
Langkah ku terhenti di sebuah pintu besar bertuliskan.
GALERI DAN PERPUSTAKAAN
Untuk apa aku di bawa ke sebuah perpustakaan apakah interogasi akan di langsungkan disini. Pikiran ku jadi kacau, menerka nerka apa yang mungkin terjadi di dalam sana. Daniel menggenggam tanganku membuat rasa tenag menimpa pikiranku. Aku tersenyum padanya.
"Silahkan masuk,"ujar pak Beval dengan sopan. Sebenarnya aku tak mengerti dengan jalan pikiran pak Beval sikap nya terbilang sangat sopan untuk seorang 'tahanan migrasi ilegal' seperti kami.
Aku dan Daniel melangkahkan kaki dan masuk perlahan. Ku lihat ruangan itu sangat besar dan megah yang terbagi menjadi dua. Di sisi kanan nya banyak rak rak tinggi yang berisi banyak sekali buku. Sofa disana pun begitu mewah untuk sekedar membaca buku. Mungkin ini adalah perpustakaan kerajaan.
Di sisi kiri ruangan terdapat banyak sekali lukisan yang di pajang memenuhi suatu tembok besar. Kami di arahkan untuk masuk ke sisi kiri ruangan untuk lebih dekat melihat lukisan lukisan itu. Dari dekat lukisan itu ternyata merupakan gambar dari raja dan ratu yang menjabat sebelumnya. Terlihat dari tulisan di bawahnya yang sekilas aku lihat.
Selepas itu aku melihat Rangga tengah duduk mengobrol bersama Raja dan Ratu beserta Putri nya di sebuah meja bundar dan tengah membincangkan sesuatu yang aku tidak tahu. Tapi mengapa Rangga terlihat santai sekali berbicara dengan mereka. Ini tidak terlihat seperti sedang diinterogasi.
"Raja Alison kami datang,"gumam pak Beval kemudian menunduk memberi hormat. Aku dan Daniel mengikuti gerakan itu perlahan.
"Benar kamu yang bernama Rani?"Raja bernama Alison itu bertanya pada ku dengan heboh.
"I-iya memangnya kenapa?"tanya ku dengan nada se sopan mungkin.
"Kalian berdua duduk lah dulu,"ucapnya mempersilahkan kami. Aku dan Daniel kemudian duduk di samping Rangga senyaman mungkin. Rangga tersenyum lebar pada ku, ia terlihat sangat senang, entah kenapa?.
"Sebelumnya kami akan memperkenalkan diri. Saya Raja Alison. Ini istri saya Ratu Alisa--tunjuknya pada wanita paruh baya di sebelah kirinya-- dan ini anak saya Rilianza--tunjuknya pada gadis perempuan yang umurnya terlihat sedikit lebih muda dari ku--Salam dari kami."dengan serempak mereka mengangguk dan tersenyum seolah memberi hormat pada kami. Aneh sekali mana ada Raja yang memberi hormat pada tahanannya.
"Maaf Raja Alison apa yang anda lakukan? Bukankah kami akan diinterogasi?"tanya ku tetap dengan nada yang sopan. Ia tersenyum ke arah ku.
"Kami harus bersikap sopan pada reinkarnasi leluhur kami bukan?"ucapnya.
Aku mengerutkan alis ku bingung tak paham dengan apa yang mereka maksudkan itu. Aku menggaruk pelan kepala ku bingung.
"Maaf tapi saya tidak mengerti apa yang Raja katakan."Ia malah membalas dengan tersenyum pelan kemudian menunjuk sesuatu di belakang ku. Aku pun menoleh karena penasaran.
Mataku membulat kaget kemudian menghampiri lukisan besar itu. Tubuhku langsung bergetar setelah membaca tulisan di bawah lukisan itu.
__ADS_1
"Ini semua tidak lucu."aku mulai menaikan nada suara ku tak percaya dengan yang kulihat ini.
"Kami memang sedang tidak bercanda. Rani, Rangga kalian adalah reinkarnasi dari Ravanya dan Firlangga."
Ini sesuatu yang benar benar di luar dugaan ku, kulihat sekali lagi lukisan besar dengan gambar Ratu Ravanya dan Raja Firlangga sewaktu masih remaja tengah tersenyum bahagia.
Memang saat mengerjakan portofolio sejarah aku tak pernah menemukan suatu foto yang menunjukan Raja dan Ratu Alphetis yang pertama itu saat remaja dan hal itulah yang membuatku tidak tahu jika wajah Ratu Ravanya begitu mirip denganku.
"Gak ini gak mungkin. Aku bukan Ratu Ravanya aku bukanlah dia,"teriak ku histeris sambil menunjuk lukisan itu gemetar.
"Tapi suatu ramalan memang pernah mengatakan kalau kalian akan kembali ke sini dan ramalan kedatangan kalian itu benar."Ratu Alisa memegang pundak ku berusaha untuk menenangkan ku. Aku menjauhkan tangannya pelan.
"Gak mungkin. Kami pasti hanya mirip."aku tidak terima dengan ke adaan ini. Aku bukanlah Ratu Ravanya aku hanyalah seorang gadis biasa disini.
