
"Ini mukzijat bagaimana kamu bisa pulih secepat ini?"tanya dokter muda tampan itu terkagum kagum setelah memeriksaku lagi.
"Aku gak tau mungkin ini memang mukzijat,"jawabku sambil tersenyum. Ya sedikit berbohong mana mungkin kan aku harus berkata jika luka di perutku ini sembuh karena ciuman seseorang ya seseorang mesum yang mencari kesempatan.
Daniel menatap ke arahku tersenyum seram. Ia sepertinya mendengar suara hati ku yang memang sengaja aku tekankan kalimatnya agar ia tersindir. Aku tersenyum senang.
"Jadi aku bisa langsung pulang kan dok?"tanya ku sambil menatap dokter itu. Ia tersenyum.
"Tentu saja boleh. Tapi kamu harus tetap menjaga kesehatan dan berwaspada dengan orang asing,"ucapnya tersenyum begitu manis lalu pergi keluar dari kamar ini.
"Hei apa apaan kamu, muji laki laki lain di depan pacar kamu,"ucap Daniel agak marah dan ia kini cemberut. Aku hanya bisa tertawa.
"Daniel please deh jangan so imut gitu deh. Gue gak akan luluh ya,"ujarku sambil berkacak pinggang di atas tempat tidur. Ia hanya terdiam menatap ku tajam lalu mendekat ke arahku.
"Kamu beneran gak berterima kasih ya udah di tolong, terus malah ngetawain aku,"ujarnya tetap marah tapi kini ekspresi wajahnya datar. Aku kemudian mengalihkan pandanganku dari Daniel ke Rangga yang terduduk di sofa sambil memainkan handphonenya.
aku kemudian meronggoh tas kecilku di nakas kemudian mengambil handphone ku dan ternyata sudah ada sepuluh panggilan tak terjawab dari Nina juga tujuh belas panggilan tak terjawab dari mamah. Selain itu banyak sms yang masuk dan semua menanyakan bagaimana kabarku karena melihat aku di televisi telah tertusuk juga mamah yang bilang akan datang ke rumah sakit.
Brakk
Pintu kamar rumah sakit terbuka keras dari arah luar muncul lah mamah dan juga Nina yang berlari ke arahku kemudian memelukku.
"Kamu udah di obatin kan sama dokter? terus kamu gak kenapa Napa kan? gak ada luka serius kan?"tanya mamah bertubi tubi karena khawatir begitu pun Nina yang menatapku dengan mata berkaca kaca.
"Ranii gue takut Lo kenapa Napa,"Ujar Nina kemudian memelukku.
"Gak papa kok lukanya juga gak terlalu dalem terus kata dokter aku dapet mukzijat soalnya pulihnya cepet,"ujarku tersenyum senang. Dua wanita yang aku sayangi itu pun kembali memelukku.
"Daniel? Rangga? kalian gak papa kan?"tanya mamah setelah selesai berpelukan denganku. Mereka serempak menjawab.
"Gak papa Tante,"mereka berdua saling pandang kemudian saling membuang muka.
"Syukur deh tadi mamah kamu khawatir Rangga tapi tante bilang biar Tante aja yang kesini sama Nina soalnya Nina cuma bawa motor,"jelas mamahku menatap ke arah Rangga.
"Iya Tante aku juga udah bilang kok lewat chat,"jawab Rangga sambil mengangkat pelan handphonenya.
"Ran kok bisa sih si pembawa pesan itu nusuk Lo?"tanya Nina.
"Gue juga gak tau tapi tadi dia mau nusuk Daniel?"ujarku pelan sambil menatap wajah Daniel yang masih datar. Ibuku dan Nina seketika terkejut setelah mendengar penuturan ku.
"Daniel kamu gak papa kan?"tanya ibuku khawatir lalu menghampiri Daniel kemudian memegang wajah dan tangannya perlahan.
__ADS_1
"Gak papa Tante. Maaf gara gara aku anak Tante jadi-"ucapan Daniel terpotong ketika ibu tiba tiba bicara.
"Gak kok gak papa. Yang penting Rani kan gak kenapa Napa,"ucap ibu ku tersenyum menatap Daniel yang merasa bersalah.
"Makasih Tante,"jawab Daniel lalu tersenyum.
"Ran Lo udah boleh pulang?"tanya Nina setelah ia duduk di sofa bersebelahan dengan Rangga.
"Udah boleh kok,"jawabku santai lalu turun dari Ranjangku.
"Yaudah ayo pulang,"
***
Laki laki itu terdiam di dalam penjara menatap sekelilingnya yang kosong karena dia di tempatkan di sebuah penjara isolasi dan di tuduh sebagai ******* karena tindakannya yang mencoba untuk menyerang salah satu warga Alphetis. Dan kini dia tidak lagi di sebut seorang pembawa pesan.
"Argh sial! Baju jirah ini sangat gatal,"ucapnya sambil perlahan baju jirah nya itu dan menampakkan tubuhnya yang hanya memakai kaos polos juga celana pendek.
