa rasanya aku pun belum pernah melihat orang itu hanya saja tatapannya itu yang tak asing.
Atau mungkin yang Nina maksud itu Rangga, Nina bilang 'pacar' aku itu murid baru kemudian kemarin dia mengirim pesan pada ku tapi yang ku temukan hanya Rangga yang sedang menatapku.
Aku bertanya pada Nina untuk memastikan,
"Memang namanya siapa?"
"Pacar Lo ganteng banget ya ampun, gue gak nyangka Lo bisa dapet yang kek begitu," ujarnya malah menceritakan yang lain lain.
"Nina gue nanya namanya bukan tampangnya."
"Iya gue tau, Lo mau ngetes kan apakah gue mengenal pacar Lo atau tidak iya kan?" jawab Nina malah ngelantur kemana mana, "gue tau sebenernya Lo pura pura nanya aja kan sebenarnya Lo pasti tau, iya kan?"
"Iya iya cepetan sebutin siapa namanya nya," suruhku agar Nina tidak bertele-tele.
"Da...ni..el...."
"Ha?"
Daniel?Siapa dia?, aku pikir Nina menganggap aku berpacaran dengan Rangga, tapi keluar nama yang berbeda dari mulut Nina.
Aku terdiam bingung memikirkan siapa Daniel itu? Bagaimana bisa dia jadi pacarku? Siapa sebenarnya dia?
"Rani gue bener kan?Rani." Nina menepuk pundakku dan membuat ku keluar dari pikiranku yang kebingungan.
"Iya." entah bagaimana tapi aku hanya bisa mengucap satu kata itu, padahal aku sendiri tidak tahu siapa Daniel itu.
"Rani ada yang nyari cowok ganteng tuh," ucap Bella yang baru saja datang. Aku pun langsung menghampiri seseorang yang katanya mencariku di ikuti Nina yang mengekor di belakangku.
"Rangga? Ada apa?" tanyaku, Rangga hanya terdiam dan tak mengucap sepatah kata pun.
"Gue pikir pacar Lo yang nyari ternyata bukan," ujar Nina kemudian kembali masuk ke dalam kelas.
"Gue... tunggu Lo sepulang sekolah di taman belakang sekolah,"ucapnya pelan seperti berbisik kemudian berlalu begitu saja.
"Ada apa sih sama pagi ini, rasa nya banyak yang aneh," ucapku sambil mengusap leherku pelan kemudian kembali masuk ke dalam kelas.
__ADS_1
***
Sepulang sekolah
Seorang lelaki tampan sedari tadi duduk di kursi taman untuk menunggu seseorang yang belum datang juga padahal bel pulang sudah sedari tadi berbunyi.
Ia menunggu dengan khawatir, takut bila seseorang yang ia tunggu tidak datang menemui nya. Sesekali ia menatap ke sekeliling untuk menemukan kehadiran seseorang yang ia tunggu itu. Ia menunduk lesu ia sedikit lelah menunggu.
"Rangga,"ujarku melihat Rangga yang sudah lelah dari tadi menungguku dan itu terlihat dari raut wajahnya, "maaf tadi aku piket dulu."
"Gak papa, gue cuma mau ngomong sesuatu sama Lo,"
Aku pun menghampiri Rangga kemudian duduk di sampingnya kemudian aku menatapnya penasaran.
Apa yang akan dia katakan?
"Ngomong apa? Sebenernya ada yang mau gue tanyain juga sama Lo," ujarku sebenarnya aku ingin menanyakan tentang seseorang yang bernama Daniel itu pada Rangga bisa saja kan ia mengenalnya.
"Yaudah Lo aja dulu," ucapnya menyuruhku mengatakannya duluan.
"Gak Lo aja dulu,"
"Lo aja, takutnya penting,"
"Enggak kok ini gak terlalu penting Lo dulu aja,"
Kami berdua kemudian terdiam, bingung antara harus siapa dulu yang bicara, kami menghela nafas bersamaan.
"Rani sebenernya gue...,"kemudian Rangga mulai berbicara walau sedikit ragu ragu. Aku mendengarkan dengan seksama.
"Gue... Suka sama Lo,"
Aku tertegun mendengar ucapan Rangga barusan.
"Maksudnya?"
"Lo mau kan jadi pacar gue?"tanya Rangga lagi membuat aku bingung harus bagaimana, aku hanya bisa terdiam.
"Lo mau bilang apa tadi?" tanya nya mengalihkan pembicaraan seperti ia tahu bahwa aku sedang bingung.
"Gue mau nanya, Lo kenal sama yang namanya Daniel?" tanyaku.
"Kenal, dia temen sekelas gue dia juga murid baru bareng gue," tuturnya, ternyata pada saat itu anak baru bukan hanya Rangga, pantas Nina menyebutnya anak baru.
"Jadi jawaban Lo?"tanya nya lagi.
"Iya gue mau jadi pacar Lo."
__ADS_1
***
Tbc........