"Kami yakin ini benar karena kalian datang bersama kemari. Dan itu bukanlah sebuah kebetulan,"tutur Raja Alison dengan lembut.
"Rani kita harus terima takdir kita."ujar Rangga agar aku menerima semua ini. Jika memang benar aku adalah reinkarnasi dari Ratu Ravanya dan Rangga adalah reinkarnasi dari Raja Firlangga, ini berarti sangat jelas kalau kami ada hubungan di masalalu.
Aku memegangi kepala ku yang pening dengan hal ini. Aku baru saja memulai untuk membalas perasaan Daniel. Aku takut jika dia akan sakit hati karena ini. Sungguh dia pasti cemburu besar. Tapi Daniel tak menunjukan itu disini ia malah tersenyum ke arah ku membuat aku merasa bersalah.
"Kalian tinggal lah di sini dan kalian akan kami nobatkan sebagai Raja dan Ratu baru disini,"papar Raja Alison.
"Apa?"aku dan Rangga menjerit bersamaan. Oke aku perlahan menerima jika aku memang reinkarnasi dari Ratu Ravanya tapi aku tidak bisa terima jika harus menjadi Ratu di sini. Ini suatu plot twits tak masuk akal dalam hidupku.
"Raja Alison bukankah Raja bilang kalau kami hanya akan tinggal disini untuk sementara waktu dan bukan untuk menjadi Raja dan Ratu di sini. Kami tidak bisa melakukan itu,"protes Rangga.
Aku mengangguk setuju. Bagaimana mungkin secara mendadak aku menjadi seorang Ratu. Aku tak bisa memimpin sebuah kerajaan besar.
"Kalian akan belajar tentang itu di sini,"tambah Ratu Alisa. Semua terdiam.
"Apakah mereka akan menikah dahulu sebelum menjadi Raja dan Ratu?"Daniel tiba tiba membuka suaranya.
"Tentu saja."ujar Raja Alison lalu menatap aku, Daniel dan Rangga bergantian. Kami bertiga langsung kaget bukan kepalang. Mengapa Daniel menanyakan hal itu. Aku jadi mulai khawatir jika Daniel akan bertambah cemburu.
__ADS_1
"Aku harap tidak ada cinta segitiga di antara kalian,"tukas Raja Alison.
"Tentu saja tidak,"jawab Daniel dengan senyum di wajahnya. Aku pikir dia akan marah namun itu tidak terjadi bahkan sikapnya terlihat biasa saja.
"Memang nya ada apa dengan cinta segitiga?"timpal Rangga mengerutkan alisnya.
Raja Alison menghela nafas pelan lalu berjalan mengambil sebuah buku besar yang terletak di atas meja samping lukisan besar itu. Ia membuka lembar demi lembar halaman dari buku tebal itu.
"Cinta segitiga disini merupakan sebuah sejarah yang buruk,"tuturnya kemudian membawa buku itu ke meja. Kami lalu mengikuti nya dan duduk bersamanya disana.
"Sejarah yang buruk bagaimana?"kini aku yang bertanya bingung.
Bibir nya yang tadi terkatup mulai terbuka dan ia kembali berbicara.
"Dahulu kala terjadi cinta segitiga antara kerajaan Neutralis, Plusialis dan Minurslis. Tapi karena bangsa Minurslis yang egois mereka menculik Ravanya. Kerajaan Neutralis dan Plusialis bekerja sama untuk membawa kembali Ravanya dan kami bisa membawanya kembali, lalu ia menikah dengan Firlangga. Namun setelah mereka berdua menikah kerajaan Minurslis menyerang kami. Karena kekuatan mereka kami kalah telak dan dengan susah payah kami mengirim Ravanya dan Firlangga beserta beberapa dari kami untuk pergi dari perang itu. Dan kami berhasil menyelamatkan mereka kelanjutannya pasti kalian tahu. Bukankah kalian berasal dari kerjaan yang didirikan oleh Firlangga dan Ravanya,"jelasnya.
"Apakah Raja Alison bisa menjelaskan lebih detail lagi?"pinta ku. Karena aku merasa tertarik dengan cerita singkat itu terlebih aku yang dulu terlibat di dalamnya.
"Kamu bisa membacanya dalam buku ini."Raja Alison menyodorkan buku tebal ke hadapanku lalu tersenyum.
"Jika kami tinggal disini bagaimana teman teman kami yang lain bisa pulang?"tanya Rangga.
"Kalian semua akan tetap tinggal disini. Dan kami akan memperlakukan kalian dengan baik,"jawab Ratu Alisa.
"Jadi kita tak bisa pulang?"sekarang Daniel yang bertanya.
"Selagi kita mencari cara agar kalian bisa kembali. Kalian berdua akan tinggal di istana untuk belajar menjadi Raja dan Ratu dan yang lainnya akan tinggal di Penginapan kerajaan sebagai tamu istana."tambah Ratu Alisa.
"Apa hanya kami berdua yang tinggal,"tanya ku sambil menunjuk diriku sendiri dan Rangga.
"Ya."Ratu Alisa mengangguk tersenyum.
Aku mendesah pelan
__ADS_1
***
TBC....