
Aku pergi meninggalkan Daniel dan Rangga untuk memesan makanan, selain itu juga aku jengah melihat mereka yang selalu bertengkar.
"Yah,"aku mendesah melihat antrian yang lumayan panjang dan terpaksa berdiam untuk ikut mengantri. Seseorang tiba tiba menepuk pundak ku.
"Vina?"Gumamku bingung. Seorang siswi populer itu untuk apa menepuk pundak ku. Sepertinya di juga akan mengantri.
"Lo mau ngantri juga? tapi maaf gue udah duluan disini,"ujarku menunjuk antrian yang sudah panjang.
"Gue lagi gak nafsu makan,"jawabnya ketus.
"Ya terus ngapain ngantri?"tanya ku aneh. Ia terdiam kemudian menarik ku keluar dari antrian.
"Apa apaan sih?"tanya ku kesal sambil berusaha melepas tarikan tangannya yang kencang.
"Ayo ikut gue,"ujarnya terus menarik paksa. Aku terus berusaha melepas tarikan tangannya tapi justru ia malah makin mengencangkan tarikan tangannya.
Vina bersama teman temannya membawa ku ke gudang sekolah kemudian memasukkan ku kesana.
"Cepetan iket dia,"suruh Vina pada teman temannya. Mereka menurut kemudian medudukan ku di sebuah kursi, mengikat kaki ku dengan kaki kursi serta tangan yang di ikat kebelakang. Aku berusaha melepaskan diri tapi sia sia mereka berdua empat sedangkan aku sendiri. Pintu gudang pun di tutup lalu di kunci.
Vina kemudian mendekat ke arahku dan menatapku dengan tatapan penuh kebencian. Ia memperhatikan ku dengan tatapan yang sangat tajam dan mengintimidasi.
"Gue gak pernah denger nama Lo sebelumnya. Tapi tiba tiba nama Lo di ucapkan oleh banyak orang,"
"Lo ngomong apa sih?"tanya ku kesal.
Plakk
"Gue belum selesai bicara,"Vina menamparku keras kemudian menarik rambutku kasar. Aku tak tahu apa yang dia inginkan tapi aku berusaha untuk tidak menangis.
"Gue gak tau cewek yang biasa banget kayak Lo bisa menarik perhatian laki laki. Aneh anak baru itu dua dua nya bisa deket sama lo. Lo ngelakuin apa ke mereka?"tanya nya lalu melepaskan tarikan rambutku kasar.
"Gue gak ngapa ngapain. Mereka sendiri yang deketin gue,"jawabku tapi Vina menamparku kembali.
Plakk
Aku menatapnya kesal apakah hanya karena laki laki ia harus mengikat dan menamparku seperti ini.
"BOHONG!"ucapnya kencang.
"Kalau Lo gak percaya gue gak peduli tapi tolong lepasin gue,"ujarku ketus sambil tetap berusaha menggerakkan tangan ku berharap ikatan itu bisa lepas.
Vina memberi isyarat kepada temannya dengan mengangkat telapak tangannya, dan dengan sigap temannya itu memberi Vina sebuah gunting. Aku merasa tenang sedikit seperti Vina akan melepaskan ku.
__ADS_1
"Gue gak akan lepasin Lo sebelum buat Lo Menderita,"Ujarnya kemudian berjongkok di hadapan aku duduk ia tersenyum menyeringai lalu menggunting gunting rok seragam selututku.
"Lo mau apa?"ujar ku panik melihat nya menggunting rok ku menjadi beberapa Senti di atas lutut lalu menggunting bagian sampingnya sampai paha atasku sehingga memperlihatkan pahaku.
"Diem,"gumamnya masih sibuk menggunting rok ku. Ia kemudian beralih pada lengan seragamku dan membolonginya tepat di bahu. Ia kemudian membuka satu persatu kancing seragamku hingga menampakkan kaos polos hitam yang aku kenakan. Mata ku mulai berkaca kaca apa yang akan ia lakukan terhadapku, aku berusaha sekuat tenaga ku untuk tidak menangis.
"VINA LO MAU APA SIH. GUE MOHON LEPASIN GUE,"aku berteriak kencang dan tak lama air mata yang tak bisa ku bendung mulai jatuh.
Brakk
Seseorang memukul kepala ku dengan kencang. Pusing aku merasa sangat pusing hingga akhirnya pandangan ku menggelap.
"Ayo cepetan foto foto biar di malu,"ucap Vina sebelum aku benar benar pingsan.
Brakk
Suara terakhir yang aku dengar adalah pintu gudang yang di buka paksa.
***
Aku mengerjap ngerjapkan mataku perlahan dan yang pertama kali aku lihat adalah Rangga yang berdiri di depan aku duduk hanya menggunakan kaos polos saja. Aku kemudian melihat ke arah rok ku, ternyata Rangga menutupi pahaku dengan seragamnya. Aku lalu meraba kancing seragam ku yang sudah tertutup. Aku melihat ke arahnya.
"Maaf. Tapi gue gak bisa biarin baju Lo kebuka,"jawab Rangga merasa bersalah karena telah mengancingkan baju seragamku.
"Makasih. Tapi dimana Vina sama temennya,"gumam ku pelan.
"Daniel Lo bunuh mereka?"tanya ku kaget melihat ke adaan Vina yang benar benar mengenaskan dengan darah yang bercucuran dari kepalanya.
