
Anna menjelaskan banyak hal tentang tempat tempat yang ada di akademi ini. Dimulai dari ruang kelas hingga taman yang ada di sana, kadang juga Anna menyelipkan sejarah dari akademi ini.
"Itu adalah taman bunga. Biasanya untuk kegiatan merangkai bunga, para puteri mengambil bunga dari sana,"tunjuk Anna pada taman luas dengan bunga berwarna warni, benar benar terlihat sangat cantik dan sedap di pandang.
Anna pun membawa Ravanya ke tempat yang lainnya. Setelah berkeliling di tempat khusus puteri, kali ini Anna akan membawa nya ke tempat khusus pangeran.
Sambil mendengarkan ucapan Anna, Ravanya kadang melihat ke beberapa puteri dan pangeran yang sedang berkeliling bersama pelayannya.
Ravanya juga melihat Daylan di sana, sedang berbincang dengan pelayannya dengan serius. Entah kenapa, Ravanya menjadi begitu penasaran dengan sosok Daylan. Kaki nya melangkah begitu saja menuju Daylan. Anna pun mengekor di belakang Ravanya.
"Permisi Pangeran Daylan,"sapa Ravanya Ramah. Daylan terdiam menatap ke arah Ravanya tanpa ada sedikit pun senyum di wajahnya.
Dia seperti pangeran yang dingin, pikir Ravanya.
"Ada apa kau datang kemari?"tanya Daylan.
"Aku sudah tahu dari mana kerajaan pangeran berasal. Kerajaan Minurslis ya kan? Pantas saja pangeran dapat membaca pikiranku,"ujar Ravanya sambil tersenyum. Tak ada tanda tanda perubahan di wajah Daylan.
"Kalau begitu aku pergi dulu,"pamit Daylan tapi Ravanya mencekal tangannya.
Daylan seketika terkejut karena tangannya tiba tiba di sentuh oleh Ravanya, ia melepas cekalan itu kasar dan raut wajahnya memerah marah. Daylan tak berkata apapun.
"Ah maaf pangeran. Hanya saja... Emm apa boleh pangeran Daylan mengajari ku untuk bisa membaca pikiran juga?"tanya Ravanya pelan. Daylan menarik nafas panjang lalu menghembuskan nya.
"Baiklah. Dan pelajaran pertama yang kau dapatkan adalah jangan pernah untuk menemui ku atau pun berusaha untuk berbincang dengan ku! Paham!"bentak Daylan kemudian berlalu pergi dan tak mengacuhkan pandangan orang orang yang kini menatapnya. Ia benar-benar tak peduli. Tak peduli apa apa yang bibir mereka ucapkan maupun yang hati mereka kakatakan.
"Berani sekali pangeran Daylan membentak puteri Ravanya!"
"Kenapa dia begitu kejam pada puteri Ravanya. Bukankah ia bisa menolaknya secara baik baik!"
Daylan itu tak suka berbincang dengan orang yang tak begitu ia kenal, apalagi jika dia seorang puteri, dan puteri itu menyentuh dirinya seenaknya saja. Daylan bukan tak suka pada perempuan, ia hanya berusaha memusatkan fokus nya untuk belajar di akademi ini. Oh ya dan satu hal lagi, Daylan itu tidak suka dengan orang yang banyak berbicara terlebih jika itu suatu hal yang tidak penting.
"Pangeran Daylan apa Pangeran baik baik saja?"tanya Bert yaitu pelayannya Daylan sambil menutup pintu kamar.
"Aku tidak apa apa Bert. Namun apa salah jika aku berkata seperti itu pada Ravanya?"tanya Daylan. Bert terdiam, dia ingin menjawab jika apa yang tuannya katakan itu salah tapi ia tak berani.
"Benarkah aku salah Bert?"tanya Daylan lagi.
"Maaf pangeran, tapi menurutku seharusnya pangeran tidak berteriak padanya."Bert menunduk takut, takut jika dirinya salah berbicara.
__ADS_1
Daylan menyapu rambut hitamnya kebelakang. Ia berfikir sejenak. Lalu berteriak.
"ARRGGHH!"teriak Daylan membuat Bert semakin takut.
"Kau benar Bert aku salah. Tolong beritahu aku harus bagaimana?"pemikiran Bert salah tentang tuannya yang akan marah, nyatanya Daylan membenarkan jika dirinya memang bersalah.
BRAAKK
Pintu kamar Daylan di buka secara tiba-tiba. Dengan tangan yang mengepal Firlangga masuk ke dalam dan menatap tajam ke arah Daylan.
"APA APAAN KAU INI? BISA BISA NYA KAU MEMBENTAK PUTERI RAVANYA?"dengan marah Firlangga menarik kerah baju Daylan dan di balas dorongan oleh Daylan.
"Kau salah paham,"ujar Daylan.
"Kau membentaknya di depan mata ku. Apa itu bisa di sebut salah paham?"ketus Firlangga.
"Aku hanya tak suka tangan ku di sentuh oleh sembarangan orang. Kau mungkin tak mengerti itu, jadi tolong pergilah dan jangan buat keributan di dalam kamar ku. Dan lagi kenapa kau begitu marah? Apa Puteri Ravanya itu kekasih mu?"pertanyaan Daylan membuat Firlangga terdiam tak bisa menjawab. Ia lalu berbalik dan mengajak Cal untuk pergi.