"Dan sial juga kenapa jadi begini,"keluhnya kemudian bersender pada tembok penjara sambil menatap ke arah jeruji besi.
Ia meronggoh saku celana pendeknya kemudian mengabil sebuah benda pintar dari dalam sana. Handphone yang tersembunyi di dalam celananya itu dan lolos pemeriksaan polisi. Ia kemudian menekan sebuah nomor kemudian menelponnya.
"Semua sudah berhasil. Tapi aku malah di penjarakan disini. Mereka semua juga telah percaya,"
"Tentu saja aku yakin karena mereka itu mudah sekali percaya,"ucap si pembawa pesan itu sedikit tertawa.
"Jangan tertawa! Apakah dia ada disana?"Tanya seseorang di telpon itu agak kesal.
"Apakah aku tak boleh tertawa mereka itu sangat lucu,"si pembawa pesan itu kembali tertawa.
"BERHENTILAH TERTAWA! CEPAT JAWAB PEETANYAANKU PALDRO,"teriak orang itu marah. Paldro-nama si pembawa pesan itu- menjauhkan layar pipih itu dari telinganya.
"Ya dia ada disana bahkan gadis itu menyelamatkan dia sesuai dugaanmu,"jawab paldro mendekatkan kembali ponsel itu ke telinganya. Tak ada jawaban.
"Hallo! Jadi kapan aku bisa pulang?"tanya nya kemudian mengubah posisi duduknya.
"Ya kau akan segera pulang,"jawab orang itu. Sambungan telepon pun terputus. Paldro kemudian menyimpan handphone itu di samping tubuhnya, ia mengangkat tangan kemudian meregangkan otot otot tubuhnya.
"Hei siapa dia?"tanya seorang laki laki yang tiba tiba muncul di pojok sel penjaranya. Ia menoleh ke arah sumber suara kemudian menatap laki laki itu malas.
"Bukan urusanmu,"jawabnya ketus. Laki laki itu berjalan mendekati paldro kemudian berjongkok di hadapannya kemudian memperhatikan Paldro dengan tatapan tajamnya.
__ADS_1
"Jawab siapa dia? Siapa yang menyuruh mu?"tanya laki laki itu tegas. Paldro hanya memutar bola matanya malas.
"Bukankah kau tau sendiri siapa yang mengirimku. kenapa harus nanya lagi?"jawab paldro menatap laki laki itu sebal.
"Terus ngapain kamu kesini?"laki laki itu menarik leher baju itu kasar. Paldro menatapnya jengah.
"Harusnya aku yang bertanya, itu pertanyaan ku, ngapain kamu datang kesini,"tanya Paldro tak takut sedikitpun. Laki laki itu tetap menarik leher baju paldro bahkan mengencangkannya tarikannya hingga Paldro tak bisa bernafas.
"Ba-baiklah ak-akan a-ku be-beritahu,"jawab Paldro tersengal senggal, laki laki itu pun melepas tarikan tangannya.
"Ck kenapa sih kau ini selalu mengancam?"tanya Paldro kesal sambil memegang lehernya.
"KATAKAN!"suruh laki laki itu berteriak.
"Aku kesini cuma menjalankan misi kecil untuk mengancam seseorang,"ucap Paldro menatap laki laki itu lalu tersenyum mengejek. Laki laki itu merasa jika seseorang yang Paldro maksud itu dirinya.
"Apa maksudmu?"tanya laki laki itu bingung.
"Pulang lah Daniel kau harus pulang,"ujar Paldro sambil memperhatikan Daniel khawatir.
"Apa maksud mu? Bisa gak sih untuk tidak bertele-tele?"tanya Daniel kesal.
"Kami hanya ingin kamu pulang,"jawab Paldro meyakinkan Daniel.
"Paldro cepat katakan saja kenapa kau berniat menusuk ku?"
"Tidak aku tidak berniat menusuk mu. Aku berniat menusuk gadis itu dan ya itu berhasil,"jawab Paldro menggidikkan bahu nya acuh lalu tersenyum bangga. Daniel terdiam kemudian berdiri dari jongkoknya lalu mengacak rambutnya frustasi.
"Arghh kenapa kau lakukan itu?"tanya Daniel agak berteriak sambil menunjuk nunjuk Paldro marah.
"Dia bukan Ravanya Daniel bukan. Ravanya itu sudah mati,"Paldro kini ikut berdiri lalu mencoba untuk menenangkan Daniel.
"Tidak, dia itu Ravanya,"jawab Daniel tegas lalu menjauhkan dirinya dari Paldro.
"Terserah kau saja, iya atau tidak dia tetap bukan takdir mu. Jadi pulanglah,"suruh Paldro sambil memegang pundak Daniel pelan. Daniel menepis tangan Paldro dari pundaknya.
"Tidak aku tidak akan pulang,"ujar Daniel ketus kemudian menghilang dari hadapan Paldro. Paldro terdiam kemudian memggelengkan kepalanya.
"Kasian sekali anak itu,"
***
__ADS_1
TBC...