"Iya,"ujar Daniel malah tersenyum bangga kemudian mendekat ke arahku yang menutup mulutku tak percaya. Aku mulai panik.
"Daniel tapi harusnya Lo gak bunuh mereka. Nanti apa kata seisi sekolah. Dan-"aku tak kuasa melanjutkan perkataanku. Aku benar benar tak menyangka akan jadi seperti ini.
"Harusnya mereka gak gangguin kamu,"Daniel menunjuk ke arah mayat mayat itu dengan tatapan marah.
"Tapi Daniel apa kata sekolah bahkan keluarga mereka nanti,"jawabku panik aku tak sanggup memikirkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi.
"Rani kamu tenang ya. Kamu tau kan aku ini roh tingkat tinggi dan aku ini pacarmu. Mudah saja buatku untuk membuat orang orang berpikir jika mereka mati karena kecelakaan,"Daniel berusaha menenangkanku tapi aku tetap tak bisa tenang.
Ia tersenyum kemudian mengangkat baju seragam Rangga yang menghalangi pahaku kemudian melemparnya pada Rangga. Aku tak tau dia mau apa aku takut jika dia akan mencari kesempatan lagi.
"Daniel Lo mau ngapain?"ternyata Rangga pun berpikiran yang sama denganku. Daniel terdiam kemudian memejamkan matanya.
Seketika rok sobek ku bertukar dengan rok yang masih bagus namun penuh darah. Aku melihat ke salah satu mayat disana, Dan ini adalah salah satu rok punya teman Vina yang kini bertukar dengan rok ku. Begitu pula dengan baju seragamku yang bolong di bagian lengan kini bertukar jadi penuh darah. Aku sedikit terkejut. Bagaimana bisa Daniel berbuat seperti itu.
__ADS_1
"Sudah aku bilang aku ini roh tingkat tinggi,"gumamnya bangga.
"Iya Lo emang rok tingkat tinggi kalau gitu kenapa ganti sama yang penuh darah ini, kenapa gak ganti sama seragam yang baru,"tanya ku protes.
"Yang baru kejauhan jadi yang deket aja,"
"Tapi ini banyak darah. Yaudah rok punya Vina aja kayaknya darahnya gak begitu banyak,"aku menunjuk pelan mayat Vina dengan tangan yang bergetar.
"Gak. Rok Vina itu ketat terus pendek, aku gak mau paha kamu diliatin sama Rangga kayak tadi,"gumam Daniel. Rangga membulatkan matanya kaget.
"Enak aja Lo gue gak liat apa apa,"sanggah Rangga kesal karena di tuduh yang bukan bukan.
"Gak usah ngeles Lo gue liat tadi Lo perhatiin terus paha Rani ya kan?"
"Dih gue gak gitu bukan nya Lo yang selalu mesum,"
Aku mengusap kepalaku perlahan. Pusing mendengar Rangga dan Daniel yang terus bertengkar. Di tambah rasa sakit di bagian belakang kepalaku masih terasa.
"Bisa gak sih kalian gak debat terus. Udah kita mending beresin semua ini,"ujar ku kesal. Mereka pun terdiam dan mengangguk.
Daniel lalu memejamkan matanya kembali dan tiba tiba benda benda di dalam gudang itu bergeseran dan berjatuhan, ia membuat seolah olah Vina dan teman temannya mengalami kecelakaan di gudang. Rok yang di kenakan oleh ku tiba tiba bersih dari darah seragamku yang berlubang juga kembali menjadi bersih dan rapih juga semua benar benar terlihat seperti kecelakaan.
"Dan sekarang Rangga kamu minta pertolongan, supaya mayat mereka bisa di urus,"Rangga mengangguk pasrah lalu berjalan pergi menuju ruang kepala sekolah.
"Rangga gue ik-"tangan ku dicekal oleh Daniel.
"Kamu mau kemana udah disini aja,"gumam Daniel sambil menarik ku agar berdiri di sampingnya.
"Daniel gimana kalau polisi tau ini bukan kecelakaan,"tanya ku kembali khawatir. Daniel terdiam menatapku lalu tertawa.
"Kan aku udah bilang semua orang akan menyangka ini kecelakaan. Aku sudah menanamkan di pikiran mereka kalau ini adalah kecelakaan. Apa kurang jelas?"
"Jadi Lo sihir pikiran mereka lagi? Semua ini juga terjadi karena Lo nyihir semua orang supaya berfikir gue ini pacar Lo. Gak sopan tau mainin pikiran orang,"gumam ku kesal.
"Ya terus kamu mau apa? Dipenjara?"pertanyaan Daniel membuatku terdiam, aku tak ingin di penjara tapi kan memang bukan aku yang membunuh mereka.
"Memang bukan kamu tapi pacar kamu,"
"Yaudah biarin mereka nangkep kamu,"
"Tapi kamu pasti ikut soalnya aku bakal bilang kalau kamu juga salah satu tersangka,"jawab sambil mengejek. Aku menepuk jidat ku bagaimana bisa Makhluk seperti Daniel ini masih bisa tertawa sehabis membunuh orang.
Sebenernya dia ini makhluk apa sih?
__ADS_1
"Iya yaudah aku gak mau dipenjara,"ujar ku menatapnya sebal sekaligus tak habis pikir melihat kelakuannya.
***