"Ayo Cal!"ajak Firlangga. Bart pun segera menutup pintu supaya orang orang tidak terus memperhatikan ke arah tuannya.
"Bert, tolong kau jawab aku harus apa?"tanya Daylan lagi.
"Minta maaflah pada Puteri Ravanya, pangeran."ujar Bart di balas anggukan oleh Daylan.
***
Malam pun tiba
Ravanya berdiri di samping jendela sambil memperhatikan langit yang sudah menggelap. Awan yang tadi nya menyembunyikan bulan, mulai bergerak menampakkan cahaya putih bulan di langit.
Ravanya terdiam memikirkan kejadian yang terjadi tadi sore Antara dirinya dan Daylan. Dia mengira mungkin dirinya memang terlalu cerewet hingga membuat Daylan kesal. Ia menopang dagu nya dan mulai bergumam.
"Wahai angin sampaikan lah permintaan maaf ku pada pangeran Daylan, karena diri ku ini terlalu cerewet padanya."gumam Ravanya pada angin, tapi saat itu tak ada angin apapun yang menerpa dirinya.
"Angin saja tidak mau menyampaikan maaf ku,"gumam Ravanya lagi.
Ravanya mengerucutkan bibirnya, ia hanya ingin dekat dan mengenal Daylan. Selama ini dia belum pernah bertemu dengan pangeran dari kerajaan Minurslis. Bahkan ia tak tahu banyak tentang kerajaan itu, mungkin memang karena kerajaan itu jauh dari kerajaannya. Dan karena itu dia jadi ingin tahu lebih banyak lagi.
"Puteri ada Pangeran Firlangga,"ujar Anna. Ravanya pun berbalik dan menghampiri Firlangga yang datang bersama Cal dimana Cal membawa beberapa buku di tangannya.
__ADS_1
Ravanya menundukkan badan.
"Ada apa Pangeran datang malam malam kemari?"tanya Ravanya. Dengan matanya Firlangga mengkode Cal untuk menyimpan buku yang ia bawa ke dalam rak, lalu menyuruh Anna dan Cal pergi.
"Aku membawa beberapa buku untuk mu. Ngomong ngomong apa aku mengganggu malam puteri?"tanya Firlangga.
"Setelah melihat langit aku memang berniat untuk tidur. Tapi tak apa kita bisa berbincang dulu sebentar."
"Baiklah puteri tidur saja."Ravanya menggeleng.
"Kamu sudah datang kemari, tak mungkin aku meninggalkan mu tidur."Firlangga tersenyum lalu menarik Ravanya menuju Ranjang dan menyuruh Ravanya untuk berbaring.
"Puteri tidur saja dan aku akan menuggu sampai puteri tertidur."Firlangga membukakan selimut untuk Ravanya, dan dengan ragu Ravanya naik ke atas Ranjang untuk berbaring.
Firlangga menyelimuti Ravanya lalu duduk di sampingnya kepala Ravanya. Dengan Agak khawatir Ravanya melihat ke arah Firlangga.
"Puteri tak perlu cemas soal pangeran Daylan. Aku akan selalu ada untuk puteri,"ujar Firlangga seolah tahu bahwa Ravanya sedang cemas tentang kejadian tadi sore.
"Terimakasih."Ravanya tersenyum, lalu memejamkan matanya.
Ravanya dan Firlangga itu sudah berteman sedari kecil, jadi Ravanya tahu bahwa Firlangga memang sangat melindunginya. Ravanya dapat merasakan bahwa Firlangga masih duduk di sisi nya dan ia pun memperdalam tidurnya.
Firlangga memperhatikan wajah polos Ravanya yang tengah terlelap, dalam hati ia tek pernah berhenti memuji kecantikan Ravanya. Ia berusaha menahan dirinya untuk tidak mengecup bibir merah muda itu, maka dari itu ia hanya mengecup kening Ravanya pelan lalu pergi meninggalkannya.
Firlangga membukakan pintu dan mendapati Anna dan Cal berada di sana.
"Puteri Ravanya sudah tertidur, kau boleh pergi ke kamar mu."ucap Firlangga pada Anna. Dengan segera Anna masuk ke dalam kamarnya yang letaknya tepat di samping kamar Ravanya, ada pintu kecil juga yang menghubungkan kamarnya dengan kamar Ravanya, sehingga jika ada apa apa Anna bisa dengan mudah melihat keadaan Ravanya.
Setelah di rasa bahwa Ravanya tertidur dengan pulas, Anna menutup pintu penghubung itu lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Namun satu hal yang Anna lupakan, ia belum menutup jendela kamar Ravanya. Jadi Dengan mudah Daylan masuk ke dalam sana.
"Ternyata dia sudah tidur."Daylan membuka sayapnya lagi setelah mendapati Ravanya telah tertidur pulas. Tadinya ia ingin meminta maaf tapi ya sudahlah lebih baik besok saja, pikir Daylan kemudian pergi.
Ravanya yang mendengar sesuatu dari luar jendela mengerjapkan matanya lalu terduduk di atas ranjang.
"Apa itu?"Ravanya turun dari ranjang lalu mengambil satu helai bulu hitam yang tergeletak di atas lantai, ia lalu menatap ke arah jendela namun ia tak menemukan apa apa.
Ravanya lalu tutup perlahan jendela itu dan kembali tidur dengan sehelai bulu hitam di dalam laci nya.
__ADS_1
***
Bersambung......