Arrive

Arrive
26 Jalan Menuju Masalalu


__ADS_3

"Masa depan, masa kini ataupun masalalu semuanya bagian dalam hidup yang harus diterima"


***


Aku berdiri di bawah tangga menunggu Aland yang sedang mencari buku ramalan itu.


"Aland! Ada gak?"tanya ku menengadahkan kepala.


"Belum,"ujarnya masih mencari buku ramalan itu diantara buku buku tua lainnya dengan serius.


Aku melipat kedua tanganku di dada, menatap ke sekeliling perpustakaan besar itu sambil menunggunya. Ku rasa di perpustakaan ini sangat sejuk cocok sekali untuk membaca ataupun tidur. Haha.


"Ketemu,"teriaknya lalu terburu-buru turun dari tangga dan menghampiri ku dengan semangat. Ia mengangkat buku tebal itu kehadapan ku lalu membawa ku ke sofa untuk duduk.


Perlahan ia membuka buku bersampul merah dengan judul "Harapan" lalu di bawahnya ada tulisan yang lebih kecil lagi "Ainsley Betley". Aku mengibas-ngibaskan tanganku di depan hidung karena debu serta aroma buku tua yang menyeruak dari buku itu, yang menandakan jika buku itu tak lagi di baca setelah sekian lama.


"Ainsley? Ini buku ramalan yang ada pengarangnya atau apa?"tanya ku.


"Kamu lihat buku ini berjudul harapan dan entah kenapa harapan yang ditulis di sini selau menjadi kenyataan, dan kami percaya jika buku ini seperti ramalan,"tunjuknya pada judul buku itu.


"Semua ramalan berasal dari buku itu?"


"Benar sekali. Bahkan ada buku cetak terbaru nya hanya saja itu kurang lengkap menurutku,"tegasnya.


"Ainsley itu siapa?"


"Kakek mu. Tepatnya Kakek Ravanya, nama mu kan Ravanya Betley,"ungkap Aland sambil memandang ku yang sedang terkejut.


"Jadi buku ini di tulis oleh Kakek Ravanya?"tanya ku, Aland lalu mengangguk.


"Nah coba baca yang ini,"suruhnya.


Kerajaan kita akan mengalami perubahan besar...


"Bukan yang itu,"katanya. Aku kemudian beralih pada paragraf di bawahnya.


Kerajaan ini akan kedatangan tamu yang istimewa. Mereka yang dulu sempat pergi akan kembali, mengambil apa yang seharusnya mereka miliki. Ravanya Firlangga, mereka akan kembali menyelesaikan kisah cintanya.


Aku mengerutkan dahi ku bingung


"Apa ini Alasannya aku harus menjadi Ratu?"


"Iya. Disini tertulis kalian akan mengambil apa yang seharusnya kalian miliki. Bukankah ini maksudnya kalian harus memimpin lagi?"tuturnya sambil menunjuk satu kalimat di paragraf itu.


"Kan kami sudah pernah memimpin, untuk apa ada lagi?"tanya ku tak mengerti.


"Menurut cerita sejarah kalian belum memimpin disini karena kalian telah di kirim pergi untuk di amankan dari perang,"tutur Aland lagi.


Mulutku menganga tak percaya. Jadi itu alasannya tapi apakah aku harus melakukan ini. Ravanya yang dulu dan sekarang itu berbeda. Aku ini Rani bukan Ravanya.


"Masih tak percaya? Coba baca kalimat berikutnya,"suruh Aland setelah ia memegang keningnya sebal.


"Iya iya,"

__ADS_1


Mereka pasti datang. Membawa perubahan dan penerangan. Ravanya akan datang, datang mengambil kehidupan, kehidupan nya sendiri.


Setelah membaca tulisan itu aku langsung teringat pada ucapan Kakek. Aku tertegun. Kalimat itu hampir sama seperti yang di ucapkan kakek. Aku meraba leherku dimana kalung pemberian Kakek tergantung disana.


Jadi bukan seseorang yang akan mengambil kehidupanku tapi akulah yang mengambilnya sendiri. Namun kehidupan macam apa yang dimaksud?


"Ini Maksudnya kehidupan apa?"tanya ku pada Aland, dan aku rasa dia cukup pintar sejauh ini.


"Mungkin...,"Aland berfikir sejenak."kehidupan cinta?"lanjutnya.


"Kamu tahu kan karena cinta kerajaan kita ini berperang melawan kerajaan Minurslis yang penuh iblis itu. Cinta dan berperang itu sangat menyedihkan menurutku,"tambahnya. Aland kemudian bersender pada sofa dan menatap langit langit perpustakaan yang tinggi, seperti sedang membayangkan sesuatu.


"Andai aku ada pada masa itu. Kehidupan cinta Ravanya pasti lebih baik,"gumamnya pelan tapi tetap terdengar oleh telingaku.


"Jadi aku akan mendapatkan kisah cinta yang lebih baik?"aku menatapnya yang masih menatap sesuatu di langit langit.


"Aku rasa begitu,"jawabnya sendu.


