
Paldro berjalan cepat menuju sebuah ruangan dimana ada beberapa orang yang menunggunya. Jangan salahkan dia lama, toh mereka saja lama mengeluarkannya dari dalam penjara.
Ia membuka pintu ruangan itu kemudian menatap sebal orang orang yang tengah menatapnya sebal juga.
"Lama sekali Kau datang kesini?"
"Balian kau juga lama membawa ku kemari."Paldro duduk di depan berhadapan dengan Barlian, seorang pria paruh baya yang seumuran dengan nya.
"Bisa kah paman tidak bertengkar. Ayah ku akan mulai bicara."kini seorang laki laki muda yang berbicara menengahi kedua pria itu.
"Terimakasih Darliam."ucap Amantha ayahnya Darliam.
"Jadi Apa yang kalian dapatkan?"tanya Amantha serius.
"Tidak ada, hanya di tuduh penipu lalu di penjara,"ucap Paldro santai. Ia memang tak pernah serius.
"Paldro!"
"Baiklah kak. Aku telah berhasil menjalankan titah mu,"ujar Paldro pada Amantha.
Paldro, Balian dan Amantha memang kakak beradik. Paldro adalah yang paling muda dan Amantha adalah kakak tertua mereka dan Amantha juga adalah seorang Raja di sana.
"Seperti yang aku katakan di telpon semua orang percaya tentang kebohongan ini. Tapi apa tujuan mu untuk semua itu? Kerjaan kuno itu lucu sekali,"ucap Paldro menahan tawanya.
"Balian apa yang kau dapatkan?"Amantha kini beralih bertanya pada Balian.
"Aku juga sudah melakukan yang kau suruh. Mengikuti mereka dan menakuti mereka. Dan anak mu itu menyebutku seorang hantu jahat dan itu sangat tidak sopan,"Balian melipat kedua tangan di dada kesal.
"Dia juga berbuat tidak sopan padaku,"ujar Paldro kesal.
"Dia memang anak yang tidak sopan kemarin saja berani nya dia akan menyerangku. Gadis itu benar benar merubah sikap anak ku,"
"Jadi apa rencana mu?"tanya Paldro penasaran dengan langkah apa yang akan di buat oleh kakak tertuanya itu.
"Saat semua orang berfikir kita masihlah kuno dan berperang mereka akan semakin tak berani datang kemari."Amantha terdiam menyesap kopinya pelan.
"Jadi ayah apa yang akan ayah lakukan untuk menghentikan sikap Daniel?"tanya Darliam.
"Tentu saja dengan mengulang masalalu kakak mu itu. Bukankah pemain nya sudah lengkap. Aku tak pernah menyangka mereka akan kembali ke kehidupan Daniel. Usaha pencarian kakak mu tak sia sia tapi aku akan membuatnya sia sia. Gadis itu tak layak untuk kakak mu."
"Kak bukankah itu berlebihan? Kau ingin mengulang perang konyol itu lagi?"tanya Paldro bingung.
Semua terdiam
"Tidak Paman rencana ayah pasti tak se konyol yang Paman pikirkan. Ayah pasti telah memikirkannya secara matang. Semua ini untuk kebaikan kakak ku juga. Siasat baik seorang ayah untuk anaknya,"ucap Darliam membuka suara. Amantha kemudian menepuk pundak Darliam bangga lalu tersenyum.
__ADS_1
"Ah benar juga. Kasihan Daniel belum bisa melupakan nya,"ujar Paldro.
"Kau tenang saja Paldro kakak kita telah menjodohkan nya dengan gadis yang tepat. Benarkan aku?"Balian ikut membuka suara.
"Sangat tepat. Lalu informasi apa yang kamu dapatkan selain itu Balian?"tanya Amantha menatap ke arah Balian setuju.
"Mereka semua akan pergi jalan jalan edukasi."
"Bagus sekali."
***
"Akhirnya gue terbebas dari tugas portofolio,"ucapku riang. Aku membaringkan tubuhku di atas ranjang. Hari tadi aku telah mengumpulkan tugas portofolio sejarah ku.
Aku merenggangkan kedua tanganku yang pegal akibat menulis banyak tadi malam. Aku lalu meronggoh remote ac yang berada di atas nakas ku kemudian menyalakannya setelah itu aku memejamkan mataku hendak tidur siang. Sampai mataku terbuka kembali karena suatu panggilan.
"Hallo?"
"......"
"Iya,"ujarku kemudian mengakhiri panggilan singkat itu.
Aku berjalan menuju jendela kemudian membukanya perlahan. Aku tersenyum mendapatkan Rangga yang sedang tersenyum juga di sebrang. Rangga yang menelpon dan menyuruhku untuk membuka jendela tapi aku tak tahu sepenting apa hingga ia menggagalkan rencana tidur siang ku.
