
"Hari ini cukup sekian. Terimakasih untuk kalian yang sudah mengumpulkan portofolio seni budaya yang belum segera mengumpulkan ya. Semangat belajar untuk ujian."Laki laki yang bertubuh tegap tinggi atau guru seni budaya itu meninggalkan kelas karena pelajaran hari ini telah selesai.
Aku membereskan buku dan alat tulis ku untuk segera pulang ke rumah. Selain itu aku juga harus segera mengerjakan portofolio sejarah yang minimal di kerjakan enam lembar kertas folio. Aku menghela nafas panjang.
Tanganku kita harus bekerja sama
Aku meniup kedua telapak tanganku penuh semangat kemudian menempelkan kedua nya di depan dada selepas itu aku meregangkannya ke depan.
"Rani! Lo ngapain?"tanya Nina yang memperhatikan ku bingung. Aku hanya bisa tersenyum menampakan jejeran gigi ku.
"Mengajak tangan untuk bekerja sama malam ini,"ucapku semangat.
"Oh Lo mau ngerjain tugas portofolio?"aku mengangguk."lo ngambil materinya dari buku atau internet?"tanya Nina sambil menggendong tasnya.
"Internet deh kayaknya terus nyari tambahan nya di buku. Kan harus lengkap,"ujarku sembari menutup resleting ransel ku kemudian menggendongnya.
"Iya gue juga kayaknya gitu deh."
Aku dan Nina kemudian berjalan keluar kelas kemudian terdiam melihat Rangga yang tengah menunggu ku di bawah tangga.
"Gue duluan ya,"ujar Nina kemudian melambai pergi.
"Gak bareng Nina?"tanya Rangga. Aku menggeleng.
"Beda arah terus lumayan jauh,"jelasku pada Rangga. Rumah ku dan Nina memang beda arah dan cukup jauh. Saat ke pasar malam juga kami yang menjemputnya.
"Terus Lo pulang sama siapa?"
"Sama Lo. Lo disini nunggu gue kan?"
Rangga tersenyum ke arah ku kemudian berjalan di depan ku sambil memasukan tangannya kedalam saku hodie nya. Dia memang tetangga yang baik.
"Loh ngapain ngikutin?"tanya nya lagi.
"Ha? Kita gak bareng?"aku menatapnya tak terima.
"Pulang aja sendiri, Wlee."Rangga menarik kantung matanya kebawah kemudian menjulurkan lidahnya mengejek ku setelah itu ia berjalan meninggalkanku yang mematung melihatnya sebal.
Baru saja aku puji dia. Dasar!
"Rangga!"aku berteriak mengejarnya dan dia malah berlari menjauh dari ku sambil tertawa mengejek.
"Rangga sini Lo,"teriak ku sebal.
Aku memegang tangannya kemudian berhenti untuk mengambil nafas. Dia pun ikut terhenti dan tertawa ke arah ku.
"Capek?"tanya nya mengejek. Sebal sekali menatapnya, jelas jelas aku capek harus berlari mengejarnya sampai ke parkiran.
"Iya Capek jadi gue nebeng ya,"bujuk ku agar dia mengajak ku pulang.
"Belum boleh,"ucapnya menggeleng pelan antara mengejek dan meremehkan kemampuan membujuk ku.
"Kasih gue tumpangan ya Rangga ganteng Tetangga gue yang baik hati dan tidak sombong juga selalu menabung dan ganteng,"bujuk ku lagi. Ia tetap menggeleng. Aku mulai kesal.
__ADS_1
"Ih gue udah nyebut ganteng nya dua kali loh,"aku melipat kedua tangan ku di dada dan menatapnya sebal.
"Tetep belum boleh."
Aarrrggghhhh
Aku menahan rasa kesal ku kemudian tersenyum semanis mungkin.
"Jadi tetangga, saya harus bagaimana supaya anda mengajak saya pulang bersama?"tanya ku dengan muka yang di imut imut kan. Serius ini penghinaan. Dan dia malah tertawa lalu menundukan tubuhnya sedikit agar wajahnya sejajar dengan wajahku. Ia kemudian menepuk nepuk pipi nya.
Sial! Apakah dia minta di cium? Aku memperhatikan sekitar kemudian mencium pipi nya sekilas. Dan dia malah kaget dan memegangi pipinya yang kini merona.
"Kok gue di cium sih?"
"Lah terus maksudnya nepuk nepuk pipi Lo buat apa?"wajahku rasanya agak memanas disini. Aku membuang wajahku dari tatapannya untuk menutupi merah pipiku.
"Gue cuma ngasih tau di pipi Lo ada bekas pulpen,"ucapnya sambil membuang muka juga dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Aku memegang pipiku. Kami berdua terdiam kaku.
Tolong hilanglah rasa canggung
"Sorry gue gak sengaja,"ucapku ragu ragu. Ia terdiam tak memberi jawaban. Ia lalu berbalik menuju tempat motornya disimpan.
"Sengaja juga gak papa."gumamnya pelan sambil berjalan. Tunggu apa maksudnya.
"Lo ngomong apa tadi,"aku menyesuaikan langkahku dengannya.
"Itu apa. Ah Ayo pulang bareng,"ucapnya dengan wajah yang masih memerah. Aku mengangguk pelan lalu memegang kedua pipiku.
***
"Makasih,"ucapku sambil memberikan helm padanya.
"Iya,"jawabnya pelan. Aku kemudian tersenyum lalu berjalan meninggalkan halaman rumahnya. Tapi langkah ku terhenti.
Daniel
Aku berbalik dan syukurlah Rangga masih ada disana. Aku kembali berjalan padanya.
"Rangga! Daniel tadi masuk kelas gak?"tanya ku pelan.
"Seharian tadi gak ada,"jawabnya. Aku mulai penasaran sebenarnya kemana dia pergi apa dia punya urusan atau dia sakit. Tunggu kemungkinan kedua agak aneh tapi apakah dia punya rumah?
"Lo tau alamat rumahnya? Agak aneh sih cuma mungkin aja kan dia punya rumah,"tanya ku agak susah menjelaskannya. Ia berfikir sebentar.
"Yaudah nanti gue tanya ke wali kelas kali aja ada. Lo mau ke rumahnya kalau beneran ada?"
"Iya kayaknya."
"Gue ikut ya."Aku mengangguk.
***
Aku dan Rangga melaju menuju alamat Daniel yang di berikan oleh wali kelasnya. Kami tak tahu apakah itu alamat yang nyata atau tidak. Setidaknya kami berusaha mencari.
__ADS_1
Roda motor ini mengarahkan kami ke sebuah perumahan elit yang katanya di huni oleh para pejabat negara. Aku semakin ragu apakah alamatnya benar. Jika iya bagaimana Daniel bisa tinggal disini.
Motor kami kemudian berhenti di sebuah rumah besar ber cat putih yang terlihat sangat megah dan mewah. Kami kemudian masuk lewat gerbang yang menjulang tinggi dan menyimpan motor di halaman rumah yang luas. Apakah benar dia tinggal disini? Aku menatap kagum rumah seperti istana itu.
"Hei siapa kalian?"tanya seorang laki laki yang memakai jas hitam dengan dasi kupu-kupu kupu juga kumis yang melintang di bawah hidungnya. Sudah seperti tampilan pelayan pelayan untuk orang orang yang sangat kaya.
"Kami temennya Daniel,"jawabku tersenyum ramah. Dia menatap kami curiga.
"Kami beneran temennya Daniel kok,"ucap Rangga membantu ku.
"Apa buktinya?"tanya nya sinis. Sebenarnya Daniel itu siapa sih sampai masuk ke rumahnya saja benar benar di interogasi.
"Buktinya kita tau rumahnya,"ucapku sambil tersenyum supaya suasananya tidak terlihat sangat serius.
"Lebih baik kalian pulang dan jangan mengaku ngaku sebagai teman dari tuan,"ucap pria itu tetap sinis.
Tuan?
Daniel sepertinya orang yang terpandang. Maksudnya roh yang terpandang.
"Ini pak buktinya."Rangga menunjukan layar Handphonenya yang berisi Foto selfi kami bertiga saat di sekolah kemudian foto kami di pasar malam juga foto kami di rumah sakit saat aku di rawat. Ia menatap foto itu lekat lekat untuk memperhatikan keasliannya.
"Baiklah saya mohon maaf,"ucapnya kini percaya. Pria itu lalu menuntun kami untuk masuk kedalam Rumah Daniel itu.
Ia membuka kedua pintu kayu megah di depannya lalu mempersilahkan kami untuk masuk. Aku dan Rangga benar benar takjub.
Rumah nya benar benar mewah, ada dua pilar tinggi di tengah tengah rumah itu. Lalu disampingnya ada dua tangga di kiri dan kanan pilar itu. Selain itu sofa yang kini kami duduki benar benar empuk dan ini sepertinya benar benar mahal.
Aku mengedarkan pandangan ku melihat banyak sekali dekorasi dekorasi indah yang terlihat sangat mahal. Dimulai dari lukisan sampai lampu gantung yang berada di atas kepalaku.
Apakah Daniel benar tinggal disini?
"Tolong tunggu disini. Saya akan panggilkan tuan terlebih dahulu."Laki laki berkumis itu kemudian pergi menaiki tangga untuk memanggil Daniel.
"Rangga kira kira Daniel kenapa bisa punya rumah kayak gini ya?"aku menatap Rangga bertanya tanya. Bagaimana roh bisa melakukan ini? Apa dia itu kaya?
"Gue gak tau. Tapi rumah ini bener bener punya aura negatif yang tinggi."ucapnya agak merinding.
"Jadi disini banyak roh jahat?"Rangga mengangguk pelan.
Aura negatif? Roh jahat?
"Apa Daniel juga roh jahat?"Aku baru ingin menanyakan itu setelah mendengar apa yang Rangga katakan dan saat melihat semua ini.
"Gue gak tau,"jawabnya pelan. Rangga terlihat agak aneh apakah dia dan Daniel menyembunyikan sesuatu dari ku?
"Oh jadi kamu yang bernama Rani?"
Dia siapa?
***
TBC....
__ADS_1