"Apakah itu bersama mu?"canda ku menggodanya dan dia langsung memandang ku tak terima.


"Jangan salah paham aku ini kagum pada Ravanya bukan dirimu,"gerutunya. Aku tertawa pelan.


"Tenang saja aku itu gak suka sama orang yang lebih muda. Aku ini gak suka bocah,"aku terkekeh pelan sambil mengacak rambut Aland. Wajahnya memerah marah.


"16 tahun itu bukan bocah ya,"ketusnya. Aku lanjut tertawa sambil memegangi perut ku yang sakit karena lelucon ini.


"Dan lagi hanya ada Firlangga di hati Ravanya,"cicitnya pelan.


"Ha?"


"M-mungkin,"jawabku menggidikan bahu acuh. Aland mengernyitkan alisnya bingung.


"Apa kamu menyukai Rilianza?"tanya ku untuk mengalihkan pembicaraan ini.


"Yang ada dia yang menyukai ku,"ujarnya sambil menunjukan raut tak suka.


"Itu bagus. Kamu bisa move on dari ku dan menikah dengan Rilianza,"canda ku lagi menghiburnya.


"Aku belum ingin menikah. Aku juga tak pernah menyukai mu,"ketusnya. Aku kembali menertawakannya.


"Kamu kan bukan bocah lagi."aku tertawa kencang dan dia menatapku sinis.


"Rani!"panggil seseorang.


Aland dan Aku serempak berbalik. Ternyata Rilianza yang memanggilku, dan dia tidak memanggilku dengan sebutan Kakak seperti pada Rangga dan Daniel. Dan sekarang dia juga menatapku tajam.


"Apa?"tanya ku ketus padanya.


"Sedang apa kamu bersama Aland disini?"tanya nya sinis. Tak bisa kah dia memperlakukan ku dengan ramah? Memang tak salah aku memberinya julukan Putri yang menyebalkan, karena dia memang sangat menyebalkan.


"Jumpa fans,"ujarku mencoba menahan jengkel ku padanya dengan tersenyum. Tapi dia malah memutar bola matanya malas di depanku.


"Sudah aku duga Kamu itu serakah,"ucapnya tetap ketus.

__ADS_1


"Pertama Daylan, Firlangga lalu kak Rangga dan kak Daniel dan sekarang Aland juga?"tanya nya tak suka.


"Daylan?"aku beralih menatap Aland dan bertanya lewat tatapan mataku "siapa dia?".


"Pangeran Minurslis yang menculik Ravanya,"gumam Aland.


"Aland aku tidak suka kamu dekat dengan dia,"ujar Rilianza lalu menarik tangan Aland untuk mendekat ke arahnya.


"Memangnya kenapa?"Aland menepisnya paksa.


"Dia itu sudah mendekati kak Rangga dan Kak Daniel dan dia sekarang akan mendekati mu,"kata Rilianza marah dan cemburu. Tapi lebih ke sifat ke kanak-kanakan di mataku.


Bukankah dia yang berusaha mendekati Rangga dan Daniel?


Aku menarik nafas untuk meredakan emosi ku lalu menunjukan senyum terbaik di hadapannya.


"Rilianza, bukannya kamu yang mencoba deketin mereka? Terus gak bisa karena ada aku kan? Nih ya kamu gak usah marah sama aku yang di takdirkan untuk di sukai banyak laki-laki,"ejek ku padanya kesal.


"Kamu itu terlalu percaya diri."Rilianza mengangkat jari telunjuknya ke arah wajahku sinis.


Aku tidak mengacuhkan ucapannya lalu bergegas pergi dari sana. Aku tak akan menanggapi kemarahan Rilianza dengan serius karena dia itu sangat kekanak-kanakan.


***


Aku membuka pintu kamar yang aku tinggali bersama Nina. Seseorang kemudian menghampiri ku dan menatap ku merasa bersalah.


"Nina nya kemana?"tanya ku dingin.


"Aku suruh dia pergi,"jawab Daniel.


"Kenapa? Bukannya kalian mau berduaan?"aku mengalihkan pandanganku tak ingin menatap wajahnya.


"Aku cinta kamu."


"Terus?"


"Hanya kamu gak ada yang lain."


Aku terdiam tetap tak ingin memandangnya. Tiba tiba ia memeluk ku erat, sangat erat seolah tak ingin kehilangan ku.


"Iya aku gak mau kehilangan kamu. Aku minta maaf,"lirihnya di telinga ku. Aku melepas pelukannya perlahan lalu mendengus pelan.


"Aku udah maafin kamu kok."Daniel tersenyum sumringah dan akan memeluk ku lagi tapi aku mundur menghindar dari nya.


"Dengan syarat kamu harus jujur sama aku tentang Nina,"lanjut ku. Daniel menjadi terkejut.


"Hm..N-Nina itu..A-aku..."ucap nya terpatah patah sambil menggaruk tengkuknya. Aku menatapnya jengah.


"Udahlah gak jadi di maafin nya."Aku melangkah pergi malas berbicara dengannya lagi.


"Perjodohan,"gumamnya.


Tunggu! Apa!

__ADS_1


***


__ADS_2