"Gak ada sih,"ujar Rangga sambil mengusap tengkuknya pelan. Aku mengerutkan keningku kemudian melipat kedua tangan di dada.
"Ish Lo ganggu rencana gue tidur siang tau,"jawabku mengerucutkan bibir kecewa.
"Iya Lo ganggu gue sama Rani tidur siang nih."aku menoleh ke suara berat dari sampingku berdiri, Daniel. Selalu saja muncul tiba tiba.
"Enak aja Lo,"ucapku sedikit ketus pada Daniel. Aku menggeser tubuhku sedikit kemudian beralih kembali pada Rangga yang tengah adu tatap dengan Daniel.
"Eh kalian ngapain sih?"aku melerai mereka berdua. Tak ada yang menjawab. Aku menepuk jidat ku pelan. Mereka berdua saling membuang muka.
"Kalian berdua! Jalan jalan yuk sekalian beli stok makanan buat pergi besok gimana?"tanya ku membujuk mereka berdua. Mereka kemudian mengangguk pelan.
***
Kami bertiga duduk riang di depan mini market sambil menikmati es krim di sore hari. Di hadapan ketiga motor kami yang berdiri tegak dan bergelantung begitu banyak barang bebawaan. Seperti sehabis touring padahal hanya ke mini market. Aku tak mau ambil resiko jika harus memilih diantara mereka berdua.
Aku menikmati es krim kedua ku sedangkan mereka berdua masih belum menghabiskan es krim cup mereka. Aku biarkan mereka menikmati es krim mereka.
"Aduh."aku memegang kepalaku yang tiba tiba terasa membeku karena es krim. Kedua laki laki tampan itu menoleh ke arah ku khawatir.
"Ran Lo kenapa?"tanya Rangga.
__ADS_1
"Kamu kenapa?"tanya Daniel. Ucap mereka berbarengan.
"Gak papa kok."gumam ku saat rasa dingin itu mereda. Aku menatap langit.
"Pulang yuk. Gue belum beresin bawaan buat besok."aku bangkit membuang sampah es krim tersebut lalu meronggoh kunci motor dari dalam jaket denim ku.
"Loh kalian kok diem aja? Ayo pulang!"ajak ku pada Rangga dan Daniel yang masih duduk memaku di tempat.
Setelah mereka beranjak kami kemudian pulang bersama. Rangga kembali ke rumahnya dan aku kembali ke rumah bersama Daniel. Entahlah dia mau apa ikut ke rumah ku.
"Mah aku pulang,"ujarku sambil membuka pintu. Ku lihat mamah yang tengah asyik menonton tv.
"Loh kalian udah pulang ternyata. Pas banget mamah selesai masak, kalian makan gih berdua,"suruh mamah tanpa mengalihkan pandangannya pada kami.
"Tante juga ayo makan,"ajak Daniel.
"Tante udah makan. Kamu sama Rani aja ya. Tante lagi nonton sinetron nih lagi seru seru nya,"ucap mamah tersenyum ke arah kami karena sinetron yang ia tonton kini sedang iklan.
"Ayo,"kataku sambil menarik lengan Daniel menuju meja makan.
"Lo tunggu disini dulu ya gue mau nyimpen ini dulu,"tunjuk ku pada kantung kresek berukuran sedang yang penuh dengan Snack. Daniel mengangguk lalu duduk di salah satu kursi meja makan.
Aku kemudian pergi ke kamarku dan menyimpan kantung kresek juga mencharge ponsel ku. Aku lalu kembali ke meja makan dimana Daniel belum menyentuh makanannya sama sekali.
"Niel cuci tangan dulu,"ujar ku saat aku berjalan menuju wastafel untuk mencuci tangan.
Aku membuka keran air kemudian mencuci tanganku sampai bersih lalu sepasang tangan muncul dari belakang tubuhku dan ikut mencuci tangannya.
"Niel kenapa harus cuci tangannya di belakang gue sih kan bisa di pinggir,"gumam ku pelan sambil merasakan hangat dada nya yang menempel di punggung ku. Aku menjadi sedikit tersipu.
"Aku pengen disini cuci tangannya,"ujar nya. Ia kemudian mematikan keran air dan menjauh dari tubuhku. Aku membalikan badan dan melihat dia yang berjalan menuju meja makan kemudian duduk dan mulai mengambil nasi serta lauk untuk makan.
Aku kemudian berjalan dan duduk di sampingnya. Lalu memperhatikannya. Mood nya sering berubah ubah akhir akhir ini.
Dia kenapa ya?
Aku harus menanyakannya setelah selesai makan. Tapi ia tiba tiba bersuara dengan intonasi yang pelan namun aku dapat jelas mendengarnya.
"Kamu suka sama Rangga ya?"
"Apa!"
***
TBC....
__